
Setelah kejadian beberapa waktu lalu yaitu hilangnya Raka dan Wita dihutan keadaan pun mulai membaik bahkan lebih baik daripada sebelumnya.
Sekarang akibat kejadian itu penilaian jelek teman-teman Wita terhadap diri Wita telah hilang dan mereka pun akhirnya mau berteman dan berkumpul bersama Wita untuk berbincang-bincang.
Sedangkan Raka ia mulai membuka diri pada teman-temannya dikelas dan mulai mau bergaul walaupun ia masih menjauhi murid perempuan karena kebanyakan dari mereka dekat-dekat dengan Raka hanya mau mencari perhatian.
Sedangkan Raka ia berusaha memperbaiki dirinya agar tidak menyakiti hati wanita lagi sesuai janjinya dengan Wita maka dari itu ia pun menghindar dari para gadis dikelas itu untuk menghindari diri dari memberikan harapan palsu pada para gadis dikelas itu.
Sikapnya masih dingin dengan para gadis tetapi tidak dengan Wita, ia begitu terbuka dan selalu menceritakan masalah-masalahnya pada Wita, biasanya Wita akan memberikan sarannya pada Raka dan Raka biasanya akan menurutinya.
Mereka berdua begitu akrab tidak heran murid-murid dikelas itu beranggapan Wita dan Raka memiliki sebuah hubungan yang spesial.
Para siswi tentunya ada yang iri dengan kedekatan Wita dengan Raka karena mereka juga ingin seperti Wita bisa dekat dengan Raka.
Tidak hanya Raka dan Wita saja yang memiliki sedikit kemajuan dengan orang-orang dikelasnya itu, Nawa juga sudah mulai dekat dengan sang pujaan hatinya.
Hari ini Nawa datang pagi-pagi sekali dengan senyumannya ia sedang tersenyum sendiri sambil duduk dibangku depan kelasnya tanpa ia sadari bahwa Wita tiba-tiba muncul disampingnya dan menggangu lamunannya.
"Woy!! Ngelamunin apa ayo, pagi-pagi sudah senyam-senyum gak jelas gitu," kata Wita mengejek Nawa sekaligus mengagetkannya.
"Ah,itu anu ..." jawab Nawa gelagapan bingung mau jawab apa dia malu menjelaskan perasaannya pada Wita kemudian ia tertunduk.
Wita menyadari saat ini sahabatnya itu sedang malu dan salah tingkah biasanya Nawa kalau malu ia akan menunduk dan tidak mau menatap wajah Wita.
"Cie!!! Aku tau nih kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga nih hatinya," tebak Wita.
"Shutt! Diam malu tau, iya memang betul." jujur Nawa dan Wita menatap Nawa dengan raut wajah aku minta penjelasan sekarang.
"Oke aku kasih penjelasan,gini ceritanya ..."
__ADS_1
Ketika pak Bowo masuk kelas dan membuat peraturan aneh untuk membuat murid-muridnya duduk dengan teman sebangku yang ditentukan olehnya tanpa bisa protes Nawa saat itu berharap duduk dengan Ansal kalau tidak bisa duduk dengan Wita dan keinginannya itu terkabul.
Kemudian Nawa yang memang mudah beradaptasi itu tersenyum pada Ansal yang merupakan orang yang disukai oleh Nawa dan Ansal ternyata membalas senyuman Nawa.
Nawa sempat berpikir senyumannya tidak akan dibalas oleh Ansal tetapi pemikirannya itu ternyata salah Ansal membalas senyumannya dan itu merupakan awal kedekatan mereka.
Seiring berjalannya waktu mereka berdua menjadi begitu akrab dan dekat biasanya mereka akan saling bertanya bila tidak mengerti pelajaran dan akan saling tertawa bila sama-sama tidak mengerti.
Ansal dan Nawa juga ketika jam istirahat bisa berbincang-bincang dan Wita biasanya peka saja apa yang dilakukan kedua sejoli itu dan tidak berniat mengusiknya, Wita sadar sahabatnya itu sedang asik PDKT dengan orang yang disukanya jadi dia lebih memilih duduk dikursinya sambil memerhatikan mereka dari kejauhan sambil berharap dia juga bisa seperti itu dengan orang yang disukainya kelak.
Wita terkadang tersenyum saat memerhatikan salah tingkah Nawa didepan Ansal.
Biasanya yang memergoki Wita tersenyum sendiri adalah Raka yang pada akhirnya Wita mencari berbagai alasan untuk tidak memberitahu Raka apa yang dia lihat sebenarnya dan apa yang membuatnya tersenyum dan berusaha mengalihkan pembicaraan yang akhirnya berakhir pada Wita yang berbincang pada Raka.
Saat kerja kelompok berdua, Nawa dan Ansal memilih mengerjakannya dirumah Nawa.
Ketika dirumah Nawa entah karena apa Nawa yang membawakan teh panas pada Ansal tidak sengaja menumpahkannya ditangannya.
Semakin lama mereka berdua semakin dekat sampai pada akhirnya Ansal berjanji akan memberikan sesuatu pada Nawa ketika penaikan kelas nanti dan itu tinggal dua bulan ini, hal inilah yang membuat Nawa tidak sabar dan tidak tahan untuk tidak tersenyum bahkan sebelum tidur ia akan tersenyum.
Hatinya saat ini bagaikan dipenuhi oleh bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Wita tersenyum menanggapi cerita Nawa ternyata sahabatnya itu benar-benar sedang jatuh cinta sekarang.
"Oh iya Wit, aku liat kamu deket banget sama Raka kemana-mana berdua ..." ucapan Nawa terputus.
"Bertiga, kan kalau kita ngumpul bertiga." jelas Wita memprotes ucapan Nawa karena memang saat berpergian kelas ke Perputakaan, kantin dan bersantai mereka memang biasanya bertiga tidak pernah berduaan.
Raka dan Wita berduaan hanya ketika ia terus diam dikelas, saat itu ketika Nawa sedang sibuk-sibuknya berbincang dengan Ansal.
__ADS_1
Tapi Wita dan Raka bisa hanya berdua ketika Nawa sibuk dengan klubnya dan tidak bisa pulang bersama mereka hanya saat itu Raka dan Wita berduaan.
"Iya, iya bertiga aku cuma mau nanya kalian itu gak saling tertarik apa menurutku kalian itu deket banget loh," kata Nawa minta penjelasan.
"Nggak Wa kami gak punya perasaan apa-apa cuma sekedar teman gitu aja lagi pula Raka itu sudah punya pacar," kata Wita menjelaskan tanpa ada raut cemburu diwajahnya.
"What!?" pekik Nawa kaget
"Seriusan Wit, tapi benerankan Wit kamu gak suka sama Raka?" kaget Nawa pada Wita meminta penjelasan Wita bahwa benar Wita tidak suka pada Raka dan Wita mengangguk serius.
"Syukurlah kalau gitu aku gak terima kalau kamu lagi-lagi cintanya bertepuk sebelah tangan," kata Nawa mengadu tinjunya dengan telapak tangannya.
"Haha, iya-iya kamu tenang aja aku sudah gak kayak dulu lagi kok suka baperan," kata Wita menjelaskan kepada Nawa.
"Beneran Wit? Kamu gak baperan lagi? Trus gimana perasaanmu sama Dava?" tanya Nawa beruntun.
"Bener loh sekarang kalau ada pria yang dekat aku, aku sudah mulai biasa aja nanggepinnya. Kalau masalah sama Dava aku gak ngerasain lagi perasaan yang sering aku rasain saat dekat dengan Dava kayak dulu sekarang biasa aja malahan rasanya." jelas Wita.
"Wah kalau begitu selamat buat kamu Wit, kamu itu sudah berhasil move on tau gak." Nawa menyalami Wita dan Wita hanya manggut-manggut mengiyakan.
Dihati Wita ia merasa bersalah karena berbohong pada Nawa dan bilang tidak menyukai Raka padahal gara-gara Rakalah Wita bisa move on.
Wa maaf aku gak bisa jujur, biarlah ini menjadi rahasia untuk diriku sendiri selamanya. Batin Wita bersedih karena tidak jujur pada Nawa tentang perasaannya pada Raka.
Wita bersyukur bisa memasang ekspresi meyakinkan untuk Nawa saat beralasan barusan.
"Wa, soal Raka sudah punya pacar kamu diam-diam aja yah kalau aku kasih tau kamu masalahnya gak ada orang yang tau masalah ini, nanti Raka marah lagi sama aku kalau aku gak jaga rahasianya." Wita berucap khawatir karena ia juga merasa bersalah tidak menjaga rahasia Raka dan malah memberitahukan pada sahabatnya ini.
"Oke Wit, aku akan tutup mulut kapan sih aku bongkar rahasia kamu." Nawa menyetujui keinginan sahabatnya itu.
__ADS_1
Kemudian mereka memperbincangkan hal-hal lainnya yang pastinya tidak membuat mereka bosan untuk berbincang.