
Raka telah sampai di Desa tempat Wita tinggal dan dia tinggal sekarang setelah 2 jam perjalanan ia beristirahat sebentar dan sorenya ia berjalan-jalan ke pantai sambil menikmati angin sore.
Tetapi pandangannya akhirnya tidak tertuju pada ombak di pantai itu melainkan tertuju pada seorang gadis yang sedang tertidur dibawah pohon sambil menikmati angin pantai.
Dia adalah Wita, sebenarnya Wita saat ini tertidur dibawah pohon itu karena mengantuk berat semalaman ia tidak nyenyak tidur karena ketakutan di rumah sendirian.
Ayah, ibu dan adiknya pergi ke rumah keluarga di kota dan dia tidak ingin ikut dan sok berani padahal penakut jadinya ia tidak tidur nyenyak semalaman.
Akhirnya karena bosan dengan kesunyian rumah ia pun pergi ke pantai dan bersandar disebuah pohon dan tanpa ia sadari akhirnya ia tertidur.
Raka mendekatinya diam-diam Wita tidak mengetahuinya tampaknya ia tidur begitu pulas sambil tersenyum Raka duduk di sampingnya.
Dan menaruh kepala Wita dipundaknya kemudian dia juga ikut bersantai sambil membaca bukunya dan tidak memperdulikan apakah Wita akan marah ketika ia bangun nanti karena ulahnya.
Tetapi Raka sudah menyiapkan jawabannya salahnya sendiri tidur di pantai itu sendirian kalau seandainya orang yang sekarang disampingnya bukanlah dirinya bagaimana, Raka langsung memasang muka dingin karena hal itu ia tidak akan pernah terima tetapi ia bersyukur ia yang melihat Wita pertamakali.
Dan benar saja tidak lama kemudian Wita menyadari suatu hal yang aneh ia merasa ia tidak sendirian dan sekaramg pun ia tahu kalau ia merebahi pundak seseorang dan ia merasa tidak salah lagi karena ia mencium bau mint dari tubuh orang itu, yang ia sadari adalah seorang laki-laki.
Saat itu Wita langsung membelalakan mata kaget dan langsung loncat berdiri.
"Gyaa!!" teriaknya sambil mendorong pria itu.
"Ra-Raka kamu kok ada disini?" tanya Wita polos tanpa berniat membantu Raka bangun.
Saat ini Raka tengah terbaring di samping pohon itu akibat dorongan Wita.
Sedangkan Wita saat ini keringatnya langsung mengucur deras.
Apa yang sudah dia lakuin, apa dia tadi berbuat macem-macem, aduh gimana ini kenapa juga aku bisa ketiduran disini. Batin Wita merutuki kesalahannya.
"Tenang aja gue gak berbuat macem-macem kok, lagian lo juga tidur disini untung gue yang liat lo tidur disini kalau laki-laki hidung belang habis lo." ceramah Raka seolah-olah tahu pikiran Wita.
"Jangan bengong aja dong bantuin gue bangun," pinta Raka dan tanpa basa-basi Wita membantu Raka bangun.
Saat tangan mereka bersatu Wita merasakan tangan Raka yang hangat sedangkan Raka tersenyum melihat gadis yang berada didepannya ini ternyata gugup karena saat ini tangan Wita dingin dan berkeringat.
Setelah Raka terduduk Wita langsung cepat-cepat melepas tangan yang di genggam Raka padahal Raka masih enggan melepas tangan Wita karena ia masih ingin memberi Wita kehangatan.
__ADS_1
Wita bingung harus berbuat apa, ia tidak tahu harus ngapain dan memilih berdiri memandangi laut.
"Tanganmu kenapa dingin?" tanya Raka seolah-olah tidak tahu.
Jangan-jangan selama ini tangannya selalu seperti itu bila bersamaku. Batin Raka merasa ada peluang bahwa Wita ternyata menyukainya.
"Ah, itu memang tanganku dingin." alasan Wita ekspresinya tidak bisa di baca karena tertutup oleh topeng ketenangannya padahal sebenarnya saat ini perasaannya campur aduk.
Raka tersenyum kearah Wita dan Wita saat ini membalas senyumannya, Wita saat ini merasakan jantungnya yang berdegub kencang begitu pula dengan Raka.
"Gimana kalau kita jalan-jalan." ajak Raka dan Wita yang bermaksud menolak malah mengiyakannya.
"Baiklah," kata yang terucap begitu saja, entah mengapa ia tidak bisa menolak ajakan Raka.
Mereka pun akhirnya jalan-jalan di pantai itu. Lalu Raka menceburkan diri di air dan menyirami Wita.
Wita yang sebenarnya tidak ingin basah-basah malah tertantang karena ulah Raka dan Wita membalas Raka.
Tetapi di tengah canda tawa mereka bermain air Wita kelilipan.
"Aduh-duh!" ucap Wita memegang matanya dan Raka menghentikan aksinya menyirami Wita.
"Udah gak papa," kata Wita padahal matanya masih kelilipan.
"Apa yang gak papa coba." akhirnya Raka menuntun Wita kepinggir pantai karena Wita sudah tidak sanggup membuka matanya.
Di pinggir pantai Raka meniup mata Wita yang kelilipan karena Wita sudah tidak sanggup lagi untuk melakukannya sendiri air matanya keluar dan matanya sedikit memerah Raka benar-benar khawatir.
"Wit gue cariin obat mata yah," ucap Raka panik.
"Udah gak papa Raka, lagian disini mana ada orang jualan." jelas Wita pada Raka matanya saat ini sudah merasa baikan.
Raka menarik nafas lega karena Wita sudah tidak mengucek-ngecek matanya lagi.
"Maafin gue yah Wit, gara-gara gue lo jadi kelilipan" Raka meminta maaf
"Ini bukan salahmu kok, aku yang gak hati-hati." Wita tersenyum lima jari.
__ADS_1
Dan Raka hanya menatapnya sekilas karena masih merasa bersalah.
Kemudian mereka melanjutkan jalan-jalan di sore itu sambil berbincang-bincang Wita yang begitu antusias menjelaskan segala hal yang ia tahu di Desa itu membuat Raka tersenyum karena tingkahnya.
Sampai pada akhirnya mereka berdua merasa kedinginan dan memilih untuk pulang.
Raka berniat ingin mengantar Wita tetapi Wita menolaknya karena rumahnya tidak terlalu jauh dari daerah itu dan akhirnya Raka mengiyakan.
Malamnya Wita dibuat tidak bisa tidur karena terus kepikiran kejadian itu sedangkan Raka ia terus tersenyum bahkan saat tidur.
.
.
.
Hari sekolah pun telah tiba selama seminggu mereka liburan dan tidak terasa dua bulan lagi mereka akan mengadakan ulangan penaikan kelas.
Wita pagi itu datang dengan wajah cerianya saat memasuki kelas ternyata Raka sudah berada dibangkunya dan dia satu-satunya orang di kelas itu.
"Sepertinya aku ke pagian deh," gumam Wita kemudian ingin meninggalkan kelas bermaksud duduk diluar saja menunggu yang lain.
"Hei Wit lo mau kemana?" tanya Raka.
"Aku mau keluar," kata Wita tenang.
"Sini dulu ada yang mau gue kasih liat," kata Raka.
Wita yang penasaran akhirnya mendatangi Raka.
"Duduk dulu napa," kata Raka menyuruh Wita duduk dan Wita pun duduk setelah melihat apa yang ingin di tunjukankan Raka, Wita langsung tersenyum karena yang dilihatkan oleh Raka adalah video anime kesukaan Wita.
Wita begitu senang dan fokus menonton video itu sedangkan Raka asik menatap Wita sampai pada akhirnya banyak murid yang akhirnya memasuki kelas itu dan tidak terasa bel masuk pun berbunyi.
"Ka, nanti aku mau nonton video itu lagi." pinta Wita dan Raka mengangguk mengiyakan ia senang melihat Wita bahagia tetapi ia merasa cemburu pada tokoh utama anime itu yang katanya disukai Wita.
Seandainya gue tokoh utama anime itu, gue adalah makhluk yang paling beruntung. Batin Raka mengkhayal tingkat tinggi karena begitu menyukai Wita sekarang.
__ADS_1
Sedangkan Wita ia bahagia dalam hatinya.
Seandainya Raka mau jadi tokoh anime kesukaanku untuk mendampingi hidupku, aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Batin Wita berharap Raka adalah jodohnya.