Dia Suami Cinaku

Dia Suami Cinaku
DIS PART 37


__ADS_3

Dia itu suamiku part 37


“Bulan.” Sapa wanita paruh baya Nyonya Yi.


“bibi Yi.” Sapa Bulan tersenyum kepada Nyonya Yi.


“siapa?” tanya Xuxu dan Xixi.


“ini bibi Yi yang pernah saya ceritakan waktu saya keluar jalan – jalan.” Ucap Bulan kepada Xuxu dan Xixi.


“bibi, ini kedua teman saya namanya Xuxu dan Xixi.”


“bibi Yi salam kenal.”


“salam kenal. Kalian juga berbelanja?”


“iya kami sedang membeli beberapa kebutuhan.”


“oh iya Bulan, kamu sudah berjanji mau mengunjungi bibi kan.” ucap Bibi yi kepada Bulan.


“iya.”


“sekarang saja, kita makan bersama, sekalian sama Xuxu dan Xixi.” Ucap Bibi yi.


“tapi.” Bulan yang hendak menolak. Namun Bibi yi menarik Bulan ke sebuah restoran di dekat sana.


“bibi, kita tidak bisa makan di sini.” Ucap Xixi.


“ha kenapa?” tanya Bibi yi.


“di sini Bulan tidak boleh makan sembarangan.” Ucap Xuxu.


“apa ada alergi?” tanya bibi Yi.


“bukan. Cuma Bulan harus makan makanan yang halal.” Jelas Bulan menengahi.


“ya ampun bibi Lupa. Kalau begitu kita makan di sebelah sana, seingat bibi di sana ada restoran halal.” Ucap Bibi. Kemudian mereka berjalan menuju tempat yang bibi Yi maksud.


“bagaimana kalau di sini.” Tanya bibi Yi menunjukkan ada lebel halal di sebelah pintu masuk.


Mereka bertiga saling menatap dan mengangguk.


“ayo masuk.” Ucap Bibi Yi.


“kalian pesan nanti bibi yang bayar.” Ucap Bibi Yi meminta buku menu kepada pelayan.


“gimana kalau kita pindah restoran lain? Ini terlalu mahal.” Ucap Bulan lirih berbisik kepada kedua temanya.


“ayo pesan jangan malu – malu.” Ucap Bibi Yi meminta ketiga gadis itu segera memesan.


“umm, bibi bagaimana kalau kita pindah ke tempat lain?” tanya Bulan.


“kenapa apa tidak cocok dengan selera kalian?” bibi Yi melihat menu yang ada. “ menurut Bibi ini enak semua?”


“harganya terlalu tinggi.” Ucap Bulan Lirih, namun Bibi Yi masih mendengar.


“owalah, tidak masalah. hari ini bibi yang bayar.” Ucap bibi tersenyum.


“benar?” tanya Xixi dan Xuxu kegirangan.


“tentu.” Jawab Bibi.


“kalian.” Ucap Bulan.


“bibi bilang bibi mau traktir.” Jawab Xuxu.


“cepat kamu pesan.” Ucap Xixi.


“Bulan kenapa diam saja. Kamu mau makan apa?” tanya Bibi Yi.


“ummm Bulan Bulan.” Bulan bingung mau memesan apa. Bahkan air putih saja harganya 20 yuan. (ini air putih pakai jus atau gimana, harganya kakak jus di dekat kampus.) batin Bulan yang hendak memesan air putih.


Setelah selesai memesan mereka pun makan. Bulan yang tidak tega memakan makanan yang mahal.

__ADS_1


“makan kenapa bengong?” tanya Xixi.


“sayang mau makan.” Ucap Bulan.


Xuxu dan Bibi Yi sudah mulai makan.


Setelah selesai makan. Bulan masih memikirkan harga makanan yang masuk ke dalam perutnya.


“pelayan bill.” Ucap Bibi Yi


“ini nyonya totalnya 700yuan.” Ucap pelayan tersebut.


Bulan dan kedua temannya hanya melongo mendengar jumlah total yang mereka habiskan. Sedangkan Bibi Yi langsung membayar tanpa komen.


“kapan – kapan kita makan bareng lagi ya, nanti Bibi yang traktir.” Ucap bibi cipika cipiki sama Bulan dan kedua temannya.


“kalau begitu sampai jumpa lagi ya.” ucap Bibi Yi meninggalkan Bulan dan teman – temannya.


“hehe tadi beneran ya?” tanya xixi.


“iya masih agak kaget.” Ucap Xuxu.


“sama, jadi ga enak, padahal baru dua kali bertemu.” Ucap Bulan.


“ya sudah lah, kan bibi yang menawarkan kita tidak memaksa.” Ucap Xixi.


Mereka kembali ke asrama setelah memastikan apa yang mereka butuhkan terbeli.


Di sis Lain Bibi Yi yang baru pulang di sambut suaminya.


“kenapa kamu terlihat bahagia?”


“iya tadi ketemu para gadis- gadis cantik. Jadi rindu masa muda.”


“jangan berharap jadi muda.” Suami Bibi Yi cemburu.


Di asrama Bulan dan Xixi sedang mengerjakan tugas. Sedangkan Xuxu berada di kamar mandi.


“oh iya tugas dari Ma laoshi sudah selesai?” tanya Xixi.


“punyaku belum. Entah Xuxu itu kalau di ajak ngerjain selalu bilangnya, nanti kalau mepet baru kerjaain.”


“biasalah Xuxu.”


“laaa iya capek aku jadinya.” Ucap Xixi sambil memegang keningnya merasakan pusing satu kelompok dengan Xuxu.


“apa kalian lagi ngomongin saya ya.” ucap Xuxu keluar dari kamar mandi.


“iya.” Ucap Xixi sambil mengejek.


“awas kamu ya.” Xuxu mengejek Xixi yang berlari.


Bulan tersenyum melihat kedua temannya kejar – kejaran kayak kucing dan tikus.


Di sisi lain Qin sedang bersama Wangzi.


“ayo lah boss, lihat ini banyak yang meminta kamu kembali.” Ucap Wangzi menyerahkan beberapa kontrak yang meninggalkan Qin.


“lalu?” tanya Qin yang sedang membaca bukunya.


“ini ladang uang kita.”


“ladang kamu kayaknya.”


“hehe iya, ayo lah boss.”


“tidak saya masih mau focus kuliah.”


“biasanya kamu bisa bekerja sambil kuliah kelas malam.”


“tauklah saya males ngeladenin kamu.” Qin pergi meninggalkan Wangzi di ruang tengah. Qin pergi ke kamarnya.


“yoyo sini sama papa.” Qin menggendong Yoyo ke pelukannya.

__ADS_1


“kalau begitu saya pergi dulu boss.” Ucap Wangzi kecewa pergi dengan lesu.


Beberapa hari kemudian.


Di kantor agensi Qin.


“bagaimana kamu bisa bujuk Qin?” tanya direktur.


“nihil, saya sudah beberapa hari namun dia tetap menolak.” Ucap Wangzi.


“coba kau bujuk sekali lagi. Banyak sutradara yang ingin bekerja sama dengan Qin, setelah skandalnya dengan Lihua usai.” Ucap direktur.


“mau bagaimana boss, dia bilang dia mau kembali setelah usai kuliahnya.” Ucap Wangzi lesu.


Di kampus.


Bulan yang terus menghindari Qin. Setiap dia ajak bicara Bulan selalu mencari alasan untuk menjauh.


Qin pun menyadari kalau ada yang aneh dengan Bulan.


“bulan.” Sapa Qin.


“iya.” Bulan menoleh ternyata yang memanggilnya adalah Qin. “ada apa?” Bulan berusaha bersikap biasa. (haduh apa lagi sih ini, saya sudah berusaha menjauh tapi malah dia yang mendekat.) batin Bulan.


“oh iya perasaanku akhir – akhir ini kamu menjauh dari ku.” Tanya Qin. “apa saya berbuat salah?”


“emmm tidak ada, Cuma saya sedang sibuk.” Ucap Bulan.


“kalau begitu hari ini?”


“saya ada urusan.”


“besok. Bagaimana?”


“besok saya ada janji.”


“sabtu pasti tidak ada kan, kan libur.” Ucap Qin langsung membuat janji. “sabtu saya tunggi di depan asrama kamu. Kita jalan.” Setelah mengatakan kalimat terakhirnya Qin langsung pergi meninggalkan Bulan.


“ha? Tapi tapi.” Bulan belum membuat alasan Qin sudah pergi.


“jangan Lupa.” Ucap Qin dari jauh.


“ah tidak suka.” Ucap Bulan murung. Dalam hatinya dia senang namun pikirannya menolak keras.


“ada apa?” tanya teman sekelasnya menepuk bahu Bulan.


“tidak pa.” jawab Bulan.


“cerita kalau ada masalh.” Ucap temannya.


“tidak saya lapar, kita beli makan yuk.”


“ayuk.”


Bulan dan temannya pun pergi mencari makanan.


Malam hari Qin yang sedang membaca kontrak yang di tinggalkan Wangzi di mejanya.


Dengan note ‘Boss baca dulu siapa tau kamu tertarik’


“dasar Wangzi.” ucap Qin menggeleng kepala.


“Qin…” suara mama Qin dari luar pintu.


“iya ma sebentra.” Qin berjalan membukakan pintu.


“tumben ma ada apa?” tanya Qin, tidak seperti biasanya mamanya berkunjung.


“tidak apa, papa ada rapat di gedung sebelah. Mama bosan jadi main ke sini sebentar.” Ucap mama masuk ke dalam. “ini sandal siapa?” tanya mama melihat sandal rumah berbentu kucing ukuran perempuan.


“bukan siapa—siapa ma.” Qin mengambil dan menyimpan sandal Bulan ke laci. Kemudian mengelurkan sandal baru buat mamanya.


Mamanya hanya tersenyum melihat tingkah putranya.

__ADS_1


“kamu menyembunyikan cewek ya?” tanya mama sambil berjalan menuju ruang tengah.


“tidak ma, coba saja cari.” Ucap Qin yakin dia tidak menyembunyikan siapa – siapa di dalam rumahnya.


__ADS_2