
"Lepas!" ronta Wita lemah ia tidak bertenaga karena kepalanya masih pusing.
"Kenapa juga kamu ada disini, oh sedang asik berkencan ya?" Tanya Wita dengan wajah kesalnya.
"Bukan Wita, aku kesini karena mencari sesuatu." Jelas Raka tapi Wita tidak mau mendengarnya karena gadis itu sepertinya telah terbakar api cemburu.
Raka yang melihat wajah Wita yang pucat langsung memegang dahi Wita, Wita menepisnya.
"Kamu sakit?" tanya Raka khawatir.
"Bukan urusanmu," kata Wita ketus menarik tangannya sehingga pegangan itu terlepas.
Tiba-tiba gadis cantik yang menggandeng tangan Raka datang.
"Sayang, dia siapa?" tanya gadis itu sedangkan Raka ia kehabisan kata-kata.
"Benar-benar pasangan yang serasi." Gumam Wita tersenyum miris kemudian berlalu pergi tidak perduli.
"Putri, berhenti kamu ngikutin saya. Denger yah kita gak punya hubungan apa-apa lagi." Raka berucap pedas dan meninggalkan Putri dan lagi-lagi mengejar Wita.
"Wita tunggu saya!" teriak Raka kepada Wita yang sudah menjauh.
Raka bersembunyi di balik dinding mol itu ketika melihat dua teman Wita yang sedang kasmaran, Nawa dan Ansal.
Wita hanya tersenyum menanggapi kebersamaam mereka berdua dan tidak ingin mengganggu walaupun ia sakit ia masih sadar diri.
Tetapi Nawa tetap bersikeras ingin membawanya pergi bersama Ansal tetapi Wita menolak dan lebih memilih pulang. Perasaannya benar-benar tidak enak sekarang.
"Wit kamu ikut aku yah." ajak Nawa Wita tersenyum lalu menggeleng.
"Gak usah, aku bisa pulang sendiri kok, kamu gak usah khawatir aku udah sehat," kata Wita berlalu pergi sambil melambaikan tangannya kepada Nawa dan Ansal. Hari ini moodnya sedikit tidak baik sehingga membuat Nawa salah paham dan mengira Wita marah padanya.
"Wita," lirih Nawa merasa bersalah pada sahabatnya itu tetapi kalau sudah seperti itu Wita tidak akan bisa di halangi lagi. Ansal hanya merangkul Nawa agar gadis itu tegar dengan sikap Wita yang tiba-tiba berubah aneh.
Kemudian Raka lewat di hadapan Nawa dan Ansal tanpa mereka berdua sadari.
Wita saat ini berdiri di depan mol menunggu taksi lewat dan akhirnya bukan taksi yang berhenti di hadapannya melainkan sebuah mobil sport hitam mewah.
Wita pikir itu penculik ia berniat berteriak jika ada hal yang mencurigakan karena saat ini ia tidak memiliki tenaga untuk melawan karena sakit.
__ADS_1
Ternyata yang keluar dari mobil itu adalah Raka dan membuat Wita tambah kehilangan harapan untuk melanjutkan hubungannya dengan Raka.
Sekarang Wita berpikir ia seperti terhadang oleh jarak bumi dan langit benar-benar tidak serasi menurut Wita, Wita baru tahu bila Raka itu orang kaya tentu saja ia merasa tidak pantas dengan Raka.
Ia hanyalah seorang gadis desa, yang ada ia hanya akan di cap sebagai gadis matre oleh orang-orang, tapi ia bukan orang seperti itu.
"Wita, saya akan mengantar kamu pulang," kata Raka yang sekarang berdiri di hadapan Wita.
Wita rindu dengan pria yang sekarang tumbuh begitu tinggi dari dirinya itu dan kedewasaannya namun Wita cukup tahu diri.
Wita berlalu pergi dari hadapan pria itu tidak perduli dengan ajakan pria itu.
Grep!
Mata Wita terbelalak kaget pasalnya sekarang ia di peluk.
Aku di peluk, di peluk pria. Batin Wita kaget.
"Kyaa!" Wita berteriak kaget mendorong Raka walaupun tubuh itu masih lemah karena sakit tetapi ia masih bisa berhasil melepaskan pelukan itu.
Wita berlari meninggalkan Raka setelah menjauh ia terduduk lemas di sebuah kursi kepalanya begitu pusing sekarang ditambah terik matahari yang mulai menyengat.
"Stop kamu ikutin aku, kamu kenapa sih," kata Wita dingin.
"Kamu yang kenapa, kenapa kamu ngehindar?" tanya Raka.
"Urusi saja pacarmu sana, aku gak mau ganggu hubungan kalian, aku juga gak ada hubungannyakan sama kamu untuk apa kamu ganggu aku," kata Wita ketus ia berucap begitu saja tidak bisa di pungkiri kalau Wita cemburu dan Wita hanya dapat menyesali kenapa ia langsung keceplosan berkata seperti itu, Raka ia bingung menanggapi gadis itu.
"Kamu cemburu?" tanya Raka tersenyum.
Wita tertunduk malu, yah dia malu gara-gara ulahnya sendiri.
"Gak, aku gak cemburu kalian itu pasangan yang serasi kok, aku setuju sama hubungan kalian gak masalah tapi kamu harus setia sama pasanganmu jangan ganggu aku, sudah cukup sama dia," kata Wita hatinya sebenarnya sakit berkata seperti itu mau di apa ia juga merasa tidak pantas dengan Raka yang memiliki segala-galanya itu.
Wita menghentikan taksi yang berlalu kemudian memasukinya tidak memperdulikan Raka yang mengejarnya.
Sampai di rumah Wita tergeletak di atas kasur sambil menangis.
Kenapa rasanya kayak gini sakit, aku gak boleh kayak gini aku harus kuat, dia bakalan bahagia dengan orang itu, Wita kamu sudah pernah mengalami rasa ini, jadi kamu bakalan kuat kok. Batin Wita menyemangati dengan air mata yang berlinang.
__ADS_1
Tapi kenapa rasanya begitu sesak. Batin Wita tidak tahan.
"Cintaku mungkin gak akan pernah terbalas," gumam Wita. Tiba-tiba Nawa memasuki kamar, Wita menyembunyikan wajahnya Nawa tidak boleh tahu kalau dirinya menangis.
"Wit, kamu kenapa? Kamu marah sama aku, maaf Wit aku gak bermaksud ninggalin kamu buat jalan sama Ansal," kata Nawa memeluk Wita merasa bersalah padahal ia tidak marah sama sekali dengan Nawa gadis itu salah paham, Wita merasa bersalah.
"Gak Wa aku gak marah sama kamu kok," ucap Wita sengo habis menangis beruntung saat ini dia sakit jadinya Nawa pikir itu pileknya Wita yang agak memarah.
"Wit kami sudah minum obat?" tanya Nawa pada akhirnya.
"Belum," kata Wita menarik ingusnya.
"Pantes aja, cepat minum obat sana nanti pilekmu tambah parah loh," kata Nawa mengambilkan air putih sedangkan Wita langsung bangun mengelap air matanya.
Nawa datang dengan membawakan segelas air dan memberikan ke Wita setelah itu Wita meminum obatnya.
Kringg! Telpon Nawa berdering.
"Ya halo,"
"Ya, baik saya akan segera kesana."
Klik! Telpon dimatikan.
"Ada apa Wa?" tanya Wita.
"Aku harus pergi ke kantor sekarang ada tugas mendadak, padahalkan masuknya besok kenapa malah dapat tugasnya sekarang. Pasti gara-gara bos baru itu deh," jawab Nawa.
"Memangnya siapa bos baru itu?" tanya Wita, Nawa menggedikkan bahu tidak tahu.
"Entahlah Wit, besok ia akan masuk seluruh karyawan juga gak ada yang tahu rumornya sih dia itu tegas banget mungkin hari ini mereka mempersiapkan penyambutan deh, kalau gak salah dia akan datang berkunjung hari ini," ujar Nawa.
"Aneh banget yah perusahaan disitu apa kerja kantoran memang kayak gitu?" tanya Wita lagi.
"Entahlah Wit gak usah dilanjutin pertanyaan gak pentingmu itu lebih baik kamu istirahat sekarang biar cepat sembuh," kata Nawa dan Wita mengangguk mengiyakan.
"Umm," ujar Wita mengangguk kemudian berbaring tidur kembali.
Nawa pergi meninggalkan Wita yang sekarang mencoba beristirahat tetapi ia tidak bisa sama sekali beristirahat, ia masih memikirkan pertemuannya dengan Raka barusan.
__ADS_1