
Tidak lama setelah Ansal dan Nawa datang. Setelah dokter mengecek kesehatan Wita, ternyata Wita sudah diperbolehkan pulang karena tidak ada luka dalam yang di alami oleh Wita.
Kemudian Raka mendorong kursi roda Wita keluar dari rumah sakit. Tibalah mereka di depan mobil Raka. Raka berdiri di hadapan Wita bermaksud menggendongnya masuk ke dalam mobil.
"Raka kamu gak perlu repot, aku yakin pasti aku bisa jalan sendiri." ucap Wita, ia mencoba berdiri.
Namun saat ia berdiri ia kehilangan keseimbangan karena kakinya terasa lemas dan sedikit ngilu mungkin karena obat bius barusan atau mungkin juga karena rasa nyeri akibat luka di kakinya.
Raka menangkapnya dalam dekapannya, Wita menahan malu. Ia merasa bahwa Raka mencuri kesempatan dalam kesempitan dari cideranya itu. Ia memeluk Wita lama.
Sampai akhirnya Wita mencubit bagian tubuh Raka yang ia pegang.
"Bisa kamu masukkan aku sekarang ke dalam mobil, apa kamu tidak malu di lihat banyak orang." ucap Wita.
"Sebenarnya sih enggak," kata Raka.
"Ya ampun Raka," Wita kesal ia mencubit kuat Raka sekarang. Mau tidak mau pria itu langsung menghentikan adegan itu dan membawa Wita masuk ke mobil.
"Maaf ya Ka, aku buat kamu repot kayak gini." ucap Wita merasa tidak enak.
"Kamu gak perlu minta maaf ini sudah menjadi bagian dari tugas saya, yaitu menjaga dirimu." jelas Raka.
Di tengah perjalanan Raka menyupir mobilnya melewati area kosan Wita. Wita terkejut di buatnya. Ia ingin dibawa kemana tanya dalam hati.
"Raka kamu gak lagi lupa ingatankan? Kosanku kelewatan tuh ayo kita balik." Wita memegang bahu Raka.
"Tujuan saya memang tidak membawamu pulang ke tempat itu, kamu akan tinggal bersama saya sampai kamu sembuh. Tempat itu berbahaya. Saya akan mencarikan tempat yang lebih baik buat kamu tinggal dan untuk sementara kamu harus tinggal bersama saya karena kamu butuh orang untuk merawatmu. Dan jika kamu menolak untuk mencari tempat baru saya akan buat kamu seterusnya tinggal bersama saya." jelas Raka saat ini tidak ingin dibantah.
"Eh?! Ba-bagaimana mungkin aku akan tinggal hanya berdua dengan kamu. Gak, aku gak mau dan juga aku gak mau pindah dari kosanku yang lama tempat itu penuh kenangan Ka, lagian kemarin tempat itu sunyi karena orangnya pada pulang semua," kata Wita.
"Kalo kamu gak mau saya akan laporkan kejadian ini ke orang tua kamu," kata Raka.
"Tapi Ka-," kata Wita terpotong.
"Gak ada tapi-tapian," kata Raka terlampau overprotektif Wita tertunduk sedih, ia tidak bisa apa-apa sekarang.
__ADS_1
"Wita kamu jangan pasang ekspresi seperti itu dong," kata Raka.
"Kalau gitu aku punya satu permintaan," kata Wita kemudian ia tersenyum mendapatkan sebuah ide.
"Apa?" tanya Raka.
.
.
.
Sampailah Raka dan Wita di rumah Raka. Rumah yang cukup besar untuk ukuran orang yang tinggal sendiri. Raka sekarang tidak tinggal bersama orangtuanya lagi karena ia lebih memilih mengurusi anak perusahaan ayahnya yang pernah di tempati Wita bekerja, Wita sejak seminggu yang lalu setelah kepulangannya ia memilih untuk mengundurkan diri.
"Astaga Raka, rumah kamu gede banget." ucap Wita memasang wajah tak pantas untuk tinggal di rumah sebesar itu dan ia pun berpikir apakah hubungannya di setujui oleh orangtua Raka, ia menatap Raka lama sambil bertanya-tanya dalam hati.
"Kamu gak perlu masang wajah seperti itu, kamu itu pantas buat saya jadi gak perlu minder," kata Raka membaca isi kepala Wita.
"Apa orangtua kamu tau tentang hubungan kita?" tanya Wita.
Raka tahu Wita tulus mencintainya tidak seperti Putri yang hanya menginginkan harta kekayaannya, selama ini Wita tidak pernah meminta apa-apa pada Raka.
Sebenarnya Wita sempat berpikir selama ini hubungan seorang kaya dan seorang sederhana seperti Raka dan Wita tidak pernah berhasil tapi ternyata ia salah menilainya. Yang benar itu kata-kata seharusnya adalah jodoh tidak akan kemana mau seperti apapun orang itu, mau perbedaannya seperti langit dan bumi pun jika sudah berjodoh tidak akan ada pembatas lagi antar dua insan itu.
Bahkan perjalanan cintanya terbilang lebih mudah dari yang ia bayangkan hanya saja perjalanan kisahnya yang banyak orang iri di dalamnya membuat Wita beberapa kali hampir celaka dibuatnya. Namun hal itu tidak akan pernah membuat Wita patah semangat dibuatnya, ia akan terus mencintai Raka seperti apapun ceritanya.
.
.
.
"Assalamu'alaikum Raka, Wita kami datang!!" teriak Nawa dari luar.
"Raka mereka berdua datang," kata Wita senang. Padahal dalam hati Raka berharap Ansal tidak mengizinkan istrinya itu ikut tinggal bersama mereka di rumah ini karena masih bulan madu, Raka benar-benar berharap ia hanya berduaan saja dengan Wita.
__ADS_1
Tapi ternyata suami istri itu lebih memilih untuk terus mengikuti Wita.
.
.
.
Inilah permintaan Wita ketika di perjalanan ke rumah Raka, ia ingin Ansal dan Nawa ikut bersamanya ke tempat ini, Wita tetap bersikeras karena ia tidak ingin tinggal bersama seseorang yang belum terikat dengannya terlebih dia seorang pria. Raka mengiyakan permintaan Wita itu, karena ia tidak ingin melihat wajah Wita yang murung. Lagipula pikir Raka saat itu kedua orang itu tidak akan bisa mengikuti Wita.
.
.
.
"Nawa!!!" teriak Wita senang, setidaknya di rumah ini ia tidak hanya berduaan saja dengan Wita, karena biar bagaimanapun pasti jika hanya berdua ada saja godaan yang bisa menghampiri mereka.
"Aku senang kamu datang," kata Wita dan Nawa memeluk Wita erat.
"Tentu saja aku datang, aku dan masku gak akan membiarkan kalian tinggal berdua sebelum kalian resmi menikah." ucap Nawa menatap ke arah Raka, Nawa yang dengan jelas mengetahui keinginan Raka yang hanya ingin berduaan dengan Wita dan pria itu sekarang membuang wajahnya ke arah lain seolah-olah tidak tahu apa-apa.
"Makasih Nawa, kamu temanku yang paling terbaik." ucap Wita senang dan bahagia memiliki teman seperti Nawa.
"Tapi, kamu gakpapakan? Bagaimana dengan lukamu sekarang?" tanya Nawa memerhatikan seluruh bagian tubuh Wita.
"Ya begini," kata Wita seadanya memperlihatkan tubuhnya yang penuh luka-luka yang saat ini sudah di balut dengan perban dan plester.
Akhirnya mereka semua tinggal di rumah Raka selama masa pemulihan Wita. Raka menerima tamunya dengan baik. Apalagi Wita, tentu saja dia akan terus menjaganya dan merawatnya sampai sembuh total.
Raka menyiapkan sebuah kamar tamu untuk Nawa dan Ansal. Sedangkan untuk kamar Wita ia menyediakan kamar khusus untuk gadis itu agar pria itu dapat selalu memantaunya jika butuh apa-apa. Raka ia akan benar-benar menjaga Wita sampai gadis itu sembuh total.
.
.
__ADS_1
.