
Tidak terasa hari ini sudah hari minggu. Wita hari ini sedang sibuk membereskan kosan nya. Sudah seminggu juga ini kepulangannya dari acara pernikahan Nawa.
Niatnya hari ini ia akan mengerjakan skripsi kuliahnya, Nawa belum kembali ke kosan mungkin ia masih menikmati bulan madunya bersama suaminya dan kemungkinan siang ini baru ia datang lagi ke kosan ini untuk mengambil barang-barangnya, tentu saja dan seterusnya ia akan tinggal bersama suaminya.
Dan tidak mungkin semua kembali seperti dulu, Nawa pasti saat kembali akan terus-terusan bersama Ansal.
Tapi Wita senang memikirkan ketika Nawa bersama Ansal, cita-cita dan sesuatu yang paling diinginkan sahabatnya itu akhirnya tercapai.
Wita tersenyum memikirkannya, kemudian melanjutkan seluruh pekerjaannya lagi.
Kebetulan seluruh penghuni di area kosan itu sedang pulang ke rumah masing-masing, termasuk ibu kosnya ia juga pulang kampung. Jadi area kosan tempat Wita tinggal sedang sangat sepi, bahkan nyaris tidak ada orang dan hanya Wita seorang. Rupanya hari ini adalah hari yang sedang di nantikan oleh seseorang untuk melancarkan aksinya.
.
.
.
Brak!!
Suara pintu terbuka keras, Wita kaget dan langsung waspada dengan keadaan. Ia tahu sekarang pasti ada sesuatu yang tidak beres. Wita ketakutan tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, mau tidak mau ia harus menjadi berani sekarang karena saat ini ia tengah sendiri di area kosan itu.
Sambil mengambil ancang-ancang untuk menghadapi keadaan dengan setenang mungkin tidak ingin panik, ia berusaha menenangkan dirinya menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan agar rasa paniknya berkurang.
Wita tahu saat ini area kosannya sedang tidak ada orang sama sekali, hanya dia seorang. Dan tidak mungkin tetangga kosannya yang lain memaksa masuk dengan mendobrak pintu seperti itu.
Tiba-tiba pria berbaju hitam dan bertopeng terlihat memasuki rumahnya. Wita yang mengintip dari arah pintu dapur akhirnya tahu siapa yang datang, kemudian ia bersembunyi di samping kulkasnya ia berusaha tetap tenang.
Ia membuka hpnya cepat dan langsung mengirim pesan dengan tangan bergetar.
"Raka tolong" Bunyi pesan Wita.
Sebelumnya Raka memang merasa khawatir kepada Wita setelah Wita memberi penjelasan kepadanya jika saat ini ia sedang benar-benar sendiri di area kosan nya, semua orang sudah pulang hari itu dan cuma Wita yang bertahan karena sebelumnya Wita sudah pulang lebih dulu daripada penghuni-penghuni lainnya. Kebetulan area kosan Wita memang kurang ketat dari penjagaan.
Dan betapa kagetnya Raka ketika ia menemukan dan membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya, Raka langsung menelpon Wita. Untung saja ponsel Wita selalu dalam mode diam tanpa suara. Kemudian Wita mengangkat telponnya cepat, Raka berteriak-teriak dari seberang sana sangat khawatir.
__ADS_1
"Ketemu kau gadis manis," kata pria itu berdiri dihadapan Wita ia menemukan Wita.
Raka begitu terkejut ketika mendengar suara pria dari seberang telponnya, ia panik.
"Aaaaa!!!!" Wita berteriak nyaring. Sebelum sempat pria itu mengatakan sepatah kata apapun lagi pada Wita.
"Wita! Wita!" Raka langsung berlari meninggalkan kantornya berlari tanpa memperdulikan pegawainya yang melihatnya keheranan bahkan ia tidak perduli dengan Andi yang menatapnya terkejut serta keheranan karena saat ia ingin mengetuk ruangan Raka pria itu lebih dulu membuka pintunya, Raka bergegas menyusul kediaman Wita dengan mobilnya cepat.
.
.
.
Ternyata teriakan Wita tadi adalah teriakan Wita saat mendorong kuat sang pria bertopeng. Ia benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan.
Ketika tangannya tertangkap ia memberontak sangat kuat dan membuat tangan kecilnya itu terkilir dan Wita tidak memperdulikan hal itu.
Wita tidak memperdulikan rasa sakitnya itu, yang ia harus lakukan saat ini adalah membela diri.
Kemudian ia melemparkan seluruh barang yang ada di dekatnya. Tapi itu tidak berarti apa-apa. Pria itu bisa menghindari lemparan demi lemparan dari Wita dan jika pun kena itu bahkan tidak melukai pria itu sama sekali.
Apa yang harus kulakukan sekarang. Batinnya berusaha berpikir dalam kepanikannya.
Ia sudah pasti tidak dapat menghindar dari tusukan pisau itu karena ia tidak bisa bela diri dan tidak melawan pun sama saja.
Yang ia dapat pikirkan saat ini hanyalah cara untuk meloloskan diri, dan mengerahkan seluruh tenaga tanpa kemampuan apa-apa melawan seorang pria berotot dan tentu saja kuat. Yang bisa ia lakukan sekarang harus mencari cara agar bisa kabur karena jika melawan sama saja dengan bunuh diri.
Saat menoleh ke belakang ia melihat jendela, Wita menemukan ide.
Tanpa berpikir panjang Wita menghantamkan dirinya ke kaca jendela sekuat tenaga, kaca pun pecah dengan tubuh Wita yang ikut terlempar keluar jendela. Seketika tubuh Wita langsung di penuhi dengan luka-luka entah itu luka memar atau pun luka terbuka yang mengeluarkan darah segar.
Dengan tubuh luka-luka dan rasa yang membuatnya cukup kesakitan Wita masih mempertahankan kesadarannya. Sekujur tubuhnya memang sakit ia terbentur cukup keras ke tanah tapi ia tidak memperdulikan rasa sakitnya itu.
"Aww!" Rintih Wita saat menyadari kakinya tengah menginjak pecahan beling dan meninggalkan luka cukup dalam. Tapi tidak ada kesempatan baginya untuk meredakan rasa sakit itu lagi ia harus mencari pertolongan.
__ADS_1
Wita langsung berlari dengan sisa tenaganya ke arah jalanan dengan pria bertopeng itu mengejarnya.
Saat melihat Wita tengah berlari sambil terpincang-pincang seorang wanita bertopeng berdecak kesal melihat gadis itu masih selamat.
Kemudian ia melajukan mobilnya dan berniat menabrak Wita saat Wita berniat minta tolong kepadanya.
Wita menyadari bahwa orang yang berada di dalam mobil itu adalah komplotan sang penjahat. Wita tahu tidak mungkin ada orang yang lewat di daerah itu selain penghuni kosan di tempat itu karena areanya yang memasuki sebuah gang.
Menyadari hal itu Wita berhasil menghindar dan berlari menjauh. Raka datang sedikit terlambat ia melihat Wita yang sedang di kejar seorang wanita bertopeng dengan terpincang-pincang.
Raka ingin menyusul namun ternyata ada seseorang yang ingin memukul Raka dengan balok dari belakang.
Raka yang menguasai beladiri dapat menghindari balok itu dengan insting bertarungnya.
Dan mengalahkan pria kekar itu sampai tidak sadarkan diri, kemudian ia langsung menyusul Wita.
Wita bersembunyi di belakang pohon besar. Tampaknya tempat bersembunyi nya sudah ketahuan. Karena ada langkah kaki yang ia dengar mendekatinya.
Wita bersiap-siap dengan sisa tenaganya.
"Hyaaa!!!" teriak wanita bertopeng yang baru Wita sadari adalah seorang wanita ingin menikam Wita dengan pisau.
Wita dapat menghindari serangan itu dan ketika ia akan menyerang Wita lagi, Wita menangkap tangan wanita itu dan mencengkeramnya dengan sangat kuat bahkan memelintirnya membuat wanita itu menjerit kesakitan. Jangan lupakan bahwa Wita itu adalah seorang tomboi, wanita dengan tubuh mungil seperti itu tentu saja bukan tandingan Wita.
Kebetulan wanita itu tidak bisa beladiri dan Wita bersyukur karenanya. Namun yang membuat Wita bertanya-tanya siapakah pria dan wanita yang ingin mencelakainya itu. Apakah ia punya masalah dengan orang lain, Wita tidak tahu dan tidak bisa memikirkannya sekarang.
Pisau terjatuh dan Wita menendangnya jauh. Wanita itu menginjak kaki Wita yang terluka.
"Argghh!" Wita kesakitan dan cengkeramannya pun terlepas.
Wanita itu mengetahui kelemahan Wita, ia tahu kaki Wita terluka parah. Wita tersungkur menahan sakit di kakinya yang sekarang di penuhi oleh darah, lukanya semakin dalam tidak sempatnya ia mencabut beling yang menempel di kakinya karena ia harus lari dalam kejaran penjahat itu dan hal itu cukup untuk membuat lukanya bertambah dalam.
"Hahaha!! Kali ini lo akan gue habisi," kata wanita itu. Mengambil pisaunya.
.
__ADS_1
.
.