Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Cinta Tidak Harus Memiliki


__ADS_3

"Dia adalah Dava." ucap Wita tanpa ragu-ragu lalu bersandar di kursi taman itu dan membuat hati Raka sakit mendengarnya.


Sambil bersandar ia mengingat bagaimana dulu sukanya Wita kepada Dava, bahkan untuk berbicara saja pada pria itu Wita di buat gugup olehnya. Untung saja Wita pandai menyembunyikan emosinya sehingga tidak mudah terbaca.


"Sampai sekarang?" tanya Raka dengan tampang murung takut kalau Wita masih suka dengan Dava.


"Makanya dengerin dulu aku ngomong sampai selesai, aku belum selesai cerita tau," kata Wita kesal karena laki-laki di sampingnya ini begitu cemburuan menurutnya.


"Iya-iya, lagian kamu malah melamun seperti mengingat sesuatu seperti itu," kata Raka dengan ekspresi yang berubah menjadi gemas sekarang ini karena ekspresi kesal Wita.


"Tapi itu dulu, karena kamu terus-terusan kasih aku perhatian walaupun palsu akhirnya aku tertarik sama kamu. Kamu belum tau sih, aku nih dulu orangnya baperan dikit-dikit suka sama cowok yang baru di liat, tapi rasa sukaku itu beda sama orang-orang." ucap Wita mengenang masa lalunya.


"Dulu ketika aku menyukai seseorang aku bakalan menjauhinya, cuma kamu Ka, orang yang aku sukai tanpa aku jauhi,"


"Lagipula gimana mau jauhi toh tiap hari kamu ada di sampingku terus," kata Wita sebenarnya malu, karena biar bagaimana pun ia ingin bersikap jujur dengan orang yang dikasihinya itu. Ia tidak menyangka juga sebenarnya akan jatuh cinta pada dengan Raka karena sebelumnya ia tidak ada niat sama sekali untuk menaruh perasaan pada pria itu. Tapi sekarang Wita benar-benar mencintai Raka.


"Dan yang paling penting satu-satunya orang yang tahu masalahku ini cuma Nawa seorang. Tapi kalo masalah perasaanku sama kamu, Nawa pun hampir gak tau." jelas Wita. Wita memang benar-benar memendam perasaannya itu seorang diri, tidak ingin seorang pun tahu.


Mendengar penjelasan Wita Raka tersenyum, tapi tidak memungkiri dirinya khawatir, ia takut saat ini yang ada di hati Wita bukan hanya dirinya seorang.


"Jadi kamu itu suka sama banyak cowok gitu. Pantas aja kamu gak pernah dekat cowok sampai rela dituduh gak normal, jangan-jangan sekarang kamu ada suka sama cowok lain lagi selain saya," kata Raka curiga sambil cemberut saat ini ia menuduh Wita.


Saat ini Wita menahan emosinya kesal pada Raka, dia benar-benar ingin menjitak kepala pria yang menurutnya gak menggunakan otaknya sama sekali bila menyangkut tentang perasaannya.


"Semuanya telah berubah Ka, setelah kamu buat aku janji untuk nunggu kamu aku bahkan gak pernah menatap laki-laki lagi, gak pernah merasa baperan lagi, bahkan Dava saat itu pernah mencoba dekat denganku. Tapi aku menjauh, entah mengapa aku sudah tidak ada rasa lagi saat dekat dengannya aku bahkan gak gugup lagi kalau dekat sama dia dan benar-benar menganggapnya teman. Benar-benar terasa biasa." jelas Wita pada Raka akhirnya. Ia pikir saat menjadi dekat dengan Dava Wita akan melupakan Raka saat SMA dulu ternyata hal itu tidak ada pengaruhnya sama sekali.


Dan malah membuat Wita makin menaruh perasaannya pada Raka yang entah dimana keberadaannya saat itu Wita pun tidak tahu, Wita tetap memegang teguh janji dan menunggu sampai akhirnya mereka benar-benar di pertemukan.


"Awalnya aku ragu apa aku nungguin orang yang tepat dan ternyata kamu juga nungguin aku. Jadi, aku gak punya penyesalan walaupun aku awalnya menganggap penantian ku mungkin akan sia-sia." jelas Wita.

__ADS_1


"Maaf Wit, saya buat kamu kebingungan tapi sekarang saya akan selalu ada di sampingmu," kata Raka.


"Aku juga gak menyangka sekarang remaja yang dulunya begitu gaul lah ibaratnya dan juga suka bermain wanita berubah menjadi seseorang yang berwibawa, dewasa dan juga... Menawan." jelas Wita malu-malu di akhir katanya. Raka mengacak rambut Wita gemas.


"Stop Ka!" ucap Wita menjauhkan tangan Raka. Pria itu hanya tertawa.


"Mungkin kalau kamu dulu telat dekati aku, bisa aja sekarang aku udah sama dia. Tapi, waktu itu aku bilang sama Nawa aku bakalan move on sama dia dan cari yang lain," kata Wita.


Saat ini Raka memeluk Wita dan membuat Wita terkejut.


"Kalau sampai seperti itu aku gak bakalan biarin," kata Raka mempererat  pelukannya.


"Kamu adalah wanita yang gak bakalan dengan mudah aku relakan bersama orang lain," kata Raka memeluk Wita erat dan Wita tersentuh dengan kata-kata Raka yang mengatakan perasaannya dengan tulus.


"Raka lepasin kamu itu kenapa sih, tenang aja aku gak bakalan kemana-mana selama kamu sayang sama aku, aku gak bakalan pergi karena yang aku butuhkan dari seseorang adalah kasih sayang yang seperti kamu berikan sama aku sekarang." jelas Wita dan Raka pun melepaskan pelukannya.


"Kamu jangan peluk-peluk lagi atau aku gak mau dekat-dekat sama kamu," kata Wita dan membuat Raka memasang ekspresi datarnya.


"Mungkin karena mencintai itu membutuhkan hati yaitu rasa, tanpa perlu menggunakan logika atau alasan yang logis," jelas Raka, Wita hanya melongo hampir kehabisan kata-kata.


"Ya tapi gak gitu juga," kata Wita dengan tatapan heran dan Raka hanya diam.


Kemudian mereka berdua pergi dari taman itu dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan, ternyata ada orang yang menguping pembicaraan mereka di balik pohon. Dia adalah Dava. Dava mendengar semuanya, semua kenyataannya.


Ternyata kamu sudah tahu semuanya Wit, seandainya aku lebih cepat dekat sama kamu dan sedikit lebih berani waktu itu.


Mungkin, sekarang aku yang berada disisimu tapi terimakasih kamu pernah suka sama aku, semoga kamu bahagia Wita. Batin Dava dan ia kemudian tersenyum mengikhlaskan mereka berdua. Kemudian Dava ingin pergi meninggalkan tempat itu.


"Hei kau! Seharusnya tadi itu gue yang di traktir, kok jadi gue sih yang traktir." kesal Lusy pada Dava.

__ADS_1


Lusy  sekarang mengomel-ngomel karena tadi dia yang harus membayar semuanya di warung kemudian Dava tersenyum ke arahnya dan membuat Lusy menjadi salah tingkah dibuatnya.


.


.


.


"Emm aku penasaran dari saat itu," kata Wita di dalam mobil Raka.


"Penasaran apa?" Tanya Raka.


"Apa kamu yang nolong aku saat tenggelam di laut waktu itu?" Tanya Wita.


"Jadi benar yang tenggelam waktu itu adalah kamu, aku pikir waktu itu cuma khayalanku," kata Raka.


"Aku pun begitu, aku kira aku cuma mengkhayal ketika kamu menolongku." Ucap Wita.


"Wita, mulai sekarang jika kamu tidak pandai berenang sama sekali jangan pernah main-main di tempat seperti itu lagi." Raka yang hampir melupakan kejadian itu benar-benar membayangkan keadaan buruk. Seandainya saja dirinya saat itu tidak disana bagaimana keadaan wanitanya itu setelahnya, Raka tidak ingin sama sekali membayangkannya.


"Sudahlah Ka, aku tidak akan pernah lagi melakukan hal itu. Aku sudah benar-benar kapok. Sungguh." Wita saja trauma, seandainya saja Raka tidak melompat menolongnya saat itu mungkin Wita saat ini sudah tidak melihat dunia lagi.


"Terimakasih kak, kamu sudah menyelamatkan aku saat itu. Aku berhutang nyawa padamu." Ucap Wita, ia benar-benar berhutang nyawa pada Raka.


"Apapun akan kulakukan untukmu Wita, lagipula tidak hanya kamu saja yang berhutang nyawa. Aku juga sama, jika tidak ada kamu mungkin aku juga tidak akan melihat dunia lagi." Ucap Raka tersenyum pada Wita gadis itu juga membalas senyuman Raka.


"Oh iya Ka, tadi pas kita makan di kafe siapa yang bayar ya?" Wita menepuk jidatnya, bisa-bisanya ia melupakan bayaran saat makan tadi. Raka hanya diam tampaknya ia juga sama lupanya karena keributan tadi.


Wita mengirim pesan kepada Lucy dan Lucy menjelaskan semuanya, bahwa ia yang menanggung semua biaya makan di kafe barusan. Dalam hati merasa tidak enak Wita besok ia akan mengganti uang Lucy.

__ADS_1


...


__ADS_2