
Dia itu suamiku part 38
“kamu menyembunyikan cewek ya?” tanya mama sambil berjalan menuju ruang tengah.
“tidak ma, coba saja cari.” Ucap Qin yakin dia tidak menyembunyikan siapa – siapa di dalam rumahnya.
“kalau pun iya. Mama tidak keberatan kok. Asal mama kenal dia. Mama berdoa semoga gadis yang kamu bawa pulang menjadi istrimu.” Ucap mama duduk di sofa.
“sepertinya tidak mungkin ma, dia tidak menyukai Qin.”
“apa? Siapa gadis yang tidak menyukaimu nak?”
“ada lah ma pasti yang tidak menyukai Qin. Yang menganggap Qin biasa saja.” Qin duduk di sebelah mamanya.
“apa kamu tertarik dengan yang seperti itu.”
“tidak.”
“jujur ke mama.”
“sedikit ma, menurut Qin gadis yang tidak menyukai Qin seperti tantangan.”
“husss tidak boleh menjadikan perempuan seperti permainan. Kalau suka kejar kalau Cuma penasaran lebih baik tinggalkan.” Ucap mama menyentil kening putranya.
“iya ma Qin faham.”
“Qin mama dan papa tidak pernah melarang kamu melakukan hal yang kamu suka. Tapi kalau menyakiti orang lain. Mama dan papa akan paling pertama melarang kamu.” Ucap mama membelai rambut Qin.
“kamu belum makan kan. biar mama maskin.” Ucap mama berjalan menuju dapur.
“tidak perlu ma, Qin tidak lapar.” Ucap Qin menahan mamanya.
“sudah sesekali mama masak di rumah kamu.” Ucap mama memaksa.
Mama berjalan menuju dapur dan membuka kulkas melihat di dalam kulkas hanya ada sayuran. “apa setelah kamu cuti kamu masih harus diet?” tanya mama melihat isi kulkas putranya.
“tidak ma.”
“lalu ini kulkas isi Cuma, sayur. Nanti mama belikan daging Ba yang banyak.”
“tidak perlu ma, Qin sudah lelah mengganti perabotan. Mama jangan buat Qin mengganti lagi.” Rengek Qin.
“kenapa?” tanay mama.
“rahasia nanti Qin kasih tau.” Ucap Qin mengingat kejadian lalu.
Beberapa minggu yang lalu. Qin mencari di internet tentang Islam dia membaca beberapa tulisan di internet.
“pantas dia takut makan di rumah.” ucap Qin setelah membaca beberapa artikel.
Kemudian Qin meminta Wangzi untuk mengganti seluruh perabotan di dapur dan juga tidak mengizinkan Wangzi membeli makanan yang no halal.
“dengan begini dia tidak perlu takut makan di rumah ku.” Ucap Qin menatap perabotan barunya.
“boss lalu ini.” Wangzi menunjuk perabotan lama Qin.
“buang saja.” Ucap Qin.
“kasih saya ya.”
“ambil lah. Saya sudah tidak pakai lagi.”
Kembali ke masa sekarang.
“kenapa?” tanya mama.
__ADS_1
“rahasia nanti Qin kasih tau.” Ucap Qin.
“kamu ini sama mama main rahsia – rahsianan.” Ucap mama.
“nanti mama pasti tau.” Qin melihat mama sedang memotong sayuran.
Semuanya yang berada di dapur mulai dari bumbu dan perlengkapannya ada loga halalnya.
Di asrama.
“lagi apa bengong ih.” Ucap Xuxu melihat Bulan yang termenung.
“iya dari tadi diam aja.” tambah Xixi.
Bulan membuang nafas panjang “kalian tau hari minggu Qin mengajak saya pergi.” Ucap Bulan.
“apa? Pergi kemana?” tanay Xixi mendekati Bulan.
“pergi ?” Xuxu yang juga penasaran.
“hmmm.” Jawab Bulan.
“acara apa?” tanya Xuxu.
“entah saya juga tidak tau. Dia bilang mau ajak saya jalan – jalan.” Jelas Bulan.
“ajak kita…” ucap Xuxu.
“kamu ini Bulan sama Qin mau kencan ngapain ajak kamu.” Ucap Xixi memukul kepala Xuxu.
“ya siapa tau lah jalan biasa. Mana tau kalau mau kencan.” Ucap Xuxu menggosok bekas pukulan Xixi.
“ide bagus, kita hari sabtu keluar bersama.” Ucap Bulan tersenyum. (akhirnya ada alasan untuk tidak keluar berdua.)
“yang benar saja kamu mau ajak kami.” Ucap Xixi.
“wah iya .” Xixi kemudian langsung menghubungi Chen.
“lalu saya dengan siapa?” keluh Xuxu.
“dengan ku.” Ucap Bulan merangkul temannya.
“kamu dengan Qin. Xixi dengan Chen.” Ucap Xuxu.
“kita berlima lah.” Ucap Bulan. “kita berlima bersama. Siapa yang mau berdua – duaan juga.”
Di hari sabtu pagi, Qin dan Wangzi menunggu Bulan di depan asrama.
“Qin.” Sapa Chen yang juga tengah di sana.
“kak Chen.” Sapa balik Qin. “lagi nunggu siapa?” tanya Qin melihat sedari tadi Chen menatap pintu asrama putri.
“lagi nunggu Xixi.” Jawab Chen.
“oh.”
Tak lama Bulan the gang keluar dari asrama.
“Xixi.” Panggil Chen.
“kak Chen.” Jawab Xixi.
“Bulan.” Panggil Qin.
“hay. Oh iya saya belum beri tau kamu kalau saya mau mengajak mereka.” Ucap Bulan sambil menunjuk teman – temannya. “boleh kan?”
__ADS_1
“boss gagal kencan.” Bisik Wangzi lirih.
“diam kamu.” Ucap Qin menjawab Wangzi.
“kalau saya tidak mengizinkan?” tanya Qin.
“ya Bulan pergi bareng mereka.” Ucap Bulan.
“emm, tapi mobil saya…” belum selesai dengan kalimatnya Chen memotong.
“saya dan Xixi naik motor.” Ucap Chen.
“baik lah begitu saja.” Ucap Bulan. “Xixi dan Chen, lalu kita naik mobil kamu.” Ucap Bulan menunjuk dirinya dan Xuxu.
“baik lah – baiklah. Main banyak orang makin rame, makin seru.” Ucap Qin berpindah duduk yang awalnya di kursi belakang sekarang dia di sebelah Wangzi.
(yes, kalau begini kan tidak canggung.) batin Bulan.
(rencana mau berdua – duaan eh dia bawa komplotannya) batin Qin memandang sinis Wangzi.
“apa boss.” Tanya Wangzi melihat tatapan sinis Qin.
“tidak nyalakan mesinnya.” Ucap Qin.
Setelah melihat Bulan dan Xuxu masuk Wangzi pun menjalankan mobilnya. Xixi dan Chen mengikuti dari belakang.
“eh Bulan makasih ya.” ucap Xuxu berbisik.
“kenapa?” tanya Bulan.
“udah di ajak jalan bareng Qin. Kalau aku yang di ajak aku pasti keluar sendiri.” Ucap Xuxu lirih.
“iya… ini juga demi kebaikan saya.” Ucap Bulan.
Qin yang dari tadi membayangkan berduaan bersama Bulan hilang sudah. Ekspresi cemberut di wajah Qin kian terlihat. Wangzi yang menjadi sasaran tatapan sinis sang boss hanya bisa menahan sambil tetesan keringat yang bercucuran.
Sesampainya di taman hiburan. Qin keluar dengan kacamata hitam bermasker dan topi. Tidak dengan Bulan dan Xuxu, mereka berdua langsung saja keluar dari mobil.
“wah ini tempat yang saya bicarakan kemarin lalu.” Ucap Bulan kepada Xuxu.
“iya Qin tau banget kamu mau ke sini.” Jawab Xuxu.
“apa an sih kamu.” Jawab Bulan sambil mencubit Xuxu.
Qin yang mendengar percakapan Bulan dan Xuxu tersenyum karena mengetahui bahwa tempat yang mereka kunjungi adalah yang ingin di kunjungi oleh Bulan.
“Xixi.” Panggil Bulan dari kejauhan. “kak chen mana?”
“lagi parkir.” Ucap Xixi menghampiri Bulan dan Xuxu.
“eh Qin kamu bener mau main di sini?” tanya Xixi melihat Qin yang sudah memakai atribut menghindari paparazzi.
“kamu kira.” Balas Qin. Qin berjalan menuju loket pendaftaran.
“mau berapa orang?” tanya pegawai.
“enam kak.” Ucap Wangzi memberikan kartu atmnya.
“totalnya 600yuan kak.” Ucap pegawai. “silakan ini.”
“terima kasih.”
Wangzi membagikan tiket ke semuanya.
“kamu ikut?” tanya Qin kepada Wangzi.
__ADS_1
“tentu lah. Jarang – jarang kita ke taman hiburan.” Ucap Wangzi memakai gelang tiket miliknya.