Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Kapan?


__ADS_3

Wita saat ini sudah menjadi seorang guru seperti apa yang di cita-citakannya sejak masih muda.


Sudah satu tahun ia menjalin hubungan bersama Raka sampai saat ini ia masih belum juga menikah karena Wita masih sibuk dengan pekerjaannya dan Raka tetap mengerti dengan hal itu.


Meskipun rumah Raka dan Wita cukup jauh, Raka sering mengunjungi rumah Wita dan menghabiskan waktu bersama. Raka  benar-benar membagi waktunya dalam segala kesibukannya untuk Wita. Bahkan beberapa kali Raka sempat bermalam di rumah Wita, hanya untuk sekedar menghabiskan waktu senggangnya.


Namun sekarang sudah sebulan mereka tidak berhubungan.


Kegalauan melanda perasaan Wita, tidak bisa menghubungi Raka. Entah apa yang sedang dilakukan pria itu sekarang. Ia benar-benar gelisah dengan hal itu.


Karena Wita saat ini mendapatkan jatah tugas mengajar di pedalaman yang tidak terjangkau oleh sinyal apapun kecuali listrik. Selama dua bulan ia harus mengajar di tempat itu. Dan dengan profesional ia menerimanya, meski harus berpisah dengan kekasihnya.


Ini sebenarnya merupakan siksaan bagi Wita, walaupun ia sudah mendapat izin dari Raka untuk ke tempat itu namun ia tidak mengetahui jika tempat itu masih belum terjangkau jaringan apa pun, Wita sebenarnya panik sendiri karena hal itu tapi ia berusaha menerimanya demi profesionalitas pekerjaan.


Wita memikirkan Raka sambil berbaring di ranjang sebuah mes yang sekarang merupakan tempatnya tinggal beberapa bulan ke depan.


.


.


.


"Tiiit!! Tiit!!" suara klakson motor berbunyi di depan rumah yang di tinggali Wita selama sisa satu bulan ke depan itu. Wita terlonjak kaget.


Tok!! Tok!! Suara ketukan di depan, tidak lama setelah suara klakson mobil itu.


"Siapa?" Wita membukakan pintu.


"Hiiiii!!" Wita kaget karena yang berada di depan pintu rumah itu adalah Raka dengan tampang wajah horornya.


"Kenapa kamu gak bisa di hubungi? Apa yang kamu lakukan disini? Bla~Bla~" berbagai macam pertanyaan beruntun langsung menghampiri Wita, Wita hanya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Ia bingung harus menjelaskan darimana.


"Raka tenang dulu," kata Wita menarik Raka masuk ke dalam rumahnya.


Raka mengendurkan dasi yang ia kenakan, wajahnya penuh peluh entah peluh menahan emosi atau peluh karena khawatir Wita tidak tahu dan tidak ingin tahu. Intinya bagi Wita Raka sangat menakutkan.


"Raka maaf ya, bukannya aku gak mau menghubungi kamu. Tapi tempat ini gak ada sinyalnya masa aku harus manjat gunung dulu untuk menghubungi kamu." jelas Wita melihatkan ponselnya yang benar-benar kosong sinyal.


"Kalo gitu sekarang kita pulang," kata Raka tiba-tiba.


"Tapi Ka, biarkan aku menyelesaikan tugasku dulu tinggal tiga minggu Ka," kata Raka.


"Oke, kalau gitu saya juga ikut tinggal di sini selama tiga minggu ke depan." ucap Raka.


"Eh?!!" kaget Wita.

__ADS_1


Raka sudah tidak tahan meskipun seperti itu sebenarnya Wita dan Raka masih sempat sesekali berhubungan, walaupun hanya seminggu sekali ketika hari libur Wita rela mendaki demi bisa menghubungi Raka.


Menjelaskan segalanya, bagaimana keadaan tempat itu namun rupanya Raka tidak mau mengerti dan memilih menyusulnya.


"Bagaimana cara kamu sampai bisa datang ke tempat ini?" Tanya Wita.


"Kamu tahu, selama ini saya sudah beberapa kali datang ke rumahmu dan menginap disana." Kata Raka.


"Eh?" Kaget Wita tidak tahu.


"Ya saya tinggal di rumahmu karena terlalu rindu denganmu," kata Raka, Wita ia tersipu.


"Akhirnya saya sudah tidak tahan lagi dan mendatangi sekolah tempatmu mengajar bertanya pada kepala sekolah dimana tempat kamu di kirim,"


"Dan ketika saya sudah mendapatkan alamat tempatmu mengajar saya langsung menyusul ketempat ini," kata Raka.


Wita mengelus rambut Raka sambil tersenyum ke arahnya.


"Terimakasih Raka karena sudah mau menyusulku, jujur saja sebenarnya aku juga  kangen kamu." Ucap Wita terlihat dari raut wajahnya ia sangat senang dengan kedatangan Raka.


.


.


.


Tapi semua guru akhirnya mengerti, entah apa yang dikatakan Raka kepada guru-guru di sekolah itu, Wita tidak tahu karena saat Raka menjelaskan kepada mereka Wita tidak ada di tempat.


Dan ketika Wita bertanya kepada Raka apa yang di katakan pria itu kepada orang-orang, Raka hanya menjawabnya dengan tersenyum dan sampai akhir Wita tidak pernah tahu apa yang sudah dikatakan pria itu.


Raka terus mengikuti kemanapun Wita pergi kecuali kamar mandi dan tempat tidur.


Ia tidak perduli dengan pekerjaan kantornya, ia benar-benar melimpahkan semuanya kepada asistennya.


Raka terus memandangi Wita yang saat ini tengah mengajar duduk dipojokkan paling belakang, ia terkesima atas kesabaran Wita dalam menghadapi anak-anak didikannya.


Semua anak-anak didiknya sayang padanya. Karena Wita bukanlah guru yang pilih kasih, walaupun terkadang Wita terlihat frustasi terhadap anak didiknya yang sulit paham pada apa yang dia ajarkan.


Raka juga coba-coba ingin ikut mengajari murid-murid Wita namun belum ada setengah jam peluh emosi sudah membasahi wajahnya.


Raka kembali ke tempatnya dengan wajah yang sudah kembali tenang.


"Lebih baik aku mengajarimu setahun penuh, daripada berhadapan dengan mereka." bisik Raka ke telinga Wita. Gadis itu tersenyum.


"Kamu hanya kurang terbiasa," kata Wita.

__ADS_1


.


.


.


Malam harinya tepat setelah Wita hambis mandi, Raka terlihat tengah memikirkan sesuatu.


"Raka kamu kenapa? Sakit?" Tanya Wita khawatir. Wajah pria itu terlihat memerah tapi tatapan matanya serius.


"Wita," panggil Raka.


"Hmm, iya." Wita mendudukkan diri di samping Raka santai memerhatikan pria itu apakah benar ia sedang sakit sekarang.


"Wita apa kamu mau menikah dengan saya," kata Raka serius menggenggam tangan Wita mencium tangan Wita, Wita terbelalak kaget. Ia sadar hal itulah yang membuat wajah Raka memerah barusan.


Ia tahu ini sudah waktunya ia dan Raka melanjutkan ke hubungan yang serius. Ia sudah lama menjalin hubungan ini dan sekarang memang sudah waktunya untuk Wita dan Raka menikah karena Wita tidak ingin lama-lama lagi menjalin hubungan yang tanpa ikatan itu.


"Baiklah, tentu saja aku mau. Kapan?" tanya Wita, kali ini dia juga serius dengan wajah menahan malu.


"Tentu saja secepatnya," kata Raka begitu senang sampai-sampai ia tidak sadar memeluk Wita. Wita hanya terdiam.


"Ma-maaf, belum saatnya ya. Tapi saya sudah benar-benar tidak sabar." ucap Raka.


"Hahaha, kita di sini saja masih seminggu lagi." ucap Wita tertawa bahagia, ia sungguh bahagia tidak menyangka Raka melamarnya di tempat seperti ini.


"Tapi saya benar-benar tidak sabar," kata Raka begitu antusias.


"Astaga saya sampai lupa," kata Raka kemudian ia merogoh kantung celananya. Dan keluarlah sebuah kotak dan rupanya itu adalah sebuah cincin yang sangat indah.


"Wita kemarikan tanganmu," kata Raka, kemudian Raka memasangkan cincin itu di jari manis Wita dan sekali lagi mencium punggung tangan Wita.


"Makasih Ka, selama ini kamu terus menjagaku." ucap Wita.


"Saya tidak akan hanya menjagamu sampai selama ini, tapi juga akan menjagamu seumur hidup saya." ucap Raka. Wita tidak tahan untuk menangis.


"Wita kenapa kamu menangis, apa sata melakukan kesalahan?" tanya Raka, Wita menggeleng.


"Kamu gak salah Ka, tapi aku sangat-sangat bahagia sampai-sampai kamu membuatku benar-benar terharu." ucap Wita mengusap air matanya kemudian tersenyum penuh arti. Kali ini Wita yang menghambur kepelukkan Raka ia bahagia sekali malam itu.


Malam itu selesai, dengan kedua orang itu yang tidak bisa tidur karena terus memikirkan hari yang mereka tunggu-tunggu itu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2