Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Demam


__ADS_3

"Hatsyi!!" Wita bersin-bersin tidak berhenti semejak ia pulang dari kejadian itu.


"Tuh Wit, makanya kubilang berobat kalau kamu berobat gak bakalan kayak gini jadinya," kata Nawa menceramahi Wita.


Wita menatap Nawa dengan wajah pucatnya sepertinya saat ini ia sedang demam, kepalanya terasa sedikit nyeri, tenggorokannya sakit serasa kering dan sekarang ia juga pilek.


Srott! Wita menarik ingusnya. Nawa mulai merasa geli.


"Udahlah Wa, lagian tadikan Puskesmasnya juga tutup makanya aku malas berobat, aku udah gak tahan kalo mau nyari pukesmas yang agak jauh." jelas Wita.


"Wit kamu jorok ih, lap ingusmu itu." perintah Nawa sambil memberikan sekotak tisu.


"Alah kamu tuh, coba kamu yang pilek aku gak pernah kayak gitu padahal kamu lebih jorok daripada aku langsung buang ingus di depanku lagi." protes Wita sambil meraih tisu yang di berikan Nawa.


"Yah tapi kamukan orangnya gak jijikan kayak aku," kata Nawa mengerucutkan bibirnya.


"Hmm, ya." jawab Wita menjauh dari Nawa sambil mengeluarkan ingusnya.


Malam harinya mereka tidur berdua di kasur yang sama di dalam kosan itu sudah hampir empat tahun ini mereka tidur sekamar dan sekasur.


Tidak heran ada yang mengira mereka berdua saudara karena selalu bersama tetapi mereka berdua mengangguk dan mengiyakan karena mereka memang sudah menjadi saudara sekarang.


Nawa juga sangat mengenal Wita dan begitu juga sebaliknya tetapi masalah perasaannya pada Raka, Wita tidak pernah menceritakannya pada Nawa.


Nawa juga tidak tahu bahwa Wita memiliki perjanjian dengan pria itu, Wita tidak menceritakannya.


Nawa tahu Raka pindah sekolah dari Wita tetapi ia tidak tahu perasaan Wita yang sebenarnya pada Raka karena Wita menutupinya dengan ekspresi tenangnya belum lagi saat itu Nawa juga belum tahu kalau Raka sudah putus dengan pacarnya dan dekat dengan Wita.


Belum lagi Nawa terlalu sibuk mengurusi hubungannya dengan Ansal yang berjalan sampai sekarang.


Ansal dan Nawa telah lama menjalin hubungan yaitu semejak lima tahun yang lalu bertepatan dengan kepergian Raka meninggalkan Wita.


Saat itu Nawa tampak begitu bahagia sedangkan Wita juga senang mendengar hal itu.


Cinta sahabatnya telah terbalas sedangkan Wita ia disuruh untuk menunggu entah sampai kapan tetapi Wita terus bersabar.


Ia juga sempat berpikir apakah orang yang dia tunggu menepati janjinya atau mungkin bahkan melupakannya.


Wita juga sempat ingin membuka hatinya untuk pria lainnya tetapi tetap saja ia tidak bisa dan akhirnya menyerah dengan keadaan.


Biarlah alur kehidupan mengalir bagai air sampai pada saat ia menemukan kebahagiaan yang menurutnya belum pasti, apakah ia akan mendapat kebahagiaan yang di nantikannya itu, bahagia atau tidak akhirnya ia akan terus jalani karena itu janjinya.

__ADS_1


Nawa juga tidak pernah bertanya lagi tentang Raka pada Wita karena semejak mereka masuk ke kelas tiga SMA sampai sekarang Wita bahkan tidak pernah menyebut nama pria itu.


Wita benar-benar menutup rapat perasaannya dan menguburnya di lubuk hatinya yang paling dalam.


Malam itu Wita tampaknya tidak nyeyak tidur terbukti sekarang ia membolak-balikan dirinya di atas kasurnya dan mengusik tidur Nawa.


Nawa terbangun ia merasakan sesuatu hawa disekitarnya menjadi hangat dan membuat Nawa menyadari sesuatu.


Ia kemudian bangun dan memegang dahi Wita yang ternyata sekarang memanas ia terkejut menyadari sahabatnya itu sekarang dalam keadaan demam.


"Wita badanmu panas," kata Nawa kemudian ia bangun mencari kompres untuk Wita.


Wita hanya mengerjapkan matanya kepalanya sekarang benar-benar pusing, keringat dingin mulai mengucur dari dahinya.


"Wit, besok kamu harus berobat," kata Nawa sambil mengompres dahi Wita dengan wajah yang tampak khawatir dan Wita tersenyum menanggapinya.


"Baiklah Wa tapi kamu juga harus tidur sekarang entar kamu juga sakit lagi," kata Wita memerintah Nawa dengan suara parau.


"Wita maafin aku seandainya aja siang tadi aku gak maksa kamu ke jembatan itu gak bakalan gini jadinya," kata Nawa menyesal karena tidak mendengarkan sahabatnya yang tidak ingin sama sekali pergi ke jembatan itu sambil memeluk Wita.


"Udahlah Wa yang lalu biarin berlalu, lagian kejadian tadi udah terjadi gak usah di ingat. Dan lagi kamu tidur sekarang kalau kamu sakit juga gimana." ucap Wita dan Nawa mengangguk mengiyakan.


"Udah tidur aja nanti aku juga bakalan sembuh nih liat kamukan sudah kasih aku kompres," kata Wita sambil tersenyum menunjuk kompres yang ada di dahinya dan Nawa tersenyum menanggapinya.


"Tapi kamu janji besok berobat," kata Nawa memberi Wita syarat dan Wita mengangguk kemudian Wita dan Nawa pun tidur kembali.


.


.


.


.


.


Pagi pun tiba.


"Hatsyi!" Wita bersin sambil menarik ingusnya ternyata pusingnya juga tidak berhenti sekarang ia menunggu Nawa yang bersiap-siap mengantarnya berobat, hari ini mereka masih liburan.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Setelah berobat Nawa saat ini menyuruh Wita menunggu disebuah tempat makan di dalam mol karena Nawa harus membeli sesuatu, Wita saat ini tergeletak pasrah di atas meja kepalanya pusing.


Wita merasa ingusnya sudah meleleh dan ingin keluar ia berniat untuk pergi ke toilet.


Buk! Di tengah perjalanannya Wita menabrak seseorang.


Ia menabrak seseorang, Wita yang pusing kehilangan keseimbangan dan terjatuh kemudian ia bangkit.


Wajah pucatnya menatap pria dihadapannya tetapi yang membuatnya merasa kaget adalah gadis yang merangkul tangan pria itu.


"Maaf aku tidak sengaja," katanya menundukkan kepala berlalu pergi ingusnya yang sudah meleleh juga menjadi pemicu ia mempercepat langkahnya menuju toilet tetapi di balik wajahnya ada raut kekecewaan yang ia sembunyikan.


Saat masuk di dalam kamar mandi Wita menatap wajah pucatnya di cermin, wajah pucatnya berubah menjadi raut wajah kekecewaan saat mengingat pria yang di tabraknya tadi bergandengan dengan seorang wanita yang begitu cantik menurutnya.


Kemudian ia tertunduk sambil memegang dadanya kesal semua bercampur aduk.


"Raka," gumamnya.


Sedangkan Raka sekarang berada di depan toilet wanita di mol itu menunggu Wita keluar, saat bertabrakam dengan Wita tadi melihat gadis itu yang buru-buru pergi membuatnya mengikuti Wita karena gadis itu tidak perduli saat ia memanggilnya apa gadis itu cemburu ia tidak tahu, ia tahu Wita sudah salah paham terhadapnya dan ingin menjelaskan semuanya.


Sekarang Raka merasa ingin sekali mendobrak masuk ke dalam toilet itu meskipun itu adalah toilet wanita tetapi harga dirinya masih berlaku membuat ia mengurungkan niatnya.


Cklek!


Pintu toilet itu terbuka dan Raka langsung menghadang gadis yang keluar ternyata itu bukan Wita melainkan gadis lain dan tambah membuat Raka frustasi dibuatnya Raka meminta maaf pada gadis itu, gadis itu hanya tersipu dibuatnya.


Gaya Raka berpakaian bagaikan seorang remaja setelan jaket yang pas dengan celana jeansnya serta topi yang ia kenakan menambah ketampanan pria itu.


Kemudian Wita keluar dengan wajah pucatnya, ia juga terkejut dengan penampakan pria yang sekarang berada dihadapannya.


Wita ingin menghindari Raka dan berniat kembali masuk ke dalam toilet saat ini meskipun seharian ia berada di tempat itu ia tidak perduli asalkan pria itu pergi dari hadapannya.


Sedangkan Raka yang melihat Wita ingin masuk ke dalam toilet lagi mencekal tangan Wita seandainya ia tadi lepas menggapai tangan Wita ia bahkan tidak akan perduli dengan harga dirinya sebagai seorang pria ia akan nekat masuk ke dalam toilet itu demi Wita.

__ADS_1


__ADS_2