
Dia itu suamiku part 32
“apa yang kau berikan kepada saya?” tanya Qin melihat bubur di hadpannya.
“ini Bubur.” Ucap Bulan langsung memaskukkan ke dalam mulut Qin sesaat dia selesai berbicara.
“kamu!” Qin hendak memuntahkan bubur, dengan sergap tangan Bulan menutu mulut Qin. Qin pun terpaksa menelannya. “braninya kamu. Menyentuh saya.” Ucap Qin geram namun tidak ada tenaga.
“diam lalu habiskan dan cepatlah sembuh.” Ucap Bulan menyuapi Qin kembali. “jika kau memuntahkannya saya akan membawa kamu ke rumah sakit.” Ancan Bulan.
Qin pun suap demi suap memakan bubur buatan Bulan. Sampai habis, setelah itu Bulan memeberi obat dari Wangzi. “minum ini.” Ucap Bulan menyerahkan obat dan segelas air minum.
“nanti saya akan minum.” Ucap Qin menolak.
Bulan yang mulai kesal dengan sikap kekanak – kanakan Qin. Langsung memasukkan obat dari tangannya ke mulut Qin, dan memberinya minum satu gelas.
“kamu.” Ucap Qin tanpa tenaga.
“apa? Kamu saja tidak bisa melawan saya jangan sok kuat.” Ucap Bulan, pergi membereskan mangkuk bekas bubur. “sebentar saya ambi air.” Bulan pergi dari hadapan Qin.
(beraninya dia melakukan itu kepada saya. Bahkan Wangzi saya tidak pernah memaksa saya) batin Qin menatap kepergian Bulan.
Maaaaaoung maaaaung suara Yoyo yang merasa bosan di dalam kandang. Qin hendak bangkit dari kasur untuk melepaskan Yoyo. Saat hendak turun dari kasur, Bulan masuk kembali ke kamar Qin. Qin kehilangan keseimbangan karena masih pusing, tubuhnya hampir jatuh. Bulan melihat itu langsung menahan dengan pinggungnya,, Karenna tangannya membawa teko air.
“mau kemana?” tanya Bulan sambil merebahkan tubuh Qin kembali ke kasur.
“itu yoyo.” Ucap Qin menatap kucing kesayangannya meminta untuk di keluarkan dari sangkarnya.
“sebentar biar saya saja.” Ucap Bulan berjalan mendekat ke kandang Yoyo.
“yoyo kan.” sapa Bulan tersenyum kepada Yoyo. Bulan membuka dan mengeluarkan Yoyo. Kemudan mengendongnya. “biar saya yang jaga. Kamu istirahat saja.” Ucap Bulan membawa Yoyo keluar kamar.
Qin melihat Bulan mengendong Yoyo dengan satai, tidak ada pelawanan dar Yoyo.
“aneh kenapa yoyo langsung mau?” ucap Qin lirih. Kemudian Qin mengistirahantkan tubuhnya di kasur.
Di ruang tenggah. Bulan membelai Yoyo, dan sepertinya Yoyo juga menykai Bulan.
“imutnyaaa kamu.” Bulan berulang kali mencubit pelan pipi Yoyo yang gembul.
Di sis lain Xuxu dan Xixi pergi ke Uks namun tidak menemukan Bulan dan Qin di Uks.
[hallo Bulan kamu di mana?] tanya Xixi menelfon Bulan.
[saya sedang di rumah Qin]
[ha ngapain?] tanya Xuxu yang mendengar suara Bulan.
[menjaga kucingnya. Eh sebentar Qin memanggil saya nanti saya hubungi lagi.] Bulan mematikan panggilan.
“ha Qin memanggil Bulan.” Ucap Xuxu matanya melebar pikirannya sudah menuju ke lain – lain.
“mikir apa kamu. Kamu tidak lihat tadi Qin sangat lemas dan pucat.” Ucap Xixi.
“hehe iya sih.”
“lan.” Suara Qin memanggil Bulan.
__ADS_1
“iya sebnetar.” Bulan berlari menghampiri Qin.
“saya mau ke kamar mandi.”
“ha?”
“kenapa bantu saya dan tunggu di depan kamar mandi.”
“oh.” Bulan membantu Qin menuntunnya ke kamar mandi, dan menunggu di luar pintu kamar mandi. (haduh mikir apa kamu Bulan, membantunya melepas celana? Oh tidak. Dasar kamu ini Bulan) batin Bulan sambil menunggu Qin keluar dari kamar mandi.
Qin membuka pintu kamar mandi.
“sudah?” tanya Bulan langsung menggandeng Qin, memapahnya kembali ke kasurnya.
“kamu bisa pulang. Sebentar lagi mungkin Wangzi kembali.” Ucap Qin.
“tidak apa saya akan menunggu kak Wang kembali.” Ucap Bulan sambil membenarkan selimut Qin. “sekarang kamu istirahat, kalau butuh apa –apa saya ada di depan.” Bulan meninggalkan Qin.
Bulan menatap pintu kamar Qin. “tidak menyangka Qin saya akan sedekat ini dengan bias saya.” Ucap Bulan lirih sambil berjalan menuju Yoyo yang duduk sambil mengibas – ngibaskan ekornya. “tapi kenapa di kehidupannya nyatanya dia sangat resek.” Gerutu Bulan kembali kesal jika teringat Qin sereingkali memerintahnya.
Hari telah gelap malam telah tiba, karena Bulan sedang datang Bulan, serta dia sangat lelah dia terlelap di kursi bersama Yoyo di sampingnya.
Qin yang sudah merasa tubuhnya membaik, dia berjalan keluar kamar. Melihat Bulan tertidur di sofa depan kamarnya.
“boss.” Panggil Wangzi yang baru saja datang.
“ssssut.” Ucap Qin meminta Wangzi untuk memelankan suaranya.
“kenapa?” tanya wangzi.
“ini ini.”
“diam saya tidak mau membangunkan yoyo.” Ucap Qin mengajak Wangzi pergi ke ruang kerja. Sebelum pergi Qin menyelimuti tubuh Bulan dengan mantel bulu yang dia kenakan saat keluar kamar.
“apa tidak sebaiknya kita membangunkannya boss.” Tanya Wangzi yang berjalan mengikiti Qin masuk ke ruang kerja.
“jangan, biarkan dulu dia istirhat. Saya melihat dia sangat lelah.” Ucap Qin.
“maaf boss ini.” Wanzi menyerahkan berkas saham yang di beli Qin.
“baik.” Qin menerima dan menyimpannya di laci mejanya. “kamu boleh pergi.” Ucap Qin.
“lalu Bulan Boss?” tanya Wangzi.
“biar dia menginap di sini.”
“ha?”
“apa? Saya tidak menykainya.”
“saya tidak bertanya, kenapa boss berusaha menjelakannya.” Ejek Wangzi.
“sudah sana pergi.” Qin mengusir Wangzi.
“iya iya saya pergi. Ingat jangan di apa – apain anak orang dan dia muslim.” Wangzi mengingatkan Qin.
“iya saya faham.”
__ADS_1
Keesokan paginya.
Bulan terbangun, melihat ponselnya banyak panggilan tak terjawab. “astagfirullah saya kesiangan.” Ucap Bulan. Tak sengaja mendorong Yoyoj jatuh ke bawah. Meooong meooong. “maaf sayang.” Bulan mengangkat Yoyo kembali ke kursi.
“sudah bangun.” Qin memasak beberapa sarapan di dapur.
“iya, kamu bagaimana sudah mendingan.”
“sudah .”
“kenapa kamu tidak membangunkan saya.” Tanya Bulan merapikan pakaiannya.
“saya tidak suka saat tidur di bangunkan, jadi menurut saya orang lain pun juga begitu.” Jawab Qin. “mari sarapan saya sudah menyiapkan.” Ucap Qin.
Bulan menghampiri Qin yang sedang memasak di dapur.
“masak apa?” tanya Bulan melihat Qin yang sibuk.
“babi kecap.” Jawab Qin.
“ha. Umm saya pulang dulu.” Bulan langsung pergi mengambil tasnya.
“eh sarapan dulu.” Teriak Qin melihat Bulan pergi begitu saja.
“tidak perlu terima kasih.” Bulan keluar dari apartemen Qin.
“untung saja, ada waktu untuk kabur. Kalau tidak saya makan babi.” Ucap Bulan sambil berjalan.
Di sisi lain Xuxu dan Xixi yang berada di kelas menunggu Bulan,
“eh Bulan kemana ya, tidak pulang semalaman dan belum datang?” tanya Xixi.
“entah, mungkin masih di rumah Qin.” Bisik Xuxu.
Bulan datang dengan ter engah – engah.
“Bulan.” Sapa Xixi. “dari mana saja.”
“baru pulang. Telat tidak?” tanya Bulang menuju bangkunya.
“tidak dosen belum datang .” ucap Xuxu.
“eh kamu semalaman tidur di mana.” Tanya Xixi lirih.
“di rumah Qin.” Bulan menjawab lirih. Namun tetap ada yang mendengar.
“ha. Ngapain kamu nginep di rumah Qin.” Teriak seorang mahasiswi.
“eh bukan begitu, saya Cuma…” elak Bulan.
“Cuma apa?”
“ada apa ini rubut rebut.” Laoshi datang membuat semua terdiam.
“tidak ada.” Jawab Bulan.
Laoshi pun memulai pelajaran.
__ADS_1