
.
.
.
Tidak ingin termakan api cemburu akhirnya Raka langsung menghampiri mereka bertiga dan berbaur.
"Hai!" sapa Raka pagi-pagi dengan wajah datar. Ia tidak pandai dalam hal menyapa orang lain. Wita memandanginya lama, ia tahu pria itu pasti cemburu sekarang.
"Kenalkan Ka, dia teman masa kecilku. Namanya Feri," kata Wita memperkenalkan Feri pada Raka.
"Dan Feri, ini Raka. Dia mmm, eee, bisa kamu sebutlah orang yang spesial," akhirnya Wita mengucapkannya sambil tertunduk malu.
"Susah amat sih ngomongnya Ta, bilang aja pacar napa." ucap Feri blak-blakan ia adalah sahabat kecil Wita yang memang selalu berbicara apa adanya pada gadis itu.
Kemudian mereka pun berbincang-bincang lagi. Raka merasa cemburu karena merasa terkacangi oleh Wita bisa berbicara begitu akrabnya dengan pria itu.
Raka menyadari pria itu sedikit lebih muda dari pada Wita, tapi yang namanya Wita dekat dengan pria manapun tetap sajalah membuat Raka cemburu.
Wita yang menyadari kegelisahan Raka akhirnya menatap pria itu kemudian menyenggolnya. Ia tidak ingin pria itu kalap dan marah tidak jelas pada akhirnya. Karena Wita akan menyampaikan sesuatu hal yang bisa saja mungkin mengguncang emosi Raka nantinya.
Feri yang menyadari hal itu kemudian pamit undur diri pulang. Lita ia sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah katanya ingin menonton acara kartun favoritnya di hari libur, sedangkan Wita dan Raka ia masih jalan berdampingan tidak berniat masuk ke rumah.
Mereka memilih berjalan-jalan di sekitar rumah.
"Raka ada yang mau aku ceritain tentang Feri ke kamu. Aku gak bermaksud punya rahasia apapun sama kamu tentang orang-orang terdekatku. Aku pengen kamu juga tahu mereka," kata Wita tersenyum ingin menjelaskan sesuatu.
Setelah Lita benar-benar masuk ke dalam rumah mereka berdua pun mencari tempat nyaman untuk bercerita, mereka pergi ke pantai belakang rumah Wita. Tempat mereka berdua dulu saling berinteraksi pertamakali nya hanya berdua. Setelah mendudukkan diri mereka berdua pun mulai berbincang.
"Kamu boleh bertanya sekarang, karena aku bingung menjelaskannya darimana," kata Wita.
"Siapa Feri itu?" tanya Raka tidak sabaran.
"Dia sahabatku, teman kecilku." kata Wita menjawab sekenanya.
"Apakah ada yang lain, maksud saya apakah ada cowok lain yang menjadi sahabat kamu disini?" tanya Raka lagi ia ingin tahu semuanya.
"Dia satu-satunya, dulu aku tidak pernah berteman dengan pria lain selain dia, maksudku yang paling akrab. Kalau hanya sekedar teman biasa tidak akrab ada beberapa, tapi yang paling-paling akrab dia." ucap Wita, Raka tertunduk ia benar-benar cemburu. Ia tidak menyangka ada sahabat pria yang sangat akrab dengan Wita.
"Apakah kamu ngerasa ke dia lebih dari sahabat?" Tanya Raka ingin penjelasan lebih.
__ADS_1
"Lebih tepatnya aku menganggap dia adikku, dia lebih muda lima tahun dariku." jelas Wita tidak ingin Raka salah paham.
"Tapi saya tidak suka kamu dekat-dekat dia, apakah dulu ada hal yang pernah terjadi antara kamu dan dia?" tanya Raka memberanikan diri.
"Ah itu-," Wita agak gugup.
"Kenapa ceritakan lah, saya akan dengarkan." ucap Raka menahan cemburunya.
"Dulu waktu kecil tepat umurku sebelas tahun, dia pernah mengajakku pacaran. Tepatnya dialah orang pertama yang pernah menembak aku," jelas Wita tersenyum ragu-ragu, apakah menceritakan kisah itu adalah hal yang benar untuk Wita. Raka sudah tidak tahan akan kecemburuannya.
"Tapi waktu itu aku tolak kok, aku tidak menyukai dia, hanya saja aku menganggapnya adikku. Walaupun teman-temanku yang lain disini masih saja terkadang mengejek tapi kami berdua hanya tertawa menanggapinya, menurutku waktu itu hanya perasaan anak kecil saja tidak lebih. Kamu jangan marah ya, lagipula aku tidak menyukai berondong." ucap Wita menjelaskan panjang lebar agar Raka tidak salah paham.
"Bagaimana jika saya juga berondong?" tanya Raka.
"Mungkin bisa saja kamu lain lagi ceritanya, sudahlah Ka lagian kan umurmu lebih tua beberapa bulan dariku," Wita memijat dahinya, ia tidak pernah berpikir akan sejujur dan seserius ini pada Raka, Wita benar-benar menganggap Raka orang yang spesial dihidupnya.
"Saya tidak ingin melihatmu dekat dengan pria lain sebelum kamu resmi jadi milik saya," kata Raka jujur.
"Jika aku resmi jadi milikmu, aku yang akan tidak sanggup mendekati pria lain, karena aku sudah ada yang punya." ucap Wita tanpa sadar.
Wita malu dengan ucapannya barusan selama ini ia tidak pernah menanggapi perkataan Raka tentang hubungan seriusnya, tapi hari ini ia menanggapinya. Di hatinya ia benar-benar berharap hari itu akan terjadi.
"Karena aku sudah bercerita tentang diriku, maukah kamu juga bercerita tentang dirimu dulu?" Tanya Wita tersenyum.
"Tidak ada hal yang istimewa dalam cerita masa kecil saya." Ucap Raka seperti enggan bercerita.
"Setidaknya kamu mau menceritakannya, tapi jika tidak ingin aku tidak memaksa kok setiap orangkan punya rahasia yang mungkin tidak bisa di ceritakan," kata Wita tidak ingin memaksa.
"Tapi saya ingin menceritakannya padamu, saya tidak ingin punya rahasia denganmu," kata Raka.
"Baiklah aku dengarkan. Seperti apapun ceritamu aku akan dengarkan." Ucap Wita.
"Saya memang terlahir dari keluarga yang kaya dan hidup berkecukupan. Saya tidak tahu apa artinya susah dalam hidup ini." Ucap Raka mulai menjelaskan tentang dirinya.
"Karena hal itu saya pun tumbuh menjadi seorang pribadi yang sombong dan angkuh. Saya tidak mempunyai teman yang sangat akrab dalam hidup saya. Dan saya tidak pernah memikirkan untuk berteman sama sekali, karena saya yakin tanpa mencari pun dengan uang saya bisa saja membeli teman."
"Tapi ternyata sata salah, mereka tidak pernah ikhlas menjadi teman saya. Mereka memanfaat sata, menjadi penjilat buat saya."
"Dan dari situlah saya di ajarkan mereka untuk berfoya-foya. Bermain wanita, tapi hanya dalam batas yang wajar saja. Bahkan mempermainkan wanita-wanita yang tulus mencintai saya." Kata Raka.
"Dan hampir saja saya terjerumus oleh itu semua dan saat itu saya mengenal Putri mantan pertama saya. Kali ini saya benar-benar jatuh hati padanya saat itu umur saya baru lima belas tahun."
__ADS_1
"Apakah tidak apa saya bercerita tentang mantan saya ke kamu?" Tanya Raka ia tidak enak hati bercerita tentang mantannya.
"Tidak apa, aku akan dengarkan semuanya. Aku senang kamu mau jujur." Ucap Wita tersenyum ia tidak masalah dengan hal itu.
"Saya pun menjalani hubungan saya dengan Putri seperti remaja-remaja umumnya. Saya sangat menghormatinya karena cinta saya sangat besar padanya apapun yang ia mau saya akan turuti." Ucap Raka.
"Dan akhirnya, hubungan saya di tentang oleh orang tua saya. Saat itu saya sangat marah dan tidak mau sama sekali mendengarkan penjelasan dari orang tua saya. Akhirnya saya lari dari rumah." Jelas Raka.
"Tapi karena hal itu saya mendapat banyak pelajaran dalam hidup saya, hidup penuh perjuangan. Cinta palsu mantan saya dan tentunya saya menemukan cinta saya yaitu kamu." Kata Raka tersenyum.
"Tapi mengingat hal itu, saya merasa benar-benar menyesal atas perbuatan saya, saya benar-benar jahat," kata Raka terlihat murung, ia benar-benar menyesal.
"Tidak apa Raka, yang kamu perlu lakukan sekarang adalah memperbaiki diri. Jika memang ada waktu dan sempat bertemu dengan orang-orang yang pernah kamu sakiti, minta maaflah. Setiap orang pasti punya masa lalu kelam yang tidak terlupakan." Ucap Wita mengusap pundak Raka.
"Terimakasih Wita sudah menyemangatiku dan selalu menasehatiku, aku senang bisa mengenal dan jatuh cinta padamu." Ucap Raka tersenyum.
"Um Raka, tapi apakah orang tuamu menyetujui hubungan kita?" Tanya Wita ragu, apakah nasibnya akan sama seperti Putri yang tidak di restui.
"Kamu itu tidak seperti Putri Wita, jangan kamu berpikir nasibmu akan sama seperti perempuan itu." Ucap Raka membaca pikiran Wita.
"Orang tua saya sudah tahu kamu, mereka sebenarnya sudah sangat ingin bertemu denganmu. Semenjak SMA dan menyelamatkan saya dari aksi bunuh diri, mereka sudah tahu kamu. Sekarang mereka sangat setuju dengan hubungan kita, karena kamu masih setia menunggu saya hingga saat ini."
"Sebenarnya kita dipisahkan karena orang tua saya menguji kesetiaanmu dan kesetiaan saya, ternyata kita berhasil melalui ujian itu dan bertemu seperti sekarang." Ucap Raka.
Orangtua Raka sudah tahu siapa Wita itu sejak lama dan mereka tidak pernah melarang Raka untuk menjadikan Wita menantu mereka. Karena mereka tahu jika Raka putra mereka bersama Wita, wanita itu bisa merubah putra mereka menjadi lebih bertanggung jawab dan tentu saja bisa membuat Raka bahagia.
"Tapi terkadang aku tetap merasa tidak pantas berada disisimu Raka, kita berada di tempat yang berbeda." Ucap Wita merasa tidak pantas.
"Jangan berpikir seperti itu Wita, kamu harus tahu orang tua saya hingga seperti sekarang mereka berdua memulai semuanya dari nol. Mereka berjuang dan mengerti apa itu susah, mereka bukan orang sombong seperti saya." Ucap Raka yang mengetahui ayah dan ibunya dulu juga berjuang untuk menjadi seperti sekarang. Hingga akhirnya seluruh keluarganya menjadi orang yang sukses, berkat perjuangan ayah dan ibu Raka.
"Sekarang kamu bukan orang yang sombong Raka, kamu itu sudah menjadi pria yang lebih baik daripada dulu. Aku sayang kamu Raka." ucap Wita tersenyum dan kata-kata itu membuat mata Raka berbinar dibuatnya.
"Aku juga sangat menyayangimu Wita." Ucap Raka membalas Wita.
.
.
.
...
__ADS_1