Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Khawatir


__ADS_3

Tidak terasa sudah tiga hari Wita berdiam diri di rumah itu tanpa melakukan apapun, ia hanya makan tidur. Karena memang dalam tiga hari itu badan Wita terasa tidak enak akibat luka-luka yang di alaminya, dokter pun selalu pulang pergi mengecek kondisi kesehatan Wita.


Dan malam ini setelah terasa cukup membaik akhirnya Wita pun mulai memikirkan kuliahnya.


Skripsi yang masih belum selesai, absen kuliah yang cukup banyak. Tentu saja hal ini membebani pikiran Wita. Walaupun ia tahu ia sudah mendapat izin dari kampusnya karena insiden percobaan pembunuhan dan pemulihan sakitnya.


Tapi tetap saja biar bagaimana pun ini sudah semester akhir kuliahnya, sebentar lagi ia harus di wisuda, saat yang paling ia nantikan dalam hidupnya. Ia tidak ingin menunggu tahun berikutnya. Ia bertekad tahun ini juga ia harus lulus walaupun banyak kendala yang menghampirinya.


Wita bagun dari tidurnya, saat itu sudah malam ia pikir semua orang sudah tidur dan tentu saja ini saatnya untuk mengerjakan tugas kuliahnya agar tidak merepotkan orang-orang lagi.


Setelah yakin bahwa semua orang telah tidur Wita bangun dari ranjang dan perlahan menaikan diri di kursi roda kakinya masih cukup terasa nyeri walaupun tidak seperti kemarin-kemarin dan tentu saja masih belum bisa untuk dibawa berjalan.


Ternyata masih terasa sakit. Batin Wita merasakan luka dikakinya dan mendudukkan dirinya di kursi rodanya.


Sambil mengendarai kursi roda ia perlahan menuju meja tempat barang-barangnya di taruh.


Ia mengambil laptopnya yang tersimpan rapi di dalam tas, menyalakannya dan mulai menulis skripsinya, yang sebenarnya sebentar lagi selesai hanya tinggal beberapa bab saja.


Ia juga ingin menyempatkan diri mengerjakan tugas-tugas laporannya yang kebanyakan belum selesai akibat absen kuliah. Beruntung ada Lusy yang selalu mengabari Wita informasi kuliahnya, serta tugas-tugas apa saja yang sudah ia tinggalkan.


Temannya yang satu ini sebenarnya benar-benar khawatir akan kondisi Wita tapi mau di apa ia saat ini benar-benar sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk, ia tidak sanggup berpikir seperti Wita yang mengerjakan semuanya dalam waktu singkat. Wita pintar membuat jadwal dalam membuat tugas sehingga semuanya dapat teratasi. Wita termasuk mahasiswi yang ahli dalam bidangnya, sehingga ia menjadi salah satu mahasiswi yang menerima beasiswa.


Dan kali ini semua jadwalnya hancur berantakan hanya karena akibat insiden tiga hari yang lalu.


"Ekhm!!" Tiba-tiba ada suara bariton dari arah pintu kamar itu, pintu kamar Wita tidak ia kunci, Raka melarangnya karena takut terjadi apa-apa. Wita menoleh pelan berekspresi seolah-olah ia telah melakukan pencurian di rumah itu dan telah melakukan kesalahan besar.


"Bagus, jadi setiap malam ini yang kamu kerjakan?" tanya Raka datang menghampiri Wita yang menutup wajahnya dengan kertas hvs. Wita benar-benar merasa bersalah atas perbuatannya, dalam tiga hari ini Raka sampai rela tidak bekerja demi menjaga dan merawatnya. Bahkan Nawa dan Ansal sampai geleng-geleng dibuatnya karena perlakuan Raka yang benar-benar menjaga dan merawat Wita dengan baik.

__ADS_1


"Ma-maaf, tapi suwer deh baru malam ini aku mulai mengerjakannya dan belum apa-apa kamu sudah memergokiku." jelas Wita sambil nyengir tidak enak hati, selama ini Raka selalu mengawasinya dan merawatnya agar gadis itu cepat pulih dari sakitnya.


Masalah pekerjaannya di kantor ia serahkan semuanya pada sekretaris sekaligus asistennya, Andi.


Andi memang sempat protes dengan keputusan yang dibuat Raka karena telah membebankan seluruh pekerjaannya pada dirinya, tapi setelah mendengar penjelasan Raka tentang Wita dengan antusias Andi langsung menerima seluruh pekerjaan dari Raka.


Biar bagaimana pun ia cukup memahami perasaan Raka yang pasti benar-benar tertekan dan khawatir dengan keadaan kekasihnya Wita.


"Kamu tidak perlu mengerjakannya dulu," kata Raka berwajah datar tapi Wita tahu pria itu khawatir padanya. Raka menarik kursi roda Wita menjauhi meja itu dan membawanya kembali ke arah ranjangnya. Kemudian ia berbalik lagi dan mematikan laptop Wita lalu menghampiri Wita lagi.


"Tapi Raka, jika aku tidak mengerjakan tugas-tugas itu bisa-bisa aku tidak akan lulus kuliah." jelas Wita dengan wajah memelas menatap ke arah Raka.


"Kamu gak usah khawatir, saya akan membantu kamu dalam menyelesaikan tugas kuliah kamu." jelas Raka. Raka berpikir jika Wita tidak lulus-lulus kapan ia bisa menikahi Wita. Ia sudah sangat tidak sabar untuk memiliki gadis itu. Tentu saja ia akan membantu Wita dengan kemampuannya untuk membantu gadis itu.


"Aish! Tapi Ka, kalau kamu yang bantu semuanya aku bakalan lulus tanpa dapat ilmu, aku gak mau kayak gitu." Wita frustasi menutup wajahnya, tentu saja salah jika ia membiarkan Raka melakukan hal itu.


"Kalau gitu, aku yang bakalan jadi guru les kamu. Aku bakalan ajarin kamu mata-mata kuliah yang sudah kamu tinggalkan," kata Raka, Wita tersenyum senang ia beruntung memiliki seorang yang mau membantunya dalam segala hal. Terlebih meskipun hampir seumuran pria itu jauh lebih pintar daripadanya dan Wita ia bangga dengan hal itu.


"Kamu gak perlu berterimakasih pada saya, lagipula kejadian ini kan juga karena saya." jelas Raka tetap merasa tidak enak hati, karena ulah mantannya hampir saja ia mencelakai Wita.


"Berarti kamu mau mengajariku hanya karena merasa bersalah?" tanya Wita.


"Tentu saja tidak, saya kan punya janji menjadi guru les buat kamu." jawab Raka sambil tersenyum ke arah Wita.


"Kapan?" tanya Wita mengernyit tidak ingat, Wita telah lupa dengan janji Raka menjadi gurunya.


"Dan karena kamu sudah menunggu lama janji itu, saya akan menambah jumlah mata pelajarannya," kata Raka, Wita masih tidak ingat.

__ADS_1


"Memang kapan sih, kamu buat janji begitu?" tanya Wita penasaran.


"Kamu tidak perlu memaksa untuk mengingatnya yang penting sekarang kamu harus istirahat dulu." ucap Raka menggendong Wita dari kursi rodanya, membaringkannya di ranjang dan menyuruhnya tidur. Wita menurutinya sambil tersenyum.


"Kalau kamu mau mengerjakan tugas kamu, kamu harus mengerjakannya siang hari jangan malam-malam begini. Kamu butuh istirahat." ucap Raka mengusap rambut Wita sayang.


"Mulai besok saya akan menjadi guru les kamu," kata Raka.


"Kamu memangnya gak kerja?" tanya Wita.


"Tenang saja, tidak ada tugas berat yang mengharuskan saya turun tangan," kata Raka.


"Kamu memang orang yang sangat baik Ka," kata Wita.


"Sebenarnya saya menjadi sangat baik hanya kepada kamu Wita, jujur saja saat ini saya belum bisa menjadi orang baik yang sesungguhnya. Tapi saya tidak akan pernah berhenti untuk mencoba menjadi lebih baik lagi," kata Raka menyakinkan diri.


"Dan aku akan selalu mendoakan dan memberi kamu semangat untuk mencapai itu semua," kata Wita tersenyum.


"Baiklah, kalo gitu sekarang kamu tidur ya," kata Raka menarikkan selimut untuk Wita.


"Siap bosku!!" Wita tersenyum begitu pula Raka.


"Selamat malam, mimpi indah." Ucap Raka menyelimuti Wita kemudian pergi meninggalkan kamar itu senang.


"Malam juga Raka," kata Wita memejamkan matanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2