
Setelah Raka dan Wita ditemukan Elda terlihat gelisah, ketika itu Raka dibawa kerumah sakit bersama dengan Wita.
Walaupun sebenarnya Wita terlihat sehat namun ternyata ketika Nawa memeluk dirinya badan Wita saat itu juga panas karena semalam ia tidak tidur dan memberikan jaketnya untuk Raka sedangkan dia sendiri membiarkan dirinya kedinginan.
Wita dan Raka dibawa dalam mobil yang sama,sedangkan Nawa tidak bisa ikut dengan mereka karena dia harus membantu membereskan barang-barang Wita.Hari itu perkemahan langsung dibubarkan.
Dirumah sakit....
Ketika itu Raka masuk rawat inap karena panasnya yang begitu tinggi,sedangkan Wita ia hanya demam biasa dan tidak perlu dirawat inap hanya diberi obat dan istirahat yang cukup.
Sebenarnya Wita sangat tidak suka dengan rumah sakit ditambah lagi saat ini ia disuruh dokter untuk berbaring istirahat sambil menunggu keluarganya datang menjemput.
Awalnya dia menolak tapi dokter mengancamnya,dia akan diinfus juga bila tidak mengistirahatkan diri dan disuntik bius agar tidur.
Akhirnya Wita pun hanya pasrah tidur dikasur rumah sakit yang sebenarnya ogah-ogahan.
Setelah dokter keluar ia pun membuka matanya yang tadinya berpura-pura tidur.
"Mau tidur disini yang adanya aku malah tambah sakit lagi,mana sanggup aku tidur dengan bau obat-obatan," gumam Wita.
Kemudian ia bangun dan menghampiri Raka yang terbaring lemas karena kasur mereka hanya dibatasi oleh korden rumah sakit.
"Bisa yah dia tidur nyenyak kayak gitu disini," gumamnya lagi setelah melihat Raka tidur yang nampak pulas.
"Wita maafin gue Wit,gue udah salah sama loh," gumam Raka.
Wita yang melihat hal tersebut hanya bengong ia bingung saat ini ia kira Raka hanya mengigau, dan Wita pun memasang ekspresi bodohnya karena saat ini pikiran Wita masih belum jernih karena sebenarnya kepalanya juga masih pusing.
Tampaknya dia sedang mengigau,apa aku harus panggil dokter yah. Batinnya kemudian ia mau meninggalkan Raka untuk memanggil dokter.
"Lo mau kemana Wit?" gumam Raka lagi.
"Hmm, aku mau panggil dokter habisnya aku liat kamu ngigau," Wita menjawab pertanyaan Raka tanpa sadar.
"Tunggu dulu, kamu gak ngigau?" ucap Wita lagi dan berbalik menghadap Raka.
"Menurut Lo?" gumam Raka lagi.
"Hehe gak ngigau yah,kupikir kamu ngigau kayak tadi malam"jawab Wita sambil nyengir gak jelas dan menggaruk kepalanya.
"Gue ngigau apa?"tanya Raka
"Biasa nyebut-nyebut nama cewekmu," jawab Wita.
"Dan satu lagi, maaf sebelumnya apa kamu ada masalah sama kedua orang tuamu soalnya tadi malam disela-sela igauanmu tentang cewekmu kamu juga manggil-manggil orang tuamu?" tanya Wita.
Raka terdiam
"Sebenarnya memang gue punya masalah sama orang tua gue tapi lo gak perlu tau masalah ini," kata Raka dan Wita mengangguk mengiyakan.
"Saranku sebaiknya kamu cepat baikan sama orang tuamu," saran Wita dan Raka tetap hanya diam
"Wit, sekali lagi gue minta maaf atas perlakuan gue sama lo." Raka meminta maaf lagi dan tidak ingin melanjutkan percakapannya tentang orang tuanya.
Wita mengernyitkan dahinya kemudian menjawab. "Udahlah Ka yang lalu itu biarlah berlalu lagi pulakan kamu sudah menyesali perbuatanmu santai aja kali aku aja santai dan tenang aja aku sudah maafin kok," kata Wita dengan senyum tulusnya.
Tiba-tiba Wita hampir hilang keseimbangan, Raka kaget melihat Wita seperti itu ia ingin bangun dari tidurnya namun apa daya saat ia ingin bangun kepalanya juga terasa berat.
"Wit kalau lo sakit gak usah maksakan diri buat bangun," kata Raka menasehati.
"Udah-udah Raka aku udah gak papa kamu gak usah khawatir, kamu juga sama gak usah maksa buat bangun. Aku hanya bosan baringan terus tapi aku baring lagi deh sekarang," kata Wita sambil berpegangan dikursi yang ada disamping Raka.
Raka hanya mengangguk sambil memegang kepalanya yang sakit, kemudian Wita pun kembali keranjangnya untuk beristirahat.
"Wit sekarang kita beneran bisa temenankan?" tanya Raka dari balik korden.
'Deg'
"Hah, kamu itu aneh-aneh aja nanyanya, sudahku bilang kitakan sudah berteman." ketika Wita ditanya seperti itu ia merasakan dadanya berdebar.
"Tapi Wit waktu itu lo aja yang anggap gue teman dan gue gak anggap lo teman," kata Raka lagi.
"Oke-oke sekarang kita udah temanan dan gak perlu ingat masa lalu itu sudah berlalu dan biarin aja berlalu," kata Wita menegaskan.
"Sekali lagi gue berterimakasih Wit, lo udah maafin gue dan menyadarkan gue," ucap Raka lagi.
"Oke sama-sama tapi masalah ini Nawa jangan sampai tahu kalau dia tahu kamu bakalan ditonjoknya nanti," jawab Wita.
"Umm, gue bakalan rahasiain" kata Raka.
Dan sekarang Wita tersenyum penuh arti di atas ranjangnya dan dibalik korden rumah sakit yang membatasinya dengan Raka.
"Raka aku juga berterimakasih sama kamu seandainya tadi malam kamu gak ada, mungkin aku bakalan ketakutan banget dan gak tahu bagaimana keadaanku setelah keluar dari hutan itu, gini-gini sebenarnya aku ini orangnya penakut." ucap Wita menceritakan sambil menahan malu, karena biar bagaimana pun dia harus berterimakasih pada Raka karena bila seandainya Wita sendirian dia tidak akan tahu bagaimana nasibnya
"Benarkah? Wah gue baru tau cewek tomboi kayak lo ternyata penakut juga hehe." jawab Raka kali ini tertawa kecil tidak menyangka.
"Ye, wajar aja dong aku kan perempuan" kata Wita sewot.
"Ya ya ya," Raka hanya mengatakan ya atas ucapan Wita.
Entah mengapa saat ini ada perasaan aneh yang menyelimuti perasaan Raka ketika ia mendengar ketulusan Wita tapi ia tidak hiraukan persaannya itu.
Kemudian mereka berdua pun terlelap, tidak lama kemudian pak Bowo beserta mama Wita masuk keruangan itu.
Ketika kepala Wita disentuh oleh mamanya ia pun terbangun.
__ADS_1
"Wit kamu gak papakan?" tanya mamanya
"Kak, kakak gapapa? Mama khawatil lo sama kakak," ucap adik Wita cadel
"Iyah lihat kakak gak papakan! Gak luka lagi," kata Wita kemudian mencubit pipi adiknya gemas.
"Aduh! Kakak sakit tau, ma kakak nakal," kata adik Wita.
Setelah berpamitan dengan pak Bowo Wita pulang sedangkan dengan Raka ia tidak berpamitan karena ketika itu Raka sedang tertidur namun tak lama kemudian Raka pun terbangun kemudian pak Bowo langsung mengajaknya bicara.
"Raka kamu tahu siapa yang ngelakuin hal ini?" tanya pak Bowo.
"Sebenarnya hal ini Elda yang melakukannya, dia merubah arah panah yang menunjukan tujuan dan mengelabuhi Wita untuk mengambil barangnya yang tertinggal, saya melihat hal itu pak ketika Elda membalik papan panah saya tahu bahwa saat itu Wita sudah tersesat dan tanpa basa basi saya masuk hutan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi dan inilah hasilnya sekarang." jawab Raka menjelaskan dan diangguki paham pak Bowo karena pak Bowo sebenarnya sudah tahu namun hanya mencari kepastian.
Dirumah Wita..
"Wita siapa yang lakuin ini sama kamu?" tanya ayah Wita.
"Udahlah pak biarin aja nanti dia sadar sendiri." jawab Wita.
"Ini gak bisa dibiarin nak, kalau kamu disakitin lagi gimana," kata ayah Wita lagi.
"Wita jelasin ma, pa tapi diselesaikan dengan baik-baik yah jangan ada kekerasan," kata Wita kemudian ia menjelaskan keseluruhan kejadian itu.
Keesokan harinya Wita sudah mulai masuk sekolah, semua teman sekelas Wita kaget karena bisa-bisanya dia masih sanggup untuk bersekolah padahal baru kemarin dia dinyatakan sakit dan beberapa orang dikelasnya menanyakan keadaannya.
Tak lama kemudian Raka juga memasuki kelas itu dan siswi-siswi mengerumuninya tapi Raka tidak terlalu menghiraukan mereka karena selain memang itu sikapnya ditambah lagi saat ini badannya kurang sehat.
Ketika ada yang menarik kursi disampingnya Wita langsung beringsut kaget karena sebelumnya dia menelungkupkan diri dia atas mejanya.
Ketika melihat Raka disampingnya Wita hanya menatapnya heran dalam hatinya ia berucap
Kupikir hari ini dia gak masuk sekolah. Batin Wita kemudian Wita menelungkupkan diri lagi dimejanya sedangkan Raka hanya menatap Wita datar.
Apa dia sudah sembuh. Batin Wita bertanya dan kali ini bisik-bisik dikelas itu mulai terdengar.
"Wah, ada hubungan apa ya Wita dan Raka, kayaknya mereka akrab banget deh, belum lagi kemarin pas Wita tersesat di hutan Raka rela nyusul loh." cerita siswa dikelas itu.
"Aku juga denger, katanya yang buat mereka berdua nyasar itu Elda, ih kejam banget itu anak, cantik-cantik tapi kelakuannya kayak gitu, gimana kalau kita yang digituin." kata siswi dikelas itu.
"Kalau begitu aku gak mau temenan sama dia lagi, bisa-bisa kita bakalan dapat nasib yang sama." kata temannya melanjutkan.
"Aku juga berpikir begitu, apa jangan-jangan dia psikopat yah, bila yang dimaunya gak kecapai rela lakuin apa aja," ucap siswa-siswi dikelas itu.
Tak lama kemudian Elda masuk dikelas itu, bisik-bisik mulai terdengar lagi.
"Eh, apa dia gak punya malu yah masih berani sekolah atas apa yang diperbuatnya." bisik-bisik siswi dikelas itu.
Terlihat saat ini mata Elda sembab tampaknya habis menangis dan itu benar semalaman ia menyesali apa yang ia perbuat terhadap Wita.
Wita yang mendengar suara langkah menghampirinya pun bangun dari posisi telungkupnya
Greb!
Seseorang memeluknya yang tak lain adalah Nawa dan Wita hanya memasang ekspresi kaget.
"Wit, kamu itu masih sakit kok turun sekolah?" tanya Nawa melepaskan pelukannya dengan ekspresi cemas.
"Kan memang aku selalu begitu, kamu tau aku kan." jelas Wita.
"Iya sih Wit, tapi apa kamu gak ngerasa trauma gitu," kata Nawa menyinggung seseorang.
"Apaan sih Wa, udahlah gak papa," kata Wita menegaskan.
"Gak papa apanya, kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu seandainya aja kamu kemarin sendiri gimana Wit." ucap Nawa kesal pada Wita .
Semua orang telah tahu bahwa dalang dari semuanya adalah Elda, bukan karena pengakuan dari Elda sendiri melainkan dari seorang murid yang mendengar percakapan pak Bowo didalam kantor pagi tadi kemudian ia menyebarkan seluruh berita tersebut kedalam kelas dan sebenarnya Nawa sudah datang dari pagi tadi tapi ia pergi menenangkan diri ditaman agar emosi tidak meluap karena saat ini dia benar-benar marah.
Raka yang berada disamping Wita hanya menatap heran sikap Wita tersebut.
Aku sebenarnya marah tapi jujur kemarahan tidak akan pernah menyelesaikan masalah apapun namun hanya akan memperparah masalah tersebut. Batin Wita.
Kemudian Elda menghampiri Wita, Nawa langsung berdiri.
"Mau apa kamu? Belum puas mau nyakitin Wita," ucap Nawa emosi.
Elda hanya diam
"Lo mau apa lagi, lo pikir gue takut sama lo, mau lo anak orang kaya atau apa, gue gak takut karena lo itu salah." kali ini Raka yang berucap semua mata tertuju pada mereka berempat.
Saat itu air mata Elda jatuh, semua orang marah padanya termasuk orangtuanya.
Kemudian Elda langsung beringsut memohon maaf pada Wita atas apa yang dia perbuat.
"Wit, maafin gue Wit gue salah sama lo, gue udah jahat sama lo dan membuat lo hampir celaka dan gue baru sadar setelah semua orang telah marah sama gue, gue janji bakalan berubah, gue lakuin ini semua karena gue iri sama lo Wit, lo selalu bahagia walaupun lo sedih lo bisa aja tersenyum walaupun lo marah dan lo dapetin kebahagian yang lo mau tapi gue, gue punya semuanya tapi gak kayak lo, itu yang gue iriin dari lo tapi sekarang gue benar-benar nyesal Wit, gue nyesal hiks!" kata Elda penuh penyesalan.
Kemudian Wita memegang bahu Elda lembut, "Aku udah maafin kamu" kata Wita tersenyum.
"Kamu gila yah Wit!" kata Nawa
Raka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan orang di kelas itu hanya menatap heran.
Bisik-bisik dikelas itu mulai terdengar "Kalo aku jadi Wita gak bakalan aku maafin dia"
"Emm"
__ADS_1
"Betul"
"Iya"
"Aku jujur untuk maafin kamu, semua orang yang salah lalu minta maaf dan mengakui kesalahannya dan mau memperbaiki diri. Bagiku, berhak untuk dimaafkan karena semua orang itu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan jadi yang terbaik dari sebelumnya karena kita semua pasti pernah berbuat salah." jelas Wita saat itu Nawa dan yang lainnya menatap dalam diam karena yang diucapkan Wita ada benarnya.
Kemudian Elda memeluk Wita
"Makasih Wit, lo mau maafin gue, gue janji setelah ini gue bakalan perbaikin diri seperti kata lo." ucap Elda mempererat pelukannya dan Wita juga membalas pelukannya.
"Tapi El kamu juga harus minta maaf sama Raka karena dia juga salah satu korban kejadian kemarin," kata Wita melepas pelukannya dan Elda mengangguk dan menghampiri Raka.
"Raka gue minta maaf atas apa yang gue sudah perbuat," kata Elda penuh penyesalan sambil tertunduk dihadapan Raka.
"Seandainya Wita tadi gak maafin lo, gue juga gak bakalan maafin lo tapi karena dia maafin lo gue juga bakalan maafin lo, jadi lo itu seharusnya terimakasih sama Wita." kata Raka tampaknya ia masih marah.
"Raka kamu kalau maafin orang harus ikhlas dong jangan kayak gitu," kata Wita protes.
"Iya-iya bawel!!" kata Raka pada Wita.
"Gue maafin lo, benar kata Wita semua orang pernah salah dan gue juga pernah lakuin sebuah kesalahan jadi gue beri lo kesempatan untuk bisa dipercaya," kata Raka dan membuat Wita tersenyum.
"Benarkah?" tanya Elda dan Raka mengangguk mantap.
"Terimakasih," ucap Elda.
"Teman-teman semua gue juga minta maaf pada kalian semua, kuharap kalian mau maafin kesalahan gue." Elda berucap pada seluruh teman sekelasnya dan mereka semua pun tersenyum ramah termasuk Nawa dan hari itu kelas pun menjadi seperti biasanya lagi tidak tegang seperti tadi.
Tiba-tiba pak Bowo datang kekelas itu dan semua murid langsung duduk rapi ditempat duduk mereka masing-masing.
"Elda kamu bisa ikut saya sebentar," kata pak Bowo dan Elda kemudian mengikuti pak Bowo dan setelah itu guru mata pelajaran hari itu masuk dan mengajar kelas itu.
Jam istirahat pertama pun berbunyi, kemudian Elda datang memasuki kelas itu.
Kemudian Wita menghampirinya.
"Kenapa kamu tadi dipanggil?" tanya Wita pada Elda ketika sudah menghampirinya walaupun sebenarnya saat ini kepalanya masih pusing tapi tetap ia paksakan.
Ketika itu Elda hanya tersenyum pada Wita.
"Ada apa El?" tanya Wita lagi.
"Mulai besok gue bakalan pindah sekolah." jelas Elda dan membuat Wita kaget.
"Tapi kenapa?" tanya Wita lagi.
"Lo masih nanya lagi tentu aja karena kesalahan gue sama lo," kata Elda hampir tertawa karena pertanyaan yang menurut Elda tidak perlu dijelaskan lagi.
"Apa masalahnya gak bisa diselesaikan baik-baik," kata Wita.
"Wit, masih untung gue gak langsung dikeluarin dari sekolah ini karena perbuatan gue, tapi untungnya ayah lo mau aja toleransi dan biarin gue bisa pindah dan tetap sekolah walaupun bukan disekolah ini." jelas Elda memegang pundak Wita.
"Seandainya Wit, gue udah temenan sama lo dari dulu pasti gue bakalan sama kayak lo selalu bahagia walaupun lo itu kadang-kadang gak ada ekspresinya sama sekali, gue bener-bener nyesal udah jahat sama lo ternyata selama ini gue bener-bener gak kenal sama lo, selalu berpikir negatif tentang lo dan gak pernah ngeliat sikap positif lo dan saat gue udah tau semuanya, semuanya udah terlambat dan itu yang gue sesali." kata Elda tersenyum sedih karena ia menyesal kenapa ia tidak menyadari dari dulu kalau Wita sebenarnya anak yang baik dan normal tidak seperti anggapannya.
"Aku bakalan bantu kamu supaya gak pindah dari sekolah ini," kata Wita dan ingin berlalu pergi mendatangi kepala sekolah untuk meminta toleransi tapi setelah itu tangan Wita ditarik oleh Elda.
"Udahlah Wit gak papa, ini adalah hukuman gue dan gue pantes untuk jalanin," kata Elda
"Tapi, aku gak mau harus kehilangan teman lagi," kata Wita matanya berair.
Wita menceritakan masa lalunya
"Dulu waktu kecil saat aku memiliki seorang teman dia juga sama kayak kamu awalnya dia membenciku tapi karena suatu sebab aku jadi akrab dengannya, tapi setelah penaikan kelas entah kenapa ia harus pindah dan meninggalkan aku, sebenarnya kalau boleh jujur dari masih kecil aku takut banget bersosialisasi dengan orang-orang bahkan kalau aku memiliki teman dapat dihitung jumlahnya tapi waktu itu aku terus berusaha agar tidak sendiri dan aku berhasil tapi setelah aku lulus dari SD entah mengapa keberanianku untuk mencari teman itu menghilang lagi dan pernah sekali aku terpisah kelas dengan Nawa dulu aku juga mempunyai teman tapi sama seperti temanku yang telah lalu mereka semua pergi dan meninggalkanku." jelas Wita kali ini ia tertunduk sedih.
"Dan bahkan aku sempat berpikir aku gak mau cari teman lagi tapi aku sadar pemikiranku itu salah," kata Wita melanjutkan dan kemudian Elda memeluk Wita erat ia juga ikut menangis
"Gue belum pernah nemuin teman kayak lo Wit, tenang aja walaupun kita terpisah dan gak bisa berhubungan lo jangan pernah sedih karena mulai saat ini dan untuk selamanya lo dan gue adalah teman dan gue gak bakalan pernah lupa sama lo karena lo adalah orang yang sudah buat gue tau apa artinya teman," kata Elda kemudian pergi karena ayahnya telah menunggunya didepan pintu kelas itu.
Wita berbalik kebelakang melihat seluruh teman sekelasnya, teman Wita dikelas itu baru tahu kalau ada cerita yang membuat Wita hampir trauma berteman kemudian salah satu dari mereka berucap.
"Tenang aja Wit, kamu jangan sedih semua orang dikelas ini adalah teman-temanmu," kata murid kelas itu dan orang-orang dikelas itu tersenyum kearah Wita dan kemudian Nawa datang merangkul Wita .
"Dan jangan pernah lupa disini ada sahabatmu sekaligus saudaramu yang akan selalu ada disampingmu," kata Nawa tersenyum sumringah kearah Wita saat itu Wita pun akhirnya mengeluarkan senyum cerahnya.
"Iya-iya aku tau, aku tau hehehe." kata Wita.
"Tapi Wa bisa lepas gak rangkulannya, kepalaku pusing." kemudian Nawa pun melepas rangkulannya tapi saat itu Wita tampak linglung dan Nawa pun membantunya untuk duduk kekursinya
"Wit-Wit kalau kamu sakit gak usah turun sekolah kan tadi aku udah bilang," kata Nawa menceramahi dan Wita hanya tersenyum kearahnya.
Sebenarnya tadi Raka juga ingin menolong Wita tapi Raka juga masih sakit dan sebenarnya saat ini ia juga merasa kalau kepalanya pusing.
"Kamu juga Ka, pasti kamu juga masih sakit dari tadi mukamu terlihat pucat," kata Nawa menceramahi Raka setelah mendudukan Wita.
Kemudian ia keluar kelas dan tak lama kemudian ia menyuruh Raka dan Nawa pergi ke UKS ternyata tadi ia meminta surat izin pada guru piket untuk mengizinkan Raka dan Wita tidak ikut jam pelajaran karena sakit dan mereka berdua awalnya menolak tapi ketika ada guru masuk Nawa memberikan surat itu dan mau tidak mau akhirnya Raka dan Wita pergi ke UKS.
Di UKS....
Terlihat Raka dan Wita berbaring diranjang yang terpisah oleh korden UKS
"Oh ya Ka gimana kamu bisa keluar dari rumah sakit bukannya kamu rawat inap?" tanyaWita.
"Waktu itu panas gue udah turun dan maksa buat pulang dan diizinin tapi harus istirahat tapi gue tetap gak perduli dan memilih sekolah. Gini-gini gue juga sama kayak lo gak suka tertinggal jam pelajaran." jelas Raka.
"Ohh," jawab Wita kehabisan kata-kata.
__ADS_1
Akhirnya Wita dan Raka tertidur sampai jam pulang sekolah kemudian mereka berdua dibangunkan oleh Nawa untuk pulang.