Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Minta Izin


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Ma aku pulang!!" seru seorang gadis remaja yang tidak lain adalah Wita.


"Wa'alaikum salam," sahut seorang wanita paruhbaya yang menggendong seorang anak perempuan berumur 3 tahunan.


Saat sampai dirumah Wita langsung masuk kedalam dengan berlari sehingga rumah yang ditempati Wita berbunyi cukup keras karena rumah Wita yang terbuat dari kayu namun cukup luas.


"Wit, kamu itu gak bisa pelan-pelan apa? Kamar dekat sama ruang tamu, masih juga lari, memang berapa sih umurmu itu sekarang kayak anak kecil aja!" teriak mama Wita dengan sedikit emosi.


"Hehe, maaf ma habisnya kelamaan kalau jalan, ada yang mau aku kasih tau mama," kata Wita sambil keluar kamar setelah mengganti baju dan mendatangi mamanya.


"Apa?" tanya mamanya sambil menurunkan adik Wita yang digendongnya dan adik Wita pun turun dan mendatangi Wita.


"Kakak!! Endong-endong, aku mau endong cama kakak." ucap adik Wita cadel.


"Ih kamu ini sudah gede masih aja mau di gendong," kata Wita sok tidak peduli.


"Aku belom gede kak aku macih kecil, kakak tuh yang udah gede masih kayak anak kecil," kata adik Wita protes.


"Beh dah pinter ngomong kah adik kakak ini, sini pale kakak gendong," kata Wita sambil merentangkan kedua tangannya kemudian adiknya itu langsung mendatanginya dan setelah itu Wita menggendongnya, mama Wita yang melihat itu hanya tersenyum.


"Iya Wit tadi kamu mau ngomong apa?" tanya mamanya.


"Gini ma, tadi itu di sekolah pas pelajaran bahasa Inggris, guruku nyuruh aku buat kerja kelompok sama teman sebangku," ucap Wita.


"Lah terus kenapa? Biasanya kan kamu kerjain tugas kelompok gitu di rumah Nawa kalau gak disini," kata mamanya tidak tahu.


"Masalahnya itu ma, aku gak sekelompok sama Nawa," kata Wita lagi.


"Kok bisa, biasanya kalian gak bisa dipisahin," kata mama Wita lagi.


"Ah ini semua gara-gara wali kelasku ma, dia buat aku dan seluruh teman-teman di kelas jadi duduk berpasang-pasangan dan sekarang aku duduk sama cowok ma," kata Wita kali ini dengan wajah ditekuk entah kerena malu atau kesal.


"Oh gitu, jadi?" tanya mama Wita lagi.


"Besok aku minta izin sama mama pas pulang sekolah aku kerumahnya jadi agak pulang telat," kata Wita ragu-ragu karena malu.


"Hah? Masak perempuan ke rumah laki-laki sih, kenapa gak dia yang kesini." ucap mama Wita.


"Gi-gini ma aku kalah debat sama dia saat perundingan di sekolah. Tadi aku kalah karena saat ini aku gak tau maksud dari tugas yang diberikan guru di sekolah ma. Tapi, rumahnya gak jauh kok ma searah ke rumah ini cuma masukin gang gitu," kata Wita menjelaskan.


Disekolah....


"Ka nanti pas ngerjain tugas ini kamu kerumahku yah!" pinta Wita.


"Gue gak mau ke rumah lo, lo aja yang kerumah gue," kata Raka datar namun dari notasinya tidak ingin di bantah.


"Ihhh, pokoknya aku gak mau datang ke rumahmu aku ini perempuan masa ke rumah laki-laki malu-maluin aja!" ucap Wita jujur karena sudah emosi, dia tidak ingin harga dirinya sebagai perempuan turun. Dia juga takut akan ada gosip yang tidak mengenakkan.


"Pokoknya, lo harus kerumah gue titik. Kalau lo gak ke rumah gue, bakalan gue aduin lo kalo lo gak kerja saat nyelesain tugas ini. Lagipula kan lo gak ngerti sama maksud tugasnya," kata Raka yang membuat Wita tidak berkutik karena memang dia tidak tahu maksud tugas itu karena tugas itu adalah tugas bahasa Inggris.


"Oke aku kerumahmu besok langsung pas pulang sekolah, aku gak mau nanti kalau aku sendiri yang nyari-nyari rumahmu. Bikin repot tau!" ucap Wita tegas walaupun sebenarnya dia sudah sedikit salah tingkah.


"Apa, mana bisa kayak gitu kalo ada yang liat gimana?" tanya Raka sok jual mahal karena pasti harga dirinya turun bawa cewek ke rumah kalau Wita nyari rumah Raka sendirikan cuma Wita yang malu.


"Intinyakan aku kerumahmu!" seru Wita kemudian meninggalkan kelas dan diikuti oleh Raka, Nawa yang melihat hanya terdiam karena tidak ingin ikut campur urusan Raka dan Wita.


Kemudian mereka pulang bersama, mereka sudah janjian tapi anehnya setelah perdebatan itu tidak ada lagi yang membahas pembahasan itu dan karena hal itulah Wita seolah-olah tidak menganggap Raka berada di antara mereka sampai Raka yang akhirnya menegur mereka untuk mendapat perhatian.


"Terserah kamu aja Wit intinya pas ke rumah cowok itu hati-hati yah, udah dulu Wit mama pergi kedapur yah, istirahat gih kalau kamu capek," kata mamanya dan mengambil adik Wita dari gendongan Wita.


"Iya, mah aku tidur siang dulu yah!" kata Wita pergi ke kamarnya.


"Kamu juga tidur siang yah sayang," kata mama Wita ke anak bungsunya kemudian dia mengangguk dan setelah itu mamanya mencium pipinya gemas.

__ADS_1


.


.


.


"Assalamu'alaikum, Wita!!" ucap seseorang dari luar rumah.


Bruk!!!


Tap-tap-tap!!!


Jduk!!!


Brak!!!


Suara-suara yang berasal dari kamar Wita keluar sampai keluar rumah.


"Wita! Kenapa lagi itu! Kamu ngapain?" suara mama Wita dari arah dapur.


"Hueee!" suara tangis anak kecil menggema, mungkin karena kaget.


Nawa yang mendengar diluar rumah hanya mengernyitkan mata karena sedikit ngeri mendengar kegaduhan itu sedangkan Wita tidak perduli dengan kegaduhan tersebut dan langsung membukakan pintu rumahnya.


"Walaikum salam, iya kenapa Wa?" tanya Wita keluar dari pintu dengan tampang acak-acakan.


"Ya ampun Wit kamu gak cuci muka yah, ketahuan banget kalo bangun tidur," kata Nawa melihat Wita dari ujung kaki sampai ujung kepala yang tampak berantakan dan terlihat kalau muka dan rambutnya yang kusut.


"Hehe, udah gak sempat," Wita yang dikatai begitu hanya tersenyum lima jari dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Cepat rapi-rapi gih, kamu temanin aku yah!" pinta Nawa mengajak.


"Mau kemana? Oh ya masuk dulu gih," kata Wita menyuruh Nawa memasuki rumahnya dan Nawa hanya mengangguk mengiyakan dan mengikuti Wita masuk kerumahnya.


"Ayo Wa, untung mama gak marah besar jadinya aku diizinin deh," kata Wita girang karena tidak terlalu diomeli.


Setelah itu mereka pergi ke tempat tujuan mereka saat diperjalanan mereka hanya berbincang-bincang dan tidak beecanda seperti biasanya karena Wita sudah berjanji untuk tidak bercanda di pinggir jalan karena dapat membahayakan.


"Oh iya Wit sebenarnya aku penasaran, apa yang terjadi tadi pas aku panggil kamu dirumahmu?" tanya Nawa.


"Sebenarnya... Sebelum kamu manggil aku itu aku tuh tidur pulas banget gak tau apa-apa tapi pas kamu manggil namaku aku gak tau tiba-tiba aja aku langsung melek kesenangan karena kamu datang kerumahku.


Trus saking semangatnya aku refleks aja gitu loncat dari kasur tanpa aku sadari selimutku ngelilit kakiku aku pun terjatuh tidak perduli aku pun berdiri dan berlari lupa kalau pintu kamarku kututup akupun menabraknya karena emosi aku banting deh pintunya.


"Dan ternyata masalahnya jadi ribet mamaku marah adikku nangis," jawab Wita sambil tersenyum aneh.


"Makanya Wit kamu hati-hati dong," saran Nawa.


"Iya aku tau, tapi kita berdua itu sama aja kali, inget gak pas aku datang kerumahmu kamu ngapain," kata Wita dan mereka pun mengingatnya.


Saat itu hari libur Wita jalan-jalan karena bosan tapi tujuannya bukan ketempat wisata namun ke rumah Nawa sahabatnya.


Ketika sampai di rumah Nawa, Wita memberikan salam kepada Nawa kebetulan saat itu tidak ada orang di rumah Nawa dan Nawa berlari keluar langsung tanpa memperdulikan apa yang dikerjakannya.


Kemudian mereka pun berbincang sambil sesekali bercanda ingat sahabat yang hampir tiap hari ketemu tapi saat bertemu seperti orang bertahun-tahun tidak bertemu.


Tiba-tiba tercium bau tidak sedap dari arah dapur dan itu bau gosong ternyata saat itu Nawa sedang memasak namun saking semangatnya karena Wita kerumahnya ia pun melupakan pekerjaannya.


Saat sampai dipintu dapur mereka berdua langsung panik,karena wajan yang digunakan oleh Nawa untuk menggoreng lauk sudah terbakar, untung saja mereka dapat mengatasinya, jika tidak mereka tidak bisa membayangkan.


"Ih aku ngeri ngingatnya kamu tau Wit sampai sekarang mamaku gak tau kejadian itu, kalau dia tau pasti aku bakalan di omelin habis-habisan," ucap Nawa tampak takut membayangkan.


"Ternyata kita kalau bertemu bahaya yah," kata Wita dan diangguki Nawa.

__ADS_1


"Bisa lupa diri!" ucap mereka serempak dan kemudian mereka tertawa.


"Kalau gitu mulai sekarang kita harus hati-hati bila bertemu oke!" saran Wita.


"Baiklah aku mengerti." ucap Nawa menyetujuinya.


"Oh iya Wa, memangnya kita mau kemana? Dari tadi aku gak tau loh tujannya," tanya Wita.


"Emm, aku mau beli kaset anime favorit kita katanya sih di tempat langgananku udah ada, sepupuku udah punya malah lagipula aku udah cukup lama gak kesana," kata Nawa menjelaskan.


"Beneran nih, udah ada wah senangnya," kata Wita gembira.


"Nanti pas udah beli kamu langsung aja kerumahku hari ini kita nonton bareng, kebetulan rumahku gak ada orang pada sibuk semua." jelas Nawa.


"Yosh, oke, sipp!!" ucap Wita semangat sambil mengancungkan jempolnya.


Sampailah mereka di toko itu, mereka langsung masuk tanpa babibu dan mendatangi kaset yang memang sudah disusun rapi diraknya yang bertuliskan 'anime'.


"Itu dia!! Disana tempatnya," tunjuk Nawa ke tempat kaset CD yang mereka tuju, akhirnya mereka pun memilah-milah kaset itu untuk mencari yang mereka cari karena tidak menemukannya akhirnya mereka berniat bertanya pada penjaga toko itu seperti biasa Nawalah yang berbicara karena penjaga toko itu laki-laki sedangkan Wita dia hanya berada di belakang Nawa.


"Permisi kak, bisa minta tolong?" tanya Nawa kepada penjaga toko itu yang juga tampaknya sangat sibuk menulis daftar barang baru yang datang.


Kebetulan penjaga toko itu menggunakan topi kerja saat dia mengangkat kepala Nawa terkejut sedangkan Wita dia tidak tahu apa-apa karena matanya sibuk menerawang toko itu sampai sebuah suara membuyarkan aktivitasnya


"Raka, kamu kerja disini?" tanya Nawa tidak percaya sedangkan Wita ia langsung melongo.


"Iya memangnya kenapa? Salah?" tanya Raka yang tampaknya jengkel karena ditatap aneh oleh kedua gadis itu.


"Eh gak papa kok, sebenarnya aku ingin minta bantuan," kata Nawa mengeleng-gelengkan kepalanya dan Wita menghentikan aktivitas melongonya.


"Apa yang bisa aku bantu, mau nyari CD drama korea terbaru, itu disana!!" tunjuk Raka kesebuah rak yang bertuliskan 'Drama Korea edisi terbaru' dan ia melanjutkan acara menulisnya.


Wita dan Nawa kemudian saling menatap dan mereka tertawa secara bersamaan walaupun sebenarnya mereka menahan tawanya


"Maaf Ka tapi kami berdua ini berbeda kita tuh kesini mau nyari CD anime bukanya CD Korea Drama kita gak suka itu!!" Nawa menjelaskan.


Kali ini Rakalah yang  tersenyum mengejek "kalian berdua," tunjuk Raka


"Kekanak-kanakan sekali" lanjutnya kemudian dia tertawa, Nawa dan Wita hanya menatapnya datar bukan merasa terhina namun mereka malah memberikan tatapan menghina untuk Raka sehingga yang bersangkutan berhenti tertawa.


"Bisa tolong kami sekarang, apakah ada kaset CD anime ini edisi terbaru?" tanya Nawa menunjukkan kaset anime kesukaannya sekarang sepertinya ia sudah tidak sabar lagi untuk pergi dari toko itu kemudian menonton anime tersebut bersama sahabatnya.


"Oh," kemudian Raka berdiri dari duduknya dan mengambilkan kaset yang mereka cari dan memberikanya


"Ini dia," kata menyodorkan CDnya.


Dan tampak terlihat kalau sekarang kedua gadis itu sedang berbinar-binar mereka senang bukan main bukan karena artis idola berada di depan mereka namun sebuah kaset yang akan menjawab rasa penasaran mereka.


Raka hanya menatap mereka aneh dan yang ditatap seolah tidak perduli sama sekali.


"Berapa harganya?" tanya Nawa.


Setelah mereka membayar mereka pun pergi meninggalkan toko itu, saat di luar toko mereka saling merangkul satu sama lain kemudian mereka sempat-sempatnya bertingkah layaknya anak kecil dan sebenarnya beberapa orang yang lewat memerhatikan mereka aneh namun mereka tidak perduli termasuk Raka walaupun mereka tidak tahu kalau Raka memerhatikan mereka.


Setelah itu mereka bergendengan tangan dan jalan loncat-loncat layaknya anak kecil yang kesenangan diberikan permen.


"Memalukan." ucap Raka tersenyum simpul kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Sebenarnya alasan Raka bekerja di toko ini karena uang sakunya menipis, saat Raka lari dari rumah dia tidak membawa apa-apa agar ia tidak dapat dilacak oleh ayahnya ia mengeluarkan seluruh uang tabungannya yang dia simpan dan lari dengan itu.


Namun ia tidak dapat berharap banyak dengan uang itu, karena lama kelamaan pasti akan habis dan dia berniat tidak akan pulang sebelum orang tuanya mau menyelesaikan masalahnya sesuai keinginannya.


"Beginikah rasanya jadi orang susah," kata Raka mengeluarkan keluhnya kemudian melanjutkan pekerjaanya.

__ADS_1


__ADS_2