Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Pertanyaan


__ADS_3

"Jadi disini rumahmu," kata Raka bersantai duduk di sofa rumah Wita.


"Memang dimana lagi?" Tanya Wita. Ia baru selesai mandi.


"Saya pikir bakalan susah nyarinya," kata Raka.


"Ternyata rumahmu langsung tembus ke pantai waktu itu, gak nyangka ternyata deket aja sama kosan saya dulu." Ucap Raka.


"Iya emang," kata Wita.


Iya membawakan secangkir teh hangat kepada Raka.


"Eh gak usah repot-repot," kata Raka pada Wita.


"Gitu ya, kalo gitu biar aku aja yang minum." Ucap Wita mengambil cangkirnya.


"Eh makasih loh minumannya," kata Raka mengambil minuman itu dari tangan Wita.


"Hehehe," tawa Wita.


"Jadi siapa teman cowok adikmu itu?" Tanya Raka.


"Haikal kah? Dia adiknya Nawa." Jawab Wita.


"Astaga, pantas saja saya lihat bocah itu ada mirip-miripnya sama seseorang." Ucap Raka mengingat sifat suka berdebat Haikal yang mirip kakaknya.


"Kakak!!" Lita tiba-tiba muncul di hadapan mereka berdua.


"Tapi kalo kamu sama adikmu gak ada mirip sama sekali saya bahkan gak nyadar bahwa dia adikmu, dia ini gadis kecil yang mudah akrab sekali." Ucap Raka sambil mengacak rambut Lita.


Akhirnya mereka berdua asik berbincang-bincang sampai akhirnya orang tua Wita pulang ke rumah.


.


.


.


"Perkenalkan ma, pa dia Raka." ucap Wita memperkenalkan Raka pada mama dan papanya, ia bingung harus menyebut Raka itu apa ia terlalu malu.


Pacar?


Kekasih?


Calon suami?


Orang spesial?


Intinya dari semua kata tersebut Wita malu mengakuinya. Ia sangat sayang pada Raka sehingga mulutnya kelu untuk berucap. Wita sudah pernah menceritakan tentang Raka pada orang tuanya tapi baru hari ini ia memperkenalkan Raka dan itu pun mendadak karena Raka yang datang tiba-tiba.


"Dia calon kakak ipar!!!" ucap Lita girang membuat ayah Wita yang tengah minum hampir saja tersedak air yang ia minum.

__ADS_1


"Apa benar yang di ucapkan oleh Lita?" tanya ayah Wita, sedangkan Wita nya sendiri tertunduk malu.


"Sebenarnya saya memang berencana untuk melamarnya," kata Raka percaya diri.


"Hanya rencana?" tanya ayah Wita waspada takut pria itu hanya main-main.


"Om, jika om berkenan dan mengizinkannya, hari ini juga dengan senang hati saya bersedia melamar Wita. Saya akan sediakan maharnya dan saya akan langsung panggil orang tua saya meskipun mereka sibuk saya akan paksa mereka datang demi melamar anak om," kata Raka panjang lebar Wita menutup wajahnya menahan malu. Tidak masalah bagi Raka tentang orangtuanya.


Sampai segitunya, memang orangtuanya akan langsung setuju dengan keputusannya. Batin Wita dan mengingat perkataan Nawa bahwa Raka memang sudah sangat ingin melamar Wita, tinggal Wita saja yang menentukan bersedia atau tidaknya dirinya.


Raka yang terlalu bersemangat malu pada dirinya sendiri, tidak pernah ia bersikap seperti itu sebelumnya, karena pertanyaan ayah Wita barusan entah mengapa perasaan menggebu ingin memiliki Wita timbul karena perkataan itu dan dengan percaya dirinya ia langsung berucap demikian.


Ayah Wita tertawa, "Kalian berdua tidak perlu buru-buru, saya cuma mengetes berkata demikian karena saya tidak ingin anak saya mendapatkan harapan palsu." jelas ayah Wita.


"Tenang om, saya akan menjaga dia dan tidak akan memberinya harapan palsu." ucap Raka yakin. Entah mengapa rasa percaya diri Raka begitu tinggi ketika berhadapan dengan orang tua Wita.


Berbagai macam pembicaraan mereka bicarakan malam itu, Raka sangat cepat akrab dengan ayah Wita. Wita ia hanya mendengarkan ocehan mereka berdua sambil sesekali memberi komentar.


Setelah percakapan panjang malam itu Raka ingin pamit pulang.


"Om, tante saya permisi dulu pulang. Sudah malam soalnya," kata Raka izin pulang. Ingin bersalaman dengan orang tua Wita.


"Gak nginap aja nak, ini sudah larut malam loh. Rumah kamu jauhkan? Lagipula di rumah ini masih ada kamar yang kosong." kata mama Wita menawarkan kamar tidur.


"Emang gak ngerepotin tante?" tanya Raka seolah-olah tidak percaya padahal dalam hati ia sudah kesenangan tidak perlu ia repot-repot menemui Wita setiap hari pulang pergi.


"Boleh, lagipula bahaya pulang malam-malam begini." ucap mama Wita tersenyum ramah.


Wita hanya diam memperhatikan Raka yang di antar mamanya ke kamarnya.


Ma-ma padahal kalo Raka mau dia bisa nyari penginapan sendiri, aku yakin dia pasti gak pulang ke rumahnya sebelum aku juga balik kesana. Batin Wita menebak pikiran Raka yang benar adanya, Raka tidak menyangka orang tua Wita akan menawarkannya menginap di rumah mereka tentu saja Raka tidak akan menolaknya.


Tapi aku juga ngerasa senang karena mama dan bapakku setuju sama hubungan ini. Batin Wita lagi ia tersenyum sambil bersandar di sofanya dan kebetulan ayahnya lewat.


"Wita apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?" tanya ayahnya.


"Gak papa kok pak," kata Wita tersenyum beralasan ia merasa malu karena kepergok ayahnya tengah tersenyum sendiri. Wita menarik nafas lega ketika akhirnya ayahnya pergi meninggalkannya.


"Tidur sudah nak, sudah tengah malam ini." Ucap ayah Wita.


"Iya pak, sebentar lagi." Ucap Wita.


Untung bapak gak banyak-banyak nanya. Batin Wita lega, ia malu sendiri.


Sekarang yang ia pikirkan bagaimana caranya ia akan menghadapi orang tua Raka ketika ia sudah siap mengenalkan dirinya ke orang tuanya.


Tidak lama kemudian Wita memasuki kamarnya dan mulai tertidur lelap. Begitu juga Raka yang berada di kamar sebelahnya.


.


.

__ADS_1


.


Keesokan harinya...


Wita baru saja keluar dari kamarnya.


"Pagi," sapa Raka yang sudah rapi duduk di kursi sofa rumah Wita.


Sedangkan Wita ia benar-benar baru bangun tidur dan masih tampil acak-acakkan.


"Pagi," jawab Wita yang sepertinya ingin ke kamar mandi tapi mengurungkan niatnya.


Melihat tidak ada apa-apa di meja, Wita langsung membuatkan Raka teh hangat dan membawakan beberapa cemilan untuk Raka.


"Makanlah," kata Wita menawarkan.


"Calon istri idaman," kata Raka sambil tersenyum. Dan Wita hanya menjawabnya dengan senyuman tidak ingin meladeni kata-kata Raka barusan.


"Kemana orang tuamu pagi-pagi sudah tidak ada?" Tanya Raka.


"Biasanya mereka sudah memang pergi pagi-pagi buta seperti ini mengurus kebun." Ucap Wita.


"Trus jika adikmu sekolah siapa yang antar?" Tanya Raka.


"Jika ada aku ya aku, jika tidak ada aku mereka biasanya ke kebun lebih siang. Kebetulan hari ini adikku sedang libur sekolah, makanya mereka pergi lebih pagi." Jelas Wita. Dan Raka mengangguk paham.


Sudah tidak ada lagi rasa malu Wita terhadap Raka dengan tampilannya yang seperti itu. Karena sudah sering Raka melihat Wita yang baru bangun tidur dan itu sudah membuat Wita cukup terbiasa di buatnya.


"Aku mandi dulu," kata Wita, ia merasa senang sekali pagi itu.


.


.


.


Selesai mandi Wita melihat-lihat sekitar ia tidak menemukan Raka dimana pun.


Kemana ya dia. Batin Wita mencari-cari Raka.


Kemudian Wita berjalan-jalan di depan rumahnya, Raka ingin menghampirinya dan mengejutkannya. Ia baru saja membeli sesuatu dari warung. Makanya Wita tidak menemukannya dimana pun.


Tapi saat itu ia langsung mengurungkan niatnya karena melihat Wita berbicara akrab dengan seorang pria yang tiba-tiba menghampirinya, seorang pria tinggi jangkung. Raka memperhatikan mereka dari jauh, tidak mendengar juga apa yang mereka berdua bicarakan.


Sangat akrab, sesekali mereka berdua tertawa Raka tidak bisa menahan Rasa cemburunya. Ditambah lagi adik Wita juga ikut-ikutan menghampiri pria itu. Dan juga malah asik ikut mengobrol bersama.


Siapa pria itu. Batin Raka penasaran.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2