
Dia itu suamiku part 7
Luoyang cina.
“老大你今天工作假。 你要干什么?
lao da. Jintian wo ni gong zui jia. Ni yao gan shen me? / boss. Hari ini libur dan kamu tidak ada acar. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Wangzi.
“如何我们玩滑板。 这很好。
ru he wo men wan hua ban? Hen hao./ bagaimana kalau hari ini kita main skateboard. Ide bagus.” Ucap Qin menjawab pertenyaannya sendiri.
“老大可是我只看你啊。 我没有去玩。
keshi laoda. Wo zhi kan ni. Wo meyou qu wan. / boss. Tapi saya Cuma menemani tidak ikut bermain.” Ucap Wangzi.
Qin menetap Wangzi.
“你记得。。。
lao da ji de ba? … boss. Ingat tidak?...” Wangzi menceritakan kejian yang lalu. Saat Wangzi mengikuti Qin bermain sketboard, karena dia tidak bisa main. Akhirnya dia terjatuh dan tulang lengannya patah dan harus di rawat selama satu bulan.
“好了好了。。
hao le . / baiklah.” Ucap Qin.
WangZi menyiapkan peralatan yang akan di bawa.
“好的老大。
hao le / sudah boss.” Ucap Wangzi.
“我们去吧 意义 来去和爸爸。
wo men qu ba! Yoyo lai qu he baba. / kita berangkat. Yoyo sini ikut papa.” Ucap Qin mengendong Yoyo yang sudah di dandani pakai baju cuple dengan Qin.
Di dalam mobil.
“老大他是只猫。 你很很喜欢他。
lao da ta shi mao. Ni hen hen xi huan ta. / boss. Dia itu Cuma kucing bisa- bisanya kamu sesayang itu.” Ucap Wangzi.
“你别说。 你 开车。
ni bie shuo . ni kai che. / diam lah. Menyetir yang benar saja kamu.” Ucap Qin menatap Wangzi.
“好的。
hao de. / oke boss.” Jawab Wangzi melihat tatapan Qin yang dingin.
Di Indonesia Jawa.
“Assalamualaikum” salam Bulan yang baru pulang.
“Waalaikum salam warahmatullah hiwabarokatu.” Jawab Mama yang sedang membuat kue di ruang makan.
“halo tante.” Sapa Nana.
“loh ini siapa Bulan ?” tanya mama. Mengelap tangannya lalu menghampiri Bulan dan temannya.
“kenalin ma ini Nana temen kampus Bulan. Dan Nana ini mama saya .” ucap Bulan memperkenalkan.
Nana menjaba tangan mama Bulan. Mama Bulan yang sangat ramah menyambut teman Bulan.
“owalah sini.” Ucap mama Bulan sambil cipika cipiki.
“tumben bawa temen.” Ucap Vando yang baru keluar dari dapur membawa segelas air.
“suka - suka lah.” Jawab Bulan membuang muka.
“kalian ini selalu. Tidak malu apa ada tamu.” Tegur mama.
“ma Bulan sama Nana ke kamar dulu ya.” Ucap Bulan ke pada mamanya lalu dia mengajak Nana ke kamarnya.
“siapa ma?” tanya Vando ke pada mamanya.
“Nana namanya temennya Bulan.” Jawab mama melanjutkan pekerjaan membuat kue.
Di kamar Mawar.
“tadi?” tanya Nana.
“itu yang namanya Vando. Kakak saya.” Jawab Bulan.
“oh iya kalau mau ganti baju?” tanya Bulan.
“tidak perlu pinjam hijab saja.” Jawab Nana.
“oke sebentar. Ini kamu pilih sendiri mau yang mana?” ucap Bulan membuka lemarinya. Menujukkan hijabnya.
“yang ini aja.” Nana mengambil hijab warna cream yang senada dengan pakaiannya.
“kita istirahat. Nanti habis sholat duhur baru kita berangkat.” Ucap Bulan
“oke.” Jawab Nana.
“sebentar saya carikan camilan.” Ucap Bulan segera keluar.
“tidak perlu.” Tolak Nana.
“ini buatan mama. Enak banget sebentar ya.” Bulan turun ke ruang makan. Untuk meminta kue yang mamanya buat.
“ma.. minta banyak.” Ucap Bulan sedikit merengek.
__ADS_1
“itu di jual.” Tolak Vando yang sedang membantu mamanya.
“apa sih tidak di ajak kok ikut – ikut .” sewot Bulan kepada kakaknya.
“sudah – sudah. Kamu ini juga sama adikmu sendiri selalu cari rebut.” Ucap mama menyiapkan kue di piring.
“siap suruh punya adik resek.” Ucap Vando sambil mengejek Bulan.
“ma.. kakak.” Bulan mengaduk.
“sudah – sudah. Ini bawa ke atas. Jangan dengerin kakakmu.” Ucap Mama memberikn sepiring kue kepada Bulan.
“terimaksih ma.” Ucap Bulan.
“weeeek.” Ejek Bulan kepada Vando sebelum pergi.
“hhhhih awas nanti.” Ucap Vando sedikit geram namun tetap dengan tertawa alis bercanda.
Tok tok tok. Bulan mengetuk pintu kamarnya. Lalu masuk. Kebiasaan yang papanya ajarkan. Kalau mau masuk kemanapun harus permisi dulu.
“ini kue buatan mama. Di jamin enak.” Ucap Bulan sambil memebrikan ke pada Nana.
“uuum. Iya enak. Buat di jual?” tanya Nana.
“iya kalau ada pesanan.” Jawab Bulan duduk dan meletakkan kuenya di meja.
“berarti Cuma bikin waktu ada pesanan aja?” tanya Nana.
“iya.” Jawab Bulan.
Nana dan Bulan pun beristirahat sambil menunggu azan Duhur. Karena hari ini tidak ada kelas jadi pulang lebih awal. Biasanya siang atau sore.
Luoyng cina.
Qin dan Wangzi sampai di skatepark arean indoor karena Qin tidak bisa bermain di outdoor sebab bisa – bisa dia di krumuni fans.
“好了。
hao le . / sudah bos. Sudah pesan dan silakan.” Ucap Wangzi setelah login dengan kartu angota.
“请。
qing. / silakan tuan.” Ucap penjaga skatepark.
“他是亲。 对他是亲。
ta shi qin. Dui a ta shi qin. / eh itu qin kan. iya itu qin.” Ucap beberapa penjaga yang mengetahui Qin.
Qin dan Wangzi pun masuk ke dalam.
Qin mengeluarkan perlengkapannya.
“老大我等这儿。
Qin mulai dengan pemanasan. Lalu dia mulai mengayukna skateboardnya dengan melaju setelah keseimbangannya terjaga dia mulai ke trik melompat atau di sebut dengan Ollie. Percobaan pertama Qin gagal dia terjatuh,
“aaaaaah..” keluh Qin.
“老大你没事吧? 小心。
lao da ni mei shi ba? / boss kamu tidak apa – apa kan? apapun asal jangan lukai wajahmu.” Triak Wangzi dari jauh memperingatkan Qin supaya menjaga ketampanannya.
“没事。
mei shi . / wajahku tak seberhaga nyawaku.” Jawab Qin.
“小心你的脸。Xiao xing ni de lian. / tapi wajahmu segalanya.” Tambah Wangzi.
Setelah berulang kali Ollie Qin lalu melakukan kickflip.
Bruuuk suara Qin jatuh,
Wangzi melihat langsung menghampiri Qin.
“老大你的脸颊没事吧?
lao da. / bossss.” Triak Wangzi dari jauh lalu mendekat.
“没事只一点儿 病。
mei shi. / tidak apa – apa hanya gores sedikit.” Qin melihat lengannya sedikit gores. Untungnya siku, lutut dan kepalanya ada pelindung.
“老大没事小心lao da. Mei shi xiao xing a. / boss. Asal tidak wajamu. Kurasa aman.” Ucap Wangzi memastikan wajah Qin baik – baik saja.
“没事 mei shi. / sudah – sudah.” Qin melanjutkan permainnya. Dan Wangzi kembali ke tempat duduknya.
Setelah melakukan kickfip beberapa kali Qin mencoba melakukan Helflip. Wangzi melihat dengan panic takut Qin terjatuh lagi. Tapi kali ini helflipnya sukses. Wangzi menatap lega.
Qin menarik nafas dalam – dalam lalu untuk melakukan airwalk grab. Sekali trik mendarat dengan bangus.
Bruuuak. Suara Qin terjatuh lagi. Kali ini pipinya sedikit tergores. Wangzi menghampiri Qin.
“老大你的脸颊没事吧?
lao da ni de lian jia. Mei shi ba? bos kamu tidak apa – apa kan? pipi kananmu.” Wangzi segera mengambil perlengkapan P3K.
“没事只一点儿 病。
tidak apa Cuma goresan saja.” Ucap Qin menahan perih.
Wangzi langsung mengobati pipi kanan Qin.
“痛吗?
__ADS_1
tong ma ? / sakit?” tanya Wangzi.
“不痛
bu tong / tidak.” Jawab Qin.
“痛不痛
tong bu tong ? / sakit tidak.” Wangzi menekan luka Qin.
“痛痛痛
tong tong tong / sakit – sakit.” Jawab Qin merasa kecakita karena lukannya di tekan.
Indonesia Jawa .
Setelah selesai sholat Duhur. Bulan dan Nana berangkat menjemput Wardah.
“ma bulan berangkat dulu ya.” Pamit Bulan
“Assalamualaikum” ucap Bulan dan Nana berpamitan.
“waalaikum salam warahmatulla hiwabarokat. Kalau naik motor jangan ngebut Bulan” Jawab mama.
“iya ma.” Teriak Bulan menjawab peringatan mamanya.
Bulan dan Nana menjemput Wardah. Nana membawa motornya sendiri.
“udah siap?” tanya Bulan kepada Wardah yang sudah menunggunya.
“uda.” Jawab Wardah.
“ikut saya saja.” Ucap Nana meminta Wardah untuk dengannya saja.
“baiklah.” Jawab Wardah berjalan menuju motor Nana.
“Bulan jangan ngebut nanti Saya laporin tante.” Ucap Wardah.
“kenapa sih.?” Tanya Nana.
“saya kasih tau Bulan itu kalau bawa motor sendiri tanpa bonceng orang. Dia merasa sudah kayak pembalap F1. Dan semua tikunga dia bikin lurus.” Ucap Wardah menjelakan kepada Nana.
“horo betul. Mankannya setiap pulang dan datang kamu yang bonceng.” Ucap Nana.
“iya karena saya takut di bonceng Bulan. Pertama kali dia bisa naik motor saya di ajak keliling komplek. Dan akhirnya kita jatuh.” Cerita Wardah menceritakan masa lalu.
*Kembali ke masa lalu. Masa Bulan baru belajar naik motor. Saat itu mereka baru masuk SMP.
“Wardah ayok kita nonton bola di lapangan kompleks.” Tawar Bulan.
“tidak ah. Jauh dan kalu jalan kaki capek.” Jawab Wardah.
“pakek motor kak Vando. Saya baru belajar.” Ucap Bulan.
Saat itu Wardah sebenarnya sudah bisa naik motor tapi dia belum di izinkan oleh orang tuanya.
“baiklah kalau begitu.” Jawab Wardah menyetujui.
Baru keluar gang. Brraaak suara motor yang Bulan dan Wardah kendarai masuk ke got. Para tetangganya menolong.
Kemudian membawa Bulan dan Wardah kembali ke rumah. untung saja Wardah tidak terluka parah Cuma goresan sedikit di lengannya. Tapi Bulan langannya patah.
Di rumah Bulan
“kamu ini.” Ucapan marah Vando.
Bulan hanya menahan sakit dan tangisnya.
“ya Alloh sayang kenapa bisa?” ucap mama meratapi putrinya yang masuk got.
Bulan hanya menahan supaya tidak menangis.
“terima kasih pak sudah mengantar anak saya.” Ucap papa yang langsung membawa Bulan ke dalam.
“rasain tu. Siapa suruh tidak izin.” Ucap Vando sedikit kesal. Karena motor barunya di masukin got oleh Bulan.
“sudah kamu ini adiknya celaka malah di marahin.” Ucap papa menenagkan.
Huuuuaaa….. huuuuaaaaa….. huuuuaaaa… suara tangisan Bulan yang dia tahan. Awalya dia ingin menahan meski sakit namun karena di marahi oleh Vando dia merasa sedih.
“sayang sakit ya? Pa bawa ke dokter aja.” tanya mama.
“bawa aja ma. Biar di potong sekalian tangannya.” Ucap Vando.
“ih kamu ini.” Tegur papa.
Tangis Bulan semakin kencang karena takut.
Setelah itu Bulan di perban karena patah tulannya hampir dua bulan.
Kembali ke masa sekarang.
“gila terus begitu dia tidak kapok?” tanya Nana.
“boro – boro kapok. Dia malah makin menjadi.” Ucap Wardah geleng – geleng kepala.
Sesampainnya di masjid tempat kajian.
“Assalamualaikum Aira.” Panggil Bulan.
“waalaikum salam kalian. Sini sini.” Ucap Aira menyambut temannya.
“Nana kalau pakek hijab cakep ya.” Puji Aira.
__ADS_1
“iya. Saya tadi juga terkejut melihat kecantikannya. ” Tambah Wardah.