
Sore itu Raka pulang sambil tersenyum entah mengapa ketika bersama dengan Wita barusan membuat dadanya terasa menghangat dan ada sebuah debaran yang akhirnya membuatnya memegang dadanya.
Ia teringat dengan semua kedekatannya dengan Wita ia teringat senyum Wita, wajah emosinya dan yang terakhir tangisannya yang ternyata juga membuat hati Raka pedih mengingatnya.
Raka benar-benar melupakan patah hatinya pada Putri mantan kekasihnya ia bahkan sudah tidak perduli dengan gadis itu yang berada di pikirannya sekarang adalah Wita, gadis yang pernah ingin disakitinya.
Sambil melihat bekas balutan Wita pada lukanya membuatnya tersenyum, gadis itu begitu khawatir padanya mengingat wajah Wita yang tampak syok saat meraih tangan Raka dijembatan ketika sudah melompat kala itu.
.
.
.
Sedangkan Wita ia masih merasa khawatir kalau-kalau Raka berbuat hal yang aneh-aneh lagi ketika dia meninggalkannya.
Namun setelah mempertimbangkannya Wita mengurunkan niatnya untuk mendatangi Raka lagi karena barusan ia melihat Raka tersenyum.
Mengingat itu Wita langsung salah tingkah ia tersipu dan keringatnya langsung mengucur deras untung saja tidak ada orang disekitar situ mungkin kalau ada dia tidak akan melupakan kekonyolannya saat salah tingkah.
Saat itu entah mengapa Wita memeluk pohon yang ada dipinggir jalan itu ketika tersadar ia pun langsung cepat-cepat melepas pelukannya itu ia malu sendiri walaupun tidak ada yang melihatnya.
Apakah ini yang namanya cinta, kenapa aku bersikap aneh kayak gini, kenapa dadaku rasanya berdebar-debar kencang gini, kenapa aku gak bisa ngontrol diri aku, kenapa.. . Batin Wita dengan banyak pertanyaan yang tidak terjawab.
"Hhhh!!" Wita frustasi dengan perasaannya sendiri kemudian ia memegang dadanya yang berdebar kencang.
"Apa jantungku sekarang mau lompat?" tanyanya entah mengapa Wita malah tersenyum dan pulang dengan perasaan bahagia setelah ia mengingat kenangannya bersama Raka walaupun sempat mengeluarkan raut kekecewaan karena mengingat Raka yang ingin menyakitinya tetapi perasaan kecewa itu seolah-olah sirna karena sesuatu yang bernama cinta.
Ternyata mereka berdua merasakan hal yang sama.
.
.
.
Dalam khayalan Raka berdua bersama Wita terusik karena singgah sebuah mobil mewah berwarna hitam tidak jauh dari hadapannya, langkah Raka langsung terhenti ia ingin berbalik namun sayang ternyata dibelakangnya ada seorang pria berbadan besar sudah menghadangnya.
"Ck," umpat Raka karena merasa terkepung.
Wita yang sudah sampai kedalam rumahnya tampak begitu bahagia dan wajahnya menjadi cerah karena saking senangnya, mamanya yang melihatnya menatap aneh namun Wita tidak perduli akan hal itu dan langsung masuk kedalam kamarnya.
Sedangkan Raka sekarang ia sedang berlari mencari tempat persembunyian karena sekarang ia dikejar oleh empat orang pria berbadan besar dan satu orang pria berbadan jangkung yang mengemudi mobil.
"Ck, kenapa mereka tidak berhenti mengejar sih!" umpat Raka sambil berlari.
"Hosh hosh hosh!" lari Raka terhenti disebuah pohon besar dengan nafas yang memburu.
__ADS_1
Ia sudah tidak sanggup berlari lagi karena kakinya yang terluka berdenyut sakit.
"Sial, kenapa sakitnya harus sekarang?" gumamnya terduduk dibelakang pohon besar itu sambil memegang lututnya yang terasa ngilu.
Kemudian ia mengintip dibalik semak-semak yang ada didekat pohon itu dan melihat keempat pria berbadan besar itu lari menjauh darinya tampaknya persembunyian Raka tidak diketahui oleh pria-pria itu dan Raka menarik nafas lega.
Sambil tertatih ia keluar dari persembunyiannya berniat pulang ke rumahnya yang sekarang.
Tetapi ia menyadari sesuatu dibelakangnya telah berada seorang pria jangkung yang mengendarai mobil tadi.
Tidak sempat ingin lari kesadarannya telah menghilang karena tengkuk kepalanya telah dipukul agar ia pingsan.
Di akhir kesadarannya ia mendengar pria jangkung itu minta maaf
"Maafkan saya tuan muda saya harus melakukan ini," kata pria itu
"Ukh," rintih Raka diakhir kesadarannya dan semua lenyap ia tidak ingat apa-apa lagi.
Tidak lama kemudian Raka tersadar sambil memegang tengkuk kepalanya yang sakit karena dipukul tadi.
Setelah sadar sepenuhnya ia langsung meronta ingin keluar dari mobil tetapi ia tidak kuat karena ia diapit oleh dua orang pria berbadan besar.
"Keluarin gue sekarang dari mobil ini, gue gak mau pulang!" Raka masih berusaha ingin keluar dari mobil itu.
"Tuan muda, tuan harus pulang sekarang karena ayah dan bunda tuan akan menjelaskan semuanya pada tuan," kata pria jangkung yang mengendarai mobil.
Kemudian Raka teringat dengan ucapan Wita tentang orang tuanya
Dan karena mengingat ucapan itu Raka langsung diam ia tidak berucap kata apapun lagi dan tidak ingin meronta keluar dari mobil lagi sampai akhirnya mereka sampai di masion keluarga Pradika.
Sebelum masuk masion itu Raka sempat menatap tempat itu, biar bagaimanapun ia tetap rindu dengan rumahnya.
Ketika sampai Raka disambut baik oleh pelayan-pelayannya dan kemudian Raka membalas sambutan mereka dengan senyum cerah dan membuat seluruh pelayan disitu kaget dan bertanya-tanya siapa yang merubah sifat tuan mereka itu.
Mereka teringat sebelum Raka meninggalkan masion itu, Raka sangat sombong dan angkuh apalagi ketika bersama dengan kekasihnya kala itu yang begitu sombong dan bahkan bisa menghina para pelayan masion itu secara terang-terangan dan Raka dulu bahkan pernah bersikap kasar kepada pelayannya karena masalah sepele dan tidak pernah tersenyum kepada mereka yang dianggapnya tidak sebanding dengannya.
Tetapi ia sekarang telah berubah dan ia pun akhirnya mengerti apa arti dari susah.
Ketika masuk di ruang utama ia melihat bunda dan ayahnya tersenyum ke arahnya dan saat itu Raka tertunduk.
"Akhirnya putra bunda ini pulang, dari mana saja kamu nak," kata bunda Raka memeluknya dan Raka membalas pelukan bundanya bagaimana pun ia saat ini merasa begitu rindu sudah lama ia tidak dipeluk seperti ini karena sibuknya kedua orang tua Raka bekerja dan ini juga merupakan hal yang membuat Raka bersikap dingin karena kurangnya kasih sayang.
Hari itu merupakan hari bahagia untuk keluarga itu karena bisa berkumpul lagi.
Setelah itu ayah Raka masuk kedalam ruang kerjanya dan memanggil pria yang menjemput Raka barusan dan merupakan supir pribadi Raka selama ini dan empat pria berbadan besar itu adalah pengawal Raka.
Setelah mendapat penjelasan yang membuat ayah Raka kaget karena Raka hampir berbuat nekat namun gagal, akhirnya ayah Raka hanya mengangguk dan mempersilahkan pria itu untuk bekerja kembali.
__ADS_1
"Jadi sekarang kamu akan pulang?" tanya ayah Raka menuju ruang keluarga setelah meninggalkan ruang kerjanya.
Saat ini bunda Raka sibuk melihat luka Raka dan sibuk menanyai Raka kenapa bisa terluka seperti itu tetapi Raka hanya diam tidak menjawab namun bunda Raka tidak terlalu khawatir karena luka itu sudah diobati, setelah mendengar pertanyaan ayah Raka yang secara tiba-tiba mereka berdua pun menoleh ke arah sumber suara.
"Tentu saja sekarang anak bunda akan pulang," kata bunda Raka ke arah Raka sedangkan Raka langsung tertunduk.
"Sebenarnya... Raka belum bisa pulang bunda, bunda bisa Raka minta izin buat Raka tinggal di desa itu sampai Raka naik kelas, ada yang Raka harus lakuin" kata Raka ragu takut tidak diizinkan.
Awalnya bunda Raka menolak tetapi Raka masih bersikeras untuk kembali akhirnya ayah Raka menjelaskan kejadian sebenarnya kepada bunda Raka dan membuatnya terkejut dan langsung bertanya pada Raka.
"Raka apa benar kamu mencoba bunuh diri?" tanya bunda Raka dan Raka tertunduk mengangguk.
Bunda Raka langsung meringsut lemas
"Bunda, bunda gak papa. Maafin Raka bunda Raka juga sudah menyesal hampir melakukan hal bodoh itu." jelas Raka memeluk bundanya.
"Kalau begitu kamu harus pulang sekarang," pinta bunda Raka dan Raka masih menggeleng.
"Kenapa sayang?" akhirnya bunda Raka bertanya pada anaknya sekarang.
"Ada orang yang harus Raka datangi, ia tidak hanya mengobati luka Raka diluar tapi luka Raka di dalam pun ia obati bun, Raka gak bisa ninggalin dia gitu aja." jelas Raka dan membuat bunda Raka menatap ke arahnya.
"Apa dia sama seperti Putri? Hanya memanfaatkanmu, kalau begitu bunda gak setuju. Bunda gak marah kamu bersanding dengan siapa saja asalkan dia bisa menjaga kamu," jelas bunda Raka kali ini Raka menggeleng.
"Bunda gadis itu tidak sama seperti Putri, gadis itu tidak tahu Raka siapa, gadis itu bahkan sangat berbeda dengan Putri dan bahkan gadis itulah yang Raka manfaatkan bukan Raka yang di manfaankan." jelas Raka
"Gadis itu berbeda bunda, gadis itu memang serba biasa tidak secantik Putri tapi dia begitu baik setelah mengetahui semuanya ia bahkan memaafkan Raka yang jelas-jelas sudah berniat jahat sama dia, dia juga gadis yang menyadarkan Raka bahwa Raka memiliki banyak kesalahan." lanjut Raka menjelaskan dan bunda Raka tersrnyum melihat anaknya yang tertunduk.
"Bun, Raka suka dia." kata Raka tertunduk malu.
"Siapa namanya?" tanya bunda Raka.
"Wita," kata Raka menyebut nama gadis itu dan sekarang ia tertunduk malu dan bunda Raka malah terkikik melihat tingkah putranya itu.
"Baiklah-baiklah bunda izinin sampai penaikan kelas, bunda lakuin ini semua juga untuk kamu Raka setelah ini kamu harus sekolah ke luar negeri dan melanjutkan sampai kuliah di sana masalahmu dengan gadis itu kamu boleh mendatanginya setelah lulus kuliah nanti, kalau memang kalian saling suka pasti kalian akan bertahan meskipun harus menunggu." jelas mama Raka dan Raka senang karena diizinkan namun sedih karena harus berpisah.
Dan Raka akan melakukan cara apapun agar membuat hati gadis itu menjadi miliknya sampai ia kembali nanti dan menjadikan gadis itu miliknya seutuhnya.
Setelah beberapa hari bermalam di masionnya karena satu hari lagi liburan mereka akan berakhir Raka akhirnya pamit pergi kembali ke desa tempat tinggalnya sekarang.
Dalam kepergiannya saat ini ia akan di dampingi oleh seorang pelayan yang akan mengurus rumahnya karena bunda Raka tidak ingin melihat putra semata wayangnya itu kesusahan lagi.
Sebelum pergi Raka mencium tangan kedua orang tuanya meminta izin dan bunda Raka sempat berbisik dikuping Raka.
"Kejarlah orang yang bisa membimbing kamu itu," bisik bunda Raka di kuping Raka dan membuat Raka menjadi salah tingkah dibuatnya karena akhirnya hubungannya di restui oleh kedua orang tuanya.
"Wit tunggu gue," gumam Raka.
__ADS_1
"Hatsyi!!" tiba-tiba Wit bersin dan merasa ada seseorang yang menyebut namanya tetapi membuat dadanya serasa di penuhi oleh serangga yang berterbangan.
"Kenapa ini?" gumam Wita bingung sendiri kemudian melanjutkan pekerjaannya mencuci piring.