Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Tujuan Sesungguhnya


__ADS_3

Nama gue Raka Satria Pradikaraja, putra tunggal dari Nanda Pradika pemilik perusahaan terkenal Nusantara Group.


Sebenarnya kalau disebutkan bukan itu saja perusahaan yang dimiliki keluarga gue namun masih banyak cabang-cabangnya.


Gue datang kesini karena suatu sebab seandainya kalau bukan karena hal itu mungkin gue ogah pergi ke kampung yang menurut gue gak selevel banget sama gue tapi karena gue gak mau di jodohin jadi deh gue lari kesini dan gue menyembunyikan seluruh identitas siapa gue sebenarnya.


Sebenarnya itu hal mudah buat gue melakukan hal itu tapi tidak perlu dijelaskan caranya gimana, oke alasan gue gak mau di jodohin karena gue sudah punya pacar yang paling gue sayangin di dunia ini.


Gue bahkan rela mempertahankan dengan cara apapun untuk bisa hidup dengan dia tetapi sebenarnya saat gue pacaran dengannya gue seperti gak pacaran kita pacaran hanya sekedar jalan bareng dan bersenang-senang.


Tapi, rencananya bila gue ketemu sama dia gue bakalan berikan ciuman pertama gue buat dia, yah dia adalah pacar pertama gue dan gue cinta mati sama dia.


Gue gak bisa bayangin kalau dia tinggalin gue dan satu-satunya orang yang tau kalau gue ada di desa ini itu cuma dia.


Gue bener-bener bosan sekarang ini dan gue berpikir gue butuh mainan sekarang biasanya kalau gue bosen gue bakalan cari cewek yang bisa gue mainin perasaannya setelah itu gue tinggalin deh dia dengan perasaan terluka itu kebiasaan gue dan kesenangan gue.


Gue gak bakalan jatuh cinta dengan gadis-gadis yang gue sakitin karena hati gue sudah dikunci oleh satu orang yaitu cewek gue.


Dan biasanya cara gue deketin cewek itu cuma modal tampang gue yang bisa dibilang di atas rata-rata ini mana ada sih cewek yang nggak bilang gue ini gateng mungkin hanya cewek gak normal yang bilang begitu. Batin Raka.


"Putri gue kangen loh," gumam Raka tanpa sadar mengingat nama kekasihnya.


Dan sekarang gue udah dapat siapa cewek mainan gue selanjutnya, dia adalah teman sekelas gue sekaligus teman duduk gue dia adalah Muwita. Batin Raka berniat jahat pada Wita.


.


.


.


Saat ini gue sedang memandangi dia dan tampaknya dia mengeluarkan keringat entah karena apa gue juga kurang paham. Batin Raka.


Kemudian Wita meninggalkan Raka keluar kelas bersama Nawa, terkadang Wita tidak terlalu perduli dengan sikap baik Raka.


Wita lebih sering bersikap datar dan tenang ketimbang sering mengeluarkan ekspresi dan emosinya.


Biasanya ekspresi yang dikeluarkan Wita pada Raka hanyalah senyum yang jarang ia berikan pada orang manapun selain Nawa bahkan selama ini Raka memerhatikan Wita ia sangat jarang dekat dengan pria bahkan hampir tidak pernah malahan ia lebih sering menghindar. Dan eksperi datar dan dingin ketika Raka menyentuhnya.

__ADS_1


Wita hanya berbicara pada orang terdekatnya, selama ini ia terlihat bahagia walaupun tidak terlalu memiliki banyak teman pernah sekali Raka mendengar gosip bahwa Wita penyuka sesama jenis dari Elda.


Raka terkejut mendengarnya dan agak merasa risih dengan Wita akibat gosip itu.


Tapi karena penasaran apakah benar Wita seperti itu jadinya dia terus-menerus mengikuti Nawa dan Wita kemana pun mereka pergi berpura-pura menjadi teman mereka berdua.


Apa benar dia penyuka sesama jenis. Batin Raka penasaran.


Raka selalu mengikuti kemana Nawa dan Wita pergi karena Raka tidak memiliki teman dan sebenarnya hanya tidak mau berteman.


Terkadang Nawa dan Raka sering adu mulut cuma karena masalah sepele dan Wita hanya menanggapinya dengan tertawa hambar.


"Denger yah Raka, kamu kalau mau temenan sama kami berdua dan ingin tahu sifat kami berdua ibaratnya itu sebuah kacang jangan pernah pandang kulitnya tapi lihat dalamnya, apalagi dengan Wita ia terlihat kuat tapi sebenarnya dia rapuh," ucap Nawa yang saat ini duduk disamping Raka karena mereka berdua saat ini sedang memerhatikan Wita yang sedang memanjat pohon ceri di belakang sekolah karena kebetulan tempat itu sepi dan sekarang jam pelajaran mereka kosong hari ini mereka menggunakan baju olahraga jadinya saat ini lah Wita sesuka hatinya bagaikan seorang laki-laki memanjat pohon.


Raka hanya mendengarkan. Rapuh, cewek kayak dia, aku kurang yakin, kalau bener yah bagus dong gue makin gampang merusak hatinya. Batin Raka dengan niat jahatnya menganggap remeh perasaan Wita.


"Wit, apa lo gak makan selama seminggu!?" tegur Raka dari bawah pohon sok perhatian.


"Wit aku juga ikut naik!" teriak Nawa ingin manjat juga dan Raka hanya menarik nafas pasrah dan menjadi bingung kenapa ia bisa terlibat dengan kedua cewek aneh itu.


"Harusnya lo tegur sahabat lo itu, ini malah ikut manjat juga kayak anak kecil tau gak!" tegur Raka pada Nawa dan Nawa tidak perduli sama sekali.


Raka hanya menatap mereka datar kemudian melanjutkan acara baca bukunya tidak ingin terlibat dengan kedua gadis yang sekarang bertingkah konyol itu.


Tak lama kemudian datang Elda, Rima dan Diva mengusik ketenangan Raka saat ini.


"Raka lo lagi apa?" tanya Elda duduk disamping Raka dan diikuti oleh kedua temannya Diva dan Rima dan Raka merasa risih dengan kedatangan mereka bertiga.


"Raka kita kekantin bareng yuk!" ajak Diva.


"Gak usah kita jalan-jalan bareng aja!" ajak Rima.


Sedangkan Wita dan Nawa ia sedang asik menonton keributan itu.


"Berisik kalian tau gak!" ucap Raka tampaknya mulai emosi.


"Lo sih!" kata Elda.

__ADS_1


"Lo tuh yang berisik!"


"Lo,"


"Lo," Ribut mereka bertiga.


"Kalian bertiga berisik tau gak, pergi kalian semua dari sini sebelum gue bersikap kasar sama kalian!!" ucap Raka pedas dan membuat Wita dan Nawa yang berada diatas pohon bergidik ngeri melihat kemarahan Raka.


Dan hal itu membuat mereka bertiga langsung pergi menjauh karena ketakutan dengan kemarahan Raka.


Setelah itu Raka melanjutkan acara membacanya namun ternyata ada buah ceri yang jatuh mengenainya awalnya dia gak perduli tapi lama kelamaan menjadi banyak Nawa tertawa dari atas pohon.


"Wa sudah nanti Raka marah," kata Wita meminta Nawa berhenti.


"Biarin aja, aku mau liat dia marah," kata Nawa kali ini sifat jahilnya kambuh dan mulai melempari Raka lagi.


Sebenarnya Nawa adalah orang yang jahil, selama ini Wita sudah beberapa kali dijahili oleh Nawa tapi Wita tidak marah dan bahkan saat dijahili oleh Nawa, Wita tidak menampakan ekspresinya sama sekali ia begitu tenang sedangkan Nawa ia tertawa terpingkal-pingkal sendirian tapi Wita tidak perduli dan melupakan kejadian-kejadian itu.


Tampaknya saat ini Raka mulai geram dan menutup bukunya kemudian menengok keatas dengan tampang kesal.


"Tuh kan dia marah," kata Wita.


"Ups! Tampaknya ada yang marah nih," kata Nawa tidak merasa bersalah dan menambah kekesalan Raka yang memang sudah kesal.


"Awas lo yah gue bakalan manjat juga kalau sampai diatas nanti, gue bakalan supelin tuh buah ceri kemulut lo," kata Raka juga ingin memanjat pohon dan membuat Nawa menyesali perbuatannya tapi tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak minta maaf dan hanya diam.


"Kalian berdua sudah ributnya, apa kalian gak bosan ribut terus," kata Wita ingin melerai keributan itu.


"Nawa sebaiknya kamu minta maaf sebelum masalahnya tambah besar," perintah Wita dan Nawa mengangguk.


"Raka aku minta maaf," kata Nawa menyesal dan Raka sudah berada diatas pohon tampaknya Raka tidak memaafkan Nawa.


"Raka harusnya kamu maafin Nawa kamu harus paham kalau Nawa itu orangnya jahil," kata Wita tapi tampaknya mereka berdua tidak perduli dan malah berdebat Wita akhirnya kesal.


Wita tidak ingin saat ini dia marah sambil teriak-teriak menurutnya kalau jadinya seperti itu akan percuma dan masalahnya akan bertambah dan malah akan bertambah.


Ia pun menuruni pohon itu tapi Raka dan Nawa masih juga berdebat tepat saat itu Wita terpeleset karena tangannya harus menahan berat badannya dan tampaknya ketika itu posisinya salah dan membuat tangan Wita terkilir dan sedikit membuat tangannya lecet karena tergesek batang pohon.

__ADS_1


"Akh!!" rintih Wita meringis dan kedua orang itu menghentikan perdebatannya.


__ADS_2