
Dia itu suamiku part 34
Bulan menggeleng nafas, hari masih sore tapi tubuhnya sudah memintanya untuk tidur lagi, padahal sepagi penuh dia telah tidur, tapi mau bagaimana lagi. Beginilah kalau Bulan sakit mau tidak mau dia harus tidur seharian penuh untuk memulihkan dirinya.
“saya mau istirahat lagi.” Ucap Bulan menata selimutnya ke tubuhnya.
“kamu beneran tidak perlu ke rumah sakit?” tanya Xuxu.
“tidak, saya Cuma butuh istirahat saja.” Jawab Bulan, kemudian Bulan tidur.
Di sisi lain Qin yang masih memikirkan ke adaan Bulan.
(apa dia baik- baik saja? Apa saya menularnya?) batin Qin.
“ngelamun apa kamu.” Tanya mama Qin melihat putranya tidak focus.
“tidak apa ma.” Jawab Qin kembali ke kesadarannya.
“pasti dia memikirkan pekerjaannya.” Sahut papa yang sedang mengambil lauk untuk mama.
“tidak pa.” jawab Qin tersenyum
Qin dan papa mamanya sedang makan di luar, di restoran acara setiap bulan.
Keluarga Yi karena Qin sangat sibuk menjadi artis. Mama dan papa memintanya untuk selalu menyisihkan waktu satu bulan minimal satu kali untuk makan bersama di luar.
“lan, Bulan.” Panggil Xuxu memastikan keadaan Bulan.
“iya.” Bulan terbangun karena Xuxu.
“bagaimana keadaan kamu?” tanya Xuxu mengecek suhu tubuh Bulan.
“cukup lumayan mendingan. Kayaknya besok udah baikan.” Ucap Bulan sambil meminum air mineral.
“syukurlah kalau begitu. Kalau besok masih demam, kita ke rumah sakit ya.” ucap Xuxu.
“iyaa.” Kemudian Bulan membaringkan tubuhnya kembali. Xuxu membenarkan selimut Bulan.
“bagiamana? Keadaannya?.” tanya Xixi melihat Xuxu kembali.
“udah mendingan, demamnya udah turun.” Jawab Xuxu.
“lega kalau gitu. Habis dia kalau sakit diam saja, tidak bergerak.” Ucap Xixi khawatir.
“iya.
Keesokan paginya. Bulan yang sudah membaik sudah siap untuk berangkat ke kampus bersama Xuxu dan Xixi.
“beneran udah enakan?’ tanya Xixi mengecek suhu Bulan dengan tangannya.
“udah.” Jawab Bulan menarik turun tangan Xixi dari keningnya.
“bener tidak mau istirahat lagi?” tanya Xuxu.
“udah kok, saya udah sehat.” Ucap Bulan memegang kedua tangan temannya.
Bulan, Xuxu dan Xixi berangkat pergi ke kampus bersama.
“Xixi.” Panggil Chen dari kejauhan berjalan menghampiri Xixi sambil memberikan bingkisan. “ini cemilan kelas.”
__ADS_1
“cieeeee.” Ucap Bulan dan Xuxu.
“apa an sih kalian.” Ucap Xixi malu. “makasih kak Chen.”’ Xixi menerima bingkisan yang di berikan Chen.
“oh iya kalau begitu saya pergi dulu ya, zaijian.” Ucap Chen meninggalkan mereka bertiga.
“wah pengen deh setiap pagi di bawain makanan.” Ucap Xuxu. Melihat Xixi yang tersenyum senyum meringis bahagia.
“makanya punya pacar.” Jawab Xixi.
“kalian udah jadian?” tanya Bulan.
“ummm.” Jawab Xixi.
“sejak kapan.” Xuxu terkejut karena baru mendengar berita.
“tadi malam.” Jawab Xixi.
“OMG…. Makan makan.” Ucap Xuxu.
“udah ayo kita pergi ke kelas.” Xixi menarik Bulan dan Xuxu untuk berjalan.
Di sisi lain Wardah yang sedang bersama Nana.
“ehh lihat ust Soleh.” Ucap Wardah menunjukkan postingan ust Soleh kepada Nana.
“ah liat siapa itu.” Ucap Nana menunjuk seorang gadis bercadar di belakang ust Soleh.
“lah, siapa. Temennya kalik.” Ucap Wardah mengelak.
“tapi lihat kayaknya lebih dari temen deh.” Ucap Nana menggoda.
“ah kamu bikin Bad mood.” Wardah langsung meletakkan ponselnya di atas meja.
(tumben dia berangkat pagi. Biasanya mepet jam kelas.) batin Bulan. Bulan berjalan menuju bangku tempat duduknya.
“Zao.” Sapa Qin mengucapkan selamat pagi kepada Bulan.
“Zao.” Jawab Bulan yang juga membalas sapaan Qin.
“bagaimana? Apa sudah mendingan, saya dengar kamu kemarin sakit?” tanya Qin.
“sudah mendingan.” Jawab Bulan sambil tersenyum.
“ini.” Qin memberikan sekotak sarang burung kepada Bulan.
“ini apa?”
“ini sarang burung, kata mama baik untuk imun.”
“tapi….”
“tenang sudah halal kok.” Ucap Qin menujukkan lebel halal yang ada di kemasan.
“tapi…” Bulan hendak menolak pemberian Qin.
“buat kamu. Saya tidak suka ini.” Ucap Qin memaksa Bulan untuk menerimanya.
“oh terima kasih.” Ucap Bulan menerima. (mimpi apa?) batin Bulan yang bahagia. (ini Qin bias saya memberikn barang kepada saya.) Bulan berusaha menahan senyum bahagianya.
__ADS_1
Qin mantap Bulan, Bulan yang merasa ada sesuatu kemudian bertanya kepada Qin.
“kenapa apa ada sesuatu?” tanya Bulan.
“apa kau tidak mau memakannya di hadapan saya?” tanya Qin menunjuk ke makanan yang di berikan kepada Bulan.
“apa kau mau saya memakannya?”
“tentu saja. Ini produk yang saya iklankan, jadi saya meminta pendapat kamu.” Tanya Qin.
“kamu yang mengiklankan, kenapa meminta pendapat saya?”
“cepat jangan banyak bicara.” Ucap Qin meminta Bulan segera memakannya.
“oh.” Bulan kemudian membuka kemasan yang dari botol kaca dengan tutup lempengan, dia kesusahan untuk membukanya.
“biar saya.” Qin meraih botol dari tangan Bulan kemudian dia membukakan untuk Bulan.
(apa ini? Apa maksudnya. Tolong jangan buat saya salah faham) batin Bulan menerima botol yang penutupnya sudah di buka oleh Qin.
“kenapa bengong, coba lah.” Ucap Qin memegang tangan Bulan.
Bulan terkaget, otomatis menarik tangannya yang di sentuhan dengan Qin tadi.
“oh maaf.” Ucap Qin menarik kembali tangannya. “bagaimana?” tanya Qin.”
“umm enak.” Bulan meminum seteguk.
“mana coba.” Qin meraih botol dari tangan Bulan kemudian dia minum dari botol bekas Bulan,
“eh itu…. Bekas saya.” Ucap Bulan yang kaget karena tiba – tiba Qin mengambil dan langsung meminumnya.
“iya rasanya lumayan.” Ucap Qin menghabiskan tegukan terakhir.
“kau bilang kau tidak menyukainya.” Tanya Bulan melihat Qin yang merasa aneh dengan sikap biasnya ini.
“iya tadi karena saya tidak tau rasanya jadi saya tidak suka. Setelah merasakannya rasanya lumayan.” Ucap Qin melihat isi botol yang sudah habis di tangannya.
“tapi itu….” Bulan berusaha menjelaskan kalau itu tadi bekas dia minum. Namun Qin tidak menghiraukan.
“selamat pagi anak – anak.” Ucap Dosen yang baru saja masuk kelas.
“pagi laoshi.” Jawab anak- anak serentak.
Sedangkan Bulan masih terdiam membeku melihat apa yang terjadi di hadapannya. (apa saya masih tidur, apa pikiran saya kacau karena demam apa ini mimpi) Bulan mencubit pipinya. “aaaauh.” Dia merasakan sakit. “ini bukan mimpi.” Ucap Bulan lirih.
“baik anak – anak kita lanjutkan pembelajaran.” Laoshi pun menerangkan.
“eh nanti pulang kelas kita lanjutkan tugas dari Ma laoshi.” Bisik Qin kepada Bulan.
“ummm.” Jawan Bulan mengangguk. Dia masih berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Orang yang dia kagumi selama ini hari ini detik ini dia minum bekas bibirnya.
Setelah pelajaran usai.
“Xu, Xi, saya mau melanjutkan mengerjakan tugas dengan Qin.” Ucap Bulan berpamitan.
“iya hati – hati.” Jawab Xixi.
Bulan berjalan mengikuti Qin dari belakang, Xuxu dan Xixi hanya menatap kepergian temannya itu.
__ADS_1
“eh tumben sih.” Tanya Xuxu.
“tumben kenapa?” tanya Xixi.