Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Inikah yang disebut Kencan


__ADS_3

Beberapa bulan setelahnya, Wita sudah sembuh dari sakitnya dan Raka menepati janjinya menjadi guru les Wita. Akhirnya semua masalah telah ia lalui.


Tidak terasa akhirnya masa di wisuda Wita telah tiba, hari yang dinanti-nantikan nya telah datang ia menangis haru dalam acara itu.


Dihadiri oleh keluarga tercintanya sekaligus Raka yang merupakan orang spesial dalam hidupnya yang membuatnya tidak mampu untuk menatap pria manapun selain dirinya sekaligus pria yang menjadi guru lesnya yang terus membantunya belajar dalam menghadapi ketertinggalannya akibat beberapa peristiwa yang telah terjadi dan berhasil melewatinya.


Pria yang selalu ada dalam suka duka hidupnya. Mereka berdua berhasil melalui semua itu dalam hubungan mereka.


Wita memeluk kedua orangtuanya bahagia.


"Raka terimakasih sudah membantu ketertinggalanku selama ini." Ucap Wita dengan wajah senang.


"Tentu saja itu sudah menjadi tugas saya." Ucap Raka.


Dan hari itu berakhir dengan foto Wita sekeluarga dan tentu saja ada juga foto Wita bersama Raka.


.


.


.


"Baiklah Raka, sekarang apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Wita duduk berseberangan dengan Raka di meja rumahnya. Mereka sedang berbicara serius sekarang.


"Saya ingin mengajak kamu kencan," kata Raka menatap Wita serius.


"Kencan?" tanya Wita mengernyitkan dahinya tidak tahu seperti apa itu kencan. Yang ia tahu kencan itu adalah menghabiskan waktu bersama. Pikirnya bukankah selama ini mereka sudah sering bersama, bukankah itu sudah di sebut kencan.


"Jangan kamu berpikir jika selama ini yang sering kita lakukan itu disebut kencan." ucap Raka menatap Wita serius lagi.


"Kencan itu adalah melakukan sesuatu yang romantis," kata Raka menjelaskan agar Wita mengerti.


"Romantis?" tanya Wita mulai berpikiran macam-macam.


"Oh jangan bilang kamu akan melakukan hal mesum padaku, aku tidak mau." ucap Wita berdiri. Buyar semua pemikiran Raka yang memang benar adanya disaat-saat romantis ia akan mencuri kesempatan untuk Wita. Ia membayangkan ia akan benar-benar di tonjok oleh Wita jika benar berani mencobanya.


Walaupun Raka dulu sering melakukan kencan dengan gadis-gadis tetapi ia tidak pernah berbuat senonoh dengan gadis-gadis itu ia hanya mengajak mereka makan di tempat romantis. Tapi ketika bersama Wita ia benar-benar ingin melakukan hal yang paling romantis dengan gadis itu tapi sayangnya Wita tidak akan mau.

__ADS_1


Kapankah aku boleh menikahinya. Batin Raka sudah tidak sabar untuk meresmikan Wita sebagai istrinya. Tapi Raka juga menunggu waktu yang tepat untuk saat ini, Raka saat ini akan membiarkan Wita menikmati cita-cita yang ia impikan terlebih dahulu baru setelah itu ia akan membuat Wita menjadi miliknya.


"Ah sudahlah, kalau begitu kita pergi jalan-jalan saja. Kemana pun kamu mau pergi, saya akan antar." ucap Raka, biasanya mereka memang sudah sering jalan-jalan tapi hanya jalan-jalan saja.


"Kenapa harus aku yang mencari tempatnya?" tanya Wita sebenarnya ingin menyerahkan tempat yang di tuju kepada Raka.


"Kamu mau saya yang menentukan tempatnya, sudah pasti saya akan melakukan hal yang di sebut kencan itu," kata Raka. Wita langsung berpikiran aneh. Pengertian kencan di kepala mereka benar-benar berbeda.


"Baiklah aku akan tentukan, kalau gitu kita jalan aja di jalan Raya sampai menemukan tempat yang bagus," kata Wita. Raka hanya mengangguk.


"Aku ganti baju dulu ya," kata Wita pergi masuk ke kamarnya.


Entah mengapa saat masuk ke kamarnya Wita menjadi kebingungan memilih baju apa yang ia kenakan. Wita tidak pernah seperti itu biasanya ia selalu menggunakan baju seadanya bila bertemu Raka dan terkadang ia pergi dengan baju yang sedang dikenakannya. Tapi kali ini ia kebingungan karena hanya sebuah kata kencan.


Tumben Wita lama, gak seperti biasanya. Batin Raka.


Raka kemudian teringat dengan kata 'kencan' barusan ia tersenyum.


Saat Wita keluar dari kamar, Raka terpukau dengan penampilan Wita. Ia tidak seperti biasanya bagi Raka ia terlihat cantik. Tidak sia-sia ia menunggu Wita hampir setengah jam lamanya. Saat itu Wita benar-benar berdandan yang cantik untuk pertamakali cuma untuk membuat pria itu senang. Dan benar saja pria itu puas dengan penampilan Wita yang elegan.


"Kamu cantik," kata Raka sambil tersenyum membuat Wita tertunduk malu tidak bisa berkata apa-apa dan timbul lah rasa kecanggungan di antara mereka berdua.


"Ah, ayo kalau begitu kita jalan sekarang," kata Raka memotong kecanggungan yang dibuatnya.


Mereka berdua menikmati jalan-jalan hari itu mereka mengunjungi tempat-tempat indah seperti pantai.


"Raka ayo ambil foto bareng," kata Wita, mereka berfoto berdua menjadi kenangan tersendiri dalam kencan itu.


Setelah puas di pantai mereka pergi lagi ke area pegunungan.


"Kamu kenapa Wita?" Tanya Raka yang melihat Wita mengosok-gosokkan tangannya.


"Ternyata cuacanya disini cukup dingin," kata Wita tertawa hambar cuaca yang mendung ternyata membuat area di pengunungan itu menjadi dingin.


Raka membuka jaket yang ia kenakan dan memakaikannya kepada Wita.


"Terimakasih Raka," kata Wita.

__ADS_1


"Gimana sekarang sudah hangat kan," kata Raka menyentuh tangan Wita menyalirkan kehangatan.


"Umm," angguk Wita.


"Gimana kalo kita disini sampai malam?" Tanya Raka.


"Haha, kamu ingin kejadian di masa lalu terulang lagi. Kita berdua nyasar di tengah-tengah hutan seperti itu." Ucap Wita.


"Serius deh, saat mengingat kejadian itu saya salut padamu Wita, kamu rela memberikan jaketmu hanya untuk membuatkan bantal untuk saya," kata Raka tertawa.


"Saat itu kamu seperti pahlawan super," kata Raka melebih-lebihkan, tapi Wita malah tersipu malu dibuatnya. Dan tentu saja Raka menjadi senang.


Tiba-tiba hujan gerimis menghampiri mereka.


"Ah hujan," kata Wita.


"Kalo gitu ayo kita cari tempat berteduh." Ucap Raka akhirnya membawa Wita kesebuah restoran dan makan-makanan hangat disana. Setelah hujan gerimis yang ternyata hanya sebentar saja itu mereka mulai menyusuri jalanan lagi menikmati kebersamaan mereka sambil berbincang-bincang senang.


Dan terakhir ditutup dengan acara makan gorengan di pinggir jalan. Bagi Raka acara makan gorengan ini adalah kencan yang paling aneh dalam semua kencannya dengan gadis-gadis yang pernah di kencaninya.


"Inikah yang disebut kencan?" tanya Raka pada Wita.


"Inilah kencan dalam artian ku, menghabiskan waktu bersamamu tanpa harus melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan sebelum kita resmi bersama." jelas Wita.l


"Wita aku benar-benar sayang dan cinta denganmu," kata Raka memegang tangan dingin Wita yang gugup.


"Aku juga, aku sayang dan cinta sama kamu." ucap Wita menunduk malu.


Cengkraman tangan pun terlepas ketika penjual gorengan di tempat itu sedang asik menonton adegan kemesraan mereka sambil senyum-senyum sendiri.


"Dasar anak muda," kata penjual itu, dan mereka berdua tertunduk malu dibuatnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2