
Setelah perdebatannya kemarin dengan Raka akhirnya membuat Wita tidak berkutik dan harus pergi ke rumah Raka demi mengerjakan tugas kelompoknya.
Saat ini sesuai syarat Wita, ia akan pergi ke rumah Raka tepat setelah pulang sekolah dan saat ini ia sedang mengikuti Raka masuk ke dalam sebuah gang yang cukup sempit dan sunyi.
Saat ini Wita pikirannya melayang kemana-mana ia berpikir bagaimana kalau Raka membuat hal macam-macam padanya dan Wita menggeleng cepat.
Ia begitu canggung membuntuti Raka sedangkan Raka ia berjalan santai saja dan akhirnya mereka sampai di depan rumah Raka yang terbilang kecil.
"Masuk!" suruh Raka pada Wita dan Wita hanya mengangguk patuh.
"Lo cewek yang beruntung, sebelumnya gue mana pernah bawa cewek ke rumah gue ini," jelas Raka sedangkan Wita menelan ludah pikirannya ngelantur tidak jelas.
"Lagiankan, kamu yang ajak bukan aku yang mau," kata Wita membalas, Raka tidak berkata apa-apa karena apa yang dikatakan Wita memang benar adanya.
Saat memasuki rumah itu Wita takjub rumah itu sunyi namun bersih Wita melihat-lihat sekitarnya tapi dia masih canggung dan hanya berdiri di tempat.
"Hei! Lo kok ngelamun disitu duduk gih disofa, apa lo itu perlu disuruh dulu baru nurut," kata Raka. Wita saat ini sikapnya benar-benar berubah, biasanya ia akan santai-santai saja tapi setelah memasuki rumah Raka ia menjadi lebih sopan.
Begitulah Wita ketika ia baru memasuki rumah orang yang baru dikenalnya ia akan seperti orang yang kebingungan ia begitu malu ia berpikir bagaimana bila ia berbuat tidak sopan di rumah orang.
Raka keluar dari kamarnya setelah mengganti baju ia saat ini menggunakan baju kaos dan celana pendek Wita hanya menatapnya heran.
"Lo ngapain sih natap gue kayak gitu? Apa lo tertarik sama gue?" tanya Raka asal-asalan Wita menahan malu dia malu kalau di ejek Raka seperti itu.
"Gak, aku cuma heran kok rumah kamu sepi banget sih," kata Wita malas meladeni Raka.
"Oh, gue gak tinggal sama orang tua gue. Gue tinggal sendiri disini," jelas Raka.
Wita kaget sekarang pikirannya benar-benar ngelantur kemana-mana dan sekarang ekspresinya jelas orang yang panik.
"Lo gak perlu pake ekspresi kayak gitu, lagipula gue gak bakalan buat hal yang macam-macam. Sebentar gue buatin minum," kata Raka dan membuat Wita menarik nafasnya lega.
__ADS_1
Tak lama kemudian Raka muncul dengan membawa dua cangkir susu hangat.
"Lo minum susukan gue buatin susu," kata Raka kemudian mendudukan dirinya di kursi sambil menatap Wita yang hanya mengangguk.
"Lo itu kenapa sih, kok jadi berubah kayak gitu canggung amat. Biasa aja kali anggap aja rumah lo sendiri," kata Raka tidak suka dengan ekspresi Wita yang begitu merasa asing dengan rumahnya sekarang.
Memang ini pertamakalinya Wita ke rumah Raka tapi semua orang yang baru pertamakali ke rumah seseorang itu tidak seperti Wita juga, aura yang dikeluarkan Wita begitu suram sulit beradaptasi.
Ekspresi yang dikeluarkan Wita itu sebenarnya membuat Raka gemas, bagaimana tidak selama ini ketika ia melihat gadis-gadis ke rumahnya di tempat tinggal aslinya bahkan dimanapun asal ada Raka, aura yang dipancarkan para gadis-gadis itu bahagia bahkan masih diperjalanan sedangkan Wita ia bahkan sudah merasa risih sejak memasuki gang rumah Raka.
"Bi-bisakah kita mulai sekarang ngerjain tugasnya," kata Wita akhirnya membuka suara walaupun gugup.
"Kalau lo masih kayak gitu ekspresinya acara ngerjain tugasnya gak bakalan dimulai," tegas Raka dan Wita tidak perduli perlahan-lahan ekspresi yang dikeluarkan Wita mulai menjadi seperti biasanya.
"Kalau gak dimulai-mulai aku bakalan pulang bodo amat sama tugasnya, biarin aja aku ngerjain sendiri," kata Wita akhirnya membuka suara seperti biasanya sudah tidak seperti tadi lagi sepertinya ia mulai membiasakan diri.
Raka hanya mengangguk memahami perubahan raut wajah Wita dan akhirnya memulai mengerjakan tugas itu.
"Gue punya masalah sama mereka, jadinya gue kabur dari rumah," jelas Raka tidak menyembunyikan rahasia dan Wita menatap Raka.
"Sebaiknya kalau kamu ada masalah sama orangtuamu jangan lama-lama, gak baik." saran Wita tapi Raka hanya menanggapinya diam dan terus mengerjakan tugasnya.
"Lo gak tahu apa-apa Wit," ungkap Raka dengan nada dingin Wita kemudian menggedikan bahunya tidak ingin tahu permasalahan itu ia hanya memberi saran.
Biasanya Wita tidak suka mencampuri urusan orang lain ia tidak terlalu ingin tahu masalah orang lain kecuali ketika ia sedang sangat tertarik kalau perlu sampai akarnya ia akan tanya.
"Wit di minum susunya keburu dingin loh atau perlu gue yang minumin." goda Raka ia tidak suka hasil jeripayahnya tidak dihargai terlebih sekarang ia rela membuatkan Wita minum karena sebenarnya Raka tidak pernah membuatkan seorang gadis minuman ketika bertamu ke rumahnya.
Wita orang pertama, sebenarnya awalnya ia enggan membuatkan minuman itu untuk Wita tapi ia tidak tega gadis itu seharian tidak makan apa-apa dan terlihat dari wajahnya ia kelaparan dan Raka juga menaruhkan beberapa cemilan di situ tetapi ternyata ia bahkan tidak menyentuhnya sama sekali.
Di sekolah ketika di ajak kekantin oleh Raka dia tidak mau karena hanya berdua Raka, gara-gara Nawa tidak ke kantin jadinya dia juga tidak.
__ADS_1
"Wit kuenya di makan dan minumnya di minum gak usah malu-malu," kata Raka memaksa Wita susah payah, entah berapakali ia sudah menyuruh Wita. Menurut Wita saat ini Raka begitu cerewet.
Akhirnya Wita mau meminum susu buatan Raka dan Raka tersenyum senang dibuatnya.
"Gitu dong hargain usaha gue," kata Raka.
Wita hanya diam sebenarnya saat ini ia hanya malu cara makannya diperhatikan.
Wita sangat canggung ketika ia makan diperhatikan oleh orang bahkan dengan Nawa sahabatnya pun dia masih malu diperhatikan apalagi dengan pria seperti Raka.
Tapi demi menghormati Raka ia buang rasa malunya itu tetapi di tengah menggigit kue kering yang diberikan Raka Wita tersedak.
"Uhuk! Uhuk!" batuk Wita kemudian mengambil susunya dan meneguknya habis.
Raka panik Wita masih juga terbatuk-batuk dan Raka berlari mengambilkan Wita air putih.
"Udahlah Ka gak papa, uhuk! Uhuk!" ucap Wita masih terbatuk.
"Lo itu makanya kalau makan tuh pelan-pelan. Nih minum!" ceramah Raka sambil menyodorkan air putih.
"Aku dah pelan-pelan kok makannya,"
"Ya, tapi kalau lo sampai kenapa-kenapa kan gue juga yang kena batunya,"
"Masa cuma gara-gara kayak gini aja aku bakalan kenapa-kenapa, gak mungkinlah aku bakalan baik-baik aja,"
"Terserah lo aja deh Wit"
Debat Raka dan Wita setelah keadaan membaik Raka dan Wita akhirnya mengerjakan tugasnya lagi, setelah selesai Wita langsung pamit pulang ia tidak ingin berlama-lama di rumah Raka.
Setelah berpamitan ia langsung berlari pulang tanpa menoleh kebelakang, ketika melihat punggung Wita yang menjauh Raka kemudian masuk ke dalam rumahnya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca kemudian menutup pintu.
__ADS_1