
Wita tengah menatap layar hpnya sambil matanya berkaca-kaca ingin menangis badannya sudah enakan namun kegalauannya masih melanda sehingga ia lebih memilih untuk membaca cerita komik online melalui hpnya parahnya ia membaca komik online bergenre romantis dan sekarang ada adegan dimana cewek di tembak dan mereka berciuman hal ini justru menambah kegalauan Wita tentang masalah percintaannya yang menurutnya aneh tapi nyata itu, ia kemudian mewek sendiri dibuatnya.
Sial, bikin baper banget sih nih cerita. Batin Wita mengumpat ia tidak ingin melihat cerita itu tetapi komik itu komik favoritnya.
Brak! Pintu terbuka kasar menampakkan wajah Nawa yang kusut gara-gara pekerjaannya itu.
"Wa kenapa?" tanya Wita bangun dari baringnya, Nawa tidak perduli.
Wita hanya menatapnya bingung sekarang ia malas bertanya dan lebih memilih melanjutkan acara membacanya, tiba-tiba Nawa memandangnya penuh interogasi dan membuat Wita bergedik ngeri di buatnya, gadis itu memberi tatapan menerkam pada Wita.
Wita seolah-olah tidak perduli dengan sahabatnya yang siap mengomelinya kapan saja itu, Wita masih terlalu galau untuk bertanya masalah sahabatnya.
Nawa juga tampaknya marah pada Wita entah apa yang membuat Nawa marah pada Wita, Wita tidak tahu.
"Wa, aku sudah masak nih makan yok!" panggil Wita di depan pintu sambil membawa sendok nasi Nawa tidak mengubrisnya.
"Wa, kamu kenapa sih? Kamu lagi PMS yah?" tanya Wita pada Nawa yang sekarang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Wa, kamu marah sama aku yah? Gara-gara apa? Boleh aku minta penjelasan." ucap Wita kebingungan kenapa sahabatnya itu marah padanya, sudah cukup masalahnya dengan Raka kenapa sahabatnya malah memperparah masalahnya lagi.
"Kamu tanya aja sama diri kamu sendiri apa masalahnya, kamu tega yah." ucap Nawa ketus masih meraju, Wita bingung kemudian berlalu pergi ia sudah tidak tahan untuk tidak menangis.
"Maaf Wa kalau aku salah," suara Wita bergetar meminta maaf kemudian masuk kedalam kamar mandi meringkuk dan menangis di sana sendirian tanpa sepengetahuan Nawa tentunya.
"Hiks, hiks!" Wita menangis sesegukan.
Nawa pergi ke kantor pagi-pagi buta, Wita padahal saat itu sudah bangun namun ia tidak sanggup menegur Nawa karena ia tidak ingin di lihat oleh Nawa matanya sembab akibat menangis sekarang ia sudah sembuh total dari demamnya walaupun flunya masih tetap terasa.
Nawa sebenarnya tidak tega juga tidak menegur Wita tetapi ia masih tidak terima kenapa sahabatnya itu menyembunyikan semuanya darinya dan tidak pernah cerita padanya masalah yang sebenarnya, penderitaannya selama ini dia pendam sendiri harusnya dia cerita.
Wita berangkat kuliah dengan mengendarai motornya dengan wajah yang kusut tidak ada senyuman sama sekali.
Nawa sekarang menyibukkan diri di depan komputernya ia merasa bersalah pada Wita kenapa hanya masalah sepele seperti itu ia besar-besarkan dan malah kesal pada sahabatnya, seharusnya ia juga paham pasti ada alasan Wita menyembunyikan semuanya dari Nawa.
Wita yang galau berdiam diri di kantin kampus, Wita sebenarnya punya banyak teman sekarang, makanya ia lebih memilih untuk menyendiri saat ini.
Sampai pulang kerumah kerjaan Wita hanya melamun memikirkan semua masalah-masalahnya didepan meja belajarnya kertas berserakan disana tetapi tidak ada yang Wita tulis hanya pulpen dan kertas kosong yang ada di hadapannya sedangkan laptopnya dibiarkan menyala tanpa disentuhnya.
__ADS_1
Cklek! Pintu kamar terbuka, Wita masih sibuk dengan lamunannya.
"Wit aku mau minta maaf," Nawa berucap di samping Wita sedangkan gadis itu ia berharap ini bukan khayalannya, Nawa sekarang berada disampinya dan menegurnya.
"Wit jawab dong," kata Nawa memegang bahu Wita.
"Memang kapan aku marah sama kamu Wa, aku gak pernah marah sama sama kamu," kata Wita berucap.
"Wit maafin aku sudah marah sama kamu," kata Nawa lagi.
"Iya, iya aku maafin. Wa boleh aku tanya apa yang buat kamu kesel sama aku?" tanya Wita.
"Ah Wit itu mungkin karena aku lagi PMS makanya kayak gitu." Nawa beralasan tetapi Wita tahu ia berbohong.
"Kamu gak bohong?" tanya Wita.
"Sebenarnya memang ada sih yang buat aku kesel, tapi gak papa harusnya aku gak marah sama kamu tentang masalah ini, maaf aku salah." Nawa mengaku.
"Kamu bisa jelasin," pinta Wita, Nawa tersenyum.
"Udahlah Wit gak usah di bahas dulu nanti ada saatnya aku nanya semuanya sama kamu dan waktu itu, kamu harus jawab sejujur-jujurnya, oke." Nawa memberi syarat.
"Janji,"
"Janji" ucap mereka berdua.
"Tapi kamu juga harus ngelakuin hal yang sama." pinta Wita dan Nawa mengangguk mengiyakan.
"Oh iya Wit, nih ada surat lowongan kerja dari kantorku," Nawa menyodorkan surat lowongan kerja Wita mengambilnya dan membacanya.
"Gimana kamu tertarik gak? Kalau gak sih gak papa juga, aku bakalan cari orang lain," kata Nawa menjelaskan.
"Tapikan aku lagi kuliah, kayaknya gak bisa deh," kata Wita menolak karena ia harus fokus kuliah dan takut kalau pekerjaanya itu menabrak mata kuliahnya.
"Tenang Wit, kamu di sini itu kerjanya gak papa sambil kuliah," kata Nawa menjelaskan.
"Wah beneran nih, kalau begitu aku terima." ujar Wita semangat bagaimana mungkin ia menolak kesempatan emas, lumayan gajinya buat biaya kuliah dan hal lainnya.
__ADS_1
"Oke aku bakalan telpon bos dulu," kata Nawa berlalu pergi menelpon bosnya.
Tapi kenapa rasanya ada yang aneh yah, biasanyakan kalau orang kerja itu harus di tes dulu, trus kenapa aku malah masuk dengan cara kayak gini, ah bodo amat mungkin karena ada Nawa kali yah makanya aku masuk kerjanya. Batin Wita berpikir optimis dan menandatangi selembar kertas yang seperti kontrak kerja itu.
"Wa, boleh aku tanya kok bisa aku ditawari pekerjaan ini?" tanya Wita penasaran, Nawa tampak gelagapan tapi Wita tidak menyadarinya.
"Ah itu, perusahaan sedang membutuhkan pegawai sampingan," jelas Nawa dan Wita hanya mengangguk sok mengerti.
Wita yang dasarnya tidak tahu cara bekerja di kantor itu hanya menerima semua keanehan yang terjadi dan tidak tahu-menahu apa yang akan terjadi kedepannya.
"Ini Wa, mulai kapan aku bisa kerja?" tanya Wita menyodorkan kertas yang ia tanda tangani pada Nawa.
"Kamu sudah bisa kerja mulai besok, semangat teman!" kata Nawa memberi semangat pada Wita.
"Dan kamu harus tahu aku akan jadi atasanmu, jadi kamu jangan kaget kalau ada perintah aneh-aneh dariku. Oke!" kata Nawa berlalu pergi.
"Umm, tapi kamu jangan jadi atasan yang kejam yah," pinta Wita.
"Yah, tapi aku bakalan jadi atasan yang tegas," kata Nawa dan Wita hanya mendengus pasrah.
Sekarang adalah awal baru bagi Wita seorang mahasiswi jurusan guru menjadi seorang pegawai kantor swasta yang ia bahkan tidak tahu cara kerja di dalam kantor itu seperti apa.
"Wa, kalau aku gak ngerti bisa ajarin gak?" tanya Wita kikuk pada Nawa yang duduk di depan komputernya.
"Nanti kamu ngerti sendiri kok," ujar Nawa fokus pada pekerjaannya.
Wita yang sudah mendapat semangatnya kembali memfokuskan diri dengan tugas kuliahnya yang ia telantarkan karena melamun.
Wita berharap dengan bekerja ia akan melupakan segala masalahnya.
Apakah masalahnya akan berakhir atau tidak Wita tidak tahu, ia tidak begitu memikirkan keanehan yang sedang terjadi.
Nawa yang sekarang begitu antusias mendaftar nama Wita menjadi salah satu pegawai kantor itu di depan komputernya.
.
.
__ADS_1
.