Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Pengantin Baru


__ADS_3

.


.


.


Akhirnya Wita dan Raka resmi menikah, mereka berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri.


Tentu saja acara itu di hadiri oleh orang-orang terdekat Wita dan Raka. Seperti sahabat Wita, Nawa dan Ansal dan sepupu Raka yaitu Vivi dan Andi. Ya tentu saja kakak sepupu Raka Vivi itu sangat antusias sekali dengan pernikahan Raka dan Wita.


Hal itu membuat Andi yang bersama kakaknya itu merasa malu dengan kelakuan kakaknya, yang terlihat seperti jomblo ngenes. Karena sudah tua dia belum menikah sedangkan adik sepupunya yang masih terbilang muda sudah menikah. Ia merasa begitu tertinggal, tapi ia juga bahagia dengan kebahagiaan adik sepupunya yang sangat datar itu.


"Selamat ya Wita!" ucap Nawa.


"Selamat!" ucap Ansal.


"Selamat buat kalian berdua," kata Andi tersenyum.


"Secepatnya saya akan menyusul, selamat untuk kalian berdua!!!" Ucap Vivi sangat bersemangat.


"Aduh kakak, kamu benar-benar memalukan. Memang pacarmu mana?" Tanya Andi sambil memijit-mijit kepalanya.


"Beraninya kamu menghina kakakmu!!" Kesal Vivi menjewer Andi.


"Aku tidak menghina kak, itu kenyataan." Ucap Andi, Vivi tambah mengencangkan jewerannya.


"Iya kak ampun aku salah," kata Andi mengalah. Wita tersenyum dengan kelakuan dua bersaudara itu. Sedangkan Raka ia hanya diam saja, sepertinya ada yang tengah dipikirkannya. Kemudian ia tersenyum. Wita memperhatikannya.


"Kamu kenapa?" Tanya Wita pada Raka melihat gelagat aneh suaminya itu. Kemudian ia tersenyum ke arah Wita, Wita menatapnya aneh dan menyadari apa yang dipikirkan suaminya itu, Wita langsung tertunduk malu dibuatnya.


Tidak lupa mereka juga berfoto bersama dalam acara pernikahan itu. Foto dengan keluarga besar, sahabat dan para tamu-tamu dalam undangan itu.


Dan masih banyak lagi teman-teman Wita yang menghadiri acara pernikahan itu termasuk Dava dan Lucy.


Ternyata mereka berdua telah menggandeng pasangan mereka masing-masing. Dava dengan istrinya dan Lucy dengan pacarnya.


"Wah Lucy, ini siapamu?" Tanya Wita tidak tahu.


"Dia pacar gue," kata Lucy memperkenalkan pacaranya.


"Kamu gak pernah cerita," kata Wita kaget, ia tidak tahu jika gadis itu sudah punya pacar.


"Kejutan dong," kata Lucy.


"Kenapa gak buat kejutannya pas kamu sudah mau nikah aja," kata Wita.


"Lo duluan sih dari gue nikahnya, mau gak mau gue bawa pasangan gue dong. Supaya nggak di kira jomblo." Ucap Lucy tertawa.


"Selamat ya Wita," kata Lucy akhirnya.

__ADS_1


"Iya, cepat nyusul ya." Ucap Wita pada Lucy gadis itu hanya tersenyum menanggapinya.


Tidak lama kemudian datanglah Dava dan pasangannya.


"Selamat ya Wit," kata Dava, Raka masih menatap Dava dengan tatapan tidak enak.


"Selamat ya Ka, kamu ternyata benar-benar menyayangi Wita dan benar-benar menjadikannya pendamping hidup. Aku turut bahagia." Ucap Dava dan Raka yang menyadari lebih baik tidak ada lagi pertengkaran di antara mereka akhirnya membalas jabatan tangan Dava. Wita terlihat senang melihat ke akraban mereka.


"Oh iya kenalin ini istri aku," kata Dava sambil tersenyum bahagia.


"Ehh?!" Kaget Wita dan Raka.


"Kamu nikah kenapa gak ngundang?" Tanya Wita.


"Aku nikah di luar kota, jadi gak sempat ngundang teman-teman." Ucap Dava menjelaskan.


"Gitu ya, selamat ya atas pernikahanmu kalo gitu." Ucap Wita tersenyum dan Dava mengangguk.


"Saya juga mengucapkan selamat atas pernikahanmu," kata Raka menepuk bahu Dava akrab, mereka benar-benar baikan sekarang.


.


.


.


Hari itu benar-benar merupakan hari yang paling bahagia bagi Wita dan Raka. Mereka menghabiskan waktu dengan menghadapi para tamu yang datang, menjadi raja dan ratu dalam sehari benar-benar membuat Wita merasa kelelahan.


Raka yang menyadari Wita istrinya telah kelelahan menggenggam tangan Wita seolah-olah memberikan kekuatan untuk istrinya itu.


"Bertahanlah sebentar lagi sayang," kata Raka, Wita pun mengangguk senang.


"Uhuyy!!!" teguran seseorang yang menonton aksi mereka.


"Sabar-sabar! Malam pertama masih belum dimulai," kata salah satu tamu yang memergoki Wita dan Raka yang sedang bertatapan mesra dia adalah Firman teman yang pernah menegurnya dulu dan karena hal itu Raka menjadi penasaran dengan Wita.


Firman memang seseorang yang sangat mudah akrab dengan mereka berdua. Lama tidak bertemu, tidak memudarkan keakraban mereka.


.


.


.


Acara pernikahan selesai, Wita langsung terkapar di atas ranjang pengantin barunya tanpa membuka baju pengantinnya ia benar-benar kelelahan sembari menunggu Raka selesai mandi.


Di setengah sadar Wita ia berpikir.


Biasanya apa yang dilakukan pengantin baru ya. Pikir Wita.

__ADS_1


Ah mungkin saja biasanya malam pertama tidak terjadi apa-apa. Wita menenangkan diri, ia belum siap.


Kriet!!


Pintu kamar mandi terbuka menampakkan Raka dengan setengah bagian tubuhnya terbuka. Tubuh yang begitu ideal menurut Wita, benar-benar tipenya dan itu adalah pertamakali nya Wita melihat Raka bertelanjang dada seperti itu.


Wita bangun sambil menunduk, ia tidak menyangka hari itu ia telah menjadi istri orang. Ia masih belum terbiasa dengan tingkah Raka yang langsung buka-bukaan di depannya. Terlebih ini pertamakali nya ia satu kamar dengan seorang pria, memikirkannya saja Wita benar-benar menjadi gugup.


Namun ia masih terus bersikap tenang, setenang mungkin. Ia melalui Raka yang tengah tersenyum menatapnya tapi Wita tidak menyadarinya karena ia jalan sambil menunduk.


Brak!


Suara pintu tertutup keras.


"Uhhh! Kenapa dadaku berdebar seperti ini." gumam Wita ia benar-benar gugup.


Saat setelah mandi Wita menggunakan piyama mandi yang sudah di sediakan.


Dan saat membuka pintu kamar mandi ia terkejut di buat Raka pria itu menunggunya di depan pintu. Dengan lampu kamar yang sudah tidak menyala hanya lampu tidur saja yang menyala.


"Ummm, ituu." kata Wita gugup. Raka mendekat.


"Tu-tunggu dulu! Apa kamu tidak lelah?" tanya Wita.


"Lelah? Saya sudah menunggu lama hari ini terjadi," kata Raka memojokkan Wita ke dinding kamar.


"Ta-, hmmmppphh!" ucapan Wita terpotong karena Raka membungkam mulut Wita dengan bibirnya. Serangan ciuman pertama pun dimulai langsung malam itu juga, Raka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, ia sudah lama menunggunya. Dan hari ini telah tiba.


Awalnya Wita menolak ciuman itu tapi karena Raka lebih kuat darinya ia memilih menyerahkan diri dan ikut terlarut dalam ciuman pertama yang panas itu. Ciuman terputus karena kedua kubu telah kehabisan nafas. Mereka berdua kehabisan nafas tetapi terlihat dari raut wajahnya mereka begitu menikmati ciuman itu.


Raka mengangkat Wita ke atas ranjang.


"Bi-bisa kah kamu membiarkanku menggunakan bajuku terlebih dahulu?" Tanya Wita menatap ke arah lain ia malu, saat ini Raka sudah berada di atas tubuhnya memindihnya.


"Baju? Buat apa?" Tanya Raka ia melepaskan handuk yang melilit dipinggangnya begitu juga dengan piyama mandi milik Wita. Gadis itu hanya diam ia tidak melawan karena sebenarnya ia tidak mengerti apa-apa.


"Malam ini kita akan bersenang-senang sayang," kata Raka mulai menciumi Wita, Wita hanya terbaring pasrah.


"Bersenang-senang seperti apa ya?" Tanya Wita tidak tahu.


"Nikmati saja," jawab Raka. Dan pada akhirnya Wita mengerti apa yang dimaksud Raka dengan bersenang-senang.


Ia juga tidak menolak dengan keinginan Raka itu biar bagaimanapun sekarang ia sudah menjadi seorang istri yang harus melayani suami yang sangat ia cintai.


Dan malam itu pun menjadi malam yang panas bagi mereka berdua tidak ada yang merasakan kelelahan karena acara pernikahan barusan. Karena malam itu adalah malam yang mereka tunggu selama ini, dimana tubuh dan mungkin juga jiwa mereka sekarang menjadi satu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2