Dia Suami Cinaku

Dia Suami Cinaku
DIS PART 26


__ADS_3

Dia itu suamiku part 26


“eh kamu kok senyum – senyum sendiri sih?” tanya Xixi yang melihat sedari tadi Bulan senyam – senyum.


“hayo apa hayu?” tanya Xuxu


“tidak apa sayan Cuma membalas pesan tema saya.” Jelas Bulan.


Sepulang kuliah.


“oh iya Xi, di sekitar sini apa tidak ada kerja paruh waktu?” tanya Bulan.


“aaaah, kamu mau cari kerja?” tanya Xixi.


“iya buat uang jajan.” Ucap Bulan.


Qin dari belakang mendengar percakapan Xixi dan Bulan.


(apa dia sangat kekurangan uang) batin Qin.


“sebentar nanti saya carikan informasi ke teman saya.” Jawab Xixi mengenai pertanyaan Bulan.


“eh Qin.” Sapa Bulan, dia menoleh di belakaang ada Qin.


“umm” jawab Qin dengan ekpresi wajah datar namun sangat mempesona. Qin berjalan mendahululi Bulan dan Xixi.


Di Indonesia.


“eh iya ini Qin.” Ucap Nana.


“mana lihat?” Wardah menarik ponsel Nana.


“lihat di ponsel kamu sediri lah.” Nana mengambil kembali ponselnya yang tadi di rebut Wardah.


“hehe iya ya.” ucap Wardah yang langsung melihat di grup chatting mereka.


“ehhhh Assalamualikum Nana Wardah.” Sapa Aira bersama Aprilia.


“hmmm Waalaikum salam.” Jawab Wardah dan Nana.


“jangan bilang kalian mau umbar ke mesraan di depan kami.” Ucap Wardah mencemberutkan bibirnya.


“makanya cari lah biar tidak kepanasan.” Ucap Aira sambil mengipasi dirinya dengan kedua tangannya.


“kenapa iri, dosa kok iri huh.” Jawab Wardah yang mengejek AIra.


“ih awas ya kamu.” Aira datang mengelitiki Wardah yang kalau bicara selalu keluar nasehat.


“percuma kamu mensehatin mereka. Orang jatuh cinta itu buta, tuli dan bisu.” Ucap Nana, yang melihat pertengaran Aira dan Wardah.


“sudah – sudah kalian berdua ini, kayak bocah aja.” Aprilian ikut mengeluar omongan.


“eh paman Putra kemana?” tanya Nana.

__ADS_1


“ya mana paman tau.” Jawab Aprilian sambil meminum minuman yang dia pesan. “sudah sini duduk keburu leleh esnya.” Aprilian meminta Aira yang berdiri segera duduk.


“iyaaa.” Aira berjalan menuju tempat duduk di dekat Aprilian.


“eh Bulan saya dengar kamu lagi car kerja ya?” tanya Xuxu.


“iya, karena kita jamnya cumak sampai siang jadi sayang kalau tidak di manfaatin.” Jawab Bulan yang sedang melipat pakainnya yang sudah kering di cuci tadi pagi.


“mau cari kerja yang bagaimana?” tanya Xuxu.


“belum tau si, kalau bisa kayak toko pakaian atau kue.” Jawab Bulan,


Keesokan paginya.


“oh iya kali ini pasti kerja kelompok lagi.” Keluh Xixi.


“kenapa?” tanya Bulan karena tidak faham dengan maksud Xixi.


“begini loh, ma Laoshi itu setiap semester baru selalu meminta muridnya berkelompok dua orang untuk mengerjakan tugas.” Jelas Xuxu yang sedang berdandan bersiap untuk masuk kelas.


“oh.” Jawab Bulan mengangguk faham dengan penjelasan Xuxu.


“Xuxu nanti satu kelompok dengan saya ya seperti biasanya.” Tawar Xixi.


“lah lalu Bulan?” tanya Xuxu melihat kadua temannya.


“saya bisa cari teman lain.” Ucap Bulan sambil tersenyum.


“yes terima kasih.” Xixi memeluk Bulan dengan erat.


“sudah ayo kita berangkat.” Ucap Xuxu yang sudah siap.


Mereka bertiga pun berangkat.


Di sisi Vando kakak Bulan yang sedang berkuliah di Maroko. Vando yang sedang baru pulang dari kelasnya meletakkan tasnya di kursi ruang kamarnya melihat pesan dari Bulan.


Bulan : kak lihat Bulan mengirim anda foto


Setelah melihat Vando langsung tersedak air minum yang sedang dia minumnya.


“ada apa?” tanya faruq teman Vando.


“tidak apa Cuma terkaget saja.” Jawab Vando memastikan siapa yang berada di foto bersama Bulan. “ha? Qin” ucap Vando dengan nada kaget. Vando pun langsung berusaha menghubungi Bulan.


[Assalamualaikum adik]


[Waalaikum salam kak iya kenapa?]


[itu itu Qin? Yang biasanya kamu banga – bangain?] tanya Vando dengan nada kaget dan penasaran menjadi satu.


[iya lah ha ha ha] jawab Bulan tertawa bahagia.


[bagaimana bisa. Jangan bilang kamu jumpa fans?]

__ADS_1


[apa an sih kak, itu di ruang kela, Bulan satu kelas dengan Qin .]


[masak coba panggilan Vidio] Vando mengubah panggilan telefonnya menjadi panggilan video. Tepat ketika Qin baru masuk dan hendak duduk dan menyapa Bulan.


“selamat pagi.” Sapa Qin.


“pagi Qin.” Jawab Bulan.


[udah – udah kakak mau mencerna dulu] klik Vando mematikan panggilannya.


Di sisi Vando masih dengan ekspresi kagetnya.


“woy kenapa kamu?” tanya Faruq melihat temannya melongo.


“tidak apa.” Ucap Vando.


Di sisi Bulan.


Bulan yang sibuk dengan layar ponselnya, demikian juga dengan Qin.


Kiss : [apa kamu benar – benar tidak ada waktu?]


Yue : [maaf saya sangat sibuk banyak sekali tugas saya.] padahal dalam hati Bulan dia masih takut bertemu dengan Kiss. Bayangkan saja tidak kenal tidak tahu wajah Kiss tapi dia sering memberi Bulan angpau.


“selamat pagi anak – anak” ucap Ma laoshi yang baru masuk kelas.


Bulan dan Qin menyimpan ponselnya di laci meja. Lalu memperhatikan apa yang Ma laoshi terangkan.


“baik anak – anak, kali ini seperti biasah. Saya akan meminta kalian membentuk kelompok terdiri dari dua orang. Saya beri waku lima menit silakan menyerahkan nama kelopok kalian.” Ma laoshi menunggu yang muridnya mencari kelompok.


Bulan yang hendak berdiri untuk mencari kelompok.


“satu kelompok dengan saya.” Ucap Qin menarik lengan baju Bulan. Menghentikan Bulan ketika hendak berdiri.


“ha?” janya Bulan. Sebenarnya Bulan mendengar apa yang di katakana Qin, namun untuk memastikan dia bertanya kembali. “maaf kamu bicara apa?”


“satu kelompok dengan saya.” Ucap Qin menyerahkan kertas yang sudah tertulis namanya. Meminta Bulan untuk menuliskan namanya di bahwa nama Qin. “ini, tulis nama kamu.”


Bulan duduk terdiam sedang menfikirkan apa yang di lakukan Qin. (eh Qin meminta satu kelompok dengan saya? Ini tidak mimpi kan? tidak – tidak apa saya masih tidur di asrama) Bulan mencubut pipinya sendiri . “aah sakit, ini tidak mimpi” gerutu Bulan menggunakan bahasa Indonesia.


“eh kok bengong?” tanya Qin melihat Bulan tidak segera menuliskan namanya. Qin menyerahkan kerta kepada Bulan.


“iya.” Bulan menuliskan namanya di bawah nama Qin.


“kamu Bulan, kamu sudah punya kelompok.” Tanya Wawa teman kelas Bulan. Wawa menghampiri Bulan.


“sudah dia satu kelompok dengan saya.” Ucap Qin, sambil mengambil kertas yang di pegang Bulan. Ucapan Qin membuat satu kelas kaget.


“eh tumben biasnya dia mau berkelompok.” Ucap salah satu Liwan yang satu kelas malam bersama Qin.


“Qin kamu?” tanya Ma laoshi yang melihat Qin menyerahkan nama kelompok.


“iya sesekali saya juga ingin ber interaksi dengan teman kelas. Tidak mengerjakan sendirina.” Ucap Qin tersenyum lalu kembali ke tempat duduknya.

__ADS_1


“baik lima menit sudah. Kalian yang belum silakan mengumpulkan.” Ucap Ma laoshi memeinta para muridnya untuk segera mengumpulkan daftar nama kelompok mereka.


__ADS_2