
Dia itu suamiku part 31
Bulan yang masih mengingat lekuk tubuh Liwan. “istigfar Bulan dosa, tapi kok bagus ya. astagfirullah.” Ucap Bulan berulang kali berusaha melupakan apa yang dia lihat.
Sesampainya Bulan di kamar asrama.
“ini pesanan kalian.” Ucap Bulan meletakkan di atas meja.
“oke sudah saya transfer.” Ucap Xuxu.
“saya juga.” Ucap Xixi menujukkan bukti tranferannya.
“lah ini kebanyakan.” Bulan melihat notif uang masuk dari Xixi dan Xuxu.
“tidak apa, anggap ongkir.” Ucap Xuxu.
“ongkos tenaga.” Tambah Xixi.
“tapi kan se arah.” Jawab Bulan
“ya tidak apa – apa.” Ucap Xixi dan Xuxu bersamaan.
“terima kasih kalau begitu.” Bulan memeluk kedua temannya.
Keesokan harinya.
Bulan duduk di bangku kelas, menatap ponselnya. Qin yang baru datang terlihat wajahnya sedikit pucat. Bulan dari kejauhan memperhatikan.
“kenapa Qin tampak lesu dan pucat apa dia sakit.” Ucap Bulan dalam bahsa Indonesia.
Qin duduk di sebelah Bulan tanpa mengucapkan sepatah kata. Setelah duduk di letkakan kepalanya di atas meja.
“apa kamu sakit?’ tanya Bulan tampa sadar Bulan memegang kening Qin mengecek suhu tubuhnya. “kamu deman?”
“tidak apa hanya flu biasa.” Ucap Qin suaranya sedikit serak.
“tapi kamu sangat panas.” Ucap Bulan, tersadar kalau dia menyentuh Qin. (eh kok bisa saya menyentuhnya) batin Bulan menarik tangannya dari kening Qin. Belum sempat kembali di tarik ulang tangan Bulan oleh Qin.
“pinjam, tangan kamu terasa sejuk.” Ucap Qin meletakkan telapak tangan Bulan di bawah pipinya.
Seketika Bulan jantungnya berdekup kencang. (halah halah kenapa lagi ini?) bantin Bulan. Bulan berusaha menarik tangannya kembali namun di tahan oleh Qin.
“saya bilang pinjam sebentar.” Ucap Qin menahan tangan Bulan.
“tidak – tidak.” Bulan tetap manarik tanggannya. “kalau kamu demam saya antar kamu ke uks.” Bulan menarik tubuh Qin. Seketika satu kelas menatapnya.
“hehe.” Bulan tertawa kecil melihat semua mata tertuju kepadanya. “ayok.” Tarik Bulan, berusahan membopong tubuh Qin yang dua kali lebih besar darinya. Qin pun hanya menurut dan mengikuti langkah Bulan.
Semua murid memperhatikan Bulan yang berjalan membopong Qin.
“berani beraninya dia memeluk Qin.” Ucap seorang siswa.
“kelihatannya ada tertutup tapi sifatnya buruk.”
Bulan yang mendengar hanya mengabaikan.
“mau ke mana?” tanya Xuxu lirih melihat Bulan membopong Qin.
“ke UKS dia demam.” Ucap Bulan berjalan menuju luar Pintu.
“Bulan mau ke mana?” tanya Ma laoshi yang hendak masuk kelas.
“laoshi saya izin, Qin dia demam.” Ucap Bulan menunjukkan Qin yang ber wajah pucat.
Ma laoshi memegang kening Qin. “ya sudah iya.” Ucap Ma laoshi memberi izin.
__ADS_1
Bulan dan Qin berjalan meuju UKS kampus.
“antarkan saya pulang .” ucap Qin.
“ha kenapa?”
“saya tidak suka bau obat.” Ucap Qin. “tolong hubungi Wangzi, minta dia untuk menjemut saya.” Qin menyerahkan ponselnya kepada Bulan.
“tapi?”
“cepat.”
“baik.”
[hallo mr Wangzi. ini Bulan.]
[ehy ada apa Bulan kenapa kamu menggunakan nomor Qin.]
[Qin sedang sakit dan dia memita menjemputnya.]
[ah apa dia pergi ke sekolah? Sudah saya bilang kalau dia harus istriahat. Tunggu di depan kampus saya akan menjemputnya.]
“apa kamu masih bisa berjalan?” tanya Bulan.
“saya hanya demam tidak lumpuh.” Ucap Qin.
“oh.” Bulan memapah Qin berjalan sampai ke depan kampus.
“duduk sini.” Bulan membawa Qin di tempat duduk depan kampus untuk menunggu Wangzi datang.
“apa kau baik baik saja.” Tanya Bulan. “bagaimana kalau saya antar ke dokter?”
“tidak perlu saya hanya perlu istirahat.” Ucap Qin wajahnya yang sudah pucat tidak ada tenaga.
Tak lama Wangzi datang. Bulan dan Wangzi membopong Qin masuk ke dalam.
“eh tunggu.” Tahan Wangzi.
“ada apa?” tanya Bulan membalikkan badannya kembali menghampiri Wangzi.
“emm, saya masih ada urusan di kantor jadi mohon merepotkan mu menjaga Qin.” Ucap Wangzi meminta tolong.
“tapi saya ada kelas.” Ucap Bulan.
(memang berbeda, kebanyakan gadis akan langsung mau tapi dia menolak) batin Wangzi.
“saya mohon, saya tidak tega kalau meninggalkan Qin sendiri.” Wangzi memohon kepada Bulan.
“sudah saya bisa sendiri, jangan ganggu dia.” Sahut Qin yang sudah lemas suaranya tidak ada daya.
“saya mohon.” Wangzi yang masih memohon kepada Bulan.
Bulan berfikir sejenak.
“baiklah, sebentar saya mau meminta izin.” Ucap Bulan hendak menghubungi ma Laoshi.
“lakukan di apartemen Qin. Saya buru – buru.” Ucap Wangzi memintanya untuk segera masuk mobil.
Bulan pun langsung masuk mobil duduk di sebelah Qin. Bulan melihat wajah pucat Qin, hatinya mersa sakit. (apa dia kalau sakit akan seperti ini?) batin Bulan bertanya kepada dirinya.
“saya hanya sakit tidak akan mati.” Ucap Qin yang seperti menjawab pertanyaan Bulan. Qin mengatakannya karena Bulan terus menatapnya.
“kenapa Bos?” tanya Wangzi yang tidak begitu jelas mendengar ucapan Qin.
“sudah lihat saja jalan.” Ucap Qin. Kemudain Qin memejamkan matanya yang dari tadi terasa berat dan panas saat dia melihat.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen Qin. Wangzi dan Bulan meletakkan Qin di atas kasur kamar Qin. Terlihat Yoyo berada di kandangnya.
“maaf kali ini merepotkanmu untuk menjaga Qin, karena saat sakit saya khawatir jika dia sendirian. Dan saya sangat sibuk hari ini.” Ucap Wangzi.
“iya saya akan mencoba yang terbaik untuk menjaganya.” Ucap Bulan sambil menundukkan kepala.
Wangzi pun pergi, sebelum pergi dia menujukkan obat – obatan milik Qin.
“kalau ada yang kamu tidak tau tanyakan kepada Qin, atau hubungi nomor saya.” Wangzi memberikan kartu namanya.
“iya kak.” Balas Bulan, menerima kartu nama yang di berikan Wangzi.
Bulan melihat Wangzi keluar. Kemudian Bulan membawa kotak obat Qin ke kamar Qin.
Bulan mengecek suhu badan Qin dengan thermometer.
“ha 43.” Bulan terkejut melihat suhu tubuh Qin. Bulan kemudian segera keluar dan memasak air hangat untuk kompres Qin.
Di dapur apartemen Qin.
Bulan menghubungi mama untuk bertanya cara membuat bubur.
[Assalamualaikum ma.]
[waalaikum salam sayang ada apa]
[ma ajarin Bulan cara membuat bubur.]
[tumben, ada apa?]
[teman Bulan sakit ma, Bulan tidak tau mau masak apa]
Mama pun membimbing Bulan untuk membuat bubur.
Sambil menunggu bubur matang Bulan mengompres tubuh Qin.
(eleh eleh, saya menyentuh tubuh Qin) batin Bulan pikirannya kelayapan.
“kak..kakak jangan pergi kak.” Qin mengigau kembali. Memangil nama kakaknya berulang kali.
“Qin Qin bangun.” Bulan berusaha membangunkan Qin.
Qin tidak lagi mengigau.
“ha kakak. Sepengatuhan saya Qin anak tunggal.” Ucap Bulan Lirih. Sambil mengompres tubuh Qin, sekarang Bulan hanya focus untuk menurunkan suhu bdan Qin. Terlihat tubuh kekar Qin yang selalu di jaganya dengan olahraga dan makan teratur.
Bulan mengecek buburnya. Dan ternyata sudah matang, Bulan membawa semangkuk untuk Qin.
“Qin.” Bulan membangunkan Qin.
Sayup sayup mata Qin terbuka perlahan, sekarang suhu badannya sudah tidak terlalu tinggi namun masih termasuk demam.
“apa kamu bisa duduk?” tanya Bulan,
Qin menggelengkan kepala. Bulan pun membantu Qin untuk duduk, meletakkan bantal sebagai tumpuan punggung Qin.
“makan dulu sedikit.” Ucap Bulan hedak menyuapi Qin.
“saya bisa sendir.” Ucap Qin merebut mangkuk yang Bulan pegang dengan tangan gemetar.
Bulan yang melihatnya pun. “jangan sok kuat.” Bulan lalu menyuapi Qin. “buka mulutmu.” Bulan meyodorkan setenga sendok bubur ke depan mulut Qin.
“apa yang kau berikan kepada saya?” tanya Qin melihat bubur di hadpannya.
“ini Bubur.” Ucap Bulan langsung memaskukkan ke dalam mulut Qin sesaat dia selesai berbicara.
__ADS_1
“kamu!” Qin hendak memuntahkan bubur, dengan sergap tangan Bulan menutu mulut Qin. Qin pun terpaksa menelannya.