
Dia itu suamiku part 40
“kamu kenapa Qin.” Tanya Bulan melihat Qin yang hampir pingsan.
“saya sedikit pusing.” Ucap Qin memegang kepalanya.
“Qin jangan menakuti ku.” Ucap Bulan menatap Qin.
Wangzi yang melihat langsung turun dan berlari ke arah Qin.
“bosss.” Panggil Wangzi. “bantu saya membawa keluar.” Ucap Wangzi meminta Bulan untuk membantu memapah Qin ke luar.
Bulan dan Wangzi membawa Qin ke kursi taman bermain di bawah pohon yang sejuk.
“Qin minum.” Ucap Chen membelikan air mineral.
“terima kasih.” Qin memegang minuman yang di berikan Chen. Bulan meminta dan membukakan tutup botol kemudian menyuapi Qin.
“minum lah sedikit.” Ucap Bulan. Qin meneguk beberapa teguk.
“bagaimana perasaan kamu?” tanya Xixi.
“lebih baik.” Ucap Qin.
“kalau begitu lebih baik kita pulang.” Ucap Bulan meminta wangzi segera mengambil mobil.
Xuxu yang hendak membantu Bulan memapah Qin di tolak olehnya.
“saya bisa.” Ucap Qin.
“saya saja.” Ucap Chen yang sedikit faham dengan Qin.
“oh.” Ucap Xuxu kemudian dia berjalan bersama Xixi. Sedangkan Qin di papah oleh Bulan dan Chen.
Setelah mengantar Bulan dan Xixi ke asrama, Wangzi mengantar Qin ke rumah sakit.
“biar saya pulang.” Ucap Qin kepada Wangzi.
“tidak boss, kali ini kau harus ke rumah sakit. Kau beberapa kali sudah tidak datang di terapi. Dan kali ini penyakitmu kambuh.” Ucap Wangzi. yang kemudian menghubungi orang tua Qin
Di rumah sakit.
“bagaimana keadaan Qin?” tanya mama Qin yang baru datang bersama papanya.
“sedang di tangani dokter.” Jawab Wangzi.
“bagaimana bisa dia kambuh lagi, bukannya setiap bulan dia selalu kontrol?” tanya mama Qin. “dan juga selalu ada obat, bagaimana bisa ini terjadi.” Mama Qin menangis di pelukan papa.
“paman bibi, sebenarnya beberapa bulan ini Qin tidak pergi kontrol, karena dia merasa keadaannya sudah membaik.” Ucap Wangzi merasa bersalah.
“bagaimana bisa. Dokter belum menyatakan psikologisnya sembuh.” Ucap mama Qin yang masih menangis.
“maaf.” Ucap Wangzi.
“sudah ma, sekarang Qin sudah di tangani dokter dan juga bukan salah Wangzi.” ucap papa menenangkan mama.
Si sisi lain di asrama. Bulan yang sedari tadi memikirkan Qin mengkhawatirkan keadaan biasnya.
“jangan mundar mandir kamu membuat ku pusing.” Ucap Xixi.
“huffft….” Ucap Bulan duduk.
__ADS_1
“apa taung Wangzi belum memberi tau keadaan Qin?” tanya Xuxu.
Bulan hanya menggelengkan kepala mengisyaratkan belum.
“tenang dia baik baik saja pasti.” Ucap Xixi menenangkan.
“seharusnya saya tau kalau dia akan seperti ini.” Ucap Bulan menyesalinya.
Bulan teringat kalau Qin pernah bercerita tentang kecelakaannya dengan kakaknya kemungkinan itu yang menyebabkan Qin menjadi seperti ini. Karena di permainan bombom car selalu saling menabrak di anatar para pengunjung. Bulan berulang kali mengecek ponselnya menunggu kabar dari Wangzi.
Ponsel Bulan berdering.
[hallo ] dalam bahasa mandarin.
[Assalamualaikum nak] ternyata telfon dari papa Bulan.
[Waalaikum salam pa]
[kamu ini, beru beberapa bulan di sana, sudah lupa salam.] cetus papa di telfon.
[bukan pa, ini Bulan lagi nunggu kabar dari teman Bulan]
[ada apa tema kamu?]
[dia sakit tiba – tiba dan Bulan Khawatir]
[semoga lekas sembuh teman kamu nak…]
[aamiin pa, oh iya papa ada apa telfon Bulan]
[tidak ada, Cuma mau bertanya kamu rencana kapan pulang?]
[umm mungkin 5 bulan lagi pa.]
[iya pa]
[ya sudah kalau begitu papa mau beri makan adik kamu dulu]
[paaaa]
[apa sayang]
[tidak ada]
[kamu kebiasaan, ya sudah Assalamualaikum]
[waalaikum salam pa]
“siapa?” tanya Xuxu.
“papaku.” Jawab Bulan.
Di rumah sakit. Qin yang sudah di pindah ke ruang kamar VIP.
“dok bagaimana keadaan nya?” tanya papa kepada dokter.
“dia hanya kelelahan.” Ucap dokter. “dan juga apa dia punya trauma?”
“iya dok.” Jawab papa. “ada apa?”
“ada gejala. Tapi tidak parah, hanya mungkin segera periksa ke sana.” Ucap Dokter kemudian pergi setelah menjelaskan keadaan Qin.
__ADS_1
“terima kasih dok.” Ucap papa.
Beberapa hari kemudian setelah Qin keluar dari rumah sakit, mama meminta Qin untuk di rumah beberapa hari sampai keadaannya benar – benar pulih.
“untuk beberapa hari ini sampai keadaan kamu normal mama minta kamu tinggal di rumah.” ucap mama yang sedang membereskan pakaian milik Qin.
“iya ma.” Ucap Qin sambil mengangguk faham.
“dan juga besok kamu mama antar ke dokter Li, untuk pemeriksaan kamu.”
“tapi ma..” tolak Qin.
“tapi apa, kata Wangzi kamu sudah tidak pernah cek ke dokter Li.”
“dasar Wangzi mulut ember.” Ucap Qin lirih.
“apa yang kau bilang?” tanya mama yang tidak mendengar apa yang Qin katakan. Hanya melihat putranya bergeming sendiri.
“tidak apa ma, Qin menurut apa yang mama katakana.”
“begitu baru anak mama.”
Qin membalas dengan senyuman.
“sudah selesai, apa masih ada yang harus mama bereskan?” tanya mama kepada Qin.
“sudah ma, sepertinya tidak perlu, adapun kalau ketinggalan biar Wangzi yang mengurusnya.” Ucap Qin sambil memasukkan Yoyo kedalam tas perginya. “yoyo kit tinggal di rumah nenek ya.” ucap Qin kepada yoyo sambil membelainya.
“baiklah apa kalian sudah siap semua.” Ucap papa menghampiri mama dan Qin berada di kamar Qin.
“udah pa.” ucap mama menyerahkan koper milik Qin.
“biar Qin yang bawa pa.” Qin meraih koper miliknya.
“biar papa aja. kamu kan lag sakit.” Ucap mama. “ ini pa.” mama menyerahkan kepada papa.
“baiklah sekarang kita pulang.” Papa membawa koper Qin.
Di sisi lain Bulan yang sibuk dengan ponselnya sedang chatting dengan Kiss.
Yue : [menurut kamu kalau menjenguk orang sakit tapi tidak sakit bawa apa ya?]
Kiss : [maksud kamu sakit tidak sakit?]
Yue : [ iya sakit tapi tidak terluka.]
Kiss : [bisa di jelaskan lebih rinci?]
Yue : [saya punya teman beberapa hari lalu saya bermain dengan teman, saya tidak menyangka teman saya memiliki trauma namun karena dia ingin bermain akhirnya memaksakan hingga dia pingsan dan di rawat di rumah sakit.]
Kiss [ :) tidak perlu cemas, terkadang orang sakit itu hanya butuh di jenguk dan di pedulikan, bawalah sesuatu yang kamu mampu, jangan terlalu mengikuti gaya dengan membawa sesuatu yang mahal. Memberi bukan lah tentang barang tapi tentang bagaimana seseorang itu memberikannya dengan hati tulusnya]
Bulan membaca pesan Kiss langsung faham apa yang harus dia lakukan setelah ini.
“kalau begitu, besok saya membuat masakan saja untuk Qin.” Ucap Bulan sambil tersenyum.
“eh hari ini Qin tidak datang.” Bisik salah satu teman.
“iya apa dia sakit lagi?”
“entahlah semoga saja dia baik – baik saja.”
__ADS_1
Bulan yang mendengar ucapan teman kelasnya dia mersa bersalah karena apa yang dia lakukan. (jadi selama ini saya hanya pengagum, saya tidak mengetahui apa apa tentangnya.) batin Bulan.