Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Kejadian yang Tidak Terduga


__ADS_3

Lima tahun kemudian...


"Eh Wit, kita ke jembatan itu yuk!" ajak Nawa pada Wita.


"Gak ah, aku takut jatuh. Soalnya jembatan itu gak ada palangnya trus tampaknya jembatannya juga sedikit rapuh." Wita menjelaskan pada Nawa.


"Wita, tapi di sana bagus buat selfie-selfie." ucap Nawa lagi.


"Iya Wa, tapi aku takut. Perasaanku gak enak," kata Wita lagi.


Nawa langsung memasang wajah cemberut dan hal itu pun lantas membuat Wita mengalah pada sahabatnya itu dan memilih menemaninya.


"Oke-oke aku temenin. Jangan ngambek dong," kata Wita akhirnya mengalah dan membuat senyum Nawa mengembang.


Wita adalah mahasiswi di sebuah Universitas di kota itu sedangkan Nawa ia lebih memilih bekerja ketimbang kuliah.


Tetapi mereka berdua sudah tinggal di kota ini hampir empat tahun sudah lamanya dan sekarang Wita sudah berada di semester akhir kuliahnya sebentar lagi ia akan di wisuda.


Hari ini mereka berdua sedang berlibur di sebuah pantai di kota itu.


.


.


.


Sampailah mereka berdua di jembatan kayu itu, kaki Wita gemetar ia takut jatuh karena tempatnya yang cukup tinggi membuat phobia Wita yang takut akan ketinggian kambuh.


Sedangkan Nawa sekarang benar-benar asik berfoto ria, tempat itu cukup ramai banyak orang berada di sana termasuk para pembisnis yang ingin memasukan saham mereka. Dan mereka saat itu berdiri cukup dekat dengan lokasi Wita dan Nawa berada mungkin hanya berjarak seratus meter dari mereka. Tapi mereka sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing.


Wita yang nampaknya sudah tidak tahan lagi berada di jembatan itu berniat meninggalkan jembatan itu setelah meminta izin pada Nawa.


"Wa aku tunggu di pinggir yah," kata Wita dengan muka pucatnya.


Nawa tidak menjawab, dia masih asik sendiri dan itu Wita artikan dengan kata 'iya' kemudian ia meninggalkan Nawa dan berjalan tidak hati-hati.


Krakkk!


Bunyi kayu patah dan membuat Nawa menoleh ke asal suara.


Betapa terkejutnya ia melihat Wita sekarang sudah tergantung di jembatan itu dengan satu tangannya sedangkan tangannya yang satunya tidak dapat menggapai sisi jembatan itu.


Wajah Wita tampak pucat sebenarnya saat ini ia benar-benar panik tetapi ia tidak bisa berkata apa-apa keringatnya mengucur deras.


"To-tolong aku," kata Wita terbata.


Semua orang mulai menyadari kejadian itu, hal itu mulai menarik perhatian orang banyak untuk melihatnya. Termasuk para pembisnis yang sedang berkumpul itu.


Nawa dengan terburu-buru berjalan ke arah Wita dan ingin meraih tangan Wita.


Namun belum sempat Nawa meraih tangan Wita pegangan Wita pada sisi jembatan pun terlepas.


"Wita!!!!" Nawa berteriak dari atas jembatan sedangkan Wita ia sudah memasrahkan diri dan akhirnya tercebur ke dalam air.


Byur!!

__ADS_1


Orang-orang yang menonton kejadian itu ikut panik karena Wita tidak timbul-timbul termasuk seorang pria yang tiba-tiba muncul di samping Nawa dan langsung menceburkan dirinya ke dalam air setelah melepas jas mahal yang ia kenakan.


Dan tampaknya juga orang-orang berbaju hitam berlarian ke arahnya tetapi sudah terlambat karena ia sudah lebih dulu ikut melompat ke dalam air.


Dan orang-orang itu pun langsung pergi ke pinggir pantai menunggu pria itu muncul dan Nawa pun mengikuti mereka juga untuk menunggu Wita.


.


.


.


.


.


Saat dalam kepasrahannya karena ia tidak dapat berenang.


Tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang menariknya ke permukaan.


"Uhuk! Uhuk!" batuk Wita saat sampai di permukaan sedangkan pria yang menolongnya hanya diam, begitu juga dengan Wita saat ini ia begitu lemas karena banyak menelan air saat hampir tenggelam tadi.


Sekarang ia berada di punggung pria itu jadi mereka sama-sama tidak melihat wajah masing-masing.


Di punggung pria itu Wita sibuk batuk untuk mengeluarkan air yang ada ditubuhnya ia merasakan tenggorokannya kini terasa perih karena kemasukan air.


Sampai di pinggir pantai Wita melepaskan gendongannya pada pria yang menolongnya barusan karena merasa air sudah cukup surut sekitar seukuran pinggangnya.


Ia menyempatkan diri berterimakasih pada orang yang menolongnya tanpa memandangi wajahnya dan berlalu pergi ke pinggir pantai sedangkan pria itu tampaknya juga tidak menatap wajah Wita karena rambut panjang Wita yang menutupi sebagian wajahnya pria itu juga bahkan tetap tidak menjawab ucapan terimakasih Wita dan memasang wajah datar.


Bahkan Wita lebih cepat sampainya di pinggir pantai ketimbang pria yang menolongnya.


Semua orang yang menyaksikan kejadian itu hanya menatap bingung bisa-bisanya orang yang hampir tenggelam bisa lebih bertenaga lebih dari sang penolong.


Banyak para warga yang mengira bahwa yang prialah yang tenggelam dan banyak juga para warga yang menggeleng bingung dan bertanya-tanya yang tenggelam siapa sebenarnya yang di tolong.


Saat sampai di pinggir Wita di sambut pelukan Nawa dan permintaan maaf Nawa yang terus-terusan tanpa henti karena merasa bersalah pada Wita.


Wita memaafkan Nawa ia tidak marah lagipula itu semua juga kecerobohan Wita.


Sedangkan pria yang menolongnya langsung di kerumuni oleh para anak buahnya dan ternyata pria itu adalah seorang pembisnis.


Saat merapikan rambutnya yang berantakan dan menutupi sebagian wajahnya Wita memberanikan diri melirik ke arah pria yang menolongnya barusan.


Namun ia tampak bingung mengenali wajah pria itu karena sekarang ia telah mengenakan kacamata hitam setelah mengganti baju dengan cepat dan menggunakan setelan jasnya kembali jadi kurang lebih hampir sama dengan orang-orang yang mengerumuninya.


Setelah puas memerhatikan kumpulan pria yang menolongnya dari jauh Nawa mengajak Wita mencari Puskesmas terdekat untuk memeriksakan diri.


Wita awalnya menolak dan sempat berdebat dengan Nawa namun seperti biasa Nawa memaksa dan Wita pun akhirnya mengalah.


Orang-orang yang menonton kejadian itu perlahan-lahan bubar dan kembali ke aktivitas mereka masing-masing.


Wita yang masih tampak penasaran dengan pria yang menolongnya menoleh ke belakang lagi, bermaksud untuk melihat wajahnya dari kejauhan.


Tampaknya mereka saling beradu pandang sekarang tetapi Wita tetap tidak mengetahui wajah asli pria itu karena menggunakan kacamata hitam.

__ADS_1


Merasa percuma dan berpikir mana mungkin mereka bisa bertemu lagi terlebih yang menolongnya itu tampaknya orang kaya dan berbakat, Wita mengalihkan pandangannya lurus ke depan lagi dan mempercepat langkahnya bersama Nawa karena ia sudah tidak tahan akibat kedinginan.


Sedangkan pria yang menolong Wita barusan nampak kaget dengan wajah gadis yang baru di tolongnya.


"Wita." ucap pria itu yang tidak lain adalah Raka sambil melepas kacamata hitamnya dan berlari menyusul kedua gadis itu sedangkan para pengawalnya hanya menatap bingung.


"Ck!" umpat Raka merasa kecewa dengan kebodohannya bisa-bisanya dia tidak mengenali Wita padahal mereka sudah sedekat itu dan sekarang ia telah kehilangan jejak gadis itu.


Raka menyesali kebodohannya yang tidak memerhatikan gelagat gadis itu yang bahkan tidak asing menurutnya.


Ia bahkan rela ikut menyeburkan diri guna menolong gadis itu padahal ia bahkan tidak akan pernah melakukan hal itu jika itu orang lain.


"Bodoh!" umpatnya ia benar-benar menyesal sambil menoleh kekanan dan kiri berharap bisa melihat gadis itu.


"Ada apa bos?" tanya para pengawal yang sudah berada di sampingnya dan Raka hanya menggelengkan kepalanya kemudian memasang kacamata hitamnya lagi.


"Ayo kita pulang," kata Raka dingin. Tanpa menyelesaikan pekerjaannya sepertinya moodnya telah hilang. Ia menyerahkan masalah proyek itu kepada sekretarisnya.


Ia masih penasaran dengan gadis itu apa benar dia adalah Wita.


Raka memandang ke arah langit perasaannya campur aduk ia begitu rindu dengan Wita, gadis yang ia suruh untuk menunggunya dalam segala hal.


Tidak lama menunggu mobil mewah yang di gunakan Raka pun sekarang sudah berada di hadapannya.


Salah satu pengawalnya membukakan pintu untuknya masuk dan ia pun memasukinya.


Saat di perjalanan pulang ia menoleh ke arah halte bus dan ia lagi-lagi melihat Wita masih dengan menggunakan pakaian basahnya tetapi sudah ditutupi oleh jaket yang dikenakan Nawa.


Mereka berdua tampak bercerita sambil sesekali Wita tersenyum menanggapi Nawa.


Raka yang melihat hal itu sontak menyuruh sopirnya untuk menghentikan mobil itu.


Ketika mobil terhenti Raka langsung buru-buru keluar dan ternyata ia tidak mendapati Wita lagi berada di halte bus itu.


Kemudian ia membuka kacamatanya dan langsung melemparnya kesal, ia begitu kesal karena begitu sulit untuk bertemu dengan gadis yang ia rindukan.


Di tengah kekesalannya satu bus lewat tepat di hadapannya namun bukan bus itu yang menjadi perhatiannya tetapi orang yang berada di dalamnya.


Dan ternyata Wita dan Raka saat ini mereka sedang beradu pandang.


Raka menatap Wita dengan sorot kerinduan.


Sedangkan Wita sekarang sedang fokus melihat orang yang berada di pinggir jalan itu dengan sorot kebingungan, ia kebingungan apa dia tidak salah lihat Raka sedang berdiri menatapnya belum lagi orang itu jugalah yang menolongnya.


Wita berpikir itu mungkin efek trauma karena tenggelam dan dia juga berpikir mungkin dirinya juga berharap saat itu Rakalah yang menolongnya atau mungkin juga kepalanya sekarang pusing karena naik kendaraan roda empat.


Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Nawa ketika Nawa memanggilnya dan kemudian ia menoleh ke arah tempatnya melihat Raka barusan tetapi nihil ternyata di sana sudah tidak ada orang.


Benerkan aku mengkhayal. Batin Wita meyakinkan dirinya bahwa sekarang ia sedang mengkhayal.


Padahal saat itu Raka langsung cepat-cepat memasuki mobilnya untuk mengejar bus itu, namun karena berlawanan arah dan mencari tempat untuk belok serta karena kemacetan akhirnya lagi-lagi ia kehilangan jejak Wita.


Para pengawal yang mengikutinya hanya bingung dengan kelakuan bosnya yang tidak seperti biasanya saat di tanya ia hanya diam saja dan mengatakan turuti saja apa yang dia mau.


Akhirnya Raka menyerah dan benar-benar memilih untuk pulang karena sekarang ia benar-benar frustasi akibat kejadian itu.

__ADS_1


Tetapi ia bertekad bila mereka sudah bertemu ia tidak akan melepaskan Wita apapun yang terjadi.


__ADS_2