
Dia itu suamiku part 16
“eh bengong aja sih. Ayok makannya di habisin.” Tegur Nana yang melihat Bulan diam saja.
“eh iya ini saya makan.” Jawab Bulan melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan mereka bernyayi dan bermain game.
“kita main putar botol gimana? Pilihannya Jujur atau tantangan. Yang memutar boleh bertanya kepada yang ditunjuk botol.” tanya Aprilian.
“boleh hayuk.” Jawab semua yang di situ.
Aprilian lalu mengambil botol minum dan meletakkan di atas meja kecil.
“ayo kita mainkan.” Ucap Putra.
“saya mulai dulu.” Ucap Aprilian. Aprilian memutar botol botol berputar dengan cepat semakin lama semakin melambat dan berhenti di depan Aira.
“ah… kok ke saya sih. Pasti kamu sengaja kan?” Ucap Aira.
“tidak memang keberuntungan kamu. Mau jujur atau tantangan.” Tanya Aprilian.
“ummm kalau jujur?” tanya Aira.
“ada berapan mantan kamu?” tanya Aprilian.
“wah pertanyaannya langsung ha ha ha.” Ucap Bulan.
“iya ni ah… tantangan aja kalau gitu.” Ucap Aira.
“tantangannya cium saya.” Ucap Aprilian.
“mantan saya selama ini ada 4 kalau tidak salah ingat.” Jawab Aira otomatis.
“waduh paman ini ngeri tauk..” ucap Nana yang keheranan dengan pamannya.
“berate sekarang saya yang putar botolnya.” Ucap Aira memegang botol dan mulai memutar. Kali ini putarannya pelan. Maklum perempuan yang mutar. Putarannya berhenti depat di depan Aprilian.
“sengaja ini anak ya.” Ucap Aprilian menatap Aira.
“mana ada.” Jawab Aira.
“ah ini permainan jadi pemainan pasangan. Kita yang jomblo nyerah.” Ucap Wardah.
“iya ni ah….” Tambah Nana.
“kalau begitu ya sudah lah.” Putra membereskan barang.
“gimana kalau sekarang kita menikmati udara malam dari pada rebu.” Tambah Putra membereskan matras yang sudah si siapkan.
Mereka pun menyaksikan malam di tepi pantai. Hari mulai malam dan angin pantai mulai kencang. Mereka memutuskan untuk masuk ke tenda karena udara semakin dingn.
“udah malam. Kita kembali ke tenda saja. Besok kita main lagi.” Ucap Bulan yang merasa kedinginan.
“aah bentar lagi ya.” Ucap Aira yang sedang mengobrol dengan Aprilina.
“ayooo masuk. Tidak boleh berduaan nanti yang ke tiga dan seterusnya setan.” Ucap Wardah menarik Aira.
Para perempuan masuk ke tenda dan pergi tidur sementara kedua pria berjagaga di luar bergiliran.
“Put. Saya jaga dulu kamu tidur aja. nanti kita gentian.” Ucap Aprilian.
“iya kalau gitu nanti bangunin saya ya.” Jawab Putra.
“siap..” balas Aprilian dengan mengacungkan kedua jempolnya.
__ADS_1
Di dalam tenda cewek.
“eh Aira kamu beneran pacaran sama Pamannya Nana?” tanya Bulan antusias.
“tidak lah saya Cuma bercanda. Dan juga pamannya Nana juga pasti Cuma bercanda.” Ucap Aira.
“tapi paman kecil itu dia orangnya serius banget tauk.” Ucap nana.
“ya liat aja nanti lah.” Aira merebahkan tubuhnya.
“Lan kamu kenapa sih dari tadi kok kayak tidak focus?” tanya Wardah yang melihat Bulan dari tadi kurang focus.
“tidak ada.” Jawab Bulan. Sambil berulang kali Bulan menatap layar ponselnya.
Beijing Cina.
Qin yang baru selesai suting setelah selesai mandi dia merebahkan tubuhnya di kasur hotel. Yoyo mendekati Qin dan mendusel – ndusel Qin. *haduh what the meaning mendusel gays… saya juga tidak tau*
“意义怎么了? 你饿了吗?
yoyo zen me le? ni e le ma? / ada apa yoyo? Kamu lapar?” Qin melihat kucingnya mendekatinya dan merebagkan tubuhnya di ketiak Qin.
Qin melihat Yoyo tidur di dekatnya. Qin memeluk yoyo ke pelukannya.
“只是你可以着我。
zho shi ni keyi zhuo wo. / Cuma kamu yang saya izinkan menyentuh saya.” Ucap Qin memeluk Yoyo di pelukannya.
Di Indonesia jawa.
Waktu subuh. Bulan dan kawan – kawannya melaksanakan Sholat subuh bersama di imami oleh Aprilian.
Setelah selesai sholat mereka duduk di tepi pantai menunggu Matahari terbit. Dan menjelang siang mereka bermain di pantai main – main air dan lainnya.
“kakak gimana kalau Bulan ikut.” Bulan menawarkan dirinya untuk boleh ikut.
“ngawur aja kamu.” Ucap Vando menyentil kening adiknya.
“aduhh sakit kak.” Keluh Bulan.
“hati – hati ya nak. Jangan lupa baca doa.” Pesan Mama memeluk Vando.
“iya ma doakan Vando ya semoga selamat sampai tujuan.” Ucap vando.
“pasti mama doakan kamu berangkat pulang dengan selamat.” Ucap mama.
“ini tambahan.” Ucap papa membeikan amplop tipis yang di dalamnya ada karu atm internasioanl yang bisa di gunakan di berbagai Negara.
“pa ini.” Ucap Vando.
“iya tambahan buat Vando. Meski papa tau kamu punya uang sediri tapi nanti kalau butuh apa – apa papa pasti bantu sayang.” Ucap papa memeluk Vando.
“gimana kalau Vando tidak berangkat saja .” keluh Vando tidak tega.
“sudah sana. Pergi biar Bulan yang berkuasa di rumah.” Dorong Bulan. Meminta Vando segera pergi.
“ooo dasar kamu.” Cetus Vando.
Sebelum pergi mereka saling mendoakan supaya aman di perjalanan. Bulan papa dan mama melihat Vando sampai punggungnya lenyap masuk ke ruang tunggu penumpang pesawat.
Setelah melihat Vando pergi raut wajah bulan yang tadi terlihat gembira berubah sedih.
“sekarang tidak ada yang ganggui Bulan. Tidak ada yang rebutan sama Bulan.” Keluh Bulan
“nanti papa yang gantiin kakak.” Ucap papa merangkul bulan dari belakang.
__ADS_1
Setelah itu mereka bergegas kembali ke rumah.
Biiip biiip biiip suara telfon Bulan dari Wardah.
[Assalamualaikum ]
[waalaikum salam warahmatulla hiwabarokatu.]
[Bulan nanti kajian ust Soleh kan?] tanya Wardah.
[bukannya mulai nanti sudah kajian ust Reza ya?]
[ahhhhhh]
[udah. Besok ikut saya antar kak Soleh ke bandara mau?]
[maaauuuuuu. Ya sudah kalau begitu sampa ketemu nanti Wassalamualaikum]
[waalaikum salam]
Siang hari Bulan, Wardah, Aira dan Nana berkumpul di luar pelataran Masjid.
“Bulan.” Sapa pria yang mengunakan baju koko putih dengan peci hitam serta sarung hitam bermotif kotak putih mengenakan kacamata yang menambah karisma pria tersebut. Dia adalah Reza kakak Soleh.
“kak Reza.” Balas Bulan.
“kamu udah gede aja.” ucap Reza.
“hehe ya masak mau kecil aja.” ucap Bulan.
“eh ini?” tanya teman – teman Bulan.
“ini ust Reza kakaknya ust Soleh.” Ucap Bulan mejelaskan kepada temannya.
“eh ganteng ya.” Bisik Nana. Lirih.
“kalau begitu saya masuk dulu.” Pamit Reza.
“oh iya kak.” Jawab Bulan.
“eh emang kalau orang soleh itu ya auranya beda ya.” Ucap Aira yang kepincut.
“iya memang suasananya itu tenang gitu.” Tambah Nana.
“huuust kalian ini.” Ucap Bulam masuk ke dalam masjid
Kajian pun di mulai dengan ust Reza memeprkenalkan diri.
“Assalammualaikum Warahmatullah hiwabarokatu.” Salam ust Reza.
“waalaikum salam warahmatullah hiwabarokatu.” Jawab para jamaah.
“baik ibu ibu kakak – kakak dan adik – adik perempuanku sekalian. Perkenalkan nama saya Surya Reza. Kakak dari ust Solehhudin. Di sini saya membadali adik saya selama adik saya pergi kuliah ke turki. Mohom maaf jika ada perbedaan dalam menjelaskan mohon di maklumi.” Ucap Ust Reza.
“ALHAMDULILLAH PUJA DAN SYUKUR SENANTIASA KITA PANJATKAN KEPADA ALLAH. SHOLAWAT DAN SALAM KEPADA RASULULLAH MUHAMMAD SAW
TEMEN-TEMEN KALIAN ISLAM YANG DI RAHMATI ALLAH. KITA AKAN MELANJUTKAN PEMBAHASAN. PEMBAHASAN YANG LALU TENTANG MACAM – MACAM AIR SUCI. LANJUT SEKARANG KITA AKAN MEMBAHAS TENTANG BAB NAJIS. NAJIS ITU ADA TIGA MACAM YANG PERTAMA NAJIS RINGAN DI SEBUT JUGA MUKHAFFAFH YANG KE DUA NAJIS SEDANG YAITU MUTAWASSITAH DAN YANG KETIGA MUGHALLADAH NAJIS BERAT.
KITA AKAN MENJELASKAN TENTANG NAJIS BERAT YAITU NAIJIS MUGHALLADAH. NAJIS INI NAJIS YANG BERAT DAN CARA MENSUCIKANNYA PUN JUGA ISTIMEWAH. MACAM NAJIS BERAT INI YAITU NAJIS DARI ANJING DAN BABI DAN YANG LAHIR DARI KEDUANYA. CARA PENYUCIANNYA DENGAN MEMBASUH TUJUKALI DENGAN AIR YANG MENGALIR DAN SALAH SATUNY DENGAN TANAH.
NAJIS YANG KEDUA NAJIS RINGAN MUKHAFFAFAH NAJIS YANG PENYUCIANNYA BOLEH HANYA DENGAN DI PERCIKI AIR SAJA NAJIS INI ADALAH NAJIS, MAAF SEMUANYA. NAJIS AIR KENCING BAYI LAKI - LAKI YANG UMURNYA DI BAWAH DUA TAHUN DAN BELUM MAKAN APAPUN KECUALI HANYA ASI IBUNYA. YANG KETIGA ADALAH NAJIS SEDANG MUTAWASSITAH, YAITU SEMUA NAIJIS KECUALI NAJIS YANG DI SEBUTKAN TADI. SEPERTI DARAH, NANAH, KOTORAN HEWAN KECUALI BABI DAN ANJING DAN LAINNYA….”
“eh ust Reza kalu di lihat – lihat cakep ya dan badanya kayaknya lebih besar dari ust Soleh.” Ucap Aira di tengah – tengah kajian.
“hust kamu ini udah punya pamanku masih saja jelalatan.” Ucap Nana mencubit Aira.
__ADS_1