Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Reuni


__ADS_3

Wita saat ini tengah mengandung anak Raka selama kurang lebih empat bulan.


Mendadak teman-teman masa SMA Wita dan Nawa mengajak reunian di sebuah restoran.


Wita yang mengandung anak Raka tampaknya moodnya kurang baik, ia merasa sikapnya sama dengan suaminya saat masih muda. Benar-benar tidak bergairah dan tidak perduli dengan sekitar.


Ia tidak ingin anaknya memiliki sifat yang sama dengan sang suami di masa mudanya karena ia tahu betul sifat Raka dulu itu seperti apa. Akhirnya dengan setengah hati Wita menentang keinginan sang bayi yang ada di dalam kandungannya itu. Ia harus bersosialisasi.


Nawa dan Ansal yang menjemput Wita ke rumahnya. Kebetulan sampai saat ini Nawa dan Wita tidak pernah tinggal saling berjauhan walaupun sekarang mereka sudah berumah tangga masing-masing bahkan Nawa sudah memiliki seorang anak, namun Wita dan Nawa masih sering saling bertemu. Dan masih sangat dekat tidak ada yang berubah di antara hubungan mereka berdua.


Setelah mengirimi pesan berupa minta izin pada Raka, Wita pun langsung berangkat pergi. Wita berpikir suaminya itu pasti sangat sibuk sampai-sampai telponnya tidak di angkat dan pesannya pun tidak di balas. Wita berusaha mengerti dengan hal itu dan berusaha memahami kesibukkan suaminya, dan ia anggap minta izinnya itu di iyakan.


.


.


.


"Gawat kemana handphone saya?" tanya Raka pada diri sendiri ternyata ia terpisah dari handphonenya. Ia panik, pikirannya kalut bagaimana jika ada apa-apa dengan istrinya yang sekarang tengah hamil muda itu dan sekarang ia malah terpisah dengan ponselnya.


Setelah mencarinya kesana-kemari ia pun menemukannya di ruang kerja, ia benar-benar terlihat seperti seorang ayah yang super sibuk sampai istirahat pun tidak ada, kemudian ia melihat panggilan Wita yang sudah berjumlah lima kali dan satu pesan masuk.


Raka menelpon Wita balik dan nomornya tidak aktif, Raka panik. Ia sangat-sangat overprotektif pada istrinya yang sekarang tengah mengandung anaknya itu. Ia sangat khawatir pada dua nyawa yang berada pada satu tubuh itu. Ia kalang kabut bukan main sekarang.


.


.


.


Di waktu yang bersamaan.


"Yah-yah, kok mati sih. Duh, Wa aku lupa ngecas ini hp, mana gak bawa power bank lagi," kata Nawa yang menemaninya duduk di sampingnya dan Ansal menyetir mobilnya.


"Aku juga lagi gak bawa Wita, memangnya kamu perlu banget ya hp itu?" tanya Nawa.

__ADS_1


"Iya Wa pasti Raka ini lagi nelpon aku sekarang," kata Wita dengan dugaan yang tepat. Ia tahu pasti bagaimana paniknya suaminya itu sekarang karena ia tidak dapat dihubungi. Tapi bawaan bayi yang di kandung Wita ia seperti merasa tidak perduli dengan kepanikan Raka.


Akhirnya Wita menelpon Raka dengan ponsel Nawa. Raka dari seberang sana terdengar dari kata-katanya benar-benar panik, tapi Wita tetap bersikeras pergi ke acara reunian itu dan menjelaskan ia saat ini di temani oleh Nawa dan Ansal jadi Raka tidak perlu khawatir.


Akhirnya setelah perdebatan di antara mereka Raka akhirnya mengalah dan mengizinkan Wita.


.


.


.


Sampailah mereka di restoran tempat mereka janjian, teman-teman lama mereka sudah berkumpul termasuk guru kesayangan mereka pak Bowo, sebagian lebih dari teman sekelas Wita yang sudah tidak pernah ia temui lagi hadir pada reuni itu.


Pak Bowo juga ikut menghadiri acara itu, wali kelas mereka yang lainnya juga di undang tapi hanya pak Bowo lah yang dapat hadir, guru itu memang benar-benar antusias terhadap murid didikkannya.


Nawa, Ansal dan Wita masih menghormati pak Bowo, bagaimana pun karena guru itu mereka memiliki kisah bertemu dengan jodoh mereka. Karena pak Bowo lah cerita mereka dengan jodoh mereka di mulai.


"Kalian Wita, Nawa dan Ansalkan?" tanya pak Bowo lupa-lupa ingat, wajar saja ini sudah lebih dari lima tahun yang lalu mereka tidak di ajari oleh guru mereka itu, teman-temannya lain hanya menyimak pembicaraan mereka dan beberapa di antaranya membicarakan hal yang lain lagi. Menikmati pertemuan teman lama.


"Kalian sudah menikah?" tanya pak Bowo.


"Sudah pak!" jawab mereka serempak, kebetulan saat mengadakan acara pernikahan mereka pak Bowo sudah tidak mengajar di SMA mereka dulu dan mereka tidak memiliki kontak pak Bowo untuk mengundangnya. Sebenarnya orang yang mengundang pak Bowo untuk hadir di acara ini juga teman sekelas Wita dulu, ia mencari kontak pak Bowo dari guru-guru lain karena kebetulan pak Bowo datang ke daerah itu lagi dan di adakan lah acara reunian itu walaupun akhirnya hanya pak Bowo wali kelas mereka dulu yang hadir.


"Mana pasangan kalian?" tanya pak Bowo.


"Ini pak suami saya," kata Nawa merangkul suaminya senang.


"Wah, ternyata kalian berdua menikah. Bapak tidak menyangka saat bapak mendudukkan kalian berdua, ternyata kalian berjodoh." ucap pak Bowo, ia benar-benar tidak menyangka hal itu akan terjadi.


"Bagaimana dengan Wita?" tanya pak Bowo kepada Wita. Belum sempat Wita menjawab seseorang datang memasuki restoran itu. Dia adalah Raka.


"Dia itu, Raka kan?" ucap pak Bowo setengah ingat. Raka menghampiri Wita.


"Dia suami saya pak," kata Wita tersenyum. Raka yang ingin menceramahi Wita tidak jadi karena ia melihat guru yang membuatnya mengenal Wita. Tanpa basa-basi Raka langsung memberinya hormat dengan mencium tangan wali kelasnya itu.

__ADS_1


"Lagi-lagi saya tidak menyangka, kalian berdua juga berjodoh, apakah ada yang lain selain mereka berdua?" tanya pak Bowo pada muridnya yang lain. Tapi tidak ada yang menjawab pertanyaan itu tampaknya hanya mereka berdua yang berjodoh dengan teman duduknya.


Beberapa di antara mereka tidak percaya Raka dan Wita telah menikah dan lainnya yang tahu tentang pernikahan Raka dan Wita mereka berusaha menjelaskan teman-temannya yang tidak tahu. Mereka juga tidak menyangkal jika sampai saat ini Raka tetap terlihat tampan.


"Tapi pak, saya benar-benar khawatir istri saya ini tengah hamil empat bulan pak dan dia tidak mau mendengarkan ucapan saya untuk tetap diam di rumah beristirahat." ucap Raka menjelaskan kepada pak Bowo dan guru itu hanya tertawa mendengarkan pengaduan Raka.


"Sayang kamu gak perlu secemas itu," kata Wita.


"Tapi sayang, kamu itu harus banyak-banyak istirahat." ucap Raka menatap Wita cemas.


"Kalian berdua tampaknya benar-benar saling mencintai dan saling menjaga ya," kata pak Bowo sambil tertawa ia senang. Sifat mereka berdua yang terlihat sangat tertutup itu sekarang menjadi lebih terbuka daripada yang dahulu, semuanya benar-benar berubah. Pak Bowo ia senang dengan rencana saat itu ternyata tidak sia-sia, ia berhasil merubah sikap muridnya.


.


.


.


Malam reuni itu pun berakhir, Wita dan Raka sudah sampai di depan rumah mereka.


"Sayang malam ini kamu dapat hukuman," kata Raka.


"Hukuman apa?" tanya Wita tidak mengerti.


Raka menggendong Wita dan membawanya masuk ke dalam rumah. Belum Wita sempat berucap bibir Raka sudah membungkamnya.


"Kamu akan saya makan malam ini," kata Raka. Wita ia tidak ingin berkata apa-apa lagi.


.


.


.


~Tamat~

__ADS_1


__ADS_2