
"Aah! Akhirnya selesai juga," Wita senang tugasnya di hari pertama ia bekerja telah selesai.
"Wita, kamu yang ngumpul semua berkas-berkas ini ke bos nanti ya," kata Nawa memerintah Wita.
"Eh, aku?" tanya Wita.
"Iya kamu, yang ngumpul semua berkas-berkasnya oke. Giliran kamu biar sekalian tau caranya ngadepin bos," kata Nawa meninggalkan seluruh berkas-berkasnya pada Wita.
"Wa, kenapa gak kamu aja yang ngumpul berkas ini," pinta Wita gelagapan karena tidak tahu kalau bertemu dengan bosnya nanti harus berbuat apa.
"Gak boleh bantah, gini-gini aku ini atasanmu," kata Nawa dan tersenyum penuh kemenangan. Wita ia hanya menarik nafas pasrah.
"Oh iya sebaiknya kamu rapikan pakaianmu itu, sebelum keruangan bos," kata Nawa tegas sebelum Wita meninggalkan ruangan itu.
Wita juga tidak punya pengalaman bekerja di kantor seperti ini .
Di sinilah Wita bekerja sekarang, di PT. Intermedia Group.
.
.
.
Direktur utama perusahan itu melewati lobi kantor hanya menatap semua orang dingin tanpa ekspresi dan begitu berwibawa tetapi tidak menghilangkan karismanya dan membuat semua orang kagum atas dirinya.
Setelah itu ia memasuki ruangannya dan duduk mengerjakan tugasnya di sana.
"Sebaiknya antar berkas ini secepatnya Wita," kata Nawa pada Wita yang masih sibuk merapikan dirinya yang berantakan biar bagaimanapun ia harus rapi bila bertemu dengan bosnya.
"Siap bos!!" kata Wita semangat dan mengambil berkasnya kemudian berlalu pergi.
Wita pergi mencari ruang bosnya.
"Ahh! Aku lupa bertanya dimana ruangannya," gumam Wita frustasi, Wita adalah orang baru di kantor ini ia masih belum kenal seluk-beluk kantor ini ketika ia sedang mencari ruangan bosnya ia bertemu beberapa orang pria ia kaget dan menyingkir tanpa bertanya, saat ini Wita benar-benar kebingungan.
Aneh yah kerja di sini, kok bawahan kayak aku bisa seenak jidat ketemu sama bos. Batin Wita mulai curiga dengan keanehan yang terjadi.
Sifat Wita saat ini tidak jauh berbeda dari sifatnya dahulu susah bersosialisasi dan berbaur dengan orang-orang apalagi bila itu kaum pria ia akan menghindar sejauh-jauhnya jika bisa meskipun begitu ia mulai mendapat banyak teman sekarang.
Tetapi di balik kegelisahannya Wita dapat menyembunyikan ekspresinya dengan tampang yang memang selalu tenang.
"Kantor ini sungguh luas," gumam Wita saat ini ia berada di depan ruang pantry kebetulan ada seorang pria yang lewat dan Wita memberanikan diri untuk bertanya dengan orang itu walaupun sebenarnya ia malu.
"Maaf pak, apa anda tau ruangan direktur utama?" tanya Wita dengan nada tenang.
"Oh kamu orang baru yah, kebetulan saya sekretaris disini." ucap orang itu.
"Iya saya orang baru, maafkan saya bersikap tidak sopan pak." ucap Wita sambil membungkuk.
"Sudahlah tidak apa-apa mari saya antar," kata pria itu.
"Oh ya nama kamu siapa? Saya Andi," tanya pria itu sambil memperkenalkan diri dalam perjalanan menuju ruangan direktur utama.
"Saya Wita," kata Wita memperkenalkan diri sambil tersenyum.
Kemudian setelah itu tidak ada percakapan lagi sampailah di depan ruangan direktur utama.
"Terimakasih pak telah mengantar saya," kata Wita membungkuk hormat.
__ADS_1
"Sama-sama, tapi kamu gak usah seformal itu. Panggil saja saya dengan nama saya saja." ucap Andi dan Wita hanya mengangguk lalu tersenyum dan Andi meninggalkan Wita.
Sebelum Wita mengetuk pintu ia menarik nafasnya terlebih dahulu karena ia merasa deg-degan.
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu yang diketuk Wita.
"Masuk!!" ucap seorang pria dengan suara bariton dari dalam ruangan itu dan Wita pun membuka pintu itu.
Kemudian Wita masuk dengan tampang tenangnya. Dan ketika membuka pintu ia melihat ada seorang gadis yang berada dihadapan direktur sehingga menutupi pandangannya dari direktur itu. Tapi Wita menyadari bahwa wanita itu bukanlah pegawai kantor tersebut.
Apa dia istri bos yah, cantik sekali tapi kok kayak gak asing pernah liat dimana yah. Batin Wita tidak asing dengan wanita yang dilihatnya.
Dan gadis itu keluar melewati Wita dengan sikap angkuhnya.
Wita mendatangi bosnya itu dengan ekspresi setenang mungkin.
"Ada apa?" tanya Direktur utama itu dengan suara baritonnya dan menghentikan acara menulisnya dan menatap Wita, ia terdiam sejenak begitu juga Wita. Ia terkejut saat mengetahui siapa direktur perusahaan itu karena sekarang ia sedang bertatapan mata dengan bosnya itu. Dan akhirnya Wita membuka suara.
"Ini pak ada berkas yang harus saya kumpulkan," kata Wita dengan nada yang setenang mungkin, padahal jantungnya saat ini seperti ingin melompat karena ternyata bosnya itu adalah Raka.
Wita ingin buru-buru keluar dari ruangan itu, niatnya bekerja untuk menghindari dan melupakan Raka malah pria itu sekarang menjadi bosnya.
Ya Tuhan, kenapa harus dia lagi yang aku temui, ternyata bumi ini memang sempit makanya bisa dikelilingi. Batin Wita merasa kurang beruntung.
Lebih baik aku diam di kamar kost sambil baca komik online dan baper sendiri daripada harus berhadapan dan menatap wajahnya itu. Batin Wita gelagapan.
"Apa ini punya anda?" tanya Raka formal kemudian Wita memberanikan diri melihat berkas itu dan mengangguk mengiyakan ia tidak berani membuka suara.
"Masih banyak kesalahan yang anda harus perbaiki bla bla~~~" teguran dari Raka yang sekarang berjalan kehadapan Wita sambil menceramahi dirinya dan hanya membuat Wita tertunduk, saat ini Raka mengomentari berkas yang dibuat Wita dan Wita hanya mengernyit wajahnya sambil tertunduk takut.
"Maafkan saya pak," kata Wita meminta maaf.
Tetapi ada rasa senang di hati Wita biar bagaimanapun saat ini dirinya dan Raka tidak lebih dari atasan dan Wita bawahannya yang siap di omeli kapan saja.
"Baik pak saya akan perbaiki," kata Wita mantap bersemangat atas kesalahannya.
Greb!
Saat ini Wita sedang membelalakan matanya kaget ia sekarang berada di dalam pelukan bosnya, lebih tepatnya Raka.
"Wita, kenapa kamu selalu menghindar saya?" tanya Raka dan membuat Wita terdiam sejenak, tak bisa dipungkiri Wita juga menikmati kehangatan dalam pelukan Raka sampai-sampai hal itu hampir meluluhkan kekesalan yang ada di hatinya.
Wita langsung mendorong Raka dan pelukan itu terlepas.
"Ma- mafkan saya pak Direktur tapi sekarang kita masih ada di kantor," kata Wita kemudian ia keluar dari dalam ruangan itu setengah berlari dan Raka hanya terdiam.
"Berarti ketika di luar kantor saya bisa bertemu denganmu sesuka saya dong, saya tidak sabar menunggu pulang kerja,"
"Oke! Kalau begitu saya harus semangat biar bisa menyelesaikan tugas kantor ini secepatnya dan setelah itu menemui Wita," gumam Raka dengan semangat membara kemudian ia menelpon seseorang.
"Cari tahu tentang seorang pegawai di kantor ini yang bernama Muwita Arafa tempat tinggal dan alamatnya serta statusnya sekarang," katanya kemudian menutup telepon ia masih tidak sempat mencari tahu di mana gadis itu tinggal karena pekerjaan kantor yang membuatnya sibuk.
Hueee! Malunya. Batin Wita jantungnya berdegub kencang.
Sebelum masuk ke ruangannya Wita menetralkan detak jantungnya yang sekarang dag-dig-dug tidak karuan, Wita masuki ruang kantornya dan buru-buru duduk dikubikelnya.
"Gimana Wit?" tanya Nawa mendatangi Wita.
__ADS_1
"Katanya harus diperbaiki," kata Wita kemudian menepuk jidatnya.
"Astaga tadi aku lupa ngambil berkasnya lagi," Wita kelupaan sangking paniknya tadi.
.
.
.
Di kantor ketika mempersiapkan penyambutan direktur utama baru perusahan itu...
"Wa, kamu dicari pak direktur tuh," kata seorang pegawai menegur Nawa.
"Wah Nawa ada hubungan apa kamu sama pak direktur." Ucap teman kantornya dan terjadilah gosip.
"Apaan, aku ini sudah punya tunangan tahu." Ucap Nawa emosi, jelas-jelas semua temannya tahu Nawa sudah punya calon suami. Dan hal itu membuat teman-teman Nawa bungkam karena benar apa kata Nawa dan mereka sudah pernah melihat calon suami Nawa.
"Kenapa pak direktur manggil, memang dia kenal aku ya," gumam Nawa sambil berjalan ke ruangan bos.
Ketika memasuki ruangan bosnya ia terkejut ternyata direktur barunya itu adalah Raka teman masa SMA-nya meskipun sudah 5 tahun tidak bertemu ia tidak akan pernah melupakan wajah pria itu.
"Maaf pak ada apa memanggil saya?" tanya Nawa sopan tidak ingin membuat kegaduhan karena dulu bila mereka berdua bertemu hanya akan ada adu cekcok yang mereka lakukan.
"Wita bagaimana keadaannya?" tanya Raka langsung menanyakan tentang Wita yang Nawa pikir mungkin Raka sudah tidak ingat sama sekali dengan mereka berdua.
"Wita sebenarnya hari ini dia sedang kurang sehat." ucap Nawa tertunduk, Raka hanya terdiam.
"Ada apa sebenarnya pak, apa hubungannya bapak menanyakan Wita dengan masalah pekerjaan?" Tanya Nawa memberanikan diri ia benar-benar ingin tahu sekarang.
"Saya akan menawarkan kamu suatu hal yang menarik, kalau kamu berhasil melakukannya saya akan menaikan jabatan kamu," kata Raka dan Nawa memberanikan diri untuk mendongak melihat wajah Raka.
"Pekerjaan seperti apa pak?" tanya Nawa.
"Pertemukan saya dengan Wita, buat dia bekerja di tempat ini," kata Raka membuat Nawa melongo bingung.
"Kenapa memangnya pak apa sahabat saya itu buat masalah dengan bapak?" tanya Nawa tidak ingin sahabatnya itu terkena masalah.
"Dia tidak pernah mempunyai masalah sama sekali, hanya saja ada janji yang harus di tepati, apa kamu belum tahu baguslah kalau Wita tidak pernah cerita itu saya anggap rahasia kami." Raka berucap.
Rahasia kami. Batin Nawa bertanya.
Nawa saat ini bingung dan hal ini membuat Nawa kesal pada Wita, ada rahasia yang Wita sembunyikan darinya, apa sahabatnya itu punya hubungan spesial dengan pria itu tetapi Wita memang tidak pernah mengucap nama Raka lagi setelah Raka pindah seharusnya dulu Nawa sesekali menyinggung nama pria itu untuk memancing Wita menceritakannya dan paham dengan Wita yang seolah-olah tidak punya gairah lagi dengan pria.
"Maaf pak tapi saya tidak ingin memperalat sahabat saya cuma hanya karena ingin naik jabatan," jelas Nawa.
"Tenang aja inikan sama-sama menguntungkan untuk kita semua Wita dia bisa mendapatkan uang, kamu yang sudah lama bekerja disini memang sewajibnya naik jabatan atau kalau tidak anggap saja ini surat undangan Wita untuk bekerja di tempat ini," jelas Raka.
"Tapi pak dia kuliah," kata Nawa.
"Dia bisa bekerja sambil kuliah di tempat ini," jelas Raka.
"Baiklah pak, saya akan bujuk dia biasanya sih dia itu gak akan menolak sama sekali tapi kalau dia tidak mau, saya tidak akan memaksanya," kata Nawa mereka pun akhirnya berjabat tangan setuju.
"Dan satu lagi syaratnya, jangan pernah beritahu Wita tentang saya yang telah mengundang bekerja di tempat ini." Ucap Raka dan Nawa ia mengangguk paham.
.
.
__ADS_1
.
...