
Saat asik mengkhayalkan rencanany sambil melihat pisau yang akan membunuh Wita, ia tidak menyadari Wita sudah mengumpulkan tenaganya berjalan perlahan dan sekarang tengah berdiri di belakang wanita itu.
Saat wanita itu berbalik Wita langsung melayangkan tinju kuat di pipi wanita bertopeng itu.
"Arrgh!!" teriak wanita itu terpental, mungkin saja pipi wanita itu sekarang sudah memar dan butuh perawatan khusus untuk menyembuhkannya. Sebelumnya Wita belum pernah memukul orang sekuat itu.
Raka pun akhirnya datang menghampiri Wita.
"Wita!!!" teriak Raka langsung menghampiri Wita.
Wita langsung meringsut lemas dipangkuan Raka.
"Wita! Wita! Kita harus ke rumah sakit sekarang," kata Raka sangat khawatir ia bahkan terlihat sangat panik melihat keadaan Wita yang di penuhi oleh luka-luka.
Wanita bertopeng itu ingin melarikan diri pergi, Wita yang tengah lemas menunjuk wanita bertopeng penyebab masalah yang ingin kabur itu.
Setelah menyandarkan Wita yang penuh luka-luka itu di pohon terdekat Raka dengan penuh emosi terhadap orang bertopeng itu karena sudah berani melukai Wita tanpa tanggung-tanggung ia langsung membuat wanita itu jatuh pingsan tanpa perlawanan.
Tidak lama polisi pun datang, Raka sudah menelpon polisi sejak teriakan Wita di telpon. Tapi ia tidak memanggil ambulance karena ia bahkan tidak berpikir jika kejadiannya akan berakhir seperti ini. Polisi mengamankan kedua penjahat yang sekarang tengah tidak sadarkan diri itu, Raka ia tentu saja langsung menghampiri Wita.
Wita yang lemas tersandar di dada bidang Raka. Pria itu memeluk Wita erat dan kemudian menggendongnya ala bride style dan langsung membawanya ke tempat yang nyaman untuk memberikan pertolongan pertama terhadap luka-lukanya.
Wita saat itu masih setengah sadar, Raka ia sekarang tengah mencari kotak p3k di dalam kosan Wita untuk menghentikan pendarahan di kaki Wita.
Polisi pun membuka siapa penjahat di balik topeng itu, dan betapa kagetnya mereka saat menyadari siapa wanita di balik topeng itu.
"Putri!" kaget Raka saat melihat siapa wanita itu ia terlihat begitu marah sekarang dan Wita yang penasaran dengan wanita di balik topeng perlahan juga melihatnya wajah yang tidak asing bagi Wita ya dia mantan kekasih Raka Putri, wanita itu masih tidak sadarkan diri dengan luka memar di wajah putihnya yang terlihat membiru akibat tinju Wita tadi.
Tidak lama Nawa dan Ansal datang.
"Wita!!!" teriak Nawa histeris, ia tidak tahu dengan apa yang terjadi.
"Kamu kenapa?" tanya Nawa dia menangis tidak tega.
Raka pun menjelaskan semuanya dan memasukkan Wita ke mobilnya.
"Nawa kamu jangan laporin kejadian ini ke orangtuaku ya." pinta Wita.
"Tapi, cepat atau lambat orangtuamu bakalan tau cerita ini." jelas Nawa.
"Pliss Nawa!" mohon Wita.
"Raka, aku mohon kamu lakuin sesuatu supaya berita kejadian ini tidak menyebar."
__ADS_1
"Kalo orangtuaku tahu, bisa-bisa bapakku main hakim sendiri dan masalah semakin rumit." ia tidak mau orangtuanya terkena masalah.
"Baiklah, akan aku lakukan apapun untukmu. Jika itu yang terbaik." ucap Raka dan Raka pun menjalankan mobilnya, ia sekarang tidak dapat berpikir apa-apa selain berpikir secepatnya Wita harus sampai di rumah sakit.
Dan Putri dia jerat kasus hukum percobaan pembunuhan, ia kena batunya. Dan Wita juga harus menerima luka-luka yang membutuhkan waktu untuk penyembuhannya.
Dan setelah kejadian itu sebenarnya Raka berencana untuk membuat wanita itu mendapatkan hukuman seberat-beratnya karena sudah berani menyentuh bahkan melukai Wita sampai seperti itu.
.
.
.
"Wita maafin saya, dua kali kamu hampir celaka gara-gara saya." ucap Raka murung.
"Begitu banyak rintangan yang kita hadapi dan sekarang kamu hampir celaka gara-gara saya, apakah kita tidak di takdir kan untuk bersama." ucap Raka benar-benar frustasi ia benar-benar tidak ingin Wita terluka.
"Trus kamu mau mengakhiri semua ini, setelah semua ini." ucap Wita langsung asal-asalan dalam setengah sadarnya ia kesal dengan sikap Raka.
"Tentu saja TIDAK!!!" tegas Raka dan Wita hanya tersenyum.
"Ya sudah kalo gitukan kamu gak perlu bicara seperti tadi. Jujur saja itu membuatku kesal, kamu itu seperti orang yang berputus asa. Sifat yang paling aku gak suka dari kamu," kata Wita berbicara dengan mata tertutup.
"Udah Ka, aku gak papa kok." ucap Wita membuka matanya kemudian tersenyum lima jari.
"Gakpapa darimana," kata Raka menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sampailah mereka di rumah sakit.
.
.
.
Wita dibawa dengan menggunakan kursi roda ke ruang perawatan.
"Raka kok rasanya jadi horor ya," kata Wita menarik lengan baju Raka.
"Kamu ngeliat makhluk halus ya?" tanya Raka. Wita menggeleng.
"Trus?"
__ADS_1
Wita menunjuk peralatan serta obat-obatan yang datang. Akhirnya Raka tahu Wita takut dengan benda-benda itu.
"Raka, itu gak sakit kan?" tanya Wita.
"Tenang saja mbak tidak akan terlalu sakit," jawab dokter tiba-tiba mendengar pertanyaan Wita. Raka hanya diam ia juga tidak tahu bagaimana rasanya.
"Kurang menyakinkan," kata Wita tidak percaya.
"Aww! shhtt! Pelan-pelan dok, perih." ucap Wita menarik baju Raka lebih tepatnya menarik lengan. Mata Wita berair, Raka tidak tega ternyata obat bius yang di suntikkan dokter ke kakinya tidak terlalu berpengaruh untuk Wita.
Pokoknya orang yang melakukan ini harus mendapat bayaran yang setimpal. Batin Raka dengan ekspresi wajah dingin.
"Raka, kamu lagi mikirin apa? Ku harap kamu tidak berniat untuk mencelakai seseorang." ucap Wita menebak isi hati Raka karena tampak terbaca dari ekspresinya.
Raka tersenyum sambil mengelus rambut Wita lembut. Ia tidak menjawab pertanyaan Wita. Karena tentu saja jika ia menjawabnya pasti apa yang akan dilakukan Raka mungkin saja akan di tentang oleh Wita.
"Awww!!!" teriak Wita histeris.
"Rasanya lebih perih dari pada saat pertama kali terluka," kata Wita pasrah pada keadaan.
.
.
.
Pengobatan selesai dalam waktu setengah jam, hal itu terjadi karena Wita yang terus-terusan merintih dan dokter harus mengeluarkan pecahan beling yang bersarang di telapak kaki Wita, belum lagi luka-luka tubuhnya yang lain ditambah salah satu tangannya terkilir akibat melawan cukup kuat.
"Mba, anda mulai sekarang sampai masa pemulihan selesai. Tidak boleh memaksakan kaki anda untuk berjalan agar menghindari terjadinya infeksi, mungkin butuh waktu selama seminggu. Itupun luka anda masih belum sembuh total. Tapi setelah itu sudah boleh dibawa berjalan lagi meskipun masih butuh perawatan." jelas dokter.
"Apa, separah itu?" tanya Wita kaget. Raka menatap horor Wita, ia tidak menyangka luka Wita separah itu. Wita tahu pria itu sangat khawatir padanya, Wita pun merasa bersalah karena sudah membuat Raka sangat khawatir.
.
.
.
Kejadian yang menimpa Wita itu juga sampai di telinga orang tua Raka mereka yang mendengar hal itu benar-benar dibuat kaget dan marah setelah mendengar penjelasan Raka. Berani-beraninya Putri mengganggu calon menantu mereka, dan tentu saja mereka akan bertindak turun tangan dalam menyelesaikan kasus yang telah dibuat oleh Putri agar tidak ada keringanan dalam hukumannya.
Saat itu orang tua Raka menyuruh Raka mulai saat itu untuk selalu menjaga Wita, karena bagaimana pun pasti ada saja orang yang iri terhadap Wita apa lagi jika mereka tahu gadis itu calon menantu dari keluarga Pradika. Dan tentu saja kejadian itu di sembunyikan dari kedua orangtua Wita.
Dan tidak lama kemudian pasangan Ansal dan Nawa sampai juga ke rumah sakit itu.
__ADS_1