
...
.
.
Kalian tahu hal apakah yang paling tidak kusukai pada rasa ini, yaitu ketika melihat orang yang kau sayang lebih dekat dengan orang lain...
..
.
Wita POV
Pagi itu aku tidak sengaja pergi memasuki kantor kerja Raka, karena saat itu aku sangat membutuhkan sesuatu yang penting untuk pekerjaanku.
Tapi betapa tidak sukanya aku ketika melihat dirinya tampak begitu dekat dengan seorang wanita. Mungkin itu adalah asistennya aku tidak tahu.
Dalam batinku aku begitu marah, sampai-sampai ingin rasanya aku meluapkan seluruh perasaan tidak sukaku pada dirinya dan meminta penjelasannya tentang wanita itu.
Tapi khayalan tetap khayalan dan kenyataan tetaplah kenyataan. Aku tidak mampu melakukan hal itu, aku memendam rasa cemburuku. Dan lebih memilih untuk diam dalam menanggapinya.
Sakit memang, tapi aku tetaplah aku. Wita, yang tidak mampu menjelaskan apa yang kurasakan meskipun itu adalah hal terpenting di hidupku.
End POV
.
.
.
Dalam diam Wita tidak berkata apa-apa, saat bersama Raka di jam istirahat kantor.
Raka juga sama ia sibuk mengutak-atik ponselnya dan parahnya kemudian ia meninggalkan Wita buru-buru tanpa berkata apa-apa.
"Ra-ka," lirih Wita saat Raka pergi menjauh, padahal saat itu ia ingin memberanikan diri untuk mencurahkan isi hatinya.
Kemudian Wita juga pergi dari tempat itu, masuk ke dalam toilet. Ia menangis.
"Hiks!!" Wita mengusap air matanya.
"Kenapa ada rasa mengganjal di dadaku, rasanya sesak." kata Wita memegang dadanya.
"Kenapa? Aku tidak pernah merasakan rasa ini sebelumnya."
"Apa aku cemburu? Tapi kenapa rasanya seperti ini, gak enak." gumam Wita lagi air matanya terus mengalir.
"Nih juga kenapa air matanya terus ngalir," kata Wita kemudian mengusap air matanya yang tidak mau berhenti.
Ia pun mengingat, kejadian pagi itu. Kejadian yang bagaikan meremuk hatinya yang lemah. Ia merasa jika wanita yang Wita anggap adalah asistennya itu menyimpan rasa pada pria yang di cintai nya.
Pagi tadi ia melihat wanita itu memperbaiki dasi Raka dengan wajah yang cukup dekat, sangking cemburunya Wita, ia sempat tidak dapat bergerak dari tempatnya berdiri saat itu.
.
.
.
Sepulang kerja Wita berjalan sendirian di pinggir kota dengan perasaan yang tidak menentu.
__ADS_1
Kemudian ia menduduki sebuah kursi di dekat taman di pinggir jalan menenangkan diri.
Di tengah kegalauannya sore itu ia bertemu dengan Andi yang kebetulan lewat, dia adalah sekretaris Raka.
"Hai, kamu Wita kan?" sapa Andi pada Wita awalnya Wita tidak menghiraukan karena Andi seorang pria dan Wita sudah hampir melupakan pertemuannya dengan orang itu.
Namun kemudian ia pun mengingat bahwa orang itu adalah orang yang membantu Wita saat dia tersesat di kantor ketika ia pertamakali di suruh ke ruangan direktur.
"Boleh aku ikut duduk?" tanya Andi. Wita tidak menjawab dan kemudian Andi mendudukkan diri di samping Wita tanpa persetujuannya. Refleks gadis itu menjauh ingin pergi.
"Tunggu!!" Andi mencegatnya.
"Ada apa pak?" tanya Wita sopan.
"Aduh, sudah saya bilang jangan panggil saya bapak. Saya itu hampir seumuran saja dengan kamu tahu. Memang saya terlihat setua itu," kata Andi memijat keningnya, ia menyadari umurnya hanya terpaut dua tahun dari Wita dan Raka.
"Pak, bapak kan atasan saya," kata Wita.
"Tapi ini kan di luar jam kerja." protes Andi dan Wita kalah dengan kata-kata Andi, gadis itu hanya menarik nafas pasrah.
"Baiklah pak maksudku Andi," kata Wita akhirnya mengalah dan Andi tersenyum sumringah senang akhirnya namanya disebut.
"Saya tahu pasti kamu cemburu sama Raka kan?" tanya Andi.
"Ba-bagaimana-," gugup Wita.
"Tidak sengaja saya lihat tadi pagi." jelas Andi, yang tentu saja ia melihat hal itu ruangannya harus di lalui Wita sebelum ke ruang direktur dan tidak sengaja ia melihat kejadian itu juga.
Wita tertunduk malu. Ingin ia bertanya banyak hal tentang wanita itu pada Andi. Tapi Wita saat ini tidak berniat bertanya, kegalauannya lebih besar di banding rasa keingintahuannya sekarang.
"Sebaiknya kamu minta penjelasan sama dia, cari tahu sebenernya apa yang terjadi. Jangan ambil kesimpulan sendiri sebelum tahu alasannya." kata Andi.
"Ya aku berusaha buat minta penjelasannya, tapi sepertinya tidak ada kesempatan. Ia begitu sibuk dengan pekerjaanya." kata Wita murung.
"Aku berusaha percaya padanya, tapi..." kata Wita tidak bisa menjelaskan perasaannya ia benar-benar terbakar api cemburu sekarang.
"Entahlah aku tidak tahu," kata Wita melanjutkan sambil tertunduk tidak ingin menjelaskan hal itu.
.
.
.
"Sebentar," kata Andi kemudian pergi dari tempat itu. Ia membeli es krim.
"Ini," Andi menyodorkan es krim di depan wajah Wita. Wita tersenyum seraya berkata, "Tapi, aku gak makan es krim. Sangat rawan bagiku terkena flu saat makan makanan dingin dan juga aku tidak terlalu suka manis," kata Wita.
"Tidak apakan jika hanya sesekali," kata Andi.
"Ini baik buat meningkatkan moodmu loh," kata Andi.
"Umm, baiklah." akhirnya Wita mau menerima es krim itu tidak ingin meladeni Andi.
"Untuk ukuran cowok kamu itu menurutku terlalu bersemangat," kata Wita.
"Setidaknya saya tidak seperti kekasihmu yang tampaknya tidak begitu bergairah dan suram," kata Andi.
"Eh?! Begitukah menurutmu," kata Wita.
"Bagi saya dia itu patung es berjalan yang tidak memiliki selera humoris," kata Andi.
__ADS_1
"Bapak tidak tahu saja," kata Wita.
"Apa?! Jangan-jangan kalian pernah-," belum sempat pria itu menyelesaikan kata-katanya es krim yang di berikannya pada Wita sudah masuk tersumpal di dalam mulutnya. Pria itu berusaha menelan es krim yang tampaknya begitu dingin di mulutnya.
"Dinginya, tapi manis juga." gumamnya membersihkan mulut.
"Jangan-jangan apa yang saya ingin ucapkan itu tidak salah," kata Andi lagi.
Wita mengepalkan tangan kanannya lalu mengadunya pada telapak tangan sebelah kirinya, "Tentu saja tidak, kamu jangan berpikiran kotor. Atau tinju ini bisa saja melayang di wajahmu." kata Wita mulai kesal mendengar ucapan Andi yang begitu blak-blakkan.
"Wah, kamu cukup galak juga yah," kata Andi merinding dibuat Wita.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Raka tiba-tiba muncul.
"Tidak ada," ketus Wita. Andi hanya menatap heran kedua orang itu.
"Apa maksudnya dengan suap-suapan tadi?" tanya Raka lagi.
"Oh ini kamu mau, ambil." ucap Wita dengan nada datar meletakkan es krim bekas yang sudah di sumpalkan oleh Wita ke mulut Andi barusan.
Betapa tambah marah dan cemburunya Wita ketika melihat wanita yang membuatnya cemburu keluar dari dalam mobil Raka.
Gadis itu tambah mempercepat langkahnya menjauh.
"Apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Raka kesal pada Andi dan mencengkram kerah bajunya erat ia cemburu.
"Hei-hei santai lah sedikit, seharusnya kamu ngaca pada dirimu sendiri Ka. Kenapa gadismu itu marah," kata Andi.
"Maksudmu?" tanya Raka.
"Memang kamu saja yang bisa cemburu. Tenang saja, saya tidak pernah berniat merebutnya darimu." jelas Andi sambil memukul-mukul bahu Raka akrab.
Sontak menyadari perasaan Wita Raka langsung berlari mengejar Wita.
Jangan-jangan dia salah paham. Batin Raka.
"Hei-hei, bisa kamu jelaskan apa yang sedang terjadi?" tanya seorang wanita yang bersama Raka mendatangi Andi.
"Kamu tahu gara-gara ulahmu, kedua pasangan yang kasmaran itu sekarang bertengkar." Ucap Andi.
"Eh?!" kaget wanita itu.
"Jadi itu kekasihnya Raka," kata wanita itu terkejut girang.
"Dan sebagai sahabat dekat Raka sekaligus sepupunya, saya membantunya. Walaupun gak sepenuhnya karena mereka harus menyelesaikan masalahnya sendiri." kata Andi.
"Wah aku tidak menyangka, akan ada wanita yang bisa membuat Raka berekspresi panik seperri itu," kata wanita itu antusias tidak mendengarkan Andi.
"Kalau begitu aku harus menjelaskan kebenarannya." kata wanita itu ingin pergi.
"Eit, kak Vivi jangan ganggu mereka sekarang biarkan mereka berdua, keberadaan kakak hanya akan memperburuk keadaan." jelas Andi yang ternyata adik kandung dari Vivi.
"Hufh!! Padahal aku ingin melihat adegan romantis mereka berdua," kata Vivi matanya penuh harap kisah cinta Raka adik sepupunya seperti di drama-drama.
"Saya rasa mereka adalah pasangan yang gak ada romantis-romantisnya." kata Andi dan hal itu membuat Vivi tambah penasaran.
.
.
.
__ADS_1
....