Dia Suami Cinaku

Dia Suami Cinaku
DIS PART 15


__ADS_3

Dia itu suamiku part 15


Keesokan paginya.


Bulan seperti biasa sarapan dengan keluarganya. Setelah sarapan Bulan mengeluarkan makan yang dia letakkan di kulkas frizer.


“kakak mau dong.” Ucap Vando yang tiba – tiba datang. Vando fikir Bulan hendak mengoreng sosis.


“ini bukan mau di makan.” Ucap Bulan.


“terus?”


“mau Bulan bawa ke pantai.”


“kapan?”


“nanti siang?”


“sama siapa aja?”


“haduh kakak. Kenapa tanya mulu si mau ikut?”


“kan Cuma tanya kalik Lan.” Cetus Vando.


“mau ke pantai sama temen - temen Bulan. Wardah, Nana dan Aira.” Jelas Bulan.


“owalah.” Ucap Kakak lalu pergi.


“eh ni orang gitu aja.” keluh Bulan seperti di abaikan.


Di siang hari Wardah dan Bulan terlah sampai di rumah Aira. Selang tidak lama Nana juga datang.


“hello.” Sapa Nana.


“Waalaikumsalam.” Ucap Bulan dan Wardah.


“oh iya. Assalamualaikum.” Ucap Nana lupa mengucap salam.


“ayo masuk dulu.” Nana mempersilakan temannya masuk ke dalam rumah.


“orang tua kamu?” tanya Bulan.


“mereka liburan dari jumaat kemaren.” Ucap Nana.


“kamu tidak ikut?” tanya Wardah.


“mana ada saya sudah besar. Dan mereka berencana memberi saya adik kecil.” Ucap Nana. Sambil menyajikan minuman. “ ini di minum dulu.”


“lumayan adik baru hehe.” Ucap Bulan.


“oh lalu kita berangkat kapan?” tanya Wardah.


“sebentar paman kecilku sebentar lagi sampai.” Ucap Nana melihat jam yang di tangan kirinya.


“rumah paman kamu jauh?” tanya Aira.


“tidak Cuma dia tadi ada keperluan katanya.” Ucap nana menunggu paman kecilnya datang.


“Assalamualaikum .” salam dari seorang pria yang baru datang.


“Waalaikum salam warahmatullah hiwabarokatu.” Jawab semuanya yang ada di ruang tamu.


“paman kecil. Udah datang. Sini – sini.” Ucap Nana. Menarik paman kecilnya masuk.


“kenalin ini paman kecilku namanya Aprilian.” Ucap nana memeprkenalkan. “ paman ini temenku. Yang ini Bulan, yang itu Aira dan itu Wardah.” Tambah Nana menunjuk satu persatu temannya.


“temen kamu yang ikut ini saja?” tanya Aprilian.


“iya.” Jawab Nana.


“oke lah. Oh iya paman tadi juga ajak temen paman sebentar dia masih nata barang bawaan.” Ucap Aprilian menunggu temannya datang.


“udah beres semuanya.” Ucap seorang pria yang baru datang ternyata itu Putra.


“sudah tidak ada yang ketinggalan?” tanya Aprilain.


“tata?” panggil Bulan.

__ADS_1


“kak Putra.” Panggil Wardah di susul Aira dan Nana.


“loh kalian kenal?” tanya Aprilian.


“kenal kak.” Jawab Bulan dan kawan – kawannya.


“kalau sudah kenal kita langsung berangkat nanti ngobrol di jalan aja.” ucap Aprilian mengajak semua segera masuk mobil.


Mereka pun masuk ke dalam mobil. Aprilian menyalakan mesin mobil dan menjalankan menuju pantai.


“eh kita panggil paman kamu kakak atau paman?” Bisik Bulan.


“paman mau di panggil kaka tau paman?” tanya Nana blak – blakan.


“mau panggil kayak Nana paman kecil juga boleh. Kakak juga boleh.” Jawab Aprilian.


“tu udah dengar kan.” ucap Nana ke pada Bulan.


“kamu ah malu saya jadinya.” Ucap Bulan sambil menutupi wajahnya.


“paman kecil lahir di bulan April ya?” tanya Bulan memulai topic pembicaraan.


“iya kok kamu tau?” ucap Aprilian.


“iya kan namanya udah jelas ya.” Ucap Bulan.


“oh iya paman kecil udah punya pacar?” tanya Aira.


“hehe kalau tanya ya jangan langsung.” Bisik Wardah sambil mentoel Aira.


“ya tidak apa- apa kan tanya.” Balas Aira.


“ha ha. Belum. Memeng kamu mau jadi pacar paman?” tanya Aprilian bercanda.


“yah kalau boleh ya.” Tambah Aira dengan tertawa.


“boleh kalau begitu.” Jawab Aprilian menoleh ke belakang. Mengedipkan sebelah matanya.


“bener kak?” tanya Aira kegirangan.


“jadi hari ini kita jadian ya?” Aira kegirangan “semudah ini dapet pacar ya? Ha ha ha.”


“enak betul…” ucap Bulan. “tata……” panggil Bulan ke pada Putra.


“tidak – tidak. Kita beda okeh.” Ucap Putra yang mengerti maksud Bulan.


“hus tidak boleh pacaran dosa.” Ucap Wardah menasehati.


“kalau begitu kita menikah aja gimana?” ucap Aira.


Sontak Aprilian langsung tersedak dengan air liurnya sendiri.. uhuk… uhuk.


“kenapa ? tidak mau?” tanya Aira dengan wajah polosnya.


“habis lulus kuliah kita nikah gimana?” tanya Aprilain.


“oke.” Aira deal dengan ucapan Aprilian.


“gila kamu…” ucap Putra geleng – geleng kepala.


“hadeeeeh.” Keluah Nana. “paman jangan main – main sama anak orang.”


“sekarang kamu panggil saya bibi kecil.” Ucap Aira kepada Nana.


“Astagfirullah.” Jawab Nana.


“Bulan…” panggil Wardah.


“apa?” jawab Bulan.


“sabar.” Ucap Wardah memegang pundak Bulan.


“iya si Jomblo harus sabar.” Balas Bulan memegang tangan Wardah.


Mereka tertawa bersama di dalam mobil. Juga bernyayi dan bercerita di perjalanan.


Tidak terasa sudah dua jam perjalanan. Semua yang duduk di kursi belakang tertidur lelap setelah banyak kebisingan akhrnya tenang.

__ADS_1


“masih kuat yan.” Tanya Putar kepada Aprilian.


“masih aman kok.” Ucap Aprilan yang sedang menyetir.


“eh kamu betul sama Aira?” tanya putra.


“tidak tau. Jalanin aja dulu. Toh saya juga single.” Ucap Aprilian sambil tersenyum melihat Aira tertidur di kursi belakang kursi pengemudi lewat kaca depan.


“bahaya kamu.” Ucap Putra.


“kenapa? Asal tau batas. Kalau memang cocok ya nikah lah.” Jelas Aprilain.


Dalam perjalanan sangat hening saat para kaum wanita tertidur.


“ummm udah sampai mana? Masih jauh?” tanya Bulan yang terbagun dari tidurnya sambil mengosok kedua matanya.


“masih jauh kamu tidur dulu aja.” jawab putra menjawabi Bulan yang terbagun.


“oh iya kalau begitu.” Ucap Bulan kembali memejamkan matanya kembali.


Sesampainya di pantai mereka langsung mendirikan tenda karena hari sudah mulai petang.


Mereka mendirikan dua tenda satu besar dan sedang yang besar untuk para gadis dan yang ukuran sedang untuk laki – laki.


“tenda sudah siap.” Ucap putra.


“makanan juga sudah siap.” Ucap Aira membawa masakan yang telah di masak.


“selamat menikmati Bismillah.” Ucap semuanya serentak. Lalu makan dari tempat makan mereka masing masing.


“bagus ya pemandangannya kalau malam bintang – bintang.” Ucap Bulan menatap langit lepas.


“iya itu liat Bintang yang paling terang.” Tunjuk Wardah.


“iya dan juga suara ombak pantainya menengangkan.” Tambah Nana.


“dan juga anginya dingin.” Ucap Aira mengosok kedua lengannya.


Aprilian tersenyum lalu mengabil kain tipis dari dalam tasnya.


“jangan sampai masuk angin ya.” Ucap Aprilian menyelimuti Aira.


“terima kasih.” Jawab Aira.


“haduh… mohon ya semua di sini jomblo.” Ucap Wardah.


“pengen di gituin juga.” Ucap Bulan.


“dasar kalian.” Tambah Putra.


“paman saya juga mau di ambilin selimut.” Ucap Nana meminta tolong.


“ambil sendiri kan punya tangan punya kaki.” Ucap Aprilian kepada keponakannya.


“ih paman ah gitu.” Nana kesal.


“ini ayok berbagi.” Tawar Aira.


“tidak saya tidak maumpu menerima kisah cinta kalian… huuuua huuuua.” Keluh Nana menolak.


Bulan berulang kali nematap layar ponselnya menunggu pesan dari seseorang.


(udah beberapa hari ini. Kok dia tidak ada kabar.) Batin Bulan melihat pesan terakhirnya yang tidak terbalas.


Yue : [kiss 你在干嘛?/ kiss. Ni zai gan ma? Ni shengxi ma? / kiss. kamu lagi apa? Apa kamu marah?]


“eh bengong aja sih. Ayok makannya di habisin.” Tegur Nana yang melihat Bulan diam saja.


“eh iya ini saya makan.” Jawab Bulan melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan mereka bernyayi dan bermain game.


“kita main putar botol gimana?” tanya Aprilian.


“boleh hayuk.” Jawab semua yang di situ.


Aprilian lalu mengambil botol minum dan meletakkan di atas meja kecil.

__ADS_1


__ADS_2