Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Aku Tak Suka (2)


__ADS_3

"Wit-Wita!!" teriak Raka mengejar Wita yang pergi dengan rasa kesal. Akhirnya Raka dapat mengejar Wita dan meraih tangannya.


"Wita tolong dengar penjelasan saya," kata Raka berdiri dihadapan Wita yang tengah tertunduk.


"Alasan apa?" tubuh Wita bergetar tampaknya ia menahan tangisnya yang ingin pecah.


Tidak lama kemudian air matanya menetes jatuh.


"Wita kamu nangis?" tanya Raka panik. Wita mengelap matanya yang berair.


"Siapa dia?" tanya Wita dengan nada  bergetar. Wita berusaha bertanya dan mencari kepastian siapa wanita itu sebenarnya. Meskipun jawabannya menyakitkan ia akan menerimanya.


"Apa dia orang yang penting bagimu?" tanya Wita.


"Ya sebenarnya ia orang yang penting bagiku," kata Raka, gadis itu benar-benar cemburu sekarang sampai-sampai ia tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak pergi. Ia pun ingin pergi dari tempat itu dan meninggalkan Raka tapi pria itu mencekal nya.


"Ada apa lagi Ka, semuanya kan udah jelas. Untuk apa lagi kamu tahan aku disini," kata Wita.


"Apa yang udah jelas, saya yakin kamu belum tahu apa-apa dan saat ini sedang salah paham." Ucap Raka memeluk Wita erat.


"Lepas Ka!" Wita meronta dalam pelukan Raka.


"Gak akan kulepaskan." kata Raka memeluk Wita semakin erat.


"Raka," gumam Wita melemah ia tidak bisa menahan perasaannya.


"Aku tak suka kamu dekat-dekat dengannya, dia siapa?" tanya Wita.


"Wita, kamu jangan salah paham. Kamu itu segalanya bagi saya, wanita itu adalah kakak saya. Kakak sepupu saya." jelas Raka.


"Eh?!" kaget Wita menatap Raka tidak percaya dan malu sendiri atas tingkahnya. Dengan refleks Wita tertunduk malu.


"Saya tidak percaya kamu bisa cemburu pada saya," Raka takjub atas tingkah cemburu Wita. Tapi tetap ia merasa begitu bersalah atas ulahnya membuat gadis itu menangis.


"Sudah Wita jangan menangis lagi, maafkan saya yang tidak menjelaskannya padamu." ucap Raka pada Wita tampak gadis itu tengah marah ia tidak berkata apa-apa.


"Oh ayolah Wita, biasa saja menanggapinya jangan marah," kata Raka.


"Sekarang aku tanya sama kamu, kayak mana rasanya ketika aku dekat sama laki-laki lain," kata Wita pada Raka seketika pria itu mengingat kejadian Wita menyuapi Andi es krim barusan.


"Saya tidak suka," kata Raka dingin. Kemudian Raka juga diam duduk di samping Wita.

__ADS_1


"Saya tidak suka ketika melihat kamu dekat dengan pria lain selain saya dan menyuapi Andi es krim barusan," kata Raka.


"Kamu pikir aku suka ketika melihatmu tadi pagi seperti itu sama kakakmu, dan kenapa juga kamu meninggalkanku tanpa berkata apa-apa saat makan siang tadi," kata Wita. Kemudian mereka berdua terdiam.


"Kamu bisa jelaskan, apa yang terjadi?" tanya mereka serempak. Dan Wita memilih mengalah.


"Aku tidak menyuapinya, dia itu pria yang cerewet. Banyak bicara dan asal kata. Barusan aku kesal dan menyumpalkan es krim itu ke mulutnya agar dia diam." jelas Wita duluan Raka menyadari hal itu, memang nyata adanya, Andi itu seorang yang banyak bicara.


"Kamu juga jangan salah paham, kak Vivi itu bagaikan kakak kandung saya. Sejak kecil dia selalu menjaga saya. Barusan hari ini ia datang kesini dan berlaku semena-menanya pada saya, saya tidak tahu hal itu di lihat oleh kamu. Dan masalah meninggalkan kamu di kantin, saya di ancam kak Vivi sehingga saya tidak bisa berkata apa-apa padamu. Maafkan saya Wita seharusnya saya mengatakan sesuatu padamu sebelum pergi." jelas Raka.


"Dan siapa itu pak Andi?" Wita bertanya lagi.


"Dia sekretaris saya, sahabat saya, dan adik kandung kak Vivi." Jawab Raka. Wita hanya menatap kaget, baru mengetahui sedekat itu mereka bertiga.


Mereka berdua akhirnya memahami suatu hal, ternyata terasa tenang ketika mereka memberikan penjelasan masalah mereka masing-masing tanpa di pengaruhi oleh rasa emosi dan dihadapi dengan kepala dingin. Mereka berdua pun akhirnya berbaikan.


"Kamu cemburukan ketika melihat dasi saya pagi tadi dirapikan oleh kakak saya kalau begitu kamu boleh merapikan dasi saya sekarang," kata Raka tersenyum meminta Wita.


"Tidak akan, masalahnya aku tidak akan tahu hal apa yang akan kamu lakukan jika aku melakukannya," kata Wita tersenyum waspada pada Raka.


"Tetap saja saya cemburu ketika melihatmu menyuapi Andi." kata Raka.


"Astaga Raka, sudah aku katakan itu salah paham," kata Wita.


Raka kemudian pergi dari tempat itu mencari penjual es krim lalu membelinya, Wita menatapnya heran.


"Suapi saya," pinta Raka.


"Oke kamu mau secara halus, secara kasar atau secara sedang." tawar Wita.


"Saya ingin secara kasih sayang," kata Raka membuat Wita menggelengkan kepalanya. Dan mau tidak mau Wita menyuapkan es krim itu ke mulut Raka.


"Emm, ini manis. Kamu gak mau," tawar Raka, Wita menggeleng.


"Yakin?" tanya Raka. Wita mengangguk.


"Ayolah Wita," kata Raka terus merayu.


"A-," es krim yang di pegang Raka mendarat di mulut Wita tepat ketika Wita ingin membuka mukut bicara.


"Raka, kamu mau apa sih?" Wita berkata sambil mengelap mulutnya.

__ADS_1


"Saya cuma ingin menyuapi kamu es krim," jawab Raka santai kemudian memakan es krim yang dipegang Wita sedangkan Wita hanya terbengong menatap wajah Raka yang tidak perduli sama sekali.


Pria sepertinya, apanya yang patung es berjalan. Batin Wita mengingat kata-kata Andi yang menjelaskan tentang Raka.


.


.


.


"Hei kalian berdua!!" teriak Vivi tiba-tiba muncul mengagetkan mereka berdua.


"Aku tidak percaya calon adik ipar ku bisa melelehkan pangeran es ini," Vivi ribut sendiri Wita tertunduk malu.


"Janganlah malu-malu pada calon kakakmu ini," kata Vivi menyenggol-nyenggol Wita dan Wita hanya tersenyum bingung menanggapinya.


"Kamu juga Raka kenapa gak pernah cerita tentang dia," kata Vivi mulai ngomel-ngomel dengan Raka.


"Aku rasa kamu lebih baik ketimbang pacar Raka sebelumnya," kata Vivi.


Kring!!! Telpon Vivi berbunyi.


"Halo,"


"Vivi!! Cepat ke bandara sekarang kau ingin ketinggalan pesawat ke London hah?! Jangan buat orang lain jadi repot karena kamu," teriak seseorang yang menelpon Vivi.


"Iya-iya ma, Vivi pergi sekarang ke bandara," kata Vivi dan mematikan telpon.


"Huh!! Gak seru, sampai jumpa lagi Raka dan.... pacar Raka." Vivi tidak tahu nama Wita jadi dia pergi tanpa sempat berkenalan.


"Nanti saya bakalan datang lagi dan tanya-tanya tentang hubungan kalian berdua." ucap Vivi matanya berbinar-binar.


Raka dan Wita menarik nafas lega ketika Vivi telah pergi meninggalkan tempat itu, habisnya jika mereka berdua di interogasi oleh Vivi mereka masih belum tahu harus menjelaskan apa.


"Dia pergi kemana?" tanya Wita penasaran.


"Dia harus pergi ke London melanjutkan studinya, mungkin dia akan pulang beberapa bulan lagi. Tadi itu ia hanya mampir sebentar." jelas Raka sambil memegang dahinya memikirkan apa yang terjadi ketika kakaknya itu pulang nanti.


"Yah aku di tinggal, berarti aku jadi obat nyamuk dong." ucap Andi dan ia langsung bergidik ngeri ketika melihat tatapan tajam Raka dan Wita yang berisyarat 'Pergi dari sini sebelum sesuatu yang buruk terjadi padamu'. Dan Andi pun pergi dengan tampang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2