Dia Dan Aku

Dia Dan Aku
Lamaran Raka


__ADS_3

Sudah dua hari semenjak ke pulangan Wita dari desa tempatnya mengajarnya sementara. Kebetulan orang-orang di rumah Wita sedang berkumpul sekarang. Wita juga tidak tahu penyebabnya. Kenapa semua orang berkumpul.


Dan sekarang Wita tetap berpenampilan apa adanya, ia sudah mandi dan sudah rapi tapi ia tetap berdandan apa adanya. Ayah dan Ibu Wita juga hanya diam saja tidak mengatakan apa-apa jadi Wita tetap santai seperti biasanya dan kebetulan hari ini juga Wita sedang libur mengajar.


"Assalamu'alaikum!!!" Nawa dan Ansal datang ke rumah Wita dengan anak perempuannya yang belum genap berumur satu tahun.


"Wa'alaikum salam, masuk Nawa." ucap Wita sangat antusias dengan kedatangan Nawa yang sangat tiba-tiba.


"Eh, ada si kecil chuby, sini sama tante," kata Wita mengulurkan tangan dan Nawa membiarkan Wita menggendong anaknya.


"Ayo duduk, jangan malu-malu dong Wa, Sal anggap rumah sendiri." ucap Wita sambil menggendong anak Nawa mempersilahkan sahabat dan suaminya itu duduk.


"Ih siapa juga yang malu," kata Nawa, Wita hanya menanggapinya dengan senyuman lima jarinya. Kemudian memberikan anaknya lagi kegendongan Nawa.


"Bentar ya Wa, aku buatkan minuman." Ucap Wita pergi ke dapur.


"Nawa," kata mama Wita.


"Tante," kata Nawa pergi menyalami orang tua Wita begitu juga suami dan anaknya.


.


.


.


"Gimana kabar kamu dari sana Wit, gak kenapa-napa kan?" tanya Nawa setelah Wita sudah memberikan minumannya dan ikut duduk di sofa rumahnya.


"Nih liat aku gak kenapa-kenapakan," jawab Wita kemudian menyomot kue yang sudah di sediakan di atas meja itu.


"Makan," tawar Wita kepada Nawa dan Ansal, Wita memang sudah benar-benar tidak canggung terhadap suami sahabatnya itu. Karena Wita menganggap Ansal juga seperti Nawa.


"Apa ada hal yang terjadi disana?" tanya Nawa penasaran akan sesuatu.


"Uhuk!!" tiba-tiba Wita tersedak, ia kaget dengan pertanyaan Nawa barusan.

__ADS_1


"Gak! Gak ada apa-apa." jawab Wita, tapi terlihat dari raut wajah Wita yang terlihat malu-malu.


"Beneran nih gak ada apa-apa, aku denger Raka nyusul kamu kesana," kata Nawa tidak percaya, membuat Wita tambah malu. Terlebih darimana sahabatnya itu tahu kalau Raka menyusulnya.


"Trus Raka bilang hari ini dia mau ngelamar kamu?" tanya Nawa, sebelum sempat Wita menanyakan darimana ia tahu hal itu.


"Hah?! Masa iya? Kok aku gak tau," kata Wita kaget plus bingung, semua orang menatap ke arahnya.


"Kok aku gak di kasih tau sih," kata Wita terheran-heran.


"Pasti ini bohong," kata Wita tidak percaya.


"Nih ada pesannya," Nawa memperlihatkan isi pesan Raka di handphonenya. Disitu tertulis Raka menceritakan semuanya agar Nawa datang ke rumah Wita saat Raka melamarnya hari ini, Raka bilang karena Nawa sudah seperti saudara bagi Wita jadinya ia harus memberitahunya.


"Kok Raka gak kasih tau aku sih, pantesan mama bikin kue banyak bener, dan semua orang pada berkumpul." Ucap Wita menatap ke arah mamanya, ia menjadi kesal pada Raka semua orang diberitahu tapi ia tidak.


"Mungkin itu kejutan buat kamu." ucap Nawa.


Wita mengirim pesan kepada Raka dengan nada kesal di dalamnya karena ia tidak di beritahu juga dan jawaban dari Raka justru membuat Wita tersenyum.


Raka bilang, "Untuk apa aku memberitahumu, karena meskipun kamu tidak tahu jika hari ini aku melamarmu kapanpun itu aku yakin pasti kamu tidak akan menolak saya." Bunyi pesan Raka.


"Ah, kalo begitu setidaknya aku ganti baju yang rapi dan berdandan lah dulu." Ucap Wita kemudian memasuki kamarnya untuk berganti pakaian dan setidaknya berdandan.


"Jadi apa yang terjadi di sana?" tanya Nawa, setelah Wita selesai berganti pakaian dan berdandan. Setidaknya ia lebih terlihat rapi dan elegan sekarang.


"Dia lamar aku." jawab Wita apa adanya, tidak ada lagi yang perlu di sembunyikan.


"Buktinya," Nawa minta bukti. Kemudian Wita memperlihatkan cincin yang ia kenakan.


"Ciee!! Yang sebentar lagi nyusul aku," kata Nawa ia senang karena sebentar lagi sahabatnya itu juga akan menikah.


"Selamat ya!" Nawa memeluk Wita dan Wita membalas pelukan Nawa.


"Makasih ya Wa, selama ini kamu susah senang selalu ada sama aku," kata Wita ia sangat senang karena mempunyai teman seperti Nawa.

__ADS_1


"Itulah gunanya sahabat," kata Nawa tersenyum melepas pelukannya dan Wita juga ikut tersenyum sedangkan Ansal ia hanya memerhatikan kedekatan kedua wanita itu.


Tidak lama kemudian keluarga Raka sampai di rumah Wita, mereka datang membawakan hadiah-hadiah lamarannya.


Wita benar-benar syok, ia tidak percaya kata-kata Raka akan melamarnya secepatnya itu, benar-benar menjadi sangat-sangat cepat tidak sampai dua minggu ia betul-betul melamar Wita.


Ternyata selama ia menginap di rumah Wita ketika Wita tidak ada, Raka sudah membicarakan tentang keseriusannya terhadap Wita di depan orang tua Wita dan ia sudah mendapat restu dari kedua orang tua Wita makanya tidak lama kemudian ia menyusul Wita hingga kepelosok desa.


Keluarga Wita menyambut keluarga Raka dengan baik, ini pertamakali nya kedua keluarga itu berkumpul.


Tidak sampai sepuluh menit ayah Wita sudah akrab dengan ayah Raka berbagai macam hal mereka ceritakan. Kebetulan kedua orang itu adalah pribadi yang sangat mudah akrab. Begitu juga ibu mereka. Mereka sudah asik mengobrol.


Wita sudah pernah bertemu langsung dengan orang tua Raka, tidak mungkin selama satu tahun terakhir mereka berhubungan Raka tidak pernah mempertemukannya dengan orang tuanya.


Saat pertamakali berhadapan dengan orang tua Raka Wita benar-benar malu bukan main, orang tua Raka ternyata sangat ramah meskipun mereka dari keluarga terpandang mereka tidak sombong. Terlebih ibunya, Wita dalam satu hari bisa merebut hati kedua calon mertuanya. Dan Raka sangat senang dengan hal itu.


Orang tua Raka tahu Wita memiliki sifat yang ramah, sopan santun dan rasa hormat terhadap orang tua yang sangat tinggi. Sangat terlihat dari ekspresinya yang sangat ramah terhadap orang-orang di rumah Raka.


Dalam satu kali pertemuan itu orang tua Raka menyukai Wita yang sifatnya apa adanya, dan orang tua Raka menyayangi Wita seperti anaknya sendiri.


Setiap bertemu Wita orang tua Raka sangat senang terutama ibunya, ia akan menyambut Wita antusias dan membawanya mengobrol bersama.


Walaupun jarak rumah utama Wita dan Raka cukup jauh namun itu tidak menghalangi, mungkin saja laut pun akan mereka arungi, jurang pun akan di seberangi, gunung pun akan di daki demi bertemu sang pujaan hati.


Kedua keluarga begitu bahagia saat kedua orang itu akhirnya akan menikah. Nawa memeluk anaknya dan salah satu tangannya memegang tangan suami erat ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Wita.


Raka dan Wita juga duduk berdampingan, begitu merasa bahagia. Dalam hati mereka, mereka tidak sabar menantikan hari itu tiba.


Setelah hari pernikahan mereka di tentukan, keluarga besar Raka akhirnya pamit undur diri. Dan Raka tentu saja ia tetap tinggal di situ dan pulang belakangan.


Acara pernikahan mereka pun akan di adakan sebulan ke depan.


Wita, Raka, Ansal, dan Nawa mereka saat ini malah asik berbincang-bincang yang tampaknya tengah membicarakan suatu hal yang sangat menarik. Adik Wita juga ikut berkumpul dalam kumpulan itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2