Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Acara Pernikahan


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang sangat bahagia bagi pasangan Nawa dan Ansal.


Hari yang diharapkan hanya akan terjadi dalam sekali seumur hidup, yaitu hari pernikahan mereka.


Acara resepsi pernikahan mereka berjalan dengan lancar, saat ini mereka tengah menjamu para tamu-tamu yang hadir.


"Wita, kamu kenapa?" tanya Raka. Mereka berdua menghadiri acara pernikahan itu dan hal ini salah satu sebab yang membuat Wita pulang ke rumah menghadiri acara pernikahan sahabat tercintanya.


Wita membuang wajah ke arah lain, sejak kemarin Raka memperhatikan Wita gadis itu seperti tengah memendam sesuatu.


"Loh kok kamu nangis Wit?" tanya Raka bingung. Akhirnya Raka menyadari Wita yang tengah menangis.


"Hiks! Aku terharu, sahabatku akhirnya mendapatkan kebahagiaan yang dia nanti-nantikan selama ini. Aku benar-benar senang, sangking senangnya air mataku tak bisa ku bendung," kata Wita mengusap wajahnya dengan tisu. Ia terharu bahagia, ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya Nawa.


Beruntung Wita tidak menggunakan make up yang tebal hari ini dan tentu saja dia tidak akan melakukan hal itu. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi ia pasti menangis.


Setelah hari ini, ia akan kembali ke kota karena masa cuti libur kuliahnya telah habis, meskipun ia hanya minta izin pulang selama lima hari ia menyadari tugas kuliahnya pasti menumpuk begitu juga tugas kantornya.


Saat itu Wita berpikir dan berniat akan berhenti bekerja setelah menerima gaji pertamanya, ia tidak sanggup dengan tugasnya yang double. Ia sudah berbicara pada Raka, pria itu tentu saja setuju ia tidak tega melihat Wita yang tidak tidur selama empat hari waktu itu demi menyelesaikan seluruh pekerjaannya yang menumpuk.


Belum lagi ini adalah semester akhir kuliahnya. Ia pikir bekerja seperti itu bukan hal sulit tetapi setelah merasakannya Wita sudah tidak sanggup menjalaninya.


Meskipun Wita terikat kontrak dengan perusahaan, tapi dengan Raka sebagai bosnya tentu saja ia punya kekuasaan tersendiri. Terlebih Wita awalnya menerima pekerjaan itu karena tertipu oleh akal-akalan Nawa dan Raka.


Walaupun Wita sempat merasa sangat tidak bertanggung jawab dan sempat ragu atas keputusannya untuk berhenti, Raka lah yang akhirnya mengambil keputusan untuk memberhentikan Wita setelah melihat kesulitan Wita.


.


.


.


Anak-anak berlarian di hadapan Wita dan Raka. Dalam gerombolan itu termasuk adik Wita, Lita dan juga adik Nawa, Haikal.


"Aku akan melindungi tuan putri dengan seluruh kemampuanku!" teriak Haikal gagah berani dengan pedang mainannya sedangkan Lita yang kenyataanya perempuan sendiri di kelompok itu menjadi tuan putrinya.


"Adikmu benar-benar berbeda denganmu, dia berteman dengan semua pria." ucap Raka dan Wita ia hanya menutup wajahnya.


Memikirkan setelah ini, anak-anak itu akan berlarian ke arahnya tanpa memperdulikan ucapan Raka.


"Kyaa!! Ka Ra lindungi kami!" teriak Lita berlari ke arah kakaknya bersama Haikal.


"Ayolah anak-anak kalian itu kenapa sih, mainnya jangan disini banyak orang loh," kata Wita pasrah.


"Kakak! Kakak! Lindungi kami," kata Haikal. Wita menarik nafas.

__ADS_1


"Daripada melindungi kalian kakak akan menjadi monsternya dan menangkap kalian semua," kata Wita ia berdiri dengan wajah datarnya tapi cukup menyeramkan sambil mengangkat tangannya.


"Grauuuu!!" Wita menakuti anak-anak itu.


"Kyaa! Ada monster mengamuk ayo kita lari!" semua bocah-bocah itu berlari pergi menjauh. Mereka semua akhirnya bekerja sama dan melupakan pertengkaran mereka barusan.


"Kamu menyeramkan, anak-anak sampai lari semua loh." ucap Raka menatap Wita ingin tertawa.


"Huh! Lagipula itu sudah menjadi hal yang biasa aku sudah sering main kejar-kejaran dengan mereka dari mereka masih kecil, jadinya mereka tidak akan takut karena hal itu. Seandainya tidak ada kamu disini aku pasti akan mengejar dan bermain bersama mereka." jelas Wita.


"Jadi kamu gak suka saya ada di sini," kata Raka pura-pura kecewa.


"Kalo aku gak suka, dari tadi aku sudah pergi," Wita tersenyum membalas kata-kata Raka.


"Kamu menggoda saya?" tanya Raka.


"Apanya yang menggoda?" Wita bertanya bingung.


"Senyum kamu manis," kata Raka.


"Gombal," kata Wita menelungkup kan wajahnya di meja, ia malu.


"Saya berkata apa adanya, senyum kamu memang manis." ucap Raka, Wita tidak menjawab ia benar-benar malu.


"Jadi, kapan kita menyusul?" tanya Raka.


"Menyusul Ansal dan Nawa," kata Raka datar, Wita terheran-heran bisa-bisanya pria itu mengatakan hal yang sangat penting seperti itu dengan ekspresi setenang itu. Wita hanya menjawabnya dengan senyuman.


Seolah-olah bisa membaca ekspresi Wita, Raka pun menjawab tentunya dengan senyuman, "Oke baiklah," kata Raka.


.


.


.


Beberapa tamu wanita yang masih melajang merona dibuatnya karena senyuman Raka barusan.Wita memasang ekspresi tidak suka.


Mereka ternyata memerhatikan Raka yang tengah asik duduk berduaan di meja pojokkan tenda pengantin itu. Sambil menikmati hidangan. Tentu saja di antara mereka ada yang berbisik-bisik menggosipi mereka.


"Kau tidak perlu cemburu, karena senyum ini hanya tertuju untukmu." ucap Raka, Wita tidak berkata apa-apa. Ia percaya pada Raka.


Wita menoleh ke arah pelaminan Ansal dan Nawa. Nawa tersenyum ke arah Wita dan Wita membalasnya dengan melambaikan tangan.


Mereka berdua menghabiskan waktu di acara pernikahan Ansal dan Nawa sampai acara itu benar-benar berakhir. Entah mereka membantu orang-orang yang kerepotan atau hanya sekedar berpindah tempat dari tempat satu ke tempat lain hanya sekedar bercerita.

__ADS_1


Wita sudah berjanji pada Nawa untuk menghabiskan seluruh waktunya hari ini di acara pernikahan Nawa, dan beruntungnya ada Raka yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi cukup membuat Wita tidak merasa sendirian.


Hari itu ditutup dengan Wita dan Raka yang berfoto bersama pasangan pengantin baru Nawa dan Ansal dengan raut wajah bahagia.


"Jadi mau kemana lagi kamu setelah ini?" Tanya Raka di perjalanan pulang bersama Raka.


"Aku??" Tanya Wita, Raka mengangguk.


"Aku ingin pulang dan tidur dengan nyenyak," kata Wita menjawab.


"Ahh gak asik," kata Raka.


"Memang kamu mau apa Ka?" Tanya Wita


"Aku maunya sama kamu terus," kata Raka.


"Hehhh," Wita tidak menanggapi Raka.


"Apa maksudnya heh??" Tanya Raka.


"Sebaiknya kita beristirahat aja Ka, besok pagi-pagi kan kita mau balik ke kota." Ucap Wita.


"Ah iya, hampir lupa." Ucap Raka.


"Kamu tidak memikirkan perusahaanmu ya?" Tanya Wita.


"Aku tidak perlu khawatir bawahanku pasti sudah mengurus semuanya," kata Raka.


"Seharusnya kamu tidak terlalu bergantung pada bawahan terus Raka, jadilah lebih bertanggung jawab." Ucap Wita.


"Makanya jika kamu ingin saya selalu fokus pada pekerjaan saya, berada selalu di dekat saya jangan jauh-jauh dari saya." Ucap Raka.


"Memang saat ini aku jauh darimu, gak kan." Ucap Wita.


"Ya coba saya gak kesini, kamu jauh lah." Ucap Raka.


"Hmm iya-iya, kamu benar." Kata Wita tertawa.


"Mungkin terkadang ragaku jauh dari kamu tapi hatiku selalu dekat denganmu," kata Wita tersenyum. Dan Raka meraih tangan Wita untuk menggandengnya.


"Raka ini jalanan, malu tahu." Ucap Wita.


"Biarkan saja, biarkan semua orang tahu bahwa kamu milik saya. Milik Raka Satria Pradikaraja." Ucap Raka tertawa percaya diri. Dan Wita memilih untuk mengikuti suasana saat itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2