
Dia itu suamiku part 24
Setelah selesai mandi. Bulan melihat ponselnya tidak ada jaringan sama sakali.
“mau menghubungi keluarga ya?” tanya Xixi.
“iya kak tapi ini tidak bisa di gunakan.” Jawab Bulan.
“pakai punyaku saja.” Ucap Xuxu memberikan ponselnya kepada Bulan.
“terima kasih kak.” Bulan meneri sambil tersenyum.
Bulan menghubungi mama.
[Assalamualaikum ma, ini Bulan pinjem nomor temen]
[Waalaikum salam sayang, bagaimana sudah sampai di sana? Sudah makan belum?]
[Alhamdulillah ma sudah sampai. Sudah tadi di traktir kakak senior. Oh iya ma besok lagi Bulan hubungi ya tidak enak dengan teman baru Bulan.]
[iya nak hati – hati di sana ya, tetap jaga Sholat dan ngaji kamu ya]
[iya ma Assalamualaikum]
[waalaikum salama warahmatullah hiwabaroka]
“ini kak terima kasih.” Ucap Bulan mengembalikan hp Xuux.
“cepet banget. Tidak kurang?” tanya Xuxu.
“sudah Cuma mau kasih tau kalau udah sampai.” Ucap Bulan.
Setelah itu mereka tidur.
Xuxu dan Xixi sedikit bingung melihat apa yang di kerjakan Bulan sebelum tidur. Mulai dari mengaji Sholat dan membaca Al-Quran.
Xuxu dan Xixi hanya menatap Bulan dari tempat tidur mereka.
Keesokan paginya.
Xixi yang baru bangun di kagetkan Bulan yang sudah selesai mandi dan bedandan rapi.
“kamu bangun pagi sekali?” tanya Xixi.
Bulan menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“bangun jam berapa?”
“jam tiga.”
“ha jam tiga?’ Xuxu yang kaget, dia yang sudah terbagun namun masih mager di kasurnya.
“kamu bangun jam tiga ngapain?” tanya Xixi.
Sekali lagi Bulan hanya menjawab dengan senyuman. Karena dia bingung mau menjelaskan.
“sudah jangan banyak tanya. Udah telat ini.” Ucap Xixi berlari menuju kamar mandi.
“jam berapa sekarang?” tanya Xuxu.
“jam delapan.” Jawab Bulan.
“Xixi jangan lama – lama mandinya.” Terika Xuxu dari luar pintu kamar mandi.
“tidak.” Jawab Xixi.
Bulan tersenyum melihat tingkah kedua temannya. Dia tidak menyangka kalau teman barunya tidak jauh berbeda dengan teman – temannya di rumah. Bulan mengira kalau temannya yang baru mungkin akan lebih cuek atau masa bodoh. Tapi ternyata kedua teman barunya sangat baik.
Pukul 08.40.
“untung tidak telat.” Ucap Xixi.
“kamu mandinya lama.” Tegur Xuxu.
“kamu aja yang bangunnya telat. Eh cari sarapan dulu yuk.” Ucap Xixi.
“ayo masih ada waktu dua puluh menit.” Ucap Xuxu.
“eh Bulan kamu cari makanan halal ya.” ucap Xixi
“ha halal?” tanya Xuxu.
__ADS_1
“kita ke minimarket aja biar bisa milih.” Ucap Xixi. “di depan kampus ada minimarket namun di sana lengkap.”
Mereka bertiga berjalan. Samampainya di minimarket mereka memilih makana.
“kakaknya muslim ya di sebelah sini produk hahal.” Ucap penjaga toko.
“terima kasih kak.” Ucap Bulan.
“ini, mana sekalian biar saya bayar.” Ucap Xuxu menarik roti yang dibawa Bulan.
“eh tapi..” ucap Bulan.
“sudah Xuxu memang begitu kalau dia banyak uang. Nanti kalau uangnya habis dia akan diem di kamar tidak akan mau di ajak keluar.” Ucap Xixi menjelaskan perilaku Xuxu.
“ini sudah.” Ucap Xuxu mengembalikan roti milik Bulan.
“terima kasih Xuxu.”
“sama sama.”
Hari ini pertama kali Bulan masuk kelasnya. Awal dia masuk semua siswa memperhatikannya karena Bulan menggunakan hijab.
“Xi kenapa mereka menatapku seperti itu?” tanya Bulan.
“tidak apa mereka memang begitu nanti juga tidak.” Jawab Xixi.
Bulan duduk di kursi belakang. Karena memang Bulan lebih suka duduk di kursi belakang. Semua teman sekelasnya berbisik.
“itu tempat duduk Qin.”
“iya.”
“anak baru berani – braninya.”
Selang beberpa lama Qin masuk. Semua kelas heboh belihat kedatang Qin meski sudah setiap hari bertemu. Tapi tetap mereka bersorak saat Qin masuk. Terutama setelah kasus Qin selesai terbukti bawa anak yang di kandung Lihua bukan anak Qin.
(Qin) batin Bulan dia membeku menatap kedatang Qin. Dia tidak menyangka bahwa dia akan berada di kelas yang sama dengan Qin. Di internet bilang kalau Qin kuliah di kampus ini tapi tidak di jelaskan pasti di mana kelasnya.
“permisi.” Ucap Qin. “ini tempat duduk saya.”
“oh maaf.” Ucap Bulan langsung bergeser. Bulan masih membeku melihat kenyataan bahwa idolanya satu kelas dengan dirinya.
“halo.” Ucap Qin “kamu tidak mengenal saya?” tanya Qin karena melihat hanya Bulan yang tidak heboh saat Qin datang.
“oh iya.” Qin hanya tersenyum (menarik dia tidak mengenal saya) batin Qin menatap Bulan.
Bulan yang merasa Qin tidak berhenti menatapnya membuatnya salting. Namun tetap dia tahannya.
“apa ada yang salah? Kenapa kamu terus melihat saya?” tanya Bulan mencoba santai.
“tidak. Kamu ini?” tanya Qin sambil mengisyaratkan pakaian yang di kenakan Bulan.
“maaf saya musliamah.” Jawab Bulan.
“oh.”
“selamat pagi anak – anak” ucap ma Laoshi.
“pagi laoshi.” Jawab anak – anak serentak.
“oh iya kita kedatangan murid silakan memeprkenalkan diri.” ucap ma laoshi.
Bulan lalu berdiri dan memperkenalkan dirinya kepada teman kelas barunya.
“perkenalkan saya Bulan. Saya jurusan Hubungan internasional dan akan belajar bersama kalian kurang lebih satu semester. Tolong bantuannya.” Ucap Bulan memperkenalkan diri.
“wah aksennya begitu bagus.” Ucap seorang teman kelas.
Qin menatap Bulan masih tidak menyangka ada orang yang tidak mengenalnya. Padahal dalam hati Bulan ingin rasanya memeluk dan mencium Qin.
Qin yang berulang kali mencuri – curi pandangan kepada Bulan. Bulan pun ingin rasanya menatap Qin sampai dia puas, namun di tahan rasa itu, karena di awal pertemuan dia sudah memeberi kesan tidak mengenal Qin.
(bodohnya saya kenapa saya tadi pura – pura tidak mengenalnya) gerutu Bulan dalam hatinya. (tidak bisakah kamu bilang kalau kamu sangan menyukai Qin. Aaaah kenapa).
Setelah pelajaran selesai. Semua kelaur kelas.
“Xixi kamu bilang akan mengajak saya ke toko hape?” tanya Bulan.
“oh iya. Mari kita pergi sekarang.” Ucap Xixi.
“baiklah.”
__ADS_1
Di sisi Qin dia merasa Bulan sangat menarik.
“dia bahkan tidak melihat saya. Apa saya kurang menarik baginya?” barulang kali Qin menatap cermin yang dia bawa. Melihat wajahnya. “bagaimana bisa dia tidak mengenalku?”
Sesampainya di toko hand phone .
“mau yang mana?” tanya Xixi.
“sebentar.” Bulan melihat beberapa hand phone yang di pajang.
“permisi, pilih yang mana?” tanya pegawai toko.
“saya mau mencari yang kameranya bagus dan ruangnya besar. Dan tidak mudah lemot.” Ucap Bulan menjelaskan fitur yang di inginkan.
“oh sebentar.” Karyawana itu mengambilkan beberapa sempel hand phone. “coba kakak lihat ini.”
“yang ini aja kak.” Setelah melihat lihat Bulan terpaku oleh ponsel yang berwarna abu – abu. “berapa?” tanya Bulan.
“1000 yuan kak.” Ucap karyawa toko.
“sebentar.” Bulan mengeluarkan kartunya, lalu melakukan pembayaran.
“ini kak terima kasih.” Ucap karyawan menyerahkan bill pembayaran.
[Assalamualaikum ma]
[waalaikum salam nak. Bagaimana hari pertama?]
[Alhamdulillah. Oh iya ini nomor baru punya Bulan ya ma]
[iya sayang. Mama save nanti]
[oh iya ma, papa mana?]
[papa dia tuh lagi mainan sama kucing? Karena kalian berdua pergi sekarang papa mengadopsi anak kucing tiga sekaligus]
[ha ha ha, papa papa]
[bentar mama panggilin papa ya..]
[iya ma]
[Assalamualaikum]
[waalaikum salam pa apa kabar]
[Alhamdulillah. Oh iya sekarang kamu punya tiga adik di rumah]
[masak Bulan di samain kayak kucing si pa]
setelah mengobrol panjang kali lebar.
[ma pa, Bulan mau cari makan dulu ya. nanti kalau kemaleman susah carinya, apa lagi Bulan masih harus hafalin tempat.]
[iya sudah hati – hati]
[iya Assalamualaikum pa ma]
[waalaikum salam sayang]
“udah telfonnya?” tanya Xuxu.
“udah.” Jawab Bulan.
“lapar tidak?” tanya Xixi.
“laper banget.” Jawab Xuxu.
“kalau begitu kita cari makan. Kita cari resto halal.” Ucap Xixi.
“ayok.” Bulan mengandeng ke dua temannya.
“kenapa sih muslim itu tidak boleh makan babi dan anjing?” tanya Xixi yang penasaran.
“yang saya tau di islam itu bukan masalah apa dan kenapa tapi tentang taat. Nurut tidak dengan perintah dan larang tuhan kita.” Jelas Bulan.
“ooo jadi sebenarnya tidak ada alasan pasti ya?” tanya Xixi.
“oh tidak. Jelas ada alasnnya kenapa kita di larang. Islam itu membahas semua masalah sampai ke akar – akarnya.”
“lalu alasannya apa?”
__ADS_1
Bulan pun menjelaskan alasan dan kenapa di larangnya.
“tapi ada benernya juga sih ya apa yang kamu katakana.” Ucap Xuxu menanggapi penjelasan Bulan.