Dia Suami Cinaku

Dia Suami Cinaku
DIS PART 36


__ADS_3

Dia itu suamiku part 36


“huuf Untung saja saya segera keluar kalau tidak bisa bisa kacau.” Ucap Bulan lirih menggunakan bahasa Indonesia.


“Bulan.” Sapa Wangzi.


“tuan Wang.” Bulan menyapanya balik.


“Qin?” tanya Wangzi mengisyaratkan dengan matanya.


“ada di atas.” Jawab Bulan.


“oh terima kasih kalau begitu.”


“iya Zai jian.” Ucap Bulan lalu segera pergi.


Bulan di jalan masih berusaha menenangkan dirinya. “tidak tidak ini tidak baik. Saya telah jatuh cinta kepada Qin. Kali ini bukan karena dia bias saya tapi karena dia selalu berada di dekat saya.” Ucap Bulan di sepanjang jalan dia mengomel sendiri. “tidak – tidak bagaimana ini?”


Qin yang masih tersenyum karena kejadian yang baru saja terjadi, melihat ponsel Bulan yang masih tergeletak di atas mejanya. “lihat dia begitu ceroboh.” Ucap Qin mengambil ponsel Bulan. Ketika hendak menyalakannya Wangzi datang.


“bosss.” Panggil Wangzi.


“ah kebetulan. Ini tolong antar ke Bulan sekalian antarkan dia pulang.” Ucap Qin.


“boss matamu….” Wangzi melihat bekas tangis di wajah Qin.


“ sudah cepat”


Wangzi pun hanya menurut dan kembali turun untuk mengejar Bulan. Setelah menelusuri jalan, akhirnya Wangzi menemukan Bulan.


“bulan.” Panggil Wangzi yang berada di dalam mobil melihat Bulan sedang menunggu buss di halte.


“tuan Wang.”


“ini.” Wangzi menyerahkan ponsel Bulan.


“terima kasih. Saya lupa.” Ucap Bulan mengambil ponselnya dari Wangzi.


“mari saya antar.” Ucap Wangzi membukakan pintu.”


“oh tidak perlu itu buss saya sudah datang.” Bulan tersenyum lalu pergi masuk ke dalam bus. “sampai jumpah.”


“eeeeh.” Ucap Wangzi yang hanya melihat Bulan naik bus.


“kok cepat?” tanya Qin melihat Wangzi datang.


“dia naik bus.”


“kan saya sudah memintamu mengantarnya.”


“dia tidak mau.” Ucap Wangzi kemudian duduk. “memang kenapa tidak kau yang mengantar boss.”


“tidak apa.” Qin wajahnya memerah mengingat dia memeluk Bulan.


“Bosss apa kau sakit lagi? Kenapa wajahmu memerah?’ tanya Wangzi.


“tidak.” Qin menangkis tangan Wangzi.


“oh. Jika masih sakit istirahatlah.” Ucap Wangzi menarik Qin segera pergi ke kamar.


“iya – iya.”


Di sisi lian Bulan yang sedang berada di dalam Bus.


“saya harus menjauh dari Qin untuk beberapa waktu ini. Ah tapi tugas dari Ma laoshi belum selesai.” Gerutu Bulan di bus dengan bahasa Indonesia. “tidak masalah setelah selesai baru saya menjauhinya.”


Setelah sampai di asrama bulan sedang Chatting dengan Kiss.


Kiss : [apa kabar? ]


Yue : [cukup baik, kamu?]


Kiss : [lumayan baik]

__ADS_1


Yue : [apa ada masalah?]


Kiss : [tidak ada.]


Yue : [oh, kalau begitu saya pergi istirahat dahulu.]


Kiss : [baiklah selamat malam]


Yue : [iya selamat malam mimpi indah.]


Bulan melanjutkan mengerjakan tugasnya sediri.


“masih bangun?” tanya Xuxu melihat meja belajar Bulan yang masih menyala.


“iya menyelesaikan beberapa tugas.” Jawab Bulan.


“jangan tidur terlalu larut.” Ucap Xuxu mengingatkan temannya.


“iya setelah selesai saya akan segera tidur.” Jawab Bulan melihat Xuxu sambil tersenyum.


[Assalamualaikum adikku yang cantik]


[waalaikum salam kaka ada apa tumben?]


[kakak telfon kamu tanya ada apa? Kamu yang ada apa kok belum tidur jam segini]


[hehe Bulan masih ada tugas sebentar lagi]


[jangan tidur larut.]


[iya kak, tumben ada apa kak?]


[gini, kamu ada uang tidak?]


[buat apa?]


[kakak harus beli buku tapi kakak belum gajian, pinjam dulu. Setelah gajian kakak kembalikan.]


[oh, iya sebentar]


[sudah masuk kak.]


[belum]


[coba cek]


[bentar , oh sudah – sudah . makasih ya. nanti setelah kakak gajian kakak balikin.]


[iya kakak]


[kakak mau pergi dulu Assalamualaikum]


[waalaikum salam]


“untung kakak ku. Bukannya kebalik ya, seharunya kakak yang ngasih adiknya. Ini malah kak Vando yang minta ke Bulan. Hadeh…” ucap Bulan setelah menerima panggilan dari Vando.


Keesokan paginya.


Bulan selesai dengan tugasnya tinggal mengumpulkan.


“biar lah. Karena Qin terlalu lama jadi biar saya kerjakan sendiri.” Ucap Bulan mengecek tugasnya.


Di kelas Bulan yang biasanya duduk di dekat Qin sekarang pindah ke depan bersama Xuxu dan Xixi.


“tumben kenapa?” tanya Xuxu.


“tidak ingin cari suasana saja.” Jawab Bulan.


“apa kalian bertengkar?” tanya Xixi.


“siapa?”


“kamu dengan Qin?”

__ADS_1


“tidak ada? Saya merasa duduk di depan sepertinya lebih jelas mendengar penjelasan guru.” Jelas Bulan. Padahal dia sedang menghindari Qin.


Qin yang baru masuk kelas di herankan dengan Bulan yang duduk di depan tidak duduk di dekatnya.


“ada ada? Kenapa dia duduk di depan?” ucap Qin lirih. Qin kemudian duduk di bangkunya menatap Bulan dari belakang.


Pelajaran di mulai.


Setelah pelajaran Bulan menemui Ma laoshi di ruangannya.


“Laoshi.” Ucap Bulan.


“Bulan, silakan duduk. Ada apa?”


“ini, tugas saya dengan Qin.” Bulan menyerahkan tugasnya.


“Qin kemana? Kenapa tidak mengumpulkan bersama.” Tanya Ma Laoshi menerima.


“dia karena akhir – akhir ini sakit jadi saya memintanya untuk banyak istirahat. Apa laoshi ada maslah?”


“tidak, asal tugas kalian di kumpulkan tepat waktu tidak ada masalah.” ucap Ma laoshi.


“baik kalau begitu saya pegi dulu.”


“iya silakan.”


Tak lama setelah Bulan pergi Qin datang ke ruangan Ma Laoshi.


“Qin ada apa?” tanya Ma Laoshi melihat Qin yang baru masuk ke ruangannya.


“ini tugas saya denga Bulan.” Ucap Qin menyerahkan tugasnya. “karena Bulan beberapa hari yang lalu sakit dia sedang istrirahat.” Qin menjelaskan.


Ma laoshi tersenyum. “kalau begitu tugas kalian saya terima.”


“terima kasih.” Qin kemudian pergi.


“dasar kalian ini,” ucap Ma Laoshi keheranan dengan dua muridnya yang saling melindungi. (tidak seperti biasanya Qin perduli. Dia lebih sering mengerjakan tugasnya sendiri) batin Ma laoshi.


Ma Laoshi mengecek tugas yang baru saja beliau terima.


“memang dari keduanya banyak perbedaan. Yang satu sangat berpandangan dengan kerja sama, kebersamaan dan juga gotong royong. Yang satu hanya tau bekerja sendiri.” Ucap Ma laoshi melihat tugas yang di kumpulkan Bulan dna Qin.


“Bulan.” Sapa Qin.


“Qin.” Bulan menyapa balik.


“kemarin malam?”


“umm saya masih ada janji dengan Xixix saya pergi dulu.” Ucap Bulan berlari meninggalkan Qin.


(aneh kenapa dia sepertinya menghindari ku)batin Qin (mungkin hanya perasaanku saja)


Di sore hari Bulan yang sedang berbelanja sabun dan lainnya bersama Xuxu dan Xixi.


“bener di sini lebih murah.” Ucap Xixi.


“iya.” Jawab Xuxu.


“kan apa yang saya katakan.” Tambah Bulan tersenyum.


“Bulan.” Sapa wanita paruh baya Nyonya Yi.


“bibi Yi.” Sapa Bulan tersenyum kepada Nyonya Yi.


“siapa?” tanya Xuxu dan Xixi.


“ini bibi Yi yang pernah saya ceritakan waktu saya keluar jalan – jalan.” Ucap Bulan kepada Xuxu dan Xixi.


“bibi, ini kedua teman saya namanya Xuxu dan Xixi.”


“bibi Yi salam kenal.”


“salam kenal. Kalian juga berbelanja?”

__ADS_1


“iya kami sedang membeli beberapa kebutuhan.”


__ADS_2