
Dia itu suamiku part 21
Bulan menunggu Nana. Dari kejauhan tempak Nana yang berjalan mulai mendekat.
“Assalamualaikum maaf macet.”
“waalaikum salam warahmatullah hiwabarokatu” jawab Bulan dan Wahyu.
“ini kak selamatnya?” ucap Nana. Melihat Bulan tidak membawa apa apa “ini dari Nana dan Bulan. Maaf telat.” Tambah Nana.
“iya terima kasih. Tidak kok” Wahyu menerima dengan senyuman lalu mengajak Nana dan Bulan untuk ke tempat lain.
“eh kenapa kamu bilang dari saya juga?” tanya Bulan berbisik kepada Nana.
“kamu tidak bawa apa – apa kan?’ tanya Nana berbisik menjawab pertanyaan Bulan dengan bertanya kembali.
“saya tidak sempat, ini tadi baru dari kantor pembuatan paspor dan visa lalu langsung kemari.” Ucap Bulan.
“untung saya bawain.” Bisik Nana.
“kenapa?” tanya Wahyu yang merasa Bulan dan Nana sedang berbisik.
“tida apa – apa kak hehe.” Jawab Bulan dan Nana. Mereka langsung diam dan mengikuti Wahyu.
Wahyu mengajak Bulan untuk berfoto berdua. Bulan menolak setiap di ajak foto beruda Bulang langsung menrik Nana ke dekatnya jadi hanya meperoleh foto bertiga.
“Bulan ini orang tua saya.” Ucap Wahyu mengenalkan kepada orang tuanya. “pa ma ini Bulan yang sering Wahyu ceritaiin. Dan ini Nana teman kelasnya Bulan.”
“om tante.” Ucap Bulan dan Nana.
“Buset langsung kenalin orang tua.” Bisik Nana.
“hussst Cuma kenalan.” Ucap Bulan mencubit Nana.
“nak Bulan ya. Cantik nanti lain kali main ke rumah ya” ucap mama Wahyu.
“kalau tidak nanti longer om main ke rumah orang tua Bulan ya.” Ucap papa Wahyu.
Bulan hanya tersenyum.
“gila. Negri saya.” Bisik Bulan kepada Nana “pingin kabur rasanya.”
“samabar kan Cuma kenalan kamu bilanh.” Bisik Nana mengulan pernyataan Bulan yang tadi.
“umm Bulan ikut saya sebetar.” Ucap Wahyu menarik Bulan sedikit menjauh.
Bulan yang tiba – tiba di tarik Wahyu hendak menarik Nana namun tidak sempat. Nana hanya melambaikan tangan sambil tersenyum melihat Bulan di tarik oleh Wahyu.
“kenapa kak.” Ucap Bulan mencoba melepas genggaman tangan Wahyu.
“saya mau ngomong sesuatu.” Ucap Wahyu memegang tangan Bulan.
__ADS_1
“kenapa tidak ngomong di sana.” Bulan meminta di lepaskan tangannya. “kak sakit.”
“oh maaf – maaf.” Wahyu yang baru sadar melepas cengkraman pada lengan pergelangan Bulan.
“mau ngomong apa sih kak serius amat.” Bulan mencoba bertanya karena dari tadi Wahyu hanya menatap Bulan.
“Bulan saya tau kamu masih mau focus kuliah. Dan kamu tau saya sangant menyukaimu.”
“lalu?”
“saya ingin mengikat kamu? Setelah lulus kita nikah.” Perkataan Wahyu langsung membuat Bulan tidak bisa berkata – kata.
Bulan menarik nafas dalam dalam dan mengembuskannya perlahan. Mencerna perkataan Wahyu.
“kak. Terima kasih sebelumnya karena kak menyukai saya. Namun maaf saya hanya menganggap ka Wahyu hanya teman kalau kak Wahyu minta lebih saya tidak bisa menerima.” Ucap Bulan
“apa selama ini saya kurang memperhatikan kamu? Apa karena saya tidak tampan? Karena saya tidak kaya?” tanya Wahyu.
“dari awal saya hanya menganggap kak Wahyu teman maaf.cinta tidak bisa di paksa kak dan juga tampan dan kaya bukan penentu seorang bisa jatuh cinta.” Bulan meninggalkan Wahyu. Kerena kalau ini di lanjutkan mungkin masalahnya akan panjang.
Bulan meninggalkan Wahyu dan menarik Nana untuk mengajak pulang.
“ayo kita pulang.” Ucap Bulan segera menarik Nana.
“kenapa emang?” tanya Nana yang tiba – tiba di tarik.
“nanti saya kasih tau.”
“kamu akan menyesal tidak menerima saya.” Teriak Wahyu
“kenapa sih?” Tanya Nana.
“haduh nanti. Sekarang kita pergi dulu.” Ucap Bulan sambil menutupi wajahnya dengan tasnya.
“aneh kamu ah.” Jawab Nana.
Di Luoyang cina.
Qin duduk di bangku kelasnya. Teman temannya menyapa da nada juga yang bergosip.
Teman sekelasnya banyak yang mengejek Qin karena tidak mengakui menghamili Lihua.
Qin hanya terdiam karena menurutnya memang bukan anaknya kenapa harus repot. Toh nanti kebenaran akan terungkap.
Di sisi Wangzi asisten Qin sedang mencari informasi tentang rumah sakit sampai agenda Lihua yang dia lakukan di mulai sebelum hamil sampai sekarang.
Di indonsesia.
“eh tadi kenapa sih kamu kok tiba – tiba pergi kan acaranya belum mulai?” tanya Nana.
Bulan menceritakan kalau Wahyu mengajaknya menjalin hubungan lebih serius. Padahal Bulan dari awal sudah mengatakan kalau Bulan hanya menganggap Wahyu teman. Malah Wahyu tidak terima dan berteriak seperti itu.
__ADS_1
“kok gitu sih si Wahyu” nana ikut geram.
“emang saya akui dia lumayan lah tidak terlalu jelek dan juga royal kapada kita sering memebelikan makan. Tapi cinta tidak bisa di paksa. Ya meski orang bilang menikahlah dengan laki – laki yang cintanya lebih besar dari mu. Tapi kalau saya tidak mencintainya atau saya tidak merasa nyaman dengannya ya yang tersisksa saya lah.” Gerutu Bulan.
“iya – iya bukan salah kamu.” Ucap Nana menenangkan Bulan yang juga sedikit Geram.
“maaf tadi ada kelas.” Ucap Aira yang baru sampai. “kenapa kok kalian seperti habis perang?” tanya Aira yang melihat wajah kedua temannya memerah marah.
Nana menceritakan apa yang baru saja terjadi. Aira pun juga ikut geram.
“kok begitu sih. Untung saja tidak jadi sama kamu Bulan. Lebih baik kamu tolak. Itu laki – laki perhitungan berani beraninya dia ngungkit apa yang pernah dia lakukan. dia sendiri yang mau beliin kita tidak pernah memaksa atau merengek meminta.” Ucap Aira.
Di sisi Wahyu.
“mana Bulan dan temannya?” tanya mama Wahyu.
“pergi.” Ucap Wahyu kesal.
“kenapa kamu kelihatan kesal?” tanya papa melihat putranya seperti putus cinta.
“wahyu di tolak.” Ucap Wahyu.
“di tolak ya sudah. Banyak wanita lain.” Ucap papa menyemangati.
“tidak wahyu Cuma mau Bulan. Saya akan buat dia menyesal.” Ucap Wahyu.
Haaaaaciuh. Bulan yang tiba – tiba bersin.
“kenepa kamu sakit?” tanya Nana.
“enggak tuh. Cuma tiba – tiba hidung saya merasa gatal.” Ucap Bualan.
“eh kamu mau pulang habis ini?” tanya Aira.
“tidak kami ada kelas. Saya tadi jam pagi sudah izin tidak mungkin siang juga izin lagi.” Jelas Bulan.
“kamu na?” tanya Aira.
“saya tadi bolos kesiangan.” Ucap Nana.
“Wardah belum datang ya.”
“bentar lagi kayaknya.”
Di Luoyang Cina.
Karena Qin sekarang ikut kelas siang. Kelasnya kali ini sangat ramai banyak mahasiswi perempuan yang datang padahal bukan dari jurusanya. Bahkan beberapa murid ada yang berdiri karena tidak mendapat tempat duduk.
Ma Laoshi masuk ke kelas.
Melihat kelasnya sangat banyak anak yang mau melihat Qin. Ma Laoshi pun meminta anak yang bukan dari kelasnya segera keluar.
__ADS_1
Qin hanya menanggapi dengan senyuman.
Ma laoshi memulai pelajaran.