Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Dia


__ADS_3

.


.


.


Dia adalah orang pertama yang berhasil merebut hati ini dan mengajarkanku apa arti dari cinta sejati. Meskipun dia bukanlah orang pertama yang berhasil masuk di hati ini.


Ia berhasil membuatku membuang seluruh pemikiran negatif ku tentang cinta, rasa ketakutan ku dengan yang namanya sakit hati, dan pemikiran buruk ku terhadap lawan jenis.


Yang ia berikan adalah sebuah kebahagiaan yang berhasil menutupi seluruh rasa resah ku.


Saat ini diriku hanya ada sebuah kebahagian yang tak terbendung lagi rasanya. Ibaratkan saat ini aku terbang ketempat tertinggi di dunia, walaupun aku tahu jika jatuh rasanya sangat sakit. Aku akan tetap menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang ditulis oleh takdir...


.


.


.


Pagi itu sekitar jam 08.00,Wita sedang membuat sarapan. Ketika itu Wita sendirian di kosan, Nawa sudah pergi pagi-pagi buta pulang ke desa.


Hari ini kantor sedang libur dan hari ini Wita ada mata pelajaran kuliahnya jadi dia tidak ikut pulang dengan Nawa dan Ansal.


Wita, Nawa dan Ansal sama-sama pergi ke kota untuk mencari pekerjaan tetapi yang membulatkan tekad untuk bisa kuliah hanya Wita. Sedangkan Ansal dan Nawa ia masih belum mau melanjutkan kuliahnya dan memilih untuk bekerja.


Nawa dia tidak melanjutkan kuliah karena dia lebih memilih bekerja ketimbang kuliah dan ia bilang pada Wita akan repot bila harus membagi waktu. Jadi, Nawa bilang dia akan kuliah setelah tabungannya cukup sedangkan Wita ia berusaha membagi waktunya untuk bisa bekerja dan kuliah apapun caranya.


Dan saat mereka bertiga pergi ke kota Nawa dan Ansal sudah berpacaran, ceritanya panjang selama Nawa dan Ansal duduk bersama sudah ada ketertarikan di antara mereka berdua tapi mereka masih malu-malu.


Namun saat penaikan kelas Ansal menembak Nawa dan Nawa pun menerimanya hari itu juga bertepatan dengan perpisahan Wita dan Raka.


Dan sempat hari itu Wita tidak menampilkan ekspresinya sama sekali, Nawa sempat curiga tapi saat itu Wita berusaha mati-matian untuk terlihat senang dan mulai saat itu Wita tidak pernah 'baperan' lagi tapi Nawa tidak pernah bertanya kenapa Wita berubah.


Selama ini kebanyakan Nawa lah yang curhat dengan Wita tentang hubungannya dengan Ansal dan karena itu Wita pun bersyukur karena Nawa tidak bertanya masalahnya.


Ia tidak ingin ada orang yang tahu masalahnya ketika Nawa bertanya tentang masalah percintaannya Wita hanya mengangkat bahu dan berkata.


"Rasanya sekarang tidak ada kesempatan bagiku untuk menatap laki-laki seperti dulu,"


Itulah kata pamungkas Wita yang membuat Nawa berhenti bertanya selama lima tahun terakhir tentang percintaan Wita dan memang selama itu Wita tidak pernah memperdulikan pria yang mendekatinya.


Dan tadi malam Wita menjelaskan semuanya, alhasil malam itu membuat Nawa marah-marah pada Wita.


Kenapa Wita tidak pernah cerita sama sekali tentang hal sepenting itu dan sempat membuat Nawa ngambek. Kemudian Nawa menjelaskan alasan marahnya Nawa sebelumnya sampai tidak menegur seharian Wita karena masalah itu.


Malam itu mati-matian Wita minta maaf dengan Nawa dan akhirnya Nawa memaafkan dengan syarat mulai sekarang mereka tidak ada main rahasia-rahasiaan lagi.


Lagipula bagi Wita ia tidak pernah merahasiakan itu semua, tapi karena Nawa lah yang tidak bertanya padanya tentang Raka jadi Wita tidak pernah cerita, karena yang Nawa tanya selama ini pada Wita hanyalah kapan Wita punya pacar. Jelaslah Wita menjawab dengan alasannya sendiri.


.


.


.


Pagi itu Wita sedang memasak pisang rebus dan memakan pisang itu untuk sarapan pagi, biasanya dia dan Nawa selalu sarapan pisang rebus tiap pagi jadi ketika persediaan mereka akan habis mereka pergi membeli bersama.


Walaupun sekarang mungkin tidak akan sama lagi karena Nawa akan banyak menghabiskan waktunya bersama Ansal karena rencananya bulan depan mereka berdua akan menikah. Dan pastinya setelahnya Nawa akan selalu bersama Ansal.


Tapi cukup bagi Wita untuk ikut bahagia, karena sahabatnya akhirnya mendapatkan kebahagiaannya.


Wita pun menikmati sarapannya itu sendirian sambil menatap jendela kaca kosannya itu melamun.


"Uhuk! Uhuk!" batuk Wita tiba-tiba tersedak karena kaget Raka tiba-tiba muncul di depan jendela kaca itu dan Wita langsung mengambil air putih yang sudah disiapkannya.


Raka saat itu panik ingin memasuki rumah itu.


"Wita buka pintunya!" teriak Raka dari luar panik sekaligus khawatir Wita langsung menuju pintu depan kosannya.

__ADS_1


"Kalau enggak pintunya saya dobrak!" teriak Raka lagi dan saat ia akan menendang pintu itu dengan satu kakinya, pintunya pun terbuka dan hal itu membuat Raka terjatuh sambil split dan membuat yang bersangkutan menahan rasa sakit di selangkangannya.


"Ups! Raka maaf. Uhuk! Uhuk!" kata Wita tampaknya ia masih tersedak Raka hanya mengangguk dan tampaknya mukanya memerah menahan sakit karena sebelumnya dia tidak pernah split sama sekali.


.


.


.


"Kamu ngapain tiba-tiba muncul disitu tadi?" kata Wita tampaknya sudah baikan dan membawa sarapannya ke ruang tamu sambil membawakan secangkir teh hangat untuk Raka.


"Habisnya saya ketuk pintu kamu tapi gak ada yang jawab." jelas Raka tampaknya dia juga sudah baikan.


"Tapi tadi untung aku gak jantungan, hehe. Maaf yah gara-gara aku kamu jadi sakit," kata Wita tertawa hambar.


"Tapi kamu gak papakan? Sakit kayak gini gak apa-apa yang paling penting itu kamu gak apa-apa, maaf yah gara-gara saya kamu tersedak kayak gitu," kata Raka merasa bersalah.


"Makasih yah Ka, kamu udah khawatir sama aku," kata Wita saat ini menahan malu dan Raka hanya tersenyum mengiyakan saat ini mereka sedang memikirkan keadaan jantung mereka masing-masing yang nampaknya sudah tidak betah lagi berada ditempatnya.


Kemudian Raka mencomot pisang rebus yang di makan Wita demi menghilangkan kecanggungan.


"Ka, memang orang kayak kamu bisa aja makan pisang rebus kayak gitu?" tanya Wita khawatir siapa tahu Raka bakalan muntah karena tidak terbiasa memakan makanan itu.


"Tenang aja, saya juga pernah tinggal di desa. Umm, ini enak." jelas Raka dan menambah lagi untuk memakan pisang rebus itu.


"Syukurlah kalau gitu," ungkap Wita karena ia tidak perlu khawatir dan melanjutkan sarapannya.


"Raka aku harus siap-siap dulu yah, kamu kalau mau pulang, pulang aja," kata Wita.


"Hari ini saya yang anterin kamu ke kampus," kata Raka dan membuat Wita bengong.


"Kenapa kamu bengong?" tanya Raka.


"Gak usah repot-repot, aku bisa naik motor sendiri kok." ucap Wita berusaha menahan perasaannya saat ini.


"Hari ini gak ada penolakan." jelas Raka tidak mau dibantah.


"Hari ini kamu gak kuliah." jelas Raka sambil memperlihatkan kunci motor yang berada di tangan Raka dan merasa kemenangan berada dipihaknya.


"Sejak kapan?" tanya Wita tapi tidak dijawab Raka.


.


.


.


Wita hanya menarik nafas pasrah karena kunci motornya ada di tangan Raka, kalau ia ingin jalan kaki jaraknya lumayan jauh tidak seperti jarak ke perusahaan yang terbilang dekat, kalau ingin naik taksi ia harus menunggu sedangkan setengah jam lagi mata kuliahnya akan dimulai.


"Hari ini aja," akhirnya Wita mengaku kalah dan membuat Raka langsung senang bukan main.


Saat keluar rumah Wita melihat-lihat, siapa tahu ada ibu kosnya saat ini sedang melihatnya.


"Oyy Wit, siapa kamu tuh? Cowok kamu? Akhirnya punya pasangan juga kamu Wit ganteng lagi!" ucap ibu kos itu berteriak dan membuat Wita tersentak kaget, malu bukan main dan Raka memberi hormat pada ibu kos itu dan ibu kos itu pun tersenyum.


"Jaga Wita yah, soalnya dia itu masih terlalu polos," kata ibu kos itu dan membuat Wita tidak bersuara sama sekali dibuatnya.


Perasaan ibu aja kali itu. Batin Wita, karena Wita paham kok arti cinta selama ini yah walaupun dari membaca novel-novel dan cerita romantis. Akhirnya ia membayangkan dirinya yang jatuh cinta seperti sekarang.


"Dia pasti saya jaga bu!" kata Raka yakin dan membuat dada Wita memanas.


Saat itu Raka ingin membukakan pintu mobilnya untuk Wita tapi saat itu Wita lebih dulu membuka pintu mobil itu sendiri dan membuat Raka sedikit kecewa karena Wita memasuki mobil di bagian tengah bukan di sampingnya di bagian depan. Raka memasuki mobilnya.


"Wita, kamu duduk di depan dong." pinta Raka.


"Gak mau, aku pengen duduk disini." kata Wita menolak.


"Kalau kamu gak mau duduk di depan, kita gak berangkat," kata Raka dan tidak sama sekali menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


"Apaan sih Ka aku sudah mau loh di antar kamu, masih juga kayak gitu ayo berangkat," kata Wita tapi Raka tidak menghiraukan dan membuat Wita menarik nafas pasrah dan akhirnya berpindah duduk ke depan di samping Raka.


"Sekarang kamu puas!" ucap Wita dingin dan membuat Raka mengangguk kesenangan karena telah berhasil menaklukan wanita dingin dan penuh ketenangan itu.


"Assalamu'alaikum bu, saya pergi dulu." Pamit Raka kepada ibu kos Wita sebelum berangkat.


"Wa'alaikum salam, hati-hati dijalan!" Jawab ibu kos sambil melambaikan tangan.


Wita selama di dalam mobil ia hanya diam, sepertinya kepalanya saat ini agak pusing dan Raka melirik ke arahnya.


"Wita, kayaknya mulai sekarang kamu harus belajar jadi orang kota deh, kan saya sudah bisa jadi orang kampung." ucap Raka tersenyum sambil menyetir karena ia tahu saat ini Wita sedang mabuk.


Wita menatap ke arahnya.


"Mungkin ini juga merupakan salah satu penyebab aku gak mau di antar kamu naik mobil." jelas Wita ia jujur.


Dan tak lama kemudian ia pun sampai di kampus dan langsung keluar dari mobil itu.


"Hah, segarnya!" ungkap Wita saat ini ia kesenangan bagai burung yang baru lepas dari dalam sangkar karena telah keluar dari dalam mobil itu dan Raka tiba-tiba berada di sampingnya.


"Loh Ka, kamu gak pulang?" tanya Wita.


"Nggak saya mau nungguin kamu sampai pulang dan saya mau antar kamu sampai ruang kelasmu." jelas Raka.


"Gak usah Ka nanti kamu malah repot belum lagi kamu kan harus masuk kantor hari ini." alasan Wita padahal saat ini dia tidak ingin di antar Raka karena malu, pasti dia akan kena gosip sama teman sekampusnya, Wita sebenarnya tidak suka menjadi bahan perhatian orang.


Tapi dengan perhatian Raka yang seperti itu sebenarnya Wita bahagia dibuatnya.


"Saya ngak ngantor hari ini soalnya udah digantikan sama sekretaris saya dan saya juga gak ngerasa repot kok, malahan saya senang." jelas Raka santai dan Wita hanya menarik nafas ia malu saat ini, karena ia baru merasakan apa yang namanya cinta yang tumbuh dengan kasih sayang bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Di kantor.


Terlihat seseorang yang sedang kerepotan membatalkan jadwal pertemuan Raka.


Hah Raka mendadak banget rencanannya kalau tidak, gak bakalan serepot ini urusannya. Batin sekretaris Raka itu mengotak-atik laptop dengan cepat sambil menelpon klien mengundur semua pertemuan hari itu.


.


.


.


Di kampus.


Saat berjalan di sebelah Raka, Wita hanya menunduk berharap tidak ada orang yang mengenalnya tapi bisik-bisik mulai terdengar dan ketika Wita sampai di depan ruang kelasnya orang-orang yang mengenalnya mulai terdengar bercerita tentangnya.


"Itu siapa yah yang sama Wita, ganteng banget."


"Dia siapa pacarnya Wita?"


"Pantes aja dia selama ini selalu mengehindari cowok," dan kata-kata ini membuat Wita jengkel tapi kata-kata itu juga tidak sepenuhnya salah.


Memang aku wanita murahan sana sini sama cowok. Batin Wita emosi, tapi ia hanya menghela nafas pasrah menerima segala kata-kata yang terlontar.


"Untung banget dia punya cowok seganteng itu,"


Bising mahasiswa dan mahasiswi di ruangan yang bisa dibilang tidak berbisik karena bisa didengar Wita dan Raka, Wita benar-benar menjadi bahan perhatian sekarang.


Kemudian Raka memegang puncak kepala Wita dan yang di pegang saat ini langsung refleks minta lepas dan menatap dengan tampang tak bersahabat.


"Raka, jangan pegang-pegang!" ucap Wita dan Raka hanya menanggapinya dengan senyum yang meluluhkan hati mahasiswi yang melihatnya dan kemudian Raka berlalu pergi sambil melambai ke arah Wita.


"Semangat belajarnya, saya bakalan menunggumu!" teriak Raka dari jauh menyemangati Wita sambil melambai yang berhasil membuat Wita langsung tersenyum malu dan keringatnya langsung mengucur.


Setelah duduk di bangku nya Wita di beri berbagai macam pertanyaan oleh teman-temannya.


"Wit, sapa lo? Pacar lo ya? Atau tunangan lo?" tanya Lusy salah satu teman yang terbilang dekat dengan Wita di kampusnya dan Wita hanya menunduk malu.


"Wit, dia Raka kan?" tanya seseorang tiba-tiba dia adalah Dava, yah dia salah satu teman Wita ketika masih SMA dan merupakan cinta pertama Wita tapi setelah mengenal Raka ia melupakan Dava dan lebih memilih menunggu Raka.

__ADS_1


Wita hanya menatap kaget kehadiran pria itu yang tiba-tiba ada di hadapannya.


__ADS_2