
Hari ini pelajaran matematika Wita sedang fokus-fokusnya mengerjakan tugasnya karena persiapan untuk ulangan sebentar lagi.
Tiba-tiba murid laki-laki yang berada di depan Wita bertanya, begitu juga dengan murid laki-laki yang berada di samping Wita.
Wita berusaha menjelaskan tetapi tidak ia sadari ada yang menatapnya tajam, setelah selesai menjelaskan Wita mulai berusaha konsen lagi.
"Wit, ayo kita tukaran tempat duduk," pinta Raka pada Wita.
"Loh kamukan gak suka duduk disini," kata Wita memprotes keinginan Raka.
"Itu dulu, sekarang gue pengen duduk disitu." Wita hanya menatap Raka aneh namun ia mengiyakan keinginan Raka karena bagaimana pun sebenarnya ia lebih suka duduk di dekat dinding.
Setelah tukaran tempat duduk Wita melanjutkan tugasnya lagi.
"Wit ajarin gue juga dong, gue juga gak ngerti nih." kata Raka meminta diajarkan Wita mencari perhatian.
Apa-apaan sih ni cowok, padahalkan dia tau tapi kok nanya sih. Batin Wita kemudian dia tersenyum tipis di tengah-tengah mengerjakan soal.
"Wit ajarin gue," pinta Raka lagi.
"Apaan sih Ka, kamu pasti ngertikan masa nanya juga, nanti akhirnya aku yang gak selesai ngerjainnya nih atau malah sebaliknya aku yang dijelasin sama kamu." jelas Wita agak sedikit kesal karena Raka, tetapi pada akhirnya ia tetap menjelaskannya.
Raka yang memang sudah mengerti tidak mendengar ocehan Wita lebih tepatnya menatap Wita, ia senang kalau Wita cuma melayani dirinya.
Raka mengakui cemburu saat kedua pria tadi bertanya pada Wita makanya Raka menyuruh Wita pindah agar ia hanya fokus pada Raka seorang dan mencari alasan agar Wita juga melakukan hal yang sama padanya seperti kedua pria tadi.
Kemudian pria yang di depan Wita tadi ingin bertanya pada Wita lagi tapi saat berbalik ternyata malah Raka yang ia lihat dan ingin berniat bertanya pada Wita tetapi Raka mengatakan ia yang akan menjelaskan semuanya jangan mengganggu Wita ia sedang fokus belajar.
Sebenarnya saat itu Wita tersenyum karena ia tahu Raka tidak suka ada pria yang mendekati dirinya.
Sejak saat itu, selama dua bulan ini Raka dan Wita menjadi semakin akrab walaupun tidak ada orang yang tahu karena mereka menyembunyikan perasaannya masing-masing tapi mereka menyadari mereka sudah sama-sama suka ketika bersama Nawa juga mereka berdua bisa saling melempar senyum tetapi Nawa tidak terlalu menyadarinya.
Nawa juga tidak tahu kalau Raka sudah putus dengan pacarnya Wita tidak berani menceritakan masalah itu pada Nawa karena Raka meminta Wita untuk merahasiakan masalah itu dan cuma Wita yang tahu.
Wita dan Nawa mereka memang sering bersama tetapi mereka tidak menceritakan kisah asmara mereka tampaknya mereka berdua sama-sama malu untuk memulai cerita jadinya ketika mereka bertemu cerita anime atau masalah lainnya lah yang mereka perbincangkan.
.
.
.
Tiba saat pembagian rapor di SMA itu.
__ADS_1
"Wah Ka, kamu hebat bisa peringkat satu di kelas ini," kata Wita memuji Raka tetapi yang di puji hanya tersenyum masam.
"Kenapa Ka kamu gak senang yah? Maaf deh kalau gitu." maaf Wita lagi-lagi ucapannya diacuhkan.
Seandainya Wita tidak akrab dengan Raka sekarang mungkin Wita akan sangat malu ketika banyak bicara di depan cowok tapi tidak di hiraukan seperti itu tetapi sekarang ia merasa sudah biasa berbicara seperti itu dengan pria walaupun hanya dengan Raka seorang.
Karena teman laki-laki Wita hanya Raka seorang, selama ini jika Wita berbicara dengan seorang pria Raka seolah-olah menjadi dinding untuk membuat Wita tidak dapat berinteraksi dengan pria manapun selain Raka.
"Wit, nanti sebelum pulang gue mau ngomong sesuatu sama lo." ucap Raka tanpa bergairah.
"Ummm, ngomong apa? Ngomong sekarang juga gak papa kali," kata Wita tampaknya ia menyadari kesedihan Raka.
"Belum saatnya, aku ingin bicara empat mata sama lo," kata Raka kali ini ia memaksakan diri untuk tersenyum.
Raka dan Wita sekarang sudah benar-benar dekat bahkan sebenarnya mereka berdua sudah memiliki perasaan yang sama yaitu saling suka tetapi Raka tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Wita karena ia tahu pasti ia akan di tolak oleh Wita karena Wita sudah pernah menjelaskan kalau ia tidak pernah ingin pacaran.
Menurut Wita pacaran yang baik itu setelah menikah, walaupun Raka tahu Wita juga sama menyukai dirinya.
Sekolah pun akhirnya selesai satu persatu murid sekolah itu pulang.
Ketika itu Wita dan Nawa ingin pulang, namun tiba-tiba Raka ada di samping Wita dan menjelaskan bahwa ia ingin berbicara empat mata dengan Wita pada Nawa.
Awalnya Nawa bersikeras untuk ikut dengan mereka berdua tetapi ternyata ia juga di panggil oleh seseorang dan akhirnya ia meninggalkan Raka dan Wita.
"Wit ada yang harus gue omongin ke lo," ucap Raka tetapi ada raut kesedihan di sana.
"Udah Ka ngomong aja, aku bakalan dengerin kok," ucap Wita tetap dengan ekspresi tenang padahal di hatinya ia penasaran dan gelisah kenapa Raka memasang wajah seperti itu.
"Sebenarnya gue, gue... " Raka tidak sanggup melanjutkan kata-katanya dan Wita menatapnya bingung.
"Memangnya ada apa sih Ka?"
"Wit sebenarnya gue harus pergi," kata Raka menyelesaikan kalimatnya.
"Mau pergi kemana?" tanya Wita ia saat ini menyembunyikan kesedihannya karena orang yang disukainya harus pergi.
"Gue akan pulang ke rumah orang tua gue." jelas Raka.
"Kalo gitu kamu harus pulang, aku akan mendukung ke pulanganmu, aku senang akhirnya kamu sudah baikan sama orang tuamu," kata Wita tersenyum ia tulus bahagia saat ini karena Raka sudah akur dengan orang tuannya walaupun ada perasaan tidak rela karena Raka harus pergi.
"Makasih Wit atas semuanya lo udah nyadarin sikap gue yang selama ini bener-bener gak baik dan gue juga bisa berubah karena lo." jelas Raka.
Wita yang di puji seperti itu hanya dapat tersenyum malu ia tidak dapat berkata apa-apa.
__ADS_1
"Tapi... Wit gue ada satu permintaan," kata Raka lagi belum sempat Wita menjawab Raka berbicara lagi.
"Lo harus turuti satu permintaan gue, kalau lo gak turutin gue gak bakalan pulang," kata Raka memaksa.
"Ih apaan sih Ka, pokoknya apapun yang terjadi kamu harus pulang dan temui orang tuamu," kata Wita protes.
"Tapi lo harus turutin permintaan gue ini," pinta Raka lagi.
"Iya-iya aku bakalan turutin permintaanmu itu," kata Wita tanpa memikirkan apa yang di minta Raka.
"Janji,"
"Janji," mereka berdua pun saling berjanji.
"Lo harus pastikan kalau lo harus menunggu gue sampai gue kembali nanti, untuk lo. Dan lo harus nunggu gue dalam hal apapun itu karena gue berjanji bakalan datang lagi untuk lo," kata Raka dan Wita benar-benar menahan air matanya yang ingin tumpah dadanya berdegub kencang begitu pula dengan Raka saat ini ia tidak menyangka Raka akan membuat janji seperti itu.
"Hah?!" ucap Wita ia sadar ia telah terjebak oleh kata-katanya sendiri.
"Wit lo sudah janji sama gue," kata Raka tersenyum penuh kemenangan.
Wita tersenyum dan mengangguk mantap walaupun di hatinya ada kekecewaan karena harus menunggu tetapi ia juga senang karena menunggu orang yang di sukainya dan ia pun menyadari cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Aku akan menunggumu," ucap Wita lagi.
Kemudian Raka memegang kening Wita dengan tangan kanannya dan kemudian ia mengecup tangan kanan yang berada di kening Wita sebagai isyarat kalau sekarang dia sedang mencium kening Wita karena ia tahu kalau dia sampai mencium Wita akan menjadi masalah besar karena Wita pasti marah.
Ketika itu Wita kaget bukan main dan refleks menjauh dari Raka.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Wita emosi.
"Itu salam perpisahan dari gue untuk lo," kata Raka kemudian berlalu pergi.
"Sampai jumpa," kata Raka mulai meninggalkan Wita.
Kemudian Wita memegang keningnya dan ia tersenyum juga sambil melihat punggung Raka yang menjauh.
"Tunggu gue kembali," gumam Raka dari jauh kemudian melambaikan tangan dan tidak terasa air mata Wita jatuh menetes.
Wita merasa begitu sedih karena harus berpisah dengan orang yang dicintainya tetapi demi kebaikan orang itu Wita rela melepasnya.
"Tenang aja Raka aku pasti menunggumu kembali," gumam Wita.
Ternyata menunggu memang bisa disebut takdirku, entah apa yang terjadi kedepannya aku berharap semuanya akan baik-baik saja. Batin Wita
__ADS_1
Taman itu menjadi saksi bisu perpisahan mereka dan hari itu menjadi sebuah hari yang tak terlupakan bagi Wita dan juga Raka.