Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Pulang


__ADS_3

Wita


Raka hari ini ak pulang ke rmh ak, maaf  karna gk nemuin km lebih dlu. Soalny ak buru2, jdi jga dri km baik2 ya, fokus sma apa yg km kerjain. Ak bakalan kembali secepatny...😊😊


Wita mengetik pesan untuk Raka dan setelah mengirim ia pun pergi meninggalkan kosannya.


"Bu, saya pergi pulang ke rumah dulu ya," kata Wita pamit pada ibu kosnya.


"Hati-hati di jalan Wit, memang kamu gak di anterin yah sama pacar kamu." kata ibu kos.


"Ibu bisa aja, dia bukan pacar saya bu cuma bagi saya dia adalah orang yang spesial. Lagian saya gak mau ngerepotin dia terus, kasian dia mungkin dia lagi sibuk kerja." Wita tersenyum, ibu kos itu hanya mengeleng-geleng menanggapi jawaban Wita.


"Kalo gitu saya berangkat bu, assalamu'alaikum," Wita pun pergi menggas motornya meninggalkan tempat itu.


Lima belas menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan kosan itu.


"Ibu Witanya ada?" tanya Raka tiba-tiba pada ibu kos yang tengah menyapu halaman.


"Dia barusan berangkat pulang tadi," jelas ibu kos itu.


"Oh gitu ya bu, makasih bu saya permisi pulang." Raka langsung pergi dengan raut kecewa.


"Kenapa dia tinggalin saya, tanpa menunggu terlebih dulu." gumam Raka melamun melihat ke arah setir mobilnya.


"Nak, kalo kamu pengen ketemu dia kenapa gak datengin aja ke rumahnya." saran ibu kos.


Raka tersenyum sambil berkata, "Terimakasih bu atas sarannya." ia pun berlalu pergi.


"Wita memang gadis yang beruntung bisa dapat pria yang sempurna seperti itu," kata ibu kos melanjutkan acara menyapunya.


Raka menelpon Wita berulang kali tapi tidak ada jawaban sama sekali, bagaimana tidak Wita saat ini tengah menikmati indahnya jalanan pulang.


Belum lagi ponselnya sudah ia beri mode diam tentu saja ia tidak akan menyadari bahwa Raka menelponnya.


Ia pikir Raka akan mengerti setelah ia mengirimi pesan singkat itu. Bahwa ia hanya pulang beberapa hari, ada urusan yang harus ia lakukan di rumahnya. Nawa beberapa hari lagi akan melangsungkan pernikahan dan tentu saja Wita harus hadir dalam acara itu, bisa mengamuk Nawa jika Wita tidak ada.


.


.


.


Satu setengah jam kemudian Wita sampai di rumahnya.


"Assalamu'alaikum," salam Wita.


"Wa'alaikum salam," jawab keluarga serempak menyambut kedatangan Wita.


"Kakak!!!" Adik perempuan Wita langsung melompat menerjang ke gendongan Wita.

__ADS_1


"Adek kakakmu cape biarkan dia istirahat dulu," kata mama Wita.


"Kangen mama," kata adik Wita memeluk Wita erat.


"Gakpapa ma, biarin aja dia minta gendong sampai puas." Ucap Wita membawa adiknya masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar adik Wita langsung turun dan pergi begitu saja sepertinya adiknya itu hanya rindu di gendong oleh Wita. Ketika ia melihat ponselnya. Wita terkejut saat menyadari begitu banyak panggilan tidak terjawab dari Raka.


"Astaga," kaget Wita memerhatikan panggilan masuk itu yang sudah mencapai lebih dari sepuluh panggilan.


"Segitunya kamu Ka-Ka." Gumam Wita sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.


Jika aku tidak membalas cintanya aku benar-benar wanita bodoh. Batin Wita merasa beruntung karena telah menemukan pria seperti Raka di dunia ini.


Satu panggilan baru pun masuk Wita mengangkatnya.


"Ya halo," jawab Wita.


"Kenapa telpon saya dari tadi gak di angkat-angkat?" tanya Raka di seberang sana.


"Tadi aku di perjalanan dan ponselku dalam mode diam, maaf." jelas Wita merasa bersalah.


"Kamu sudah sampai?" tanya Raka lagi.


"Sudah ini aku lagi istirahat di kamar," jawab Wita.


"Jangan bilang kamu tadi ngebut di jalanan, biasanya  waktu tempuh kesana kurang lebih dua jam." Raka minta penjelasan.


"Wita? Kenapa kamu diam, ada yang salah dengan pertanyaan saya?" tanya Raka dari seberang sana.


"Itu, sebenarnya memang ia sih." Wita tidak tahu lagi harus menjelaskan seperti apa. Lebih baik dia jujur daripada membuat banyak alasan lagi pada Raka.


"Tadi kalo gak salah aku bawanya delapan puluh kilometer perjam lebih." jelas Wita.


"Wita, mulai sekarang kamu jangan kebut-kebutan lagi di jalan biarpun itu buru-buru tetap aja bahaya." saran Raka dari seberang sana pria itu begitu khawatir pada Wita.


"Aku tau, tapi itu kebiasaan buruk yang susah banget aku hilangin," kata Wita, ia kalo sudah merasa bosan di jalanan pasti dengan refleks ia akan mengebut naik motornya walaupun awalnya pelan.


"Jangan di ulangin lagi," kata Raka tidak berhenti menasehati Wita.


"Iya aku akan berusaha," ucap Wita mengingat mamanya saja yang memarahi ia ketika ngebut di jalanan ia masih melakukannya.


"Kalo gitu udahan dulu ya, saya ada urusan." kata Raka berniat mengakhiri sambungan telponan itu.


"Iya," jawab Wita. Panggilan pun di akhiri.


Entah mengapa Wita sedikit kecewa, setidaknya di harapannya Raka pergi menyusulnya dan datang ke rumahnya. Tapi tetap saja Wita tidak bisa berharap banyak, ia tahu Raka pria yang cukup sibuk.


Ah, seandainya dia kesini. Batin Wita.

__ADS_1


"Apa sih yang aku pikirin," kata Wita.


Ia bersiap-siap untuk mandi siang itu. Kemudian berniat tidur, ia merasa benar-benar kelelahan sekarang.


.


.


.


Sorenya ia berkunjung ke rumah Nawa, wanita itu terlihat sangat sibuk dengan urusannya sendiri.


"Seribet itu ya urusanmu Wa, mau nikah aja." Ucap Wita.


"Heh, nanti kamu juga rasain sendiri. Meskipun melelahkan ini menyenangkan loh." Ucap Nawa.


"Lelah yang menyenangkan?" Tanya Wita bingung.


"Kalo aku jelasin gak kejutan lagi dong nanti buat kamu. Intinya nanti kamu bakalan ngerasain sendiri," kata Nawa menjelaskan pada Wita.


"Hmm gitu ya, oke deh nanti aku bakalan rasain." Ucap Wita.


"Memang kamu sama Raka bakalan cepat nyusul aku?" Tanya Nawa.


"Gak tau juga, kuliah aja belum selesai. Kerja pun belum, gimana mau mikirin nikah." Ucap Wita.


"Tapi sepertinya di Raka dia sudah tidak sabar buat bisa menikah dengan kamu," kata Nawa.


"Hahaha, bisa aja kamu Wa." Tawa Wita pecah ia benar-benar tidak menyangka jika seandainya ia benar-benar akan menikah secepatnya dengan Raka.


"Serius deh Wit, hati-hati entar di tikung orang." Ucap Nawa.


"Gak papa Wa, aku percaya jodoh itu gak bakalan kemana-mana kok. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalaninya aja."


"Meskipun kita sangat-sangat menyayangi orang itu tapi ternyata kita gak berjodoh juga mau diapain. Sakit hati iya, kita juga gak bisa berbuat apa-apa dan mau gak mau kita harus ikhlas menerima apapun yang terjadi nanti. Entah bahagia atau terluka." Jelas Wita ia berdiri dari duduknya.


"Iya juga sih Wit," kata Nawa.


"Lagipula aku percaya pada Raka, dia adalah orang yang sangat setia dengan cintanya." Ucap Wita tersenyum yakin.


"Hehehe, tentu saja dia harus begitu." Nawa merangkul Wita.


.


.


.


"Aku pulang dulu ya Wa, udah mau magrib. Dadah!!!" Wita pergi melambaikan tangan.

__ADS_1


Akankah aku juga akan menikah dengan Raka. Batin Wita mulai memikirkan masa depan pernikahannya.


__ADS_2