Dia Suami Cinaku

Dia Suami Cinaku
DIS PART 13


__ADS_3

Dia itu suamiku part 13


Di Indonesia jawa.


Di rumah Bulan. Bulan sedang membantu mamanya mengemas kue pesanan.


“ma pesanan siapa ini?” tanya Bulan kepada mamanya.


“ibu Rukayah.” Jawab mama.


“ibu Rukayah itu? Yang mana?” tanya Bulan seperti penah dengar tapi lupa.


“itu lo mamanya Zahra.” Jawab mama.


“owalah iya Bulan tahu. Acara apa emangnya?” tanya Bulan sambil memasukkan kuenya ke dalam plastik.


“Zahra lamaran.” Jawab mama.


“ha? Bocil epep itu udah lamaran? Sama siapa ma. Dia kan adik kelas Bulan.” Ucap Bulan Kaget.


“katanya sama anak teman ayahnya.” ucap mama juga kurang tau. “kamu emang tidak mau kayak Zahra?” tanya mama.


“mau lah nanti sama Qinqin.” Ucap Bulan.


“kamu ini Qin terus. Yang lain mama juga mau kamu segera menikah sayang.” Ucap mama Bulan.


“ ah mama. Kakaklo belum tidak sopan mendahului yang lebih tua.” Ucap Bulan ngeles untuk pertanyaan mama.


“iya kan kakak kamu laki – laki telat ya tidak apa – apa. Oh iya mama punya teman yang anaknya seumuran kamu. Mau mama kenalin siapa tau kalian cocok.” ucap mama.


“mama jangan mulai deh. Tauk ah mama gitu.”


“tidak – tidak sayang mama Cuma bercanda. Menikah sama siapa pun terserah Bulan asal mama tau kalau orang itu benar – benar baik. Mama tidak mau kamu menyesal atau di sakiti.” Ucap mama sambil membelai rambut Bulan.


“iya Bulan mengerti ma.” Ucap Bulan.


Mama dan Bulan mengobrol bersama. Bergurau. Tertawa tertiwi bersama.


Di malam hari Beijing cina.


“Qin…” panggil seorang wanita.


“er jie / kakak kedua.” Ucap Qin memeluk wanita yang dia panggil sebagai kakak kedua.


Kakak kedua ini nama aslinya Lulu dia adalah senior Qin waktu pertama kali Qin masuk dunia hiburan. Lulu ini yang mengarahkan Qin dan menjaga Qin jadi Qin sudah menganggap dia sebagai kakaknya sediri begitu juga Lulu menganggap Qin sebagai adiknya. Kali ini mereka berperan sebagai pasayang di drama baru mereka.


“haojiu bu jian. Nihao ma? / lama tidak jumpa apa kabar?” tanya Lulu.


“hen hao nine? baik ka. Kakak apa kabar?” tanya Qin.


“wo ye hen hao. Ni zhuo. / kakak baik. Pegang ini.” Lulu menarik tangan Qin memintanya menyentuh perutnya.


“zhe shi….ini…” Qin menebak matanya membesar. Sambil tersenyum.


“dui jiu zhou. / iya ini sudah sembilan minggu.” Bisik Lulu.


“gong xi. Ran huo zhe shi? .. / selamat kak selamat. Jadi kali ini?” tanya Qin.


“shang…. / iya ini terakhir.” Lulu menjelaskan kalau ini drama terakhirmya sebelum dia cuti melahirkan dan drama ini juga tentang mengandung.


“hao de da jia women kai le. / baik semuanya… suting kita mulai.” Ucap Sutradara.


Mereka mulai beradu acting beberapa kali ada yang langsung jadi ada juga yang berulang kali gagal.


“xiu xi. Xiu xi. /istirahat,” ucap sutradara.


“Qin.’ Panggil sutradara. Sutradara menjelaskan adegan yang akan di ambil kali ini apa dan bagaimana Qin harus melakukan.

__ADS_1


Setelah selesai suting.


“hao de da jia xie xie ni men. Zai jian./ baik semuanya terima kasih atas kerja kerasnya sampai jumpa.” Ucap sutradara.


“zia jian da jia. / sampai jumpa semuanya.” Ucap Qin.


“zia jian xie xie. / sampai jumpa terima kasih.” Ucap semua anggota crew kepada semunay.


Qin kembali ke kamar lalu istirahat.


“laoda xian zai si dian ban ye. Ranhou liu dian zao shang ni de shi ji. Ni yao liang dian xiu xi. /sekarang jam 4 pagi. Dan nanti suting jam 6. Kau punya waktu dua jam untuk istirahat boss.” Ucap Wangzi kepada Qin.


“haode wo zhe dao. / baiklah saya mengerti.” Ucap Qin melempar tubuhnya ke atas kasurnya. “yoyo chi le ma? / Yoyo sudah makan ?” tanya Qin kepada Wangzi.


“chi le lao da. / sudah bos..” Jawab Wangzi yang merebhkan dirinya di atas kasur sebelaknya kasur Qin. Sambil bermain telefonnya.


“hao le wo yao shui jiao. / baik lah kalau begitu saya tidur dulu.” Ucap Qin melepas lelahnya dia suting mulai jam 7 malam sampai jam 4 pagi. Karena target dari sutradara drama ini harus selesai dalam waktu 3 – 4 bulan jadi mereka sekarang lembur.


Indonesia jawa pukul 08.15


“pagi ma pa.” sapa Bulan yang baru turun dari kamar masih menggunakan piyamanya.


“pagi sayang. Kamu tidak kuliah?” tanya papa.


“umm udah libur pa.” ucap Bulan. “ ma Bulan mau susu air hangat dalam botol.” Ucap Bulan sambil memegang perutnya yang kram karena mestruasi.


“kamu bulanan sayang?” tanya Mama.


Bulan menjawab dengan mengangguk. Karena moodnya lagi tidak karuan.


Setelah mama memberikan kompresan kepada Bulan. Bulan pergi ke kamar membawa sarapannya.


Yue : [ ni zai gan ma? / lagi apa ?]


Kiss : [wo gong zuo. Nine? / lagi bekerja. kamu?]


Kiss : [zen me le? / kenapa.]


Yue : [yue jing. / biasalah bulanan.]


Kiss : [ ni shi nu ren? / kamu cewek?]


Yue : [ dui . zen me le? / iya. Kenapa]


Kiss : [bu. Wo juede ni shi nan ren. / tidak saya kira kamu cowok]


Yue : [ hahaha. Ni shi bu shi nan ren ? / ha ha ha. Emangnya kamu cowok?]


Kiss : [dui a. / iya]


Yue : [ ni bu shi nu ren ma? Ni shuo ni xihuan Qin a. / bukannya kamu cewek ya? Kamu bilang kamu menyukai Qin kan?]


Bulan keget ternyata teman virtual selama ini laki – laki. Padahal dia sering menceritakan kesibukannya. Namun memeng salahnya tidak bertanya di awal.


Kiss : [wo shi nan ren. / saya laki – laki]


Bulan lalu meletakkan ponselnya. Dan menistirahatkan tubuhnya.


“dia laki – laki. Padahal sudah curhat banyak aaaa.” Keluh Bulan yang tambah badmood.


Di sisi lain Pria misterius yang sering chatting dengan Bulan juga kaget karena mengira orang yang selama ini membalas chatnya adalah laki – laki ternyata peremuan.


“dia perempuan? Tapi saya merasa nyaman.” Uacap pria misterius itu.


Kembali di sisi Bulan yang menahan sakit kram perutnya.


Tok tok tok. Suara ketukan pintu kamar Bulan.

__ADS_1


“masuk tidak di kunci.” Ucap Bulan.


“taaaaraaaa…. Ini kakak bawaain coklat.” Uacap Vando sambil memberikan kantong kresek ke Bulan. “tadi papa bilang kamu datang bulan. Jadi meminta kakak untuk beli makanan manis.” Ucap Vando.


“terima kasih kak. Kakak baik deh.” Uacap Bulan memeluk kakaknya.


“masih sakit ya?” tanya Vando.


“sudah sedikit mendingan. Sudah di kompres air hangat kak.” Ucap Bulan.


“gimana kalau kita ke dokter.” Ucap Vando.


“haduh kakakku yang ganteng ini itu Cuma kram mestruasi jadi tidak perlu ke dokter.” Ucap Bulan.


“tapi lihat wajah kamu sampai pucat begitu.” Ucap Vando.


“fitrahnya perempuan. Makanya kak Vando jangan sering nyakitin perempuan. Liahat lah adikmu ini kalau kesakitan.” Ucap Bulan.


“iya iya. Kakak juga mengerti.”


“kakak ada pacar kah?”


“tidak. Lah bisa – bisa kalau kakak ketahuan pacaran di suruh nikah sama papa.”


“bener tidak punya pacar?” ucap Bulan mencoba mengorek informasi.


“sumpah demi Allah.” Ucap Vando.


“baik baik. Kalau sudah begitu Bulan percaya.” Ucap Bulan setelah mendengar kakanya menyebut nama Allah.


“kalau begitu kakak pergi dulu. Kalau mau apa – apa bilang.” Ucap Vando.


“siap kak.” Jawab Bulan.


Vando sifatnya sangat baik dan perhatian. Meski kadang sering jahil kepada Bulan namun dia sangat menyayangi Bulan. Pernah suatu waktu Bulan dibuat menangis oleh anak tetangga.


Kembali ke masa lalu saat Bulan kecil.


Bulan pulang dengan menangis.


“ada apa?” tanya Vando yang sedang memperbaiki sepedah.


“hhhiks… itu Adi rebut mainan Bulan.”jawab Bulan kecil sambil menangis.


Tanpa pikir panjang Vando langsung mengedong adiknya.


“mana yang namanya Adi.” Ucap Vando kepada kerumunan anak anak.


“itu kak.” Tunjuk Bulan pada anak berpakain biru dongker.


Vando menghampirinya dan langsung menjewer telinga anak kecil itu.


“kamu yang bikin nangis Bulan.” Ucap Vando.


“ampun kak ampun.” Rengek Adi kecil.


“kembalikan.” Ucap Vando meminta mainan Bulan yang di rebut Adi.


“ini ka-aka ini.” Ucap Adi ketakutan.


“kalian semua dengar. Jangan ada yang jailin Bulan.” Ucap vando memperingatkan anak – anak yang di tempat itu.


Anak anak semuanya mengangguk faham.


Kembali ke masa sekarang.


Bulan menatap punggung kakanya yang menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


“dasar kakak.” Ucap Bulan sambil tersenyum lebar.


__ADS_2