
Dia itu suamiku part 9
Sesampainnya di rumah Bulan.
“Assalamualaikum warahmatullah hiwabarokatu.” Ucap salam Bulan dengan nada khasnya.
“waalaikum salam warahmatullah hiwabarokatu. Udah pulang. Lah Nana?” tanya Mama.
“nana langsung pulang ma.” Ucap Bulan.
“owalah.”
“ma ma.”
“hmmm”
“ma. Kak Soleh mau pergi ke Turki ya?” tanya Bulan.
“iya.” Jawab mama mengetahui.
“ih mama kok tidak kasih tau Bulan?” ucap Bulan sedikit merengek.
“mama aja juga baru di kasih tau kakak kamu ini tadi. Kata kakak Soleh baru dapet beasiswa jadi dia juga baru bilang paman dan Bibi.” Ucap mama memperjelas.
“oh.” Jawab Bulan.
“ada apa?” tanya Vando yang baru turun dari kamar.
“eh kak Van. Kak Soleh kan mau ke Turki kan. dan kakak di rumah aja ha ha ha.” Ucap Bulan mengejek kakaknya.
“enak aja kakak mau ke Maroko.” Ucap Vando ke ceplosan langsung menutup mulutnya dengan tangan.
“apa?!” mama kaget mendengar Vando yang di kira gurauan.
“he he ma. Izinin ya kakak udah daftar dan lulus di tempat kulaihnya kak Reza. Dan kaka juga udah tanya – tanya dan sama kak Reza di kasih kontak temannya.” Ucap Vando membekukan suasana.
“Assalamualaikum.” Salam dari Ayah yang baru pulang dari toko. Mencairkan suasana beku.
“waalaikum salam warahmatullah hiwabarikatu.” Jawab semua yang di rumah.
“papa.” Sapa Bulan.
“ada apa ini kok pada nyambut papa pulang?” tanya papa dengan senyuman.
Mama yang memebendung air mata mendengar apa yang di katakana Vando bahwa dia hendak kuliah di Maroko. Membuat hati mama sedih. Sedih bukan karena kuliah di Maroko tapi karena bersyukur putranya bisa kuliah di Maroko.
“mama kenapa?” tanya papa panic melihat mama menitihkan air mata.
“ma maafin Vando karena tidak izin mama.” Vando memeluk mama yang sudah menitihkan air mata.
“kenapa?” tanya papa ke pada Bulan.
“tuh kak Vando bikin heboh.” Ucap Bulan. Sambil tersenyum.
__ADS_1
“kamu ini. Kenapa tidak bilang kalau sudah lulus. Kalau mama tau kan kita bisa syukuran. Kalau begitu syukuran sekarang aja. beli makanan lalu bagiin ke tetangga.” Ucap mama semua tercengan karena ucapan mama tidak sesuai ekspetasi mereka.
“mama tidak marah?” tanya Vando.
“mama bahagia kamu bisa dapat beasiswa sayang.” Jawab mama meluk dan menciu kening putranya.
“mama senenglah berkurang beban mama di rumah ha ha ha.” Ucap Bulan selalu mencari gara – gara dengan kakaknya.
“kalian ini. Udah ini uang cepat kamu beli makanan dan bagi – bagi ke tetangga.” Ucap papa memeberikan uang kepada Vando.
“makasih pa.” Vando lalu pergi membeli beberapa makanan.
“mama tidak apa – apa?” tanya papa yang melihat kesedihan istrinya. Sambil memeluk mama.
“tidak pa. mama Cuma bahagia. Putra kita bisa mendapat beasiswa ke Maroko.” Ucap mama membalas pelukan papa
(berarti kalau Bulan ke luar negri kelak boleh lah) batin Bulan tersenyu. Melihat ke romatisan mama papanya.
Malam hari. Di kamar Bulan.
Bulan yang sedang mambaca buku tentang. ISLAM ITU PERUBAHAN.
Berisi tentang : …ADA DUA KENIKMATAN YANG DI SAMPIKAN KEPADA KITA YANG JARANG DI SADARI MANUSIA YANG PERTAMAN ADALAH KENIKMATAN WAKTU LUANG YANG KEDUA KENIKMATAN KEMAMPUAN.
JADI KESEHATAN ATAU KEMAMPUAN DAN WAKTU LUANG TAPI ADA SATU LAGI KENIKMATAN YANG SEBENERNYA MERUPAKAN KENIKMATAN YANG TERBESAR YAITU ADALAH KEIMANAN.
KARENA TANPA KE IMANAN KITA TIDAK AKAN BISA UNTUK MENGUMPULKAN KEBAIKAN DEMI KEBAIKAN.
ORANG - ORANG YANG TIDAK BERIMAN LEBIH PARAH DARI MAYIT. KARENA MAYIT TIDAK BISA MENGUMPULLKAN PAHAL DAN TIDAK BISA MENGUMPULKAN DOSA.
KALAU ORANG YANG TIDAK BERIMAN KE PADA ALLAH SENANTIASA AKAN NGUMPULIN DOSA TIDAK MENGUMPULKAN PAHALA.
HIDAYAH INI ADALAH SESUATU YANG SANGAT MAHAL SEKALI….
Setelah selesai membaca beberapa lembar Bulan melihat jam yang menujukkan pukul Sembilan malam. Bulam memutuskan untuk segera tidur karena besok masih harus ke kampus mengumpulkan tugas yang dia dapatkan.
“sudah sedikit saja yang terpenting masuk ke hati.” Ucap Bulan menasehati dirinya.
Sebelum tidur Bulan selalu membuar rencana buat hari esok apa yang akan dia lakukan jam berapa dan jika ada waktu luang dia akan mengerjakan apa. Semua dia rinci sebelum tidur. Kadang jika tidak sesuai dengan apa yang dia rencanakan dia melihat apa kesalahan rencananya sampai pada waktu itu ada kegagalan. Apa karena kelalaian dia atau memang takdir yang berkehendak.
“sudah waktunya tidur. Eh air minumku habis. Mau ambil minum ke dapur.” Bulan keluar kamar dan hendak ke dapur.
Saat di dapur Bulan melihat Vando yang duduk di teras depan. Bulan menghampiri Vando.
“kak kenapa?” tanya Bulan menghampiri kakaknya.
Vando yang menatap Bulan dengan linangan air mata.
“kenapa kak?” tanya Bulan sekali lagi karena takut tidak biasanya kakaknya menangis. Bahkan Bulan baru kali ini melihat kakaknya menangis.
“entah kakak bahagia dan juga sedih.” Ucap Vando menundukkan kepalanya.
“kenapa kak?” tanya Bulan mendekat memeluk kakaknya.
__ADS_1
Vando semakin berlinang air mata ketika Bulan memeluknya.
“maaf jika selama ini selalu menjaili.” Ucap Vando kepada adiknya yang sering kali dia jaili.
“kak. Bulan juga sering jailik kakak tapi kakak tidak pernah marah.” Ucap Bulan membalas ucapan kakaknya dan mencoba menenangkan kakanya.
“kakak senang bisa pergi ke Maroko tapi kakak juga sedih harus pergi dari rumah.” ucap Vando.
“kak kata kak Soleh kalau kita ingin berkembang maka bergerak. Kalau kakak Cuma di rumah pasti pemahamannya Cuma seputar di sini. Namun kalau kakak bisa pergi melangkah lebih bisa jadi kakak akan mendapkan lebih.” Bulan dengan kata kata mutiaranya. Jurus jitu dari ust Soleh.
“kamu ini kayak udah tau – tau aja.” ucap Vando melepas pelukan dari adiknya dan menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Sambil terisak tangisan Vando berusaha mengatur nafasnya.
“ada apa?” ucap papa yang mendengar dari kamar lalu keluar bersama mama.
“ kamu apa in kakak kamu sampai menangis.” Ucap mama yang muncul dari belakang papa.
“Bulan pukul.” Ucap Bulan sambil tersenyun
“kalian ini.” Ucap papa membelai putra putri kesayangannya.
Mereka berempat duduk teras depan. Mereka saling mengobrol dan bercanda ria.
“kata kak Vando Bulan mau di ajak ke Maroko ya kak ya?” ucap Bulan kegirangan.
“siapa juga yang mau mengajak kamu. Habis – habisin makanan.” Jawab Vando mengejek adiknya.
“ih.. pa kata kakak. Bulan Banyak makan.” Bulan mengadu ke papanya.
“ya memang makan kamu banyak kan.” tambah mama.
“hehe tidak kok. Buktinya Bulan kurus. Jadi Bulan itu makannya dikit.” Ucap Bulan menunjukkan tubuh mungilnya yang tingginya 160cm dan berat 40kg.
“janga jangan kamu itu cacingan. Makan banyak tapi di makan sama sic acing perut.” Ucap Vando.
“mana ada kalau cacingan itu perutnya buncit. Liat Bulan perutnya rata. Dan Bulan juga rajin olahraga.” Tambah bulan tidak terima dengan ejekan kakaknya.
Mereka satu keluarga berbahagia tertawa ria hingga tenggah malam.
Keesokan paginya.
Bbbriiib bbbriiib suara alaram Bulan menujukkan pukul tiga pagi.
“huuuf” bulan membaca doa bangun tidur lalu mengusap matanya menhapus kotoran mata yang ada di matanya.
“aaah masih ngatuk.” Ucap Bulan merebahkan tubuhnya ke kasurnya.
“harus bangun kata kak Soleh Bismillah paksaaaaaiiiiiin. Masak udah lama masih aja belum bisa ngelawan setan ngatuk sih.” Ucap Bulan menyemangati dirinya.
Setelah bangun dengan sempurna Bulan menuju kamar mandi gosok gigi dan mencuuci muka lalu ambil air wuduh dan sholat tahajut.
Setelah selesai Sholat bulan berdoa.
“Ya Allah terima kasih atas segara yang telah engkau titipkan padaku. Kalau mau ambil kalikong dulu ya. Jangan langsung ambil nanti Bulan nyariin….Aamiin”
__ADS_1