Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Menahan Diri


__ADS_3

.


.


.


"Uhk!!" Wita menggeram di kasurnya tidak tenang. Malam ini malam minggu, dan malam yang sangat berharga bagi Wita karena hari esok adalah hari terpuasnya untuk tidur.


Sebenarnya saat ini ia merasa gelisah karena ulah Raka yang memberinya tantangan untuk menahan dirinya, tentu saja demi pria itu Wita pasti siap untuk menahan diri agar berbuat sesuai apa yang diminta Raka.


Permintaan sederhana bagi beberapa orang dan bahkan mungkin tidak penting sama sekali. Tapi tidak untuk Wita, malam ini adalah malam yang begitu berharga baginya untuk melakukan sesuatu. Ya, tujuannya adalah untuk menonton film anime, anime kesukaannya.


"Aku pengen dan kangen nonton anime," gumam Wita memeluk guling.


"Maaf, malam ini kalian jadi gak bisa menemani malam mingguku yang kelabu, sebab ada seseorang yang lebih berharga ketimbang kalian," gumam Wita tambah erat memeluk guling sambil mengingat tokoh-tokoh anime favoritnya.


Memang malam mingguku ini masih bisa disebut malam minggu kelabu yah. Batin Wita bertanya pada diri sendiri, apakah masih pantas kata-kata itu untuk dirinya.


"Huft!! Tapi pengen nonton, apa aku nonton aja yah? Lagi pula kan dia gak tau," kata Wita mendudukkan diri.


"Tidak-tidak! Aku sudah janji sama Raka, aku harus kuat!!!" semangatnya pada diri sendiri, kemudian membaringkan diri.


"Hah!! Tapi aku ingin nonton," gumamnya lagi. Tidak lama kemudian setelah lelah berdebat dengan diri sendiri Wita pun akhirnya tertidur pulas.


Raka melarang Wita tidak bermaksud apa-apa. Pria itu hanya khawatir pada wanita itu, ia melarang Wita nonton anime kesukaannya malam itu karena bagi Raka malam itu bagus untuk Wita beristirahat.


Awalnya Wita menolak dan sempat terjadi perdebatan di antara mereka berdua, tapi karena alasan Raka yang mengatakan pilih anime atau dirinya. Akhirnya Wita tidak berkutik, jelas saja dirinya akan memilih Raka dan tentu saja ia menyanggupi apa yang di pinta Raka


.


.


..


...


Di apartemen Raka, ia merasa begitu bersalah pada Wita yang nampak kecewa saat ia melarang dirinya menonton anime. Hal itu malah membuat Raka tidak bisa tidur.


"Haruskah saya meminta maaf padanya," gumam Raka mengingat wajah kecewa Wita.


"Tapikan itu semua untuk kebaikannya, ya kebaikannya." ucap Raka meyakinkan diri namun tetap saja ia tidak tega mengingat wajah Wita yang bersedih karenanya.


"Akh!!! Kenapa rasanya saya jadi begitu bersalah padanya." frustasi Raka pada dirinya. Akhirnya malam itu ia tidak bisa tidur.


.

__ADS_1


.


.


Paginya...


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu kosan Wita, membuatnya menghentikan kegiatannya mengucek pakaiannya.


Hari minggu ini pakaian kotornya sedang menumpuk. Belum lagi piring-piring kotor yang masih berserakan dimana-mana di tambah lagi ia belum memasak makanan sama sekali.


Dan ia bersyukur menuruti permintaan Raka agar malam tadi ia sebaiknya tidur saja. Dan hasilnya hari ini ia memiliki banyak tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan.


Mendengar ketukan pintu Wita buru-buru ke arah pintu kosannya.


"Ya sebentar!" teriaknya dari dalam kemudian membukakan pintu.


Betapa kagetnya ia melihat Raka yang tampak begitu lelah dengan wajah pucat.


"Raka kamu kenapa?" tanya Wita khawatir.


"Maaf," kata Raka kemudian menaruh wajahnya di bahu Wita. Wita cukup kaget akan hal itu.


"Untuk apa?" tanya Wita kemudian mengangkat wajah Raka dengan kedua tangannya dan betapa kagetnya ia ketika menyadari wajah pria itu panas, tampaknya ia sedang demam.


"Maaf," Raka lagi-lagi bergumam.


"Untuk apa Ka?" tanya Wita sambil menyiapkan kompres Raka.


"Karena telah melarang dan membuatmu kecewa kemarin." jelas Raka, awalnya Wita bingung dengan kata-kata Raka. Tapi, ia menyadari maksud Raka. Pasti gara-gara ia merasa bersalah karena Raka melarangnya nonton anime. Hampir saja Wita tertawa terbahak-bahak dibuatnya.


Cuma karena masalah sekecil itu, tapi mungkin tidak untuk Wita. Raka sampai sakit karena merasa bersalah.


"Astaga Raka, seharusnya itu gak usah dipikirkan. Seharusnya aku malah berterimakasih padamu. Dan seharusnya aku yang minta maaf karena membuatmu jadi begini," kata Wita tertunduk merasa bersalah dan mengingat kejadian kemarin seharusnya ia tidak memasang ekspresi sekecewa itu.


'Greb!' Raka memeluk Wita.


"Tidak Wita, saya yang salah." kata Raka.


Dan terjadilah acara saling menyalahkan diri selama setengah jam. Dan pada akhirnya mereka mengaku sama-sama salah.


Tatkala saat itu perut mereka sama-sama berdemo karena belum di beri makanan.


Akhirnya Wita pergi memasak, dan Raka pergi beristirahat. Demamnya cukup tinggi. Jadilah Wita merawat Raka. Walaupun sebelumnya Wita sempat menegur Raka karena berani-beraninya ia pergi naik kendaraan di saat sakit. Tapi Raka tidak mengubrisnya intinya ia bertemu Wita.

__ADS_1


.


.


.


Rasanya aku seperti menjadi ibu rumah tangga saja. Batin Wita.


Tapi, memangnya apa seperti ini menjadi ibu rumah tangga. Bingung Wita.


Seru juga sih. Batinnya lagi.


"Astaga, ya ampun. Apa sih yang aku pikirkan," kata Wita mengeleng-geleng.


Malunya. Batin Wita lagi merasa malu sendiri dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Kemudian ia menyiapkan bubur untuk Raka makan.


"Raka ini makan. Tapi sebelumnya aku minta maaf ya Ka kalo rasanya gak enak, habisnya aku gak pandai-pandai amat masak, aku masih dalam proses belajar ini." Ucap Wita menaruh buburnya di atas meja.


"Apapun rasanya, akan saya makan jika itu buatanmu," kata Raka.


"Terima kasih Raka," kata Wita senang. Setidaknya ada yang menghargai masakannya.


"Bisa kamu suapin saya?" tanya Raka.


"Ka-kau kan bisa makan sendiri," kata Wita gugup. Raka pun mencoba makan sendiri tapi tangannya sedikit bergetar, pada akhirnya Wita mau menyuapi Raka.


Walaupun tetap saja Wita masih malu-malu, pria itu terlihat tampak senang dan menghabiskan seluruh bubur yang dibuat oleh Wita. Menurutnya rasanya masakan Wita tidak buruk, dan rasanya sama seperti makanan pada umumnya. Tapi bagi Raka itu merupakan hal yang spesial karena yang membuatnya adalah orang yang ia sayang.


Setelah menyuapi Raka, Wita kemudian beres-beres. Pria itu tampaknya mulai tertidur ketika Wita memberinya obat penurun demam.


Wajah Raka yang cukup putih itu tampak memerah. Keringat mulai banyak keluar dari badannya. Mungkin beberapa jam lagi ketika ia beristirahat dengan tenang ia akan baikan.


Wita menjaga Raka dengan sepenuh hati. Tampaknya ia juga cukup kelelahan saat itu, setelah mengerjakan seluruh tugas-tugas rumahnya.


Ia pun tertidur duduk tepat di samping Raka. Menyadari gadis itu berada di sampingnya Raka mengelus rambut Wita yang tertidur pulas.


Akhirnya mereka berdua tertidur sampai sore hari, Wita yang tertidur duduk tepat di samping Raka dan Raka yang berbaring di kasur sampingnya sambil memegang puncak kepala Wita.


Saat itu, bagi mereka bisa menjadi suatu hari yang patut untuk mereka ingat.


Walaupun mungkin di hati mereka ada perasaan yang bergejolak tapi mereka cukup sadar untuk menahan diri sampai waktunya tiba.


.


.

__ADS_1


.


...


__ADS_2