Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Kesabaran


__ADS_3

Wita memasuki kelasnya di pagi itu tiba-tiba ia dihadang oleh Elda, kebetulan saat itu kelas masih sunyi hanya ada mereka berdua.


Wita datang agak lebih pagi karena hari ini dia sedang piket kelas sedangkan Elda, Wita tidak tahu apa masalah gadis itu berangkat pagi karena sebelumnya Elda selalu berangkat agak siangĀ  dan ia tampak memasang muka sewot pada Wita.


"Eh lo! Lo jangan pernah deketin Raka dia itu milik gue," kata Elda pada Wita dengan mimik wajah kesal.


Wita mengernyit heran dia bahkan tidak pernah mendekati Raka, karena Rakalah yang mendekati Wita makanya Wita menerima Raka sebagai teman.


"Tapi aku kan memang gak pernah deketin Raka, kami hanya berteman." ucap Wita jujur.


"Halah alesan lo, kalau lo gak deketin dia untuk apa lo duduk sama dia buktiin ke gue sekarang. Lo pindah tempat duduk," perintah Elda.


"Elda aku gak mau cari gara-gara sama pak Bowo kalau kamu nyuruh aku pindah izin dulu sama pak Bowo kalau dia ngizinin aku bersedia pindah," jelas Wita ingin meninggalkan Elda tetapi tiba-tiba rambut panjang Wita yang di ikat satu di tarik oleh Elda.


"Aa!" jerit Wita kaget.


"Rasain ini balasan buat lo karena banyak alasan," kata Elda tambah kuat menarik rambut Wita.


Sebenarnya Wita tidak terlalu merasa sakit rambutnya di tarik seperti itu tetapi ia sudah susah payah rapi-rapi pagi itu malah di ajak berantem dan parahnya di sekolah lagi, seumur hidup ia tidak ingin hal ini terjadi dan ini pertamakalinya.


"Plak!" bunyi tangkisan tangan Wita memukul pergelangan tangan Elda hingga tangan itu memerah.


"Akh!!" Elda menjerit pedih.


"Lo berani-beraninya sama gue." ucap Elda ingin menampar Wita tapi Wita menangkisnya dan mencengkram tangan Elda sambil tersenyum.


"Maaf bikin kamu sakit, tapi El aku gak pengen berantem sama kamu cuma gara-gara cowok, kalo kamu pingin deketin dia deketin lah secara baik-baik jangan ganggu aku yang gak tahu apa-apa. Lagipula aku gak ngelarang kamu kan? Jadi kamu gak ada hak buat ngatur urusan aku," kata Wita kemudian melepaskan cengkramannya dan berlalu pergi sambil merapikan rambutnya yang berantakan sedangkan Elda ia mendengus kesal karena tenaganya tidak sekuat Wita yang merupakan seorang gadis tomboi di kelasnya.


Wita terkenal dengan ketomboian di kelasnya semua murid tahu kalau Wita itu tomboi tetapi mereka hanya diam menyikapinya.


Awal pertama melihat Wita orang-orang akan mengira dia itu seorang gadis biasa pada umumnya tetapi setelah mengenalnya lebih jauh orang-orang akan tahu bahwa tenaga yang dimiliki Wita itu jauh lebih besar dari pada gadis-gadis pada umumnya.


Dan untuk pertamakalinya Elda melihat dan merasakan sendiri tenaga yang di miliki Wita tampaknya ia masih tidak terima dengan perlakuan Wita padanya barusan dan ingin mendatangi Wita tetapi ia urungkan niatnya ketika melihat Raka memasuki kelas.


"Raka, Wita barusan memukul gue lihat tangan gue memerah." adu Elda pada Raka sedangkan Wita seolah-olah tidak perduli sekarang Wita sedang menahan emosinya yang ingin meluap.


Sabar Wita, gak ada gunanya kalau kamu ngeladenin dia, hanya akan menambah masalah. Batin Wita mengintropeksi dirinya.


Raka tidak perduli dan menuju mejanya berlalu meninggalkan Elda yang tampak kecewa.


"Raka masa lo gak mau belain gue," protes Elda pada Raka.

__ADS_1


Raka menghentikan langkahnya.


"Gue gak ada urusan sama masalah lo, lagian kayaknya Wita mukul lo karna lo yang mulai duluan." Raka berucap dingin dan melanjutkan jalan menuju mejanya.


Elda terdiam sedangkan Wita ia merasa senang ada yang membelanya karena memang dia tidak bersalah.


Apa Raka liat gue tadi saat berdebat dengan Wita. Batin Elda.


"Cih!" umpatnya kemudian pergi meninggalkan kelas itu.


Meninggalkan Raka dan Wita hanya berdua di kelas itu, murid-murid di kelas itu belum ada yang datang karena masih terlalu pagi.


Tidak ada kata-kata yang terlontar dari mereka berdua Wita benar-benar fokus pada piketnya di kelas itu.


Sampai akhirnya kelas itu menjadi ramai dan Wita sudah menyelesaikan tugasnya.


Teman satu piket Wita datangnya agak siang setelah Wita hampir menyelesaikan piketnya baru mereka datang tanpa berkata-kata atau menyuruh teman-temannya Wita lebih memilih untuk diam saja, bagi Wita itu bukan masalah temannya tidak piket.


Menurutnya seseorang yang di embankan tugas itu harus sadar diri sendiri dalam bertindak tanpa disuruh menurut Wita menyuruh mereka sama saja membuang-buang tenaga kalau pada akhirnya mereka tidak perduli juga.


Bel kelas pun akhirnya berbunyi, pagi itu guru mereka tidak bisa masuk karena berhalangan dan mereka diberi tugas untuk membuat kelompok yang berjumlah 6 orang.


Nawa menoleh ke arah Wita sedangkan Wita ia hanya diam di tempatnya pikirannya melayang.


Apa aku akan dapat teman kelompok yah. Batin Wita ia tidak ingin memaksa ikut dengan kelompok Nawa ia tidak tega dengan sahabatnya itu.


Wita merasa sudah cukup merepotkan sahabatnya itu ia ingin Nawa lebih maju daripada sebelumnya karena ia tahu kalau Nawa selalu bersama dirinya Nawa tidak akan pernah maju.


Dan benar sekarang Wita tidak dapat teman kelompok setelah pembagian kelompok itu tersisa dua orang dan salah satunya adalah Wita.


Wita hanya menarik nafas pasrah karena sang pembagi kelompok itu adalah Elda sebagai sekretaris kelas yang pasti akan memilih orang-orang yang dia sukai dan Wita tahu pasti saat ini Elda sedang balas dendam dengannya sehingga membuat Wita tidak dapat kelompok.


Rasaain lo gak dapet kelompok. Batin Elda mengejek Wita dan saat ini ia sedang menatap Wita.


"Hei Da! Ini gak adil deh, Wita sama Sandi gak dapat kelompok tuh," protes Nawa tidak rela sahabatnya di telantarkan.


"Lah kan mereka bisa ikut sama kelompok siapa aja. Terserah mereka berdua mau ikut kelompok siapa yang jelas kelompok gue udah fiks ini anggotanya atau kalau enggak mereka bisa satu kelompok berdua," jelas Elda pada Nawa.


Semua orang di kelas itu tidak pernah membatah keinginan Elda karena Elda merupakan cewek populer di kelas itu jadi apapun keputusannya selalu ditanggapi baik oleh siswa dan siswi di kelas itu.


Kemudian beberapa murid di kelas itu tertawa mengejek Sandi dan Wita sedang Wita menahan kekesalannya agar tidak meledak, kesabarannya benar-benar di uji hari ini oleh Elda.

__ADS_1


Mau apa sih itu cewek. Batin Wita sudah mulai emosi saat ini pikirannya melayang ingin sekali ia menjambak rambut indah Elda dan menampar wajah cantiknya itu karena sangking jengkelnya tetapi itu semua hanyalah sebuah khayalan karena ia tidak mungkin melakukan hal yang menurut Wita tidak berguna seperti itu.


"Elda aku gak setuju sama kelompok yang kamu buat, menurutku gak adil aku mau kelompok sama Wita," kata Nawa berdiri dari meja tempat duduknya.


Sedangkan Wita menatap haru sahabatnya itu, Nawa bahkan rela berdebat dengan Elda demi dirinya.


"Oke kelompok lo bawa Wita," kata Elda kemudian mau menulis nama Wita di kelompok Nawa.


"Gue gak setuju satu kelompok sama cewek berisik kayak lo," sekarang Raka yang berkomentar sedangkan Wita menatap ke arah Raka begitu juga seluruh murid di kelas itu dan Elda menatap Raka tidak percaya.


"Tapi Raka kelompok kita sudah fiks ini anggotanya," ucap Elda menjelaskan.


"Kalau gue gak mau lo mau apa maksa? Memang lo itu cewek gak tau malu yah," kata Raka tersenyum mengejek ke arah Elda dan membuat Elda malu dibuatnya sebelumnya Elda tidak pernah dibuat malu seperti itu oleh seorang pria.


"Oke-oke lo mau sama kelompok yang mana?" tanya Elda membuang malu.


"Gue mau satu kelompok sama Wita." jelas Raka dan membuat Wita melongo sedangkan Elda ia bagaikan sedang di lempar batu sudah dipermalukan oleh Raka sekarang ia malah seperti dijatuhkan oleh Wita yang tadi ia bermaksud membuat Wita malu tapi pada akhirnya malah ia yang di buat malu.


"Lo kenapa natap gue kayak gitu?" tanya Raka pada Wita yang menatapnya aneh.


"Aku hanya heran sama kamu kenapa kamu mau satu kelompok sama aku." jelas Wita.


"Daripada gue terkepung dengan gadis-gadis berisik kayak mereka gue lebih milih sama lo," Raka menjelaskan pada Wita alasannya dan Wita hanya tersenyum aneh.


Jadilah kelompok tadi teratur ulang kembali dengan kelompok Wita bersama Raka, Nawa, Ansal, Dava dan Sandi.


Ansal ia ikut kelompok Wita dengan alasan mengikuti Nawa.


Sepertinya mereka sudah akrab. Batin Wita


Sandi ikut dengan kelompok itu karena sama seperti Wita ia tidak dapat kelompok.


Dava ia ikut kelompok Wita karena ia bilang tidak ada kelompok yang asik belum lagi temannya Ansal ada dikelompok itu. Dava dan Ansal mereka adalah tetangga wajar saja mereka menjadi teman yang cukup dekat.


Oh ayolah aku menghindar dari orang-orang ini dan bermaksud berkelompok dengan para wanita saja, kenapa malah kelompok dengan orang-orang yang membuat jantungku tidak betah berada ditempatnya. Batin Wita memprotes sambil mengerjakan tugas yang diberikan guru mereka barusan.


Untung hanya hari ini, kalau tidak aku mungkin bakalan masuk ruang UGD. Batin Wita baperannya kambuh.


Apalagi teringat dengan kejadian yang barusan ia alami ketika mengatur tempat duduk ia langsung duduk di samping Nawa kemudian Dava datang bermaksud duduk di samping Wita tapi Raka secepat kilat mengambil tempat duduk itu dan akhirnya membuat Dava mengalah dan membuat Dava duduk berhadapan dengan Wita yang menjadi masalah bagi Wita adalah kenapa kedua pria itu sempat bertatapan tajam seolah tidak bersahabat tetapi kemudian Wita melupakan hal itu dan menganggap ia hanya salah menilai.


Apa ini hasil dari kesabaranku barusan. Batin Wita kemudian ia tersenyum tanpa diketahui oleh teman-temannya hatinya sekarang sedang berbunga-bunga karena senang.

__ADS_1


__ADS_2