Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Siapa


__ADS_3

.


.


.


"Wah ternyata benar cerita anak-anak dulu kamu itu ada hubungan sama Raka, kupikir kamu sudah gak ada lagi hubungan sama dia," kata Dava dan membuat Wita menoleh ke arahnya karena kaget. Tapi, ia hanya memandangi pria itu untuk sesaat.


"Dava? Sejak kapan, jadi hari ini kamu masuk di kelas ini juga?" tanya Wita balik dan tidak menjawab pertanyaan Dava karena hari ini ada kelas campuran jadi mereka satu ruangan dan baru kali ini mereka bertemu.


Wita tahu sebenarnya Dava satu kampus dengannya tapi karena aula kampus yang terpisah-pisah mereka tidak pernah bertemu, dan Wita hanya mencari alasan agar ia tidak perlu memberikan jawaban atas pertanyaan Dava.


Untung saat ini Wita tidak ada perasaan lagi dengan Dava kalau masih seperti dulu dia pasti akan salah tingkah sekarang.


"Yah begitulah," jawab Dava.


"Oh iya jadi kamu sama Raka itu benar ada hubungan yah?" tanya Dava lagi seperti begitu penasaran.


"Ah itu-..." tapi belum sempat Wita menyelesaikan kegugupannya Dosennya sudah masuk dan memulai mata kuliah dan itu membuat Wita menarik nafas lega, sebenarnya Wita bersikap seperti itu karena ia menyadari hubungannya dengan Raka baru saja di mulai jadi belum saatnya ia untuk mengumbar-umbar kan hubungannya kepada orang-orang.


Jam kuliah pun berakhir.


Sebelum meninggalkan kelas Dava mendatangi Wita lagi.


"Wit, kamu ada waktu luang aku pengen ajak kamu makan bareng di kafe terdekat sebagai pertemuan teman lama, kamu mau gak?" tanya Dava yang saat ini berdiri di depan Wita yang merapikan bukunya saat ini Lusy juga sedang mengajak Wita untuk bersamanya.


"Yang ngajak Wita duluan tuh gue," kata Lusy sewot dan mereka berdua pun mulai adu mulut.


Dan Wita hanya menatap kedua temannya itu sambil tersenyum heran.


"Kalian jangan bertengkar dong, sebenarnya sekarang aku sudah ada janji sama Raka." jelas Wita dengan mengucapkannya agak malu-malu.


Raka sempat membisikkan sesuatu saat ia ingin pergi meninggalkan Wita, yah dia mengajak Wita makan siang bersama.


"Tapi biar adil kita pergi bareng-bareng aja, aku bakalan bilang sama Raka sekalian," kata Wita dan keduanya mengangguk.


Ketika aku melihat mereka berdua aku teringat keributan Raka dan Nawa saat masih SMA dulu. Batin Wita.


Di perjalanan menuju Raka, Dava sesekali berbicara dan Wita menanggapinya dengan tersenyum sambil menjawab sekenanya sedang Lusy dia kebanyakan memprotes dan berakhir adu mulut dengan Dava.


Raka melihat Wita dari kejauhan ia merasa tidak suka dengan kedekatan Wita dengan Dava.


Dan Raka teringat masa lalu,


.

__ADS_1


.


.


"Ka kamu jangan sampai memberi harapan palsu pada Wita, kamu tahu sebenarnya aku tahu akal licik mu, kamu mau nyakitin Wita kan. Kpalau dan sampai kamu lakuin itu aku bakalan kasih kamu pelajaran," kata Dava mencegat Raka.


"Kamu tahu selama ini sebenarnya aku ada rasa sama dia, karena sifatnya yang begitu polos dan begitu sayang dengan temannya. Tapi sayang dia susah didekati karena dia selalu menghindar entah karena apa tapiĀ  anak-anak dulu bilang dia gak normal, aku bahkan gak percaya dengan ucapan itu," kata Dava mengungkapkan perasaannya dan meninggalkan Raka yang berdiri mematung karena rencananya telah diketahui oleh seseorang.


.


.


.


Ketika itu Raka masih tidak memiliki perasaan pada Wita tidak seperti sekarang ia sangat menyayangi Wita dan takut kehilangan dia.


Ketika sampai di warung makan tidak ada pembicaraan di antara Raka dan Dava mereka hanya saling pandang sekarang.


"Wita saya sudah kenyang kita pulang yuk," ajak Raka.


"Tapikan kita masih belum puas bertemu seperti ini," kata Dava.


"Benar Ka, lagipula kalian berdua belum ada bicara sama sekali," kata Wita membenarkan .


"Kalau begitu kamu harus tau," kata Wita tersenyum pada Lucy.


"Berapa lama yah kita gak pernah bertemu dan ngumpul kayak gini," kata Dava pada Raka dan Wita.


"Kalau sama aku mungkin saat perpisahan kelas tiga SMA dulu setelah itu gak pernah lagi," ungkap Wita.


Raka hanya diam.


"Raka terakhir kali kita berbicara waktu itu ada masalah, tentunya sebuah masalah yang kamu buat." kata Dava dan membuat Raka menatap ke arahnya tapi bukan tatapan ramah namun tatapan bermusuhan saat ini suasana menegang.


"Hei-hei, kalian berdua kalau kalian punya masalah ayo bermaaf-maafan mumpung ketemu sekarang," kata Wita melerai keributan.


"Wita kamu harus hati-hati sama dia," kata Dava dan Wita menatap bingung.


"Kalian ini ngeributin apa sih?" tanya Lusy tidak tahu menahu.


Kemudian Raka berlalu pergi dan Wita juga mengikutinya.


"Raka-Raka! kamu mau kemana?" tanya Wita membuntuti Raka karena ia tahu Raka saat ini sedang marah, ia khawatir dengan Raka dan begitu penasaran dengan masalah yang terjadi.


"Teman-teman aku pergi dulu yah!" ucap Wita meninggalkan Dava dan Lusy.

__ADS_1


Kemudian Dava juga meninggalkan Lusy dan Lusy juga ingin meninggalkan tempat itu, kemudian penjaga kafe itu mencegatnya.


"Mba! Mba! Bayar dulu," teriak penjual pelayan di kafe itu dan mencegat Lusy.


"Oh iya ini mba, maaf mba." kata Lusy memohon maaf kemudian mengejar temannya.


Kok akhirnya gue yang bayar sih. Batin Lusy kemudian membuntuti ketiga orang itu.


"Aduh!!" rintih Wita saat membuntuti Raka, Wita hampir saja tersandung.


"Kamu gak papa?" tanya Raka berbalik mendengar rintihan Wita khawatir dan langsung bertanya apakah ia baik-baik saja dan Wita mengangguk.


Kemudian Raka berbalik lagi meninggalkan Wita, gadis itu hanya kebingungan dibuatnya.


Raka memasuki mobilnya dan menyuruh Wita masuk tapi Wita tidak mau sebelum ada penjelasan. Lalu Raka keluar lagi dan mengajak Wita ke taman di belakang kampus dan duduk di sana kemudian Wita duduk di sebelahnya.


"Wita, saya gak suka kalau kamu dekat sama Dava." ungkap Raka berpaling dan tidak mau menatap Wita.


"Kamu cemburu?" tanya Wita.


"Tenang aja Ka, dia hanya temanku selama ini aku gak pernah perduli dengan laki-laki lain selain kamu," kata Wita melanjutkan dan saat ini Raka mau menatap ke arah Wita.


"Tapi Wita, perasaan bersalah saya sama kamu di masa lalu terungkap lagi, saya minta maaf Wit, saya benar-benar minta maaf." ucap Raka menyesali bahkan sangat menyesali perbuatannya dan Wita berusaha mengingatnya.


"Masalah apa?" Wita mengingat-ngingat.


"Oh masalah waktu itu, aku bahkan hampir lupa loh. Sudahlah itu sudah lama berlalu. Memangnya ada apa sama masalah itu?" tanya Wita.


"Kamu tahu, Dava adalah satu-satu orang yang tahu rencana yang saya mau lakuin sama kamu waktu itu." jelas Raka dan membuat Wita bingung.


"Bagaimana dia tahu?" tanya Wita bingung.


"Mungkin dia memata-matai saya waktu itu dan dia bilang dia punya rasa sama kamu," kata Raka terlihat tidak suka dan membuat Wita terkejut.


"Itu penyebabnya saya gak mau kamu dekat sama dia," kata Raka menjelaskan kalau dia benar-benar cemburu.


"Sebenarnya aku ingin jujur sama kamu Ka dari dulu. Tapi aku malu mengungkapkannya dan juga kamu jangan marah yah." kata Wita ragu-ragu menjelaskan.


"Sebenarnya, selama kamu mencari perhatian sama aku dulu aku bahkan gak perduli sama sekali loh sama kamu, karena ada seseorang yang mengisi hatiku waktu itu." jelas Wita dan Raka menatapnya penasaran.


"Siapa dia?" tanya Raka penasaran.


"Dia adalah Dava," ucap Wita tanpa ragu-ragu lalu bersandar di kursi taman itu dan membuat hati Raka sakit mendengarnya.


...

__ADS_1


__ADS_2