Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Kakak Ipar


__ADS_3

.


.


.


"Lita!" teriak seorang bocah kecil lelaki umur sekitar sebelas tahunan pada gadis kecil yang berumur sekitar delapan tahunan.


"Jangan cepat-cepat jalannya," kata bocah kecil lelaki itu berusaha mensejajarkan jalannya dengan gadis kecil bernama Lita.


"Kak Ikal lambat banget jalannya," kata Lita tersenyum lebar menatap bocah lelaki itu.


"Sudah kubilang panggil aku Haikal bukan Ikal," kata Haikal mengejar Lita yang mulai berjalan laju lagi.


"Sudahlah kak lagian sama aja, itu juga nama kakak kan," kata Lita.


"Yah, tapi itu tuh aneh banget tau gak." kata Haikal.


"Terserah deh, yang penting kamu jangan lari-lari di jalanan nanti kakakku malah marah-marah lagi kalau kamu kenapa-napa, aku ini itu harus jagain kamu." lanjut Haikal kemudian mensejajarkan jalannya dengan Lita.


"Hehe, kalo gitu Lita minta maaf sama kakak atas ulah Lita yang buat kakak susah." ucap Lita pada akhirnya menuruti kata-kata Haikal.


Kemudian Haikal memegang tangan Lita sembari menjaganya.


Bruk!


Mereka berdua menabrak seorang pemuda yang tampaknya lebih tua daripada mereka berdua.


Di tambah lagi pemuda itu sepertinya anak berandalan. Mereka ada dua orang.


"Hei, anak kecil kalian berani-beraninya yah sama kami berdua!" bentak anak-anak berandalan itu.


"Ma-maafkan kami kak," ucap Haikal tertunduk sedangkan Lita bersembunyi di belakang Haikal ketakutan.


"Boleh, asal kalian berdua mau memberikan seluruh sisa uang jajan kalian." ucap salah satu anak berandalan itu memalak kedua anak kecil itu.


"Ta-tapi kak uang kami sudah habis," kata Haikal mencari alasan.


"Halah, kamu pasti bohong." kata anak berandalan itu mendorong Haikal hingga terjatuh.


"Huwaa!!" Lita menangis keras. Ia tidak terima Haikal di dorong oleh anak-anak berandalan itu. Sedangkan Haikal ia saat ini hanya mengaduh kesakitan.


"Heh, anak kecil diam gak!!" ucap salah satu berandalan itu mengancam ingin menyakiti Lita gadis kecil itu hanya tertunduk takut sambil menangis.


Buk!!


Suara lemparan batu mengenai perut anak berandalan itu.

__ADS_1


"Kalian jangan berani-berani menyakiti dia!!" Haikal berteriak. Lita berlari ke arah Haikal sambil menangis sesegukan.


"Kakak," kata Lita ketakutan di samping Haikal.


"Dasar bocah berani-beraninya kalian!" Marah salah satu anak berandalan itu


Tepat saat anak berandalan itu hampir melayangkan tangannya untuk memukul Haikal seorang pria yang mengenakan helm menangkis tangan anak berandalan itu.


"Oi, kalian berdua. Kenapa beraninya cuma sama anak kecil, kalo berani itu sama anak seumuran kalian jangan yang masih kecil begini, tau apa mereka?" ucap pria itu, kesal juga dibuatnya.


"Halah bacot," mereka berdua ingin mengeroyok pria yang menolong Haikal dan Lita. Tapi pria itu mampu menangkis dan menghalau mereka. Karena jujur saja badan pria itu lebih besar ketimbang mereka berdua.


Merasa kalah mereka akhirnya lari meninggalkan orang-orang itu.


"Kalian berdua gak papa?" tanya pria itu.


"Kamu siapa?" tanya Haikal melindungi Lita dengan ekspresi marahnya.


"Saya bukan orang jahat dek," kata pria itu membuka helmnya.


"Ganteng," kata Lita berucap tiba-tiba.


"Oi, oi Lita dia orang yang gak kita kenal loh." ucap Haikal sambil cemberut.


"Kenalkan nama kakak Raka, bisa perkenalkan nama kalian berdua?" tanya Raka.


"..." Haikal hanya diam.


"Lita sudah aku bilang namaku Haikal bukan Ikal." ucap Haikal memprotes.


"Ya-ya, sekarang kalian berdua. Mau kakak antar pulang?" tanya Raka menawarkan diri.


"Lita jangan mudah percaya sama orang yang baru di kenal," kata Haikal memberi peringatan.


"Apa saya terlihat seperti orang jahat di mata kalian berdua?" tanya Raka.


"Ya! Tidak!" kata Haikal dan Lita. Mereka berucap serempak.


.


.


.


Pada akhirnya mereka berdua di antar pulang ke rumah menggunakan motor sport mewah milik Raka setelah perdebatan panjang dengan kedua anak kecil itu terutama Haikal yang bahkan tidak mempercayainya sama sekali.


Seandainya Raka memiliki sifatnya yang dahulu ia pasti akan langsung pergi meninggalkan anak-anak itu.

__ADS_1


Haikal lebih dulu sampai di rumahnya. Setelah perdebatan panjang tadi setidaknya akhirnya Haikal percaya pada Raka untuk mengantar Lita sampai rumah, awalnya Raka pikir Haikal dan Lita itu saudara tapi ternyata mereka berdua hanya kedua anak kecil yang berteman baik dan saling menjaga.


Raka merasa malu sendiri ia mengingat masa kecilnya sangat dingin pada setiap orang terutama pada perempuan. Tidak seperti Haikal yang benar-benar menjaga teman perempuannya.


Saat mengantar Haikal Raka hanya berhenti tepat di depan rumahnya. Haikal tetap menatap rakatidak percaya. Dan berlari melaporkannya ke kakaknya kemudian Raka pun cepat-cepat memutar balik dan mengantar Lita pulang.


Raka merasa ia benar-benar di anggap penculik anak oleh Haikal.


"Kak boleh aku tanya, kakak kesini nyari siapa?" tanya Lita.


"Kakak nyari rumah kekasih kakak dek, tapi sayangnya kakak tidak tahu rumahnya dimana. Tapi seingat kakak di daerah sini." ucap Raka menjelaskan, ia menyesal tidak pernah berkujung ke rumah Wita ketika SMA dulu. Namun ia tidak menjelaskan pada Lita.


"Kak stop! Itu rumahku, kakak singgah aja dulu. Aku bakalan tanya sama kakakku siapa tau dia kenal orang yang kakak cari." ucap Lita dan Raka hanya menuruti kemauan bocah kecil itu dipikirannya apa salah jika bertanya.


"Assalamu'alaikum!!" Lita berteriak nyaring kemudian masuk rumah ia menyadari tidak ada siapa-siapa di rumah mungkin ayah dan ibunya sedang pergi ke kebun.


Dan Lita ingat satu hal bahwa kakaknya ada di rumah. Lita langsung main masuk kamar kakaknya itu tanpa permisi.


"Kak Ra!!" teriak Lita saat masuk kamar kakaknya. Raka hanya mendengar percakapan kakak dan adik itu samar-samar dari luar.


"Kamu sama siapa pulang?" tanya kakaknya keluar kamar karena di tarik adiknya itu. Ia sempat panik tadi karena temannya menghubunginya bahwa Lita di antar seseorang tidak di kenal.


"Kamu jangan pernah sembarang ikut orang lagi kalo gak di kenal bahaya tau, kalo mama papa tau kamu bakalan di marahin." Ucap kakaknya menceramahi adiknya.


"Kak Ra nanti aja tanya-tanya dan ngomel-ngomel dia kakak yang baik kok tadi nyelamatin aku dari anak berandalan."


Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya ia menyesal tidak menjemput adiknya, karena ia pulang lebih cepat dari biasanya.


"Makanya adek hati-hati. Kalo belum di jemput jangan pulang dulu." Ucapnya benar-benar khawatir.


"Iya kak, nanti lagi ya ngomelnya ada kakak-kakak yang mau tanya," kata Lita.


"Sia-," kata tanya kakak Lita terputus.


"Ra-ka," kata kakak Lita terkejut.


"Wita," kata Raka.


"Loh kalian berdua sudah saling kenal," kata Lita.


"Bagaimana tidak, dialah orang yang kakak cari." ucap Raka, Wita gelagapan karena ia masih belum mandi dan acak-acakan.


"Eh?! Kalo gitu kak Raka calon kakak ipar Lita dong. Yey!!!" teriak adik Wita kegirangan senang.


Raka tersenyum sambil mengacak rambut Lita gemas sedangkan Wita ia masih terbengong masih tidak percaya ternyata Raka menyusulnya sekaligus terkejut dengan pernyataan adiknya barusan. Entah apa yang sudah di ucapkan pria itu kepada adiknya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2