Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Kau Milikku


__ADS_3

.


.


.


"Aku sudah bertunangan," kata Wita dan seketika dada Raka serasa di hujani ribuan jarum yang tak terlihat.


"Gak mungkin," kata Raka tidak percaya.


"Itu mungkin aja Ka, harusnya kamu marah sama aku, aku gak nepatin janji bahkan aku sempat lupa sama kamu." jelas Wita dan membuat Raka kecewa berat.


Maaf Raka aku bohong sama kamu, tapi ini untuk kebaikan kamu juga. Aku benar-benar gak pantes buat kamu aku mungkin hanya penghalang untukmu, orang-orang bakalan ngihina kamu karena dekat dengan gadis kampung, tapi satu hal yang pasti aku sayang kamu dari hati yang paling dalam. Batin Wita kemudian ia menangis pergi meninggalkan Raka yang diam terpaku sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi.


.


.


.


Raka berjalan tak tentu arah.


Kenapa semua orang pada akhirnya mengkhianati saya, apakah saya begitu tidak pantas untuk di cintai, bahkan oleh orang yang sangat saya harapkan. Batin Raka ia berjalan di tengah kota dan kemudian asal menyebrang jalan tanpa memperhatikan ada mobil yang melaju ke arahnya.


Tinnnn!!!


Bunyi klakson mobil yang melaju kencang itu panjang tapi Raka terus berjalan ia sekarang tidak perduli pada hidupnya.


Greb! Buk!


Seseorang berlari menerjang dan memeluk Raka dengan sekuat tenaganya sehingga mereka berdua terlempar ke pinggir jalan.


"Ughh!!" Raka yang di terjang seperti itu merintih dibuatnya, meskipun orang yang menyelamatkannya itu seorang wanita. Tapi dia memiliki tenaga besar yang cukup untuk membuat mereka berdua terlempar ke pinggir jalan dan menyelamatkan nyawa mereka.


Ckitt!! Suara mobil mengerem mendadak, seseorang keluar dari dalam mobil.


"Hei, kalo mau mati kira-kira jangan di depan mobil orang. Bikin repot saja!!" Marah sang pengendara kemudian berlalu pergi tidak perduli. Orang-orang mulai memerhatikan kejadian itu.


.


.


.


.


Ketika di perjalanan pulang Wita teringat kejadian di masa lalu dimana Raka ingin menghabisi dirinya saat ia sedang frustasi, karena mengingat kejadian itu Wita langsung berbalik dan mencari Raka. Ternyata benar dugaan Wita, Raka melakukan hal bodoh itu lagi dan tanpa segan-segan Wita menerjangnya.

__ADS_1


Wita juga berpikir kalau seandainya Raka kenapa-napa karena dirinya ia mungkin tidak jauh berbeda dengan Putri.


.


.


.


"Apakah tidak ada kerjaan lain lagi, selain hal bodoh ini yang kamu lakukan. Seharusnya kamu harus sadar diri kamu itu sudah tua, payah!" kata Wita memaki Raka, saat ini ia berada di atas Raka kemudian ia ingin berdiri tapi Raka menahannya dengan memeluknya erat.


"Kalau cuma ini cara biar saya bisa berada di sampingmu saya bakalan lakuin hal ini bahkan seribu kali, saya cinta sama kamu Wita."


"Selama saya sekolah di Amerika hanya kamu yang saya pikirkan dan berhasil membuat saya lulus dengan cepat biar bisa ketemu kamu lagi, tapi kenapa kamu lakuin berbagai macam cara ngehindarin saya?"


"Satu lagi hal yang saya ingin tanyakan apa benar kamu sudah tunangan?" tanya Raka dan membuat Wita hanya diam dan pelukan itu pun terlepas.


Saat ini Wita amat malu karena di tonton oleh orang-orang yang berlalu lalang sedangkan Raka ia tampak tidak perduli, sepertinya urat malu dan wibawa pria itu telah hilang karena Wita.


Kemudian Wita berdiri pergi tanpa menjawab pertanyaan Raka satupun.


"Wita jawab pertanyaan saya!" teriak Raka dan yang di tanya saat ini sebenarnya malu bukan main ia karena pernyataan bodohnya barusan, kenapa juga ia malah buat alasan seperti itu.


Kemudian saat ingin mengejar Wita telepon Raka berbunyi dan ia mengangkatnya


"Halo?"


"Jelaskan sekarang," kata Raka kemudian ia menutup telponnya dan tersenyum. Wita terkejut lagi-lagi ia di peluk oleh Raka kali ini dari arah belakang.


"Saya sudah tahu semuanya tentang kamu, kamu bohong sama saya, tapi kenapa?" kata Raka tidak ingin melepaskan pelukannya. Wita tidak percaya bagaimana pria itu bisa mengetahui semuanya, namun kemudian ia berpikir. Bisa saja, tidak ada yang tidak mungkin yang tidak bisa Raka lakukan.


"Kamu mau tau, aku hanya merasa gak pantes bersanding sama kamu, aku gak mau suatu saat aku bakalan jadi penghalang buat kamu, aku sadar aku juga suka sama kamu tapi aku-aku..." kata Wita kehabisan kata-kata tepat saat mengutarakan perasaannya.


"Wita, kamu gak usah khawatir dengan itu semua, saya sayang sama kamu dan kamu sayang sama saya itu udah cukup buat saya, terimakasih Wita karena telah menepati janji untuk menunggu saya, sampai kamu bosan," kata Raka berucap tulus.


"Seandainya benar pun kamu sudah bertunangan, saya akan berusaha merebut kamu dari orang yang telah merebut kamu dari saya," kata Raka sangat yakin dengan keyakinannya.


"Bagaimana aku mau cari yang lain, kalau pria yang ada dipikiran ku cuma kamu," kata Wita akhirnya berkata jujur dengan perasaan sesungguhnya. Raka tambah mengeratkan pelukannya.


"Terimakasih juga kamu sudah temuin aku walaupun sebenarnya cuma ketidak-sengajaan," kata Wita dan Wita berbalik lalu membalas pelukan Raka karena ia sudah tidak bisa membendung perasaannya lagi.


Selama lima tahun terakhir ini, hatinya sudah dimiliki oleh Raka dan bahkan Wita yang dulunya 'baperan' sekarang sudah tidak lagi bisa menatap laki-laki lain selain Raka dan tentunya dengan perasaan yang biasa-biasa saja tidak seperti sebelumnya.


"Mulai sekarang kita punya hubungan? Sepasang kekasih gitu?" tanya Raka.


"Ihh apaan sih gak ada, ingat! Aku gak akan pacaran dan gak bakalan pernah pacaran, hubungan utamaku sama seseorang kalau aku sudah punya ikatan," jelas Wita mendorong Raka dan membuat pelukan terlepas.


"Kalau begitu kita cepat-cepat nikah, saya bakalan lamar kamu," kata Raka dan membuat Wita langsung salah tingkah.

__ADS_1


"Ap-apaan sih! Nikah-nikah aku mau selesaikan kuliah dulu tau," kata Wita beralasan.


"Wah kalau gitu, berarti sesudah selesai kuliah saya boleh melamar kamu dong, haha!" tawa kemenangan dari Raka karena ucapan Wita yang maksudnya adalah Raka boleh melamar Wita kalau dia sudah lulus kuliah dan itu sebentar lagi dan Wita malu sendiri karena ucapannya.


"Ma-maksudnya bukan begitu, akh!" usaha Wita membuat alasan tapi tidak membuahkan hasil ia frustasi sendiri dibuat Raka.


Aku kan masih ingin menikmati masa muda. Wita membatin.


Dan sore itu menjadi saksi bertemunya mereka kembali setelah sekian lama terpisah dan membuat hubungan mereka jauh lebih dekat dari sebelumnya.


"Oh iya, sebenarnya ini pertanyaan bodoh sih tapi aku penasaran, kenapa kamu ngomong gak pake lo-gue lagi?" tanya Wita.


"Memangnya kenapa?" tanya Raka lagi


"Gak papa sih penasaran aja," jawab Wita dan Raka mengangguk paham.


"Mungkin karena saya sudah dewasa dan mungkin juga karena selama saya sekolah di luar negeri sana saya gak pernah bahasa Indonesia."


"Tapi meskipun gaya dan cara berbicara saya berubah, ada satu hal yang ingin saya kasih tau ke kamu, yaitu perasaan saya gak akan pernah berubah buat kamu," kata Raka dan Wita hanya tersenyum menanggapi pertanyaan anehnya tadi.


"Kamu jalannya jangan terlalu mepet coba," kata Wita jengkel dan mendorong Raka agak menjauh karena Raka terlalu dekat dengannya.


"Kamu gak romantis," kata Raka menggoda.


"Sudah tau gak romantis didekati juga," protes Wita dan saat itu Wita mempercepat langkahnya dan akhirnya berlari meninggalkan Raka yang kebingungan.


"Wita, kenapa kamu lari!" teriak Raka dan Wita tidak menjawabnya sama sekali.


"Tunggu!" teriak Raka.


Wita saat ini berlari dengan tersenyum akhirnya ada seorang pria yang sepenuhnya memasuki hatinya dan benar-benar menyayanginya.


Bahkan perasaan yang dirasakannya saat itu tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


.


.


.


Tentang Putri sejak hari itu, semejak pernyataan Raka terhadapnya ia tidak pernah terlihat lagi batang hidungnya, entah apa yang mungkin akan di rencanakan oleh gadis itu nantinya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2